Episode 12

1897 Words
Catherine mengeratkan mantel yang ia gunakan. Ucapan Aiden tadi siang terus saja terngiang di telinganya. Ada rasa bahagia didalam hatinya mengingat kalau Aiden masih menganggapnya begitu penting walau hanya sebagai teman.                 “Aku ingin kita seperti dulu tetapi aku takut. Aku takut semakin jatuh cinta padamu dan mengulang kesalahan yang sama,” gumamnya.                 Ia takut kembali harus terluka karena cinta. Cinta ini sungguh menyesakkan dadanya dan membunuhnya secara perlahan. Di sisi lain rasa rindu tetapi di sisi lain lagi ia sangat ketakutan. Takut kembali jatuh karena cintanya.                 “Mom...”                 Panggilan itu membuatnya menoleh.                 Tatapan polos itu selalu mengingatkannya pada cinta itu. Cinta yang masih tertanam di lubuk hatinya. Catherine tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan Jasmine. Ia selalu menampilkan sosok Ibu yang selalu tegas, disiplin dan kuat.                 “Kenapa keluar? Kamu belum tidur, Hm?” seru Catherine yang saat ini berdiri di dekat kolam renang.                 “Aku haus dan ingin mengambil minum. Mommy belum tidur?” tanyanya yang kini berdiri di hadapan Catherine. Catherine berjongkok di hadapannya.                 “Kalau begitu ayo kita tidur,” seru Catherine membawa Jasmine ke dalam gendongannya dan membawanya ke dalam kamar setelah mengambilkan air minum.                 “Mom...” panggil Jasmine saat tubuhnya di rebahkan di atas ranjang oleh Catherine.                 “Hmm...”                 “Apa benar pernikahan Mom dan Uncle Robert di percepat?” tanya Jasmine.                 “Kamu tau dari mana?” tanya Catherine.                 “Grandpa,”                 Catherine hanya diam tak menjawabnya.                 “Mom, bisakah jangan menikah dengannya,” ucap Jasmine.                 “Kenapa?”                 “ Mine tidak menyukainya, dia tidak baik,” serunya.                 “Kamu tau dari mana kalau dia tidak baik?” seru Catherine.                 “Kelihatan dari sikapnya saja, apalagi dia baik padaku hanya di depan Mom saja.”                 Catherine hanya menampilkan senyuman kecilnya. “Kamu belum mengenalnya, lama kelamaan juga kalian akan akrab. Sudahlah jangan pikirkan itu, sebaiknya kamu fokus dengan study mu.”                 “Apa aku tidak boleh berpendapat?” seru Jasmine yang begitu pintar.                 Melihatnya seperti ini selalu mengingatkannya pada sosok Aiden yang tidak pernah menyerah dan selalu ingin penjelasan yang bisa ia terima.                 “Mom sedang tidak ingin membahas ini, Sayang.”                 “Mom selalu saja menghindar setiap aku bertanya hal ini,” seru Jasmine dengan wajah cemberut.                 “Kenapa kamu ingin tau, bocah kecil.” Catherine dengan gemas mengelus rambut Jasmine. “Kamu ini bocah kecil yang ingin cepat dewasa.” Kekehnya.                 “Apa sih Mom, aku kan memang sudah dewasa,” kekehnya.                 “Benarkah sudah dewasa? Coba mana sini Mom lihat yang sudah dewasa itu,” serunya menggelitik tubuh Jasmine.                 “Ah Mom geli, haha...”                 Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Ꙭ                 Aiden baru saja sampai di kantornya. Ia mengambil duduk di kursi kebesarannya dan hendak mengambil sebuah berkas yang ada di atas mejanya, sebelum dering handphone mengalihkan perhatiannya. Ia menatap layar handphone nya.                 Devara...                 Ada keraguan didalam dirinya untuk menerima panggilan itu. Aiden telah meninggalkan masa lalu nya  5 tahun lalu dan ia tidak ingin ada hubungan lagi dengan masa lalunya. Ada ketakutan didalam hatinya. Ia bahkan benar-benar tidak ingin mendengar kabar apapun dari orang-orang di masa lalunya.                 Aiden mengingat saat terakhir ia melihat Dave dan Agneta. Hatinya hancur lebur saat harapannya pupus, hatinya seperti di koyak saat melihat Agneta lebih memilih Davero.                 Aiden memang tidak menyalahkan Agneta, ia sadar kalau cinta Agneta hanya untuk Dave dan itu tidak bisa di paksakan. Tetapi Aiden juga tidak bisa mengesampingkan rasa saktitnya yang begitu dalam. Bahkan setelah 5 tahun berlalu, ia masih merasakan sakit juga trauma akan cinta.                 Dering handphone nya kembali menyadarkan dirinya dari lamunan tentang masa lalu. Dan nama Devara masih muncul di sana.                 Ada apa...? batin Aiden.                 Setelah mempertimbangkan cukup lama, Aiden akhirnya menerima telpon itu.                 “Akhirnya kamu mau menerima telpon ini.”                 “Ada apa, Vara?” tanya Aiden.                 “Emm kamu masih mengingatku?”                 “Ada apa?” tanya Aiden seakan tidak ingin berlama-lama.                 “Tante Elena masuk rumah sakit dan keadaannya kritis. Dia ingin bertemu denganmu, Aiden.”                 “Aku sibuk.”                 “Bagaimanapun dia Ibu mu. Dan hanya kamu yang dia miliki saat ini.”                 “Bukankah ada kalian,” seru Aiden.                 “Aiden, kembalilah dan beri kesempatan untuk Ibu mu. Aku tidak berbohong, keadaannya sangat kritis.”                 Aiden termangu di tempatnya mendengar penuturan dari Devara.                 “Aku tunggu kabarmu saat datang kemari.”                 Devara menutup telponnya membuat Aiden menurunkan tangannya yang tengah memegang handphone di telinganya.                 Kembali ke Indonesia??                 Bagaimana kalau ia kembali bertemu dengan Agneta. Apa dia akan sanggup? Ꙭ                 Jasmine baru saja keluar dari area sekolahnya. Ia celingak celinguk mencari Ibu angkatnya dan mobil yang datang menjemputnya.                 “Ibu Angkat apa belum datang yah?” gumamnya.                 Jasmine berdiri menunggu jemputan di depan sekolah. Suasana mulai sepi karena para siswa sudah banyak yang di jemput pulang.                 Dari sudut kanan keluarlah sosok pria dengan menggunakan jaket dan penutup kepala. Sosok tinggi itu sungguh mencurigakan dan berjalan mendekati Jasmine.                 “Adik kecil.”                 “Iya Paman?” seru Jasmine pada sosok yang kini berdiri di sampingnya.                 “Bisakah kamu mengantarku ke Jl. Xxx.”                 “Maaf Paman, tapi aku tidak bisa mengantarmu. Jalan itu ada di depan sana. Paman hanya tinggal belok ke arah kiri.” Jasmine menjelaskannya dengan pintar.                 “Aku takut salah, ayo antar aku.” Sosok pria itu tiba-tiba menarik tangan Jasmine membuatnya ketakutan.                 “Tidak Paman, lepaskan aku!” jeritnya.                 Karena takut security yang tadi masuk ke dalam sekolah kembali keluar, sosok pria itu langsung membawa Jasmine ke dalam gendongannya dengan membekap mulutnya.                 “Emmm...!!!!”                 Jasmine berontak meminta di lepas, tetapi cengkraman pria itu sangat kuat dan membawa Jasmine ke mobil miliknya.                 “Jasmine?” gumam Aiden yang kebetulan melewati jalan itu. Ia segera meminggirkan mobilnya dan berlari menuju ke arah Jasmine yang kini sudah di paksa masuk ke dalam mobil.                 “Lepaskan dia!”                 Aiden meluncurkan bogemnya hingga mengenai rahang pria itu. Jasmine terlempar dari gendongannya.                 “Uncle Tampan!” panggil Jasmine berusaha kembali berdiri.                 Karena keributan itu juga, Security yang berjaga di sekolah langsung menghampiri mereka. Karena kaget melihat banyak orang yang datang, sosok itupun memilih kabur menggunakan mobilnya.                 “Catat plat nomornya,” seru Aiden yang di angguki security.                 Aiden berjalan mendekati Jasmine yang menangis.                 “Kamu tidak apa-apa?” tanya Aiden meneliti Jasmine takut ada luka.                 “Aku baik-baik saja, Uncle.” Ucapnya menghapus air matanya.                 “Syukurlah. Jemputanmu belum datang?” tanya Aiden yang di jawab anggukan kepala oleh Jasmine.                 “Kalau begitu ayo Uncle antar kamu pulang.”                 “Tapi bagaimana kalau jemputannya datang?” seru Jasmine.                 “Biar security ini yang memberitau.”                 “Tapi anda siapanya Jasmine? Kami tidak bisa membiarkan Jasmine pergi dengan sembarang orang,” seru Security itu.                 “Dia temannya Jasmine, Pak. Dia orang baik,” seru Jasmine.                 “Baiklah kalau Jasmine memang mengenal anda dengan baik,” seru Security itu.                 “Ayo Mine.” Jasmine menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan Aiden untuk berjalan mendekati mobil Aiden. Ꙭ                 Sebelum sampai ke rumah, Aiden sudah sempat membelikan makanan siap saji dan es cream untuk Jasmine. Awalnya Aiden mengajak Jasmine untuk makan siang bersama, tetapi Jasmine menolak karena takut orang rumah mencarinya.                 Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Jasmine yang terlihat cukup besar dan begitu elegant.                 “Ini rumahmu?” tanya Aiden saat mereka sampai di depan gerbang rumahnya,                 “Iya Uncle, ayo masuk dulu,” ajak Jasmine.                 “Tidak, lain kali saja. Sekarang kamu masuk gih,” seru Aiden yang di angguki oleh Jasmine.                 “Uncle tampan terima kasih banyak,” ucap Jasmine spontan memeluk Aiden hingga membuat Aiden mematung kaku.                 “Sampai jumpa Uncle.” Jasmine melepaskan pelukannya dan menuruni mobil.                 “Ada apa denganku?” gumam Aiden saat merasakan ada kehangatan familiar yang di salurkan oleh Jasmine untuk dirinya.                 “Gadis itu, kenapa aku begitu menyukai bocah kecil itu,” gumamnya menatap Jasmine yang kini masuk ke area rumahnya. Ꙭ                 “Jasmine!”                 Catherine membuka pintu kamarnya dengan kencang membuat Jasmine menoleh ke arahnya.                 “Mom?”                 Catherine berjalan cepat mendekati Jasmine kemudian menariknya ke dalam pelukannya. “Bagaimana keadaanmu? Apa mereka menyakitimu?”                 “Tidak apa-apa kok Mom, untuk ada Uncle tampan yang menolongku,” seru Jasmine melepaskan pelukan Catherine.                 “Uncle Tampan?” seru Catherine mengernyitkan dahinya bingung.                 “Iya Mom, dia yang nolongin aku,” ucap Jasmine.                 Aiden...                 “Apa kamu sudah berterima kasih pada Uncle Tampan itu?” tanya Catherine.                 “Sudah Mom.”                 “Anak pintar.” Catherine mengusap kepala Jasmine dengan lembut.                 “Mom, bisakah kita undang Uncle Tampan untuk makan malam bersama?” seru Jasmine. “Aku ingin mengajaknya makan malam bersama. Dan memperkenalkannya pada Mommy.”                 Catherine terpaku mendengar penuturan Jasmine barusan. Bagaimana mungkin mereka bisa bertemu dan makan malam bersama. Bisa-bisa Aiden mengetahui identitas Jasmine. Hal yang paling ia takutkan. Ia takut Aiden akan merebut Jasmine darinya.                 “Aku yakin Mom akan suka padanya. Dia sangat baik,” puji Jasmine. “Apalagi dia sangat tampan, lebih tampan dari Uncle Robert.”                 “Kamu ini ngomong apa sih,” seru Catherine merasa tak nyaman. “Sudahlah sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Mom akan menemui Ibu angkat dulu.” Ꙭ                 Catherin saat ini tengah berada di kantor polisi mengenai kasus percobaan penculikan pada putrinya kemarin.                 “Bagaimana Pak, apa ada kabar?”                 Polisi yang berada di hadapan Catherin hanya menghela napas dan mempersilakan Catherin untuk duduk dengan tenang. Catherine menurut dan kini duduk di hadapan polisi hanya terhalang sebuah meja kerja.                 “Bagaimana?”                 “Kami masih belum bisa menemukan pelakunya. Sepertinya si perlaku ini sudah mempersiapkan segalanya. CCTV di jalan itu pun rusak juga di depan gerbang sekolah anak anda CCTV nya mati. Kami mencari mereka hanya berpegang pada nomor polisi mobil itu yang ternyata itu sebuah mobil yang di curi. Kini mobil itu tampak rusak dan terbakar hangus hingga kami tidak bisa mencari sidik jari atau tanda-tanda dari si pelaku,” ucap polisi tersebut membuat Catherine merenung.                 “Kalau tidak salah, saya dengar kalau putri anda di selamatkan oleh seorang pria. Bisakah anda meminta pria itu untuk datang kemari. Kami butuh keterangan dari saksi mata, dan hanya dia yang melihat sosok penculik itu.”                 Catherine terpaku di tempatnya saat mendengar penuturan dari polisi. Bagaimana dia bisa meminta Aiden untuk bersaksi. Itu sama saja semua rahasianya akan terbongkar.                 Tidak bisa! Catherine tidak bisa melakukan itu. Kalau Aiden mengetahui mengenai Jasmine, ia takut Aiden akan memisahkannya dengan Jasmine dan mengambil alih hak asuh. Catherine tidak bisa membiarkan itu terjadi.                 “Bagaimana Ny. William?”                 “Saya tidak mengenal pria itu, tetapi saya akan berusaha mencari keberadaannya,” seru Catherine merahasiakan fakta dirinya mengenal Aiden.                 “Baiklah kalau begitu, kami juga akan terus melacak keberadaan penculik itu,” ucap Polisi.                 “Terima kasih Pak.”                 Setelah itu Catherine pergi meninggalkan kantor polisi. Ia menghubungi pengasuh Jasmine untuk selalu berada di sisi Jasmine dan akan ada dua bodyguard yang melindungi Jasmine juga pengasuhnya. Ꙭ                 “Kau kelihatan tidak sehat.”                 Seruan itu membuat Catherine menoleh dan terlihat Aiden masuk ke dalam ruangannya.                 “Bukan urusanmu! Dan bisakah anda mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam ruangan ini, Mr. Aiden!” seru Catherine dengan nada dingin.                 “Aku sudah mengetuk beberapa kali, dan kamu malah sibuk dengan berbagai macam pikiranmu.” Seru Aiden membuat Catherine terdiam.                 “Apa kamu terkena masalah?” tanya Aiden dengan santai duduk di hadapan Catherine yang hanya terhalang meja kerja.                 “Aku baik-baik saja,” seru Catherine.                 “Baiklah kalau begitu,” seru Aiden dengan santai. “Ini beberapa berkas kerja sama dengan perusahaan Horlang. Kamu hanya tinggal menandatanginya dan membaca kembali perjanjiannya,” ucap Aiden menyerahkan berkas kepada Catherine.                 Catherine menerima berkas itu dan membacanya. Aiden memang begitu handal, pekerjaannya sangat memuaskan dan bahkan Catherine merasa begitu terbantu oleh Aiden. Aiden memahami dirinya dan apa yang ia inginkan.                 “Sepertinya kamu puas dengan pekerjaanku,” seru Aiden saat melihat raut wajah Catherine.                 Catherine melihat ke arah Aiden. “Jangan terlalu berbangga diri dulu.”                 Aiden hanya tersenyum. “Aku akan mengambil cuti beberapa hari ke depan,” serunya membuat Catherine mengernyitkan dahinya.                 “Aku akan ke Indonesia,” seru Aiden saat melihat raut wajah Catherine yang seakan menanyakan kenapa.                 “Oh.”                 Catherine menjawab seperti itu, walau hatinya merasa cemas dan ada ketakutan. Mungkinkah Aiden akan kembali bertemu dengan Agneta, dan apa perasaannya pada Agneta masih ada. Bagaimana kalau mereka kembali menjalin hubungan.                 Catherine menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran itu. Untuk apa dia mengkhawatirkan hal itu. Toh ada tidaknya Agneta, perasaan Aiden tetap bukan untuk dirinya.                 “Kenapa?” tanya Aiden yang masih menatap Catherine.                “Tidak ada. Kalau begitu kamu tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaan.”                 “Baiklah.” Ꙭ  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD