Sakura menatap Delon dengan datar. Pak Joko tersenyum ketika matanya melihat sosok yang semalam sudah menemaninya. Tangannya sedikit terangkat seakan-akan sedang meminta Delon untuk mendekat padanya. Delon yang melihat itu langsung melangkahkan kakinya mendekati Pak Joko. Sakura bangkit dari duduknya dan memberi tempat untuk Delon mendekat. Sakura heran dengan interaksi Papanya dan Delon yang terlihat dekat.
"Ssemmalem nak dd..lon yang nnemenin Pa...pa..." Kata Pak Joko dengan susah payah. Dia ingin memberitahu putrinya jika Delon yang menemaninya sampai dia tertidur.
Sakura menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia berusaha menyunggingkan senyumnya walaupun hatinya merasa tidak nyaman. Dia merasa sudah menjadi anak yang durhaka yang lebih mementingkan menghabiskan waktu dengan orang lain daripada menemani Papanya sendiri.
"Ara bawa mangkok kotor ini ke dapur dulu ya, Pa." Kata Sakura pelan. Hatinya sesak melihat kedekatan Delon dan juga Papanya. Entah mengapa dia merasa tidak rela, mungkin dia sedang iri.
Pak Joko menganggukkan kepalanya pelan sedangkan Delon hanya memandang Sakura dengan lekat. Perasa Delon mengatakan jika Sakura sedang tidak baik-baik saja. Dia merasa jika ada sesuatu hal yang membuat Sakura tidak nyaman dan disembunyikan oleh gadis itu.
Delon kembali fokus kepada Pak Joko ketika tangan Pak Joko mengelus punggung tangannya. Sebisa mungkin dia mencoba menyungging senyumnya. Menatap laki-laki yang sudah tidak lagi muda itu dengan tatapan hangatnya. Semuanya akan terpana melihat bagaimana sikap Delon yang begitu perhatian kepada Pak Joko. Semua orang akan mengira jika Pak Joko dan Delon adalah pasangan ayah dan anak.
"Ssaayyya h...aus." Kata Pak Joko pelan.
Delon melirik nakas yang ada disamping ranjang. Tidak ada gelas disana yang artinya dia harus mengambilkan minuman lagi untuk Pak Joko. "Delon ambilkan dulu ya, Pak." Kata Delon pelan.
Pak Joko menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia menyunggingkan senyumnya karena dia berhasil membuat Delon pergi dari kamarnya. Sebenarnya dia tahu apa yang sedang ada dipikiran Delon. Laki-laki itu sedang memikirkan Sakura dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi kepada Sakura. Itu yang membuat dia berpura-pura haus.
Delon melihat Sakura yang dengan cekatan menyiapkan sarapan. Dia memperhatikan gadis itu dengan lekat. Apron merah yang tergantung ditubuhnya seakan-akan menutupi pakaian bagian depannya agar tidak terkena bumbu atau minyak. Rasanya dia ingin melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu. Namun dia tahu jika itu tidak akan bisa dia lakukan.
"Ehem.." Dehem Delon pelan. Dia mendekati Sakura yang terlihat sangat fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan. Hingga Sakura tidak sadar jika ada dia dibelakang gadis itu. Entah Sakura berpura-pura atau memang dia sengaja tidak tahu keberadaan Delon, namun tingkahnya barusan membuat Delon semakin gemas dengan gadis itu.
Delon mengambil gelas kosong dan membuka lemari es. Dia mengambil air yang tidak terlalu dingin. Menuangkan air itu ke gelas kosong yang tadi dia ambil. Tangannya memang sedang menuangkan minum namun matanya tidak pernah bisa lepas dari Sakuara. Laki-laki itu memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Sakura.
"Terima kasih sudah bantuin jaga Papa." Kata Sakura pelan.
Delon mengerjapkan matanya ketika telinganya mendengar suara Sakura. Dia langsung fokus ke tangannya. Gelas itu sudah mulai terisi dengan air minum bahkan hampir penuh. Delon cepat-cepat mengangkat botol air dan menyimpannya kembali ke lemari es.
Delon mendekati Sakura yang nampak asik dengan memasaknya. Dia membantu Sakura mengambilkan gula. Menemani Sakura dalam diam dan hanya melihat Sakura saja.
"Semalam kemana?" Tanya Delon pelan.
"Pergi sama temen." Jawab Sakura pelan. Tangannya masih sibuk memasak untuk sarapan.
"Kemana? Kenapa sampai larut malam nggak pulang?" Tanya Delon lagi. Dia seperti sedang menginterogasi Sakura. Entah mengapa dia ingin tahu apa yang dilakukan Sakura semalam dan dengan siapa Sakura pergi.
"Kenapa tanya?" Tanya Sakura dengan nada ketus. Dia tidak nyaman mendapatkan banyak pertanyaan dari Delon. Baginya Delon bukan siapa-siapa tapi mengapa laki-laki itu bersikap seperti suaminya.
"Semalam Papamu mencari kamu." Kata Delon pelan.
"Iya," jawab Sakura singkat.
"Kalau sudah tau kenapa tidak pulang cepat?" Tanya Delon lagi. Dia masih memojokkan Sakura yang merasa sudah kepepet.
Sakura mematikan kompornya. Dia mengambil mangkuk untuk tempat sayur. Dia dengan pelan membawa mangkuk itu ke ruang makan. Meletakkan sayur itu diatas meja makan.
"Kenapa tidak jawab? Apa teman kamu itu lebih spesial dibandingkan dengan Papa kamu sendiri?" Tanya Delon lagi. Dia ingin menyalahkan Sakura namun dia juga tidak mau terlalu kasar dengan gadis itu.
"Apa urusannya denganmu?" Tanya Sakura lagi dengan ketus.
"Memang tidak ada tapi aku merasa kamu sudah berlebihan." Kata Delon dengan nada bicara sedikit lebih keras.
"Kamu juga berlebih karena sudah mencurigaiku seperti ini." Ucap Sakura dengan keras. Dia kembali ke dapur dan melanjutkan masaknya. Dia tidak peduli dengan Delon yang masih berdiri mematung ditempat asalnya. Sakura benar-benar jengkel dengan sikap Delon yang seakan-akan mengaturnya.
***
Tak ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Tidak ada yang menyangka jika masa lalu cepat berlalu. Semuanya berjalan begitu saja. Tanpa ada rencana, tanpa ada paksaan. Semua terjadi dengan tiba-tiba.
"Pa, Sakura berangkat kerja dulu ya." Ucap Sakura pelan sambil menyalami tangan Papanya yang lemah.
"Haaa..ti... hat...i" Balas Pak Joko dengan suara yang sangat pelan.
Sakura mencium kedua pipi Papanya dengan memaksakan bibirnya agar tersenyum. Setiap kali dia melihat kondisi Papanya dia merasa sangat iba. Dia ingin mengumpulkan banyak uang agar bisa membawa Papanya ke rumah sakit dan membuat Papanya mendapatkan perawatan yang terbaik.
"Sakura akan pulang cepat biar bisa temani Papa." Kata Sakura lagi dengan lembut. Dia ingin membalas kesalahannya yang kemarin. Hari ini dia akan memberikan sisa waktunya untuk Papanya. Mengesampingkan sejenak perasaan pribadinya dan mementingkan kebahagiaan orang tuanya. Karena hanya Papa orang tua yang dia punya.
Pak Joko menganggukkan kepalanya dengan pelan. Bibirnya ingin mengatakan banyak hal namun tidak bisa. Sebagian tubuhnya yang lumpuh membuat dia tidak bisa banyak bergerak. Hingga membuat kemampuan berbicaranya juga menurun.
"Papa mau Ara belikan apa nanti?" Tanya Sakura pelan.
Pak Joko hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Yang dia inginkan hanya kebersamaan dengan Sakura. Tidak tidak peduli dengan barang-barang yang akan dibelikan oleh Sakura. Melihat putri semata wayangnya tersenyum sudah membuat hatinya bahagia. Seakan-akan penyesalan dan rasa bersalahnya pudar dengan perlahan.
"Sakura berangkat sekarang ya, Pa." Kata Sakura pelan.
Pak Joko menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia mencoba mengangkat tangannya ingin melambaikan tangan untuk putrinya. Namun lagi-lagi dia tidak bisa melakukan hal itu. Beruntungnya Sakura mengerti apa yang akan dilakukan oleh Papanya. Dia juga melambaikan tangannya sambil tersenyum dengan lebar.
Sakura berjalan pelan keluar kamar Papanya. Sebelum dia benar-benar keluar dari kamar, Sakura melambaikan tangannya sekilas dan setelah itu menutup pintu kamar Papanya. Dia melirik arloji yang ada ditangan kirinya membuat Sakura memelototkan matanya. Dia tidak percaya jika hari sudah mulai siang dan dia bisa terlambat.
"Mau berangkat sekarang, Ra?" Tanya Delon pelan dengan tubuh yang sudah terbalut setelan kantor.
"Ya." Jawab Sakura dengan singkat. Dia semakin mempercepat langkahnya dan tidak memedulikan Delon yang mencoba mengejarnya dari belakang. Menjauh dari Delon adalah salah satu hal yang ingin dia lakukan saat ini. Dia tidak bisa terus menerus membiarkan Delon berkeliaran disekitarnya dan terus berbuat baik kepadanya dan juga kepada Papanya.