Malam hari saatnya untuk mengistirahatkan diri. Sunyinya dunia membuat keheningan disekitar diri. Pikiran yang perlahan mulai tenang berangsur-angsur memulihkan keadaan. Jiwa yang seakan-akan terikat dengan pekerjaan seharian, kini mulai lupa satu persatu. Saatnya istirahat, saatnya berdamai dengan diri sendiri. Esok hari akan ada banyak kejutan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kejutan yang membuat hati bahagia juga kejutan yang membuat jiwa terluka.
Sakura duduk termenung di atas karpet yang sudah disiapkan oleh Pandu. Matanya menyorot ke arah Pandu yang masih setia membakar daging sapi. Masih ada beberapa lembar daging yang belum dimasak. Sedangkan sejak tadi mereka sudah makan sambil ngobrol.
"Lihat deh, langitnya cantik." Kata Sakura pelan. Tangannya menunjuk ke arah langit.
"Lebih cantik kamu." Jawab Pandu pelan. Matanya masih fokus ke panggangan.
Sakura tersipu mendengar ucapan Pandu. Pipinya terasa panas dan terlihat memerah padahal udara hari ini lumayan dingin. Sakura menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. Andaikan dia tahu keadaan Pandu, dia tidak akan menyembunyikan itu karena Pandu juga tidak bisa melihatnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Pandu bingung melihat Sakura yang bertingkah aneh.
Sakura terkejut mendengar ucapan Pandu. Dia langsung bangkit dari duduknya berlari ke sudut atap. Berpura-pura mengalihkan fokus Pandu dengan melihat ke lantai dasar. Jalanan yang mulai sepi, kendaraan yang sudah mulai berkurang.
"Lihat kota dari ketinggian enak banget ya." Teriak Sakura karena dia yakin jika dia berbicara pelan Pandu tidak akan mendengarnya karena angin yang sedikit kencang.
"Hati-hati." Kata Pandu mengingatkan.
"Iya." Sahut Sakura lagi.
Sakura merasa sangat nyaman saat ini. Bersama Pandu dia bisa melupakan semua masalahnya. Ya, walaupun itu hanya sesaat. Esok hari dia harus kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Menjadi b***k di rumahnya sendiri dan melayani seseorang yang bukan dari keluarganya. Setelah Papanya kecelakaan dia sudah tidak menganggap Elmi dan Tasya saudaranya. Bagi Sakura, mereka berdua hanya benalu yang menumpang hidup pada Papanya. Bahkan menguasai semua harta yang harusnya dipegang olehnya. Sakura kalah dari Mama tirinya. Wanita itu memanfaatkan usia Sakura yang masih muda saat itu.
Sakura menjadi lupa waktu. Dia tidak sadar jika ini sudah larut malam. Dia tidak ingin meninggalkan tempat yang memberinya kenyamanan. "Kenapa kamu milih BBQ? Kenapa nggak makan malam biasa saja?" Tanya Sakura pelan. Dia menyuapkan sosis bakar ke mulutnya. Semua yang ada didepannya adalah hasil kreasi Pandu, Sakura tinggal menikmatinya saja.
"Aku sering lihat pesta yang paling seru adalah pesta BBQ. Sekarang kan kita memang lagi berpesta." Jawab Pandu memberi alasannya mengapa dia memilih BBQ.
"Aku sudah lama tidak pesta seperti ini. Terakhir kali saat aku lulus SMP, saat itu hari kelulusan sepupuku. Keluarga besar kami mengadakan pesta BBQ." Kata Sakura bercerita.
"Setiap ada acara kampus yang berakhir dengan pesta, aku tidak pernah datang karena harus menjaga Papa." Kata Sakura lagi.
Seketika bibir Sakura terdiam sejak dia menyelesaikan ucapannya tadi. Pandu yang melihat tingkah aneh Sakura langsung menatap Sakura dengan lekat. Dia tidak mengerti mengapa tingkat Sakura tiba-tiba berubah seperti ini.
"Ada apa?" Tanya Pandu pelan. Dia heran dengan tingkah Sakura yang tiba-tiba berubah.
"Sekarang jam berapa? Aku harus temani Papa." Kata Sakura dengan cepat.
Pandu ikut panik melihat Sakura yang bingung. Dia menyalakan ponselnya untuk melihat jam. Ternyata memang benar, hari sudah larut malam. Dia tidak sadar jika dia dan Sakura sudah menghabiskan banyak waktu bersama.
"Ayo, aku antar kamu pulang." Kata Pandu dengan cepat. Dia membantu Sakura beberes. Tangannya menyerahkan tas hitam milik Sakura.
"Terima kasih. Maaf sudah mengacaukan pesta ini." Kata Sakura merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku udah seneng bareng kamu dengan waktu yang cukup lama." Jawab Pandu dengan lembut.
Pandu menggandeng tangan Sakura untuk pergi dari atap itu. Dia juga merasa panik karena dia tahu bagaimana kondisi Papa Sakura. Terlebih dia merasa bersalah karena mengajak Sakura pesta hingga lupa waktu. Dia bahagia namun ada seseorang yang sangat membutuhkan Sakura dan saat ini sedang menunggu.
***
Sakura mengetuk kamar Papanya pelan sebelum dia masuk ke dalam. Tangannya membawa nampan berisi s**u hangat dan juga bubur, tidak lupa obat rutin yang harus dikonsumsi oleh Pak Joko. Sakura menarik nafasnya sebelum membuka pintu. Hari memang masih pagi namun Sakura tahu jika Papanya sudah tersadar dari tidurnya. Bahkan kabut diluar masih sangat terlihat membuat keadaan sekitar menjadi tidak terlalu jelas.
"Selamat pagi, Pa." Sapa Sakura pelan sambil menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman.
Pak Joko yang semula masih memejamkan mata langsung membuka matanya begitu mendengar suara putri tersayangnya. Baru semalam tidak bertemu membuat dia sangat merindukan kehadiran putrinya itu. Setiap kali Sakura tidak menunjukkan batang hidungnya, dia sudah kuatir bahkan merasa takut jika putrinya akan meninggalkannya.
"Aaarrrr...a..." Panggil Pak Joko dengan susah payah. Suaranya bergetar menahan tangis.
Sakura tersenyum, dia mendekati ranjang Papanya. Nampan yang semula berada ditangannya, kini dia letakkan di atas nakas. Dia duduk di pinggiran ranjang dan memeluk Papanya. Tangannya mengelus punggung Papanya dengan lembut. Membiarkan pundaknya menjadi tumpuan kepala Papanya.
"Maaf ya, Pa. Semalam Sakura tidak menemani Papa." Kata Sakura pelan. Dia merasa bersalah karena sudah melalaikan Papanya. Dia menjadi lupa waktu ketika bersama Pandu. Menjalani pesta penyambutannya yang membuat dia lupa jika dia harus menemani Papanya.
Sakura merasakan jika Papanya sedang menggelengkan kepalanya. Dia hanya diam saja sambil terus mengusap punggung Papanya. Banyak sekali luka disekitar punggung Papanya. Luka itu didapat karena Papanya yang kurang bergerak. Punggungnya selalu bersandar di sandaran ranjang atau kalau tidak bersandar pasti berbaring. Itu yang menimbulkan luka disekitar punggung.
Sakura hanya bisa memberikan salep pada luka-luka itu agar kering. Dia tidak bisa memberikan perawatan yang bagus untuk Papanya. Sekadar kontrol setiap bulan saja rasanya sangat sulit untuk Sakura. Namun dia tetap mengusahakan yang terbaik buat Papanya. Menyisihkan uangnya, dan mengesampingkan kebutuhan pribadinya hanya untuk membayar kontrol Papanya.
"Pa, kita makan dulu ya habis itu Sakura bantuin Papa mandi." Kata Sakura pelan di dekat telinga Papanya.
"Iiiya.." Jawab Pak Joko pelan sambil melepaskan pelukannya pada Sakura.
Sakura tersenyum. Dia mengambil mangkok yang sudah berisi bubur dan mulai menyuapkannya ke Papanya. Sedikit demi sedikit Sakura menyuapkan bubur itu. Sakura sangat sabar menyuapi Papanya. Dia juga tidak marah ketika tidak semua bubur bisa masuk ke mulut Papanya. Sakura membersikan bubur yang belepotan disekitar bibir Papanya.
"Pelan-pelan Pa, kalo habis Sakura bikinin lagi kok." Kata Sakura sambil terkekeh. Dia bahagia melihat Papanya yang makan dengan semangat.
Lima belas menit kemudian Sakura sudah selesai menyuapi Pak Joko. Dia membersihkan mulut Pak Joko dengan tisu basah. Membantu Pak Joko minum air hingga berkurang banyak. Sakura kembali membersihkan mulut Pak Joko.
"Wah masih sangat pagi Pak Joko sudah selesai sarapan." Kata Delon yang tiba-tiba masuk ke kamar Pak Joko dan mendekati Sakura juga Pak Joko.
Pak Joko tersenyum melihat Delon juga berada di kamarnya. Dia merasa punya anak-anak yang merawatnya dengan penuh kasih sayang dan ikhlas. Melihat Delon dan Sakura membuat dia merasa aman. Karena istri mudanya tidak akan berani memaki dan bertingkah kasar kepadanya.