Tiga Puluh Satu

1606 Words
Sakura terus berjalan dengan langkah cepat. Dia tidak peduli dengan mobil dibelakangnya yang terus membunyikan suara klaksonnya. Bukannya berhenti, Sakura malah mempercepat langkahnya. Dia berharap bisa segera sampai di jalan raya dan menghentikan ojek atau taksi yang kebetulan lewat. Sudah menjadi kebiasaan untuk Sakura, berangkat dengan terburu-buru dan pulang ingin cepat sampai rumah. Menjalani kehidupan yang semakin hari tidak ada kemajuan. Merasa kehidupan yang dia jalani semakin hari semakin berat. Cobaan dan rintangan hidup yang selalu dia jalani dengan kesabaran serasa sudah habis perlahan-lahan. Terkadang Sakura ingin menyalahkan takdir namun yang ada hanya bisa diam dan menjalaninya dengan mulut tertutup tanpa bisa protes. Banyak hal yang sudah dia lakukan. Namun Sakura merasa hasilnya tidak sesuai dengan kenyataannya. Usaha-usaha yang dia lakukan tidak menemui ending yang maksimal. Namun, Sakura tidak mau berhenti begitu saja. Ada seseorang yang harus dia selamatkan dari penyakit yang membuatnya terkurung. Ada harapan besar dalam dirinya yang harus dia wujudkan dengan kenyataan. "Berangkat bareng aku aja." Kata Delon pelan ketika mobilnya berjajar dengan Sakura. Kaca jendela mobilnya dia turunkan agar Sakura mendengar suaranya. Namun tetap saja gadis itu pura-pura tidak mendengar dan terus melanjutkan langkahnya dengan cepat. "Ini sudah siang, Ra." Teriak Delon lagi. Dia merasa frustasi ketika menghadapi sikap Sakura yang terus dingin kepadanya. Banyak perhatian yang sudah dia lakukan. Perhatian-perhatian kecil hingga besar sudah dia coba. Namun, Sakura terlihat masih enggan membuka hati bahkan terkesan menutup mata seakan-akan tidak ada yang terjadi. Gadis polos dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum berhasil membuat hati Delon terpikat. Mencari celah untuk membenci gadis itu tidak pernah berhasil Delon lakukan. Semakin dia menjauh semakin membuat dia terpikat. Apalagi ketika dia melihat raut wajah kelelahan Sakura, rasanya dia ingin segera mengikat janji yang sah dengan gadis itu. Membuat hidup gadis itu semakin baik. Namun, yang ada gadis itu semakin menjauh darinya. Delon membuka pintu mobilnya. Dia turun dari mobil dan mengejar Sakura. Tangannya berhasil mencekal lengan Sakura dan membuat gadis itu berhenti bahkan menoleh kepadanya. Raut wajah Sakura yang datar kini berubah menjadi jengkel. Sakura mengibaskan tangannya yang dicekal oleh Delon. Dia menarik nafasnya panjang dengan menghujamkan tatapan tajam kepada Delon. Dia tahu dan sadar jika laki-laki ini sudah menggantikannya menjaga Papanya semalam, namun Sakura tidak bisa terima tingkah Delon yang semena-mena dengannya. Seakan-akan dia sudah berutang budi dengan laki-laki itu. "Jangan ikuti aku. Kalau mau berangkat, berangkat sendiri saja." Kata Sakura dengan ketus. "Ini sudah siang, kamu bisa terlambat." Kata Delon dengan sabar. Berhadapan dengan Sakura tidak bisa menggunakan k*******n. Dia berlaku sabar saja masih tidak terlihat dimata Sakura, apalagi dia bersikap kasar. "Aku bisa sendiri." Kata Sakura ketus. Dia kembali melanjutkan jalannya. Tangannya sibuk memencet tombol ponselnya. Ternyata dia sedang mencari ojek yang terdekat dengannya. Satu-satunya cara agar dia berhasil kabur dari Delon dengan menemukan ojek online dengan cepat. "Yes ketemu." Kata Sakura pelan. Dia berhenti sejenak dan tidak begitu lama sebuah motor matic berhenti di depannya. "Ini, Mbak." Kata tukang ojek itu dengan menyerahkan helm dengan logo perusahaannya. Sakura menerima helm itu dan mulai memakainya. Belum sampai benar-benar terpakai, sebuah tangan yang tidak sopan mengambil paksa helm tersebut. Memberikannya kembali kepada tukang ojek itu dan membuka dompetnya. Dia mengeluarkan selembar uang pecahan 100 ribu dan memberikannya kepada tukang ojek itu. "Maaf, Bang nggak jadi naik." Kata Delon tanpa berpikir dahulu. Tukang ojek itu sedikit kebingungan namun dia tidak menolak uang yang diberikan oleh Delon. Melihat uang dengan pecahan besar itu membuat matanya kembali melek. Untuk pekerja serabutan seperti dia, mendapatkan uang sebanyak itu adalah hal yang luar biasa. Apalagi masih sangat pagi dan dia sudah mendapatkan rezeki. "Ayo kamu berangkat bareng aku." Kata Delon sambil menarik tangan Sakura menuju mobilnya. Sakura berontak namun sia-sia saja. Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Delon. Terus menerus berontak juga tidak menguntungkan bagi dia karena ojek yang dia booking sudah pergi begitu saja. Ujung matanya melirik ke arah jam tangannya, memang benar hari sudah siang dan dia akan terlambat jika menunggu ojek lagi. Dan lagi-lagi Sakura membenci dirinya sendiri karena memilih untuk menyerah dan menuruti perintah Delon. Suara di dalam mobil terasa tegang. Sakura terus menatap keluar jendela dengan tangan yang dia tumpangkan ke dagunya. Daripada melihat wajah Delon, dia lebih memilih melihat jalanan yang dipadati oleh kendaraan besi. Asap yang dikeluarkan oleh kendaraan-kendaraan itu membentuk sebuah polusi udah yang tidak bisa dengan mudah diterima oleh Indra penciuman. Menjadikan sesak di d**a dan membuat mereka harus menutup hidung dengan selembar kain. Polusi yang terus masuk ke hidung tidak bisa mereka cegah. Kebutuhan hidup lebih penting, mencari nafkah adalah hal yang lebih diutamakan. Tidak ada jalan lain lagi selain berjalan ditengah-tengah polusi yang menyesak hati. Namun bagi Delon, sesak d**a karena polusi tidak sebanding dengan sakit hati mengahadapi sikap dingin dari gadis yang dia cintai. Satu hal yang selalu dia yakini, lebih baik menerima sikap dingin dari Sakura daripada harus melihat Sakura tertawa karena laki-laki lain. Ya, Delon terus meyakinkan dirinya jika dia tidak punya saingan. Walaupun terkadang keraguan muncul dan dia berpikir jika Sakura sudah memiliki kekasih, namun lagi-lagi Delon percaya jika gadis pujaannya tidak terikat dengan laki-laki manapun. *** Banyak lembaran foto berserakan di atas meja. Foto itu diambil secara diam-diam terlihat dari pose mereka yang nampak natural. Kamera pengintai berhasil membidik setiap kebersamaan antara Pandu dan juga Sakura. Pengintai itu sudah sering mengikuti kemana pun Sakura dan Pandu pergi, terlihat dari banyak tempat dan pakaian yang dipakai oleh Pandu dan Sakura. Namun foto-foto itu tidak terlalu jelas menunjukkan wajah Sakura. "Mereka sering bertemu?" Tanya laki-laki paruh baya dengan kumis tebal. Laki-laki bertubuh gempal itu menganggukkan kepalanya dengan mantap. Sudah sebulan ini dia mengikuti Sakura dan Pandu dan dia yakin antara mereka tidak hanya sebatas teman. "Ini foto terbaru, baru diambil beberapa hari yang lalu." Katanya sambil menunjukkan selembar foto lagi. Bambang menerima foto itu. Dia memperhatikan dengan cermat. Dia nampak mengerutkan keningnya, merasa tidak asing dengan tempat yang ada di dalam foto itu. Ruangan kecil berukuran 3 meter persegi sangat dia kenali. Dulu dia sering menghabiskan waktu disana bersama istrinya. Menjadikan ruangan kecil itu sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang sering dia gunakan saat menghabiskan malam bersama istrinya. Tapi tidak ada yang bisa masuk ke ruangan kecil itu selain dia dan istrinya. "Ini..." Kata Bambang dengan raut wajah yang tidak yakin. "Iya benar, Pak. Itu atap gedung perusahaan Bapak." Jawab laki-laki gempal itu yang seakan-akan bisa membaca pikiran majikannya. "Untuk apa mereka kesana?" Tanya Bambang lagi. "Sepertinya mereka sedang merayakan sesuatu. Mereka di sana juga sampai larut malam." Jawab laki-laki yang berkepala botak. Bambang menatap tajam ke arah kedua laki-laki suruhannya itu. Dia ingin mendengar lebih banyak informasi lagi tentang apa saja yang terjadi antara anaknya dengan gadis yang tidak dia kenal itu. "Maaf, Pak kami belum bisa memastikan apa yang sedang mereka rayakan. Tapi sepertinya mereka sedang merayakan hubungan mereka." Kata orang suruhannya itu. Dia tahu dari sorot mata tajam Bambang meminta sebuah penjelasan kepada dia. Bambang mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Walaupun dia belum yakin dengan apa yang dia lihat saat ini, namun dia mulai menyimpulkannya. Kesimpulan yang nantinya benar atau salah, dia juga tidak yakin. Bambang menyimpan foto-foto itu ke dalam amplop. Dia menyisakan 1 foto yang menunjukkan kebersamaan Pandu dan Sakura di atas ayap. Matanya menatap tajam pada laki-laki yang ada di depannya. "Siapa perempuan ini?" Tanya Bambang dengan serius. Dia ingin tahu perempuan macam apa yang sedang dikencani oleh Putranya. Walaupun putranya punya kekurangan, namun dia sebagai orang tua tidak mau memiliki menantu orang tidak jelas yang pada akhirnya hanya memanfaatkan Putranya. "Maaf, Pak kami belum punya banyak informasi tentang gadis itu." Jawab laki-laki yang botak. Bambang menatap tajam ke arah dua laki-laki yang dia sewa itu. Tangannya mengepal karena merasa kecewa dengan kinerja orang suruhannya ini. Bagaimana mungkin mereka melewatkan informasi yang sangat penting. Mengetahui latar belakang perempuan yang sedang dikencani oleh Putranya sejak awal adalah langkah yang harus Bambang ambil. Jika memang dia rasa perempuan ini tidak cukup baik untuk Pandu, dia sendiri yang akan turun tangan untuk memisahkan mereka berdua. Bukannya Bambang ingin ikut campur tentang kehidupan asmara Putranya, namun dia terlalu takut jika Putranya hanya dimanfaatkan saja. "Kenapa wajahnya tidak pernah tersorot kamera seperti ini?" Tanya Bambang lagi. Dia memperhatikan foto itu. Orang suruhannya seperti sedang mengambil foto-foto itu dari samping hingga membuat wajah Sakura tidak jelas terlihat. "Maaf, Pak kami kesulitan mengambil foto karena mereka selalu bersama di tempat umum. Banyak orang yang memperhatikan kami ketika kami memotret bahkan beberapa kali kami hampir ketahuan." Jelas laki-laki botak, dia berharap majikannya bisa mengerti dengan resiko akan dialami oleh dia dan rekannya. "Kalian tidak tahu apapun tentang gadis ini?" Tanya Bambang lagi. Kedua laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Tapi beberapa kali kami pernah melihat gadis itu disebuah restoran. Pakaiannya seperti seragam restoran tersebut." Kata laki-laki satunya lagi. Melihat raut wajah Bambang yang sudah berubah membuat dia ketakutan. Dia tidak ingin majikannya itu berpikir jika dia dan rekannya tidak pecus bekerja dan menjalankan tugas. "Maksud kamu dia adalah pelayan restoran?" Tanya Bambang memastikan. Kedua laki-laki bertubuh besar itu menganggukkan kepalanya bersamaan. Jawaban mereka membuat Bambang mengeratkan tangannya dan memukul meja. Dia merasa gadis seperti itu tidak pantas menjadi menantunya. Bagi Bambang gadis seperti itu hanya akan menumpang hidup enak dengan anaknya dan bisa saja dia akan mengeruk habis hartanya. "Cari informasi sebanyak-banyaknya dari gadis kere itu." Desis Bambang yang sudah tersulut emosinya. Bambang tidak suka anaknya dekat dengan gadis yang tidak jelas asal-usulnya. "Siap, Pak." Jawab kedua laki-laki itu dengan tegas. Mereka menyanggupi permintaan majikannya karena tugas mereka tidak berat. Memang itu adalah pekerjaan mereka. Mengawasi seseorang karena sebuah bayaran yang besar. Setelah itu mereka keluar dari ruang kerja Bambang. Tanpa mereka sadari seseorang mengintip dari luar ruangan sedari tadi. Orang itu mengerutkan keningnya dan berpikir siapa orang yang sedang diselidiki oleh Bambang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD