Catherine berdiri di depan wastafel kamar mandi di kamarnya. Tatapannya tertuju pada cermin di depannya. Kamu berhak bahagia, kamu berhak mengejar keinginanmu sendiri. Jangan jual kebahagiaanmu dan hidupmu demi bisnis. Tinggalkan pria sialan itu. Ucapan Aiden tadi kembali terngiang di telinganya. Andai, andai ia bisa menggapai kebahagiaannya. Andai cintanya tidak sebelah pihak. Andai Aiden juga mencintainya. Mungkin semua rasa sakit ini tidak akan pernah ia rasakan. Tangan Catherine terangkat memegang dadanya yang mendadak sesak dan sakit. Ia meremas pakaiannya seakan ingin menghentikan rasa sakit di dadanya. Air mata tanpa sadar luruh membasahi pipinya. ‘Aku ingin bahagia, sangat ingin. Tetapi apa aku bisa bahagia tanpa

