Dua Puluh Delapan

1050 Words
"Kita mau kemana?" Tanya Sakura pelan. Dia hanya pasrah saja ketika tangannya digandeng oleh Pandu. Pandu memencet tombol lift. Dia masih enggan melepaskan tangan Sakura. Lagi pula Sakura sepertinya tidak keberatan berada digenggamannya. "Ke atap." Jawab Pandu pelan sambil menyunggingkan senyumnya. "Ngapain?" Tanya Sakura pelan. "Lihat kota." Jawab Pandu singkat. Ting. Pintu lift terbuka. Pandu masih terus menggandeng tangan Sakura. Dia membuka sebuah pintu yang langsung menghubungkan ke atap. Dia membuka pintu dengan pelan dan perlahan terlihat suasana remang-remang. Lampu kota yang menyala tidak mampu memberikan keterangan pada atap itu. Ditambah Pandu juga sengaja tidak menyalakan lampu penerangan yang biasanya dinyalakan untuk menerangi atap. Sakura melangkahkan kakinya ke atap. Dia mengeratkan jaketnya agar angin yang berhembus tidak semakin menusuk ke tubuhnya. Hanya lampu temaram dari gedung lain yang memberi cahaya. "Gelap banget." Gumam Sakura pelan. "Ntar juga terang sendiri kok." Balas Pandu pelan. Pandu menutup pintu perlahan dan memegang bahu Sakura. Menuntun Sakura untuk keluar lebih jauh. Lebih tepatnya mengarahkan Sakura ke tempat yang akan mengubah tempat itu. Klik. Kaki Sakura menginjak sebuah benda yang langsung mengubah atap itu. Atap yang semula remang kini berubah menjadi terang. Lampu warna-warni menghias sudut atap. Meja dan kursi yang sudah lengkap dengan hidangannya. Disampingnya ada tempat untuk membakar daging juga. Mungkin malam ini Pandu ingin mengajaknya pesta BBQ. "Cantiknya." Kata-kata itu meluncur bebas dari mulut Sakura. "Kamu lebih cantik." Sahut Pandu yang masih dibelakangnya. Tangannya masih memegang kedua bahu Sakura. Bahkan kini Pandu lebih merapatkan tubuhnya pada tubuh Sakura. "Iya dari dulu aku memang cantik." Gumam Sakura sambil bercanda. Pandu terkekeh pelan mendengar ucapan Sakura. Dia mengusap pucuk kepala Sakura dengan gemas. Rasanya dia ingin membawa tangannya maju ke depan dan memeluk Sakura dari belakang. Hanya saja dia masih bisa menjaga batasan. "Ayo kesana." Ajak Pandu pelan. Dia melepaskan pegangan tangannya dan mengajak Sakura ke sudut atap yang sudah dia siapkan. Bibir Sakura tidak berhenti tersenyum. Dia tidak menyangka kalau akan mendapatkan kejutan seperti ini dari Pandu. Semakin hari Pandu semakin hangat dengannya. Semakin lama dia juga semakin berharap dengan Pandu. Pandu memberikan buket bunga yang sudah dia siapkan kepada Sakura. Buket itu lebih besar dari buket sebelumnya. Sesuai janjinya dulu jika Sakura mendapatkan pekerjaan dia akan memberikan banyak bunga untuk Sakura. Dan sekarang dia memenuhi janji itu. "Aku membayar janjiku. Ucap Pandu sambil tersenyum. Sakura mencium buket itu. Seketika bau harum menyusup ke hidungnya. Sakura memejamkan matanya dan membayangkan hal-hal yang menyenangkan. "Aku berharap kamu akan terus mekar dan tumbuh kembang seperti bunga-bunga sakura yang sudah aku siapkan ini." Ucap Pandu pelan. Sakura mengambil satu bunga dan memainkan dengan tangannya. "Ini palsu." Kata Sakura pelan. "Kalo asli dia akan jatuh ketika sudah rapuh. Kalo palsu dia akan terus mekar selama tidak ada tangan jahil yang mengambilnya." Kata Pandu menjelaskan. Dia mengambil bunga dari tangan Sakura dan memasangkannya lagi. "Tapi ingat, akan ada tangan orang baik yang menolongnya." Lanjut Pandu setelah memasang bunga itu. Sakura tersenyum dan menatap Pandu dengan lekat. Sejenak mata mereka saling beradu, Sakura menatap penuh kelembutan dan Pandu menatap Sakura seakan-akan mengalirkan kehangatan. Walaupun Pandu tidak bisa melihat wajah Sakura namun dia bisa merasakan kecantikan Sakura dari aura yang dipancarkan oleh Sakura. Karisma dan pesona Sakura tidak bisa ditolak oleh setiap pasang mata yang melihatnya, begitu juga dengan Pandu yang sudah tersihir oleh aura Sakura. Pandu tersadar dari lamunannya, dia menarik kursi untuk Sakura dengan perlahan. "Silakan duduk." Kata Pandu dengan lembut. Sakura menuruti ucapan Pandu seperti sedang dihipnotis. Buket bunga itu dia letakkan kembali di atas meja. Pandu menuangkan minum untuk Sakura. Membuka hidangan yang sudah ada diatas meja. Sebuah black forest lengkap dengan lilin sudah tertangkap oleh penglihatan Sakura. "Buat permohonan dulu." Kata Pandu pelan. Sakura memejamkan matanya, dia menangkupkan kedua tangannya meminta permohonan. Permohonan yang dia minta sama seperti kemarin. Bahkan setiap hari permohonan yang dia ucapkan selalu sama. "Sudah." Gumam Sakura pelan. "Tiup nih." Ucap Pandu pelan sambil menyodorkan kue itu. Sakura meniup lilin itu namun butuh waktu lama untuk membuat lilin itu mati. "Bantuin, Mas." Kata Sakura pelan. Dia benar-benar dibuat kuwalahan sama lilin itu. Setiap tertiup angin bukannya mati malah kembali menyala. Pandu tertawa mendengar ucapan Sakura. Dia ikut meniup lilin itu karena kasihan melihat Sakura yang sepertinya sudah frustrasi. "Yehhhh mati." Teriak Sakura dengan senang. Pandu ikut tersenyum, moment sederhana namun membuat dia bahagia. Sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini, dan Pandu berharap dia bisa terus merasakan hal seperti ini. "Selamat berjuang di dunia kerja." Kata Pandu sambil tersenyum. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat Sakura sudah mendapatkan pekerjaan. "Terima kasih." Jawab Sakura pelan. "Aku masih ngerasa asing sama dunia kerja. Ya, memang sebelumnya aku udah pernah kerja tapi ini pertama kalinya aku kerja sesuai pendidikan aku." Lanjutnya. Dia merasa Pandu adalah orang yang tepat untuk dia ajak cerita. "Ini saatnya kamu terapkan apa yang sudah kamu pelajari selama kuliah." Sahut Pandu. "Aku takut kalau nggak kompeten dibidang ini." Kata Sakura lagi. Banyak hal yang ada dipikirannya, salah satunya dia takut karena dia tidak punya pengalaman sebelumnya. "Buktikan pada diri kamu sendiri kalau ini memang bidang kamu. Tunjukkan sama semuanya kalau kamu nggak salah ambil jurusan, passion kamu memang disini." Kata Pandu mencoba mengembalikan kepercayaan diri Sakura. Sakura menganggukkan kepalanya. Dia harus bisa membuktikan jika jalan yang dia ambil sejak awal adalah jalan yang tepat. Bekerja sambil kuliah adalah keputusan yang benar. Kesulitan-kesulitan yang sudah dia alami selama ini adalah keputusan yang memang seharusnya dia pilih. "Aku akan berusaha supaya karir aku terus mekar seperti bunga-bunga itu." Kata Sakura sambil tersenyum. "Anak pintar." Kata Pandu sambil mengoyak rambut Sakura. Sakura menjadi salah tingkah karena perlakuan Pandu barusan. Dia tersipu malu mendapatkan perlakuan manis dari Pandu. Wajah tampan Pandu ditambah dengan perlakuannya yang perhatian membuat dia terpesona. "Oh iya, ini gedung apa?" Tanya Sakura pelan. Di depan tadi dia memang seperti membaca nama perusahaan namun dia ingin memastikannya lagi. "Ini.... Ini gedung tempat kerjaku." Jawab Pandu sedikit gugup. "Kamu nggak dimarahin sama bos kamu karena pakek atas ini?" Tanya Sakura lagi sambil berbisik. "Tenang saja, bos nggak akan marah, aku udah izin tadi." Jawab Pandu juga sambil berbisik. Sakura tertawa kecil begitu juga dengan Pandu. Kesederhanaan yang terjadi diantara mereka menciptakan kesenangan sendiri. Sakura bahagia karena Tuhan sudah mengenalkan dia dengan Pandu. Walaupun perkenalan mereka yang pertama membuat bekas luka di pelipisnya, Sakura ikhlas. Dia ikhlas karena perlakuan Pandu selama ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD