Aiden baru saja sampai di klab malam milik Harry. Ia selalu datang saat ada waktu luang supaya rasa hampa itu tidak semakin menyesakkan dirinya.
“Mr. Aiden,” seru Lala yang datang menyambut Aiden.
Wanita cantik itu tak pernah lelah mendekati Aiden walau sering sekali di tolak dan di abaikan oleh Aiden. Seperti biasa Aiden hanya meliriknya sekilas dan berjalan menuju meja bartender.
“Aku senang melihatmu datang,” seru Lala langsung bergelayut manja di lengan Aiden.
“Lala, pergilah!”
“Kenapa kamu terus saja mengusirku? Apa aku sangat menjijikan di matamu?” tanya Lala yang merasa tersinggung dan sakit hati.
“Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya ingin sendirian,” seru Aiden dan kembali berjalan meninggalkan Lala yang terlihat kesal.
“Sebenarnya wanita seperti apa yang di inginkan Aiden. Kenapa dia terus menerus menolakku,” gumam Lala memperhatikan punggung lebar milik Aiden.
Aiden duduk di meja bartender dan Louis langsung menyapanya.
“Seperti biasanya,” seru Aiden.
“Oke.”
Louis dengan cepat memberikan segelas cairan cokelat dengan es batu didalam gelas kecil.
“Mukamu terlihat lesu, ada apa?” tanya Louis seraya mengelap beberapa gelas yang sudah ia bersihkan.
“Aku baik-baik saja,” jawab Aiden.
“Wajahmu tidak mengatakan hal itu. Dan hari apa sekarang? Tumben kamu datang di hari kerja.”
“Ck, kamu sungguh cerewet,” seru Aiden meneguk minuman didalam gelasnya.
Louis kembali sibuk dengan pekerjaannya menyiapkan beberapa minuman untuk para pelanggan.
“Louis, kenapa aku begitu kesal dan marah,” gumamnya membuat Louis menoleh ke arahnya.
“Sudah jelas sekali di wajahmu tertulis kamu sedang ada masalah. Baiklah katakan saja ada apa?” tanya Louis.
“Sejujurnya aku sedikit trauma akan perasaan cinta. Tapi melihat dia bersama pria lain kenapa aku merasa kesal dan marah?” serunya seakan tak paham.
“Berarti kamu memiliki perasaan cinta pada wanita itu. Itu namanya kamu sedang cemburu,” seru Louis.
“Tapi dia wanita yang aku anggap sebagai temanku.”
“Memangnya kalau teman, tidak bisa menjadi pasangan? Ayolah Aiden, jangan bodoh,” seru Louis.
Aiden terdiam, tetapi ia masih tidak yakin kalau itu perasaan cinta. Di tambah lagi ia memiliki trauma akan cinta. Rasa sakit itu masih membekas didalam hatinya walau ia sudah melupakan Agneta sepenuhnya.
---
Kala sibuk dengan pikirannya ia melihat seseorang yang ia kenali baru saja datang ke dalam klab itu.
“Robert?” gumamnya.
Robert terlihat datang dengan seorang wanita cantik dengan pakaian seksi, mereka saling merangkul satu sama lainnya dan terlihat begitu mesra.
“Sialan!” Aiden merasa amarahnya tersulut dan rasanya ia ingin mematahkan kedua tangan dan kaki Robert.
“Hei kamu mau ke mana?” seru Louis melihat Aiden beranjak dari duduknya.
“Aku harus memberi seseorang pelajaran.”
Setelah mengatakan itu, Aiden beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Robert.
“Hei!” panggil Aiden membuat Robert menoleh.
Bug
Karena pukulan mendadak itu membuat Robert tidak mampu menangkis atau menghindarinya. Tubuhnya terdorong ke depan dan hampir tersungkur.
“Berengsek!” amuk Robert membalas memukul Aiden tetapi Aiden berhasil menghindar.
Mereka berdua akhirnya terlibat perkelahian, Louis dan keamanan di sana segera memisahkan mereka berdua.
“Sialan! Siapa kamu dan kenapa langsung memukulku!” amuk Robert terlihat emosi.
“Kau yang sialan! Kau sudah memiliki tunangan tapi masih berkeliaran dengan wanita lain!” amuk Aiden.
“Memang apa urusannya denganmu aku ada tunangan atau tidak?” amuknya.
“Ada urusannya denganku! Karena aku tidak ingin Catherin di khianati!”
“Oh jadi kamu mengenalnya,” seru Robert. “Apa kamu memata-mataiku untuknya?” ejek Robert.
“Kau!”
“Aiden cukup!” Louis mencengkram kerah baju Aiden dan menariknya menuju bagian belakang klab.
“Apa kamu sudah gila membuat keributan di sini? Bagaimana kalau Harry sampai tau?” seru Louis.
“Dia pria sialan yang seharusnya aku bunuh!” amuk Aiden tampak kesal.
“Memang apa hubungannya denganmu? Come on Aiden, di sini termasuk wajar memiliki hubungan gelap dengan beberapa wanita. Kenapa kamu begitu naif.” Aiden termangu di tempat.
Ada apa dengan dirinya, biasanya dia tidak perduli dengan apapun. Tetapi kenapa sekarang dia ikut mengurusi hubungan Catherine dengan pria itu. Apa ini pembelaan untuk Catherin? Atau demi dirinya yang terluka karena pengkhianatan dan membenci apapun yang berbau pengkhianatan?
“Aku akan pulang,” seru Aiden beranjak pergi meninggalkan Louis yang menatapnya menjauh.
Ꙭ
Catherin baru saja sampai di kantor. Ia berjalan memasuki lift untuk para petinggi.
“Hallo,” serunya mengangkat telpon saat dering handphone terdengar.
Ia berbicara mengenai bisnis didalam lift tanpa menyadari keberadaan sosok lain didalam sana.
“Eh?”
Tubuh Catherine oleng saat lift tiba-tiba saja bergetar dan berhenti.
“Ada apa ini?” gumamnya memutuskan sambungan telpon.
“Biar aku periksa,” seruan itu membuatnya menoleh dan ia baru menyadari adanya sosok lain didalam lift.
“Aiden?”
Aiden menekan tombol bergambar lonceng dan menghubungi pihak keamanan di sana.
“Ah!” jerit Catherine saat lift kembali bergetar dan tubuhnya oleng tetapi tangan kekar Aiden dengan sigap merengkuh pinggangnya dan membuat tubuh mereka menempel satu sama lain.
“Sepertinya ada gangguan, kita tunggu pertolongan sebentar lagi,” ucap Aiden menatap manik mata Catherin.
Catherine menganggukkan kepalanya tanda setuju. Jantungnya berdebar begitu cepat hingga membuatnya tidak mampu berbuat apapun dan hanya menurut saja.
“Khem...” saat kesadarannya kembali, Catherine mendorong d**a Aiden dan berjalan mundur.
AC didalam lift pun ikut mati, membuat mereka berdua kepanasan dan keringat membasahi mereka. Aiden melepaskan jas yang ia gunakan dan membuka kancing kemeja putih yang ia gunakan. Setiap kejadian itu tak luput dari tatapan mata Catherine.
“Kamu tidak berniat untuk bertelanjang di hadapanku, bukan?” seru Catherine yang juga merasa kepanasan dan terpesona oleh tubuh Aiden yang begitu sempurna.
“Apa kamu menginginkan itu?” goda Aiden.
“Apa maksudmu? Berhentilah berbicara omong kosong,” serunya memalingkan wajahnya seraya mengikat rambutnya yang tadinya di gerai.
“Ck, benar-benar pegawai yang tidak berguna. Kenapa lama sekali,” gerutu Catherine.
Aiden berdiri dengan bersandar ke dinding lift. Tatapan matanya masih tertuju pada Catherine yang mengipasi dirinya dengan tangannya.
“Apa hubunganmu dengan Robert serius?” tanya Aiden begitu saja hingga membuat Catherine melihat ke arahnya. “Atau hanya sekedar hubungan untuk memperkuat bisnis kalian?”
Catherine memalingkan wajahnya. “Itu bukan urusanmu,” serunya.
“Robert bukan pria baik-baik, semalam aku melihatnya dengan seorang wanita. Jangan korbankan kebahagiaanmu demi sebuah bisnis.”
“Kau tau apa tentang kebahagiaanku! Jangan urusi urusanku lagi,” seru Catherine dengan nada dingin.
“Aku perduli padamu. Jangan mengorbankan lagi kebahagiaanmu demi bisnis. Robert bukan pria yang baik untukmu,” seru Aiden.
“Ha ha ha...” Catherin tertawa garing dan kini berjalan mendekati Aiden.
“Lalu pria seperti apa yang baik untukku?” tanya Catherine.
“Carilah orang yang sungguh-sungguh mencintaimu dan kamu mencintainya. Hiduplah bahagia dan membangun sebuah kehidupan yang bahagia.”
“Ha ha ha... Jangan naif Aiden,” kekehnya. “Kau sendiri pun tidak percaya akan hal itu bisa terjadi dalam kisah nyata. Menikah dengan orang yang di cintai dan hidup bahagia. Bukankah itu hanya ada didalam novel. Jangan naif,” kekeh Catherine merasa lucu mendengar seruan Aiden.
“Bahkan aku tidak yakin kamu masih percaya akan cinta. Emm atau kamu memintaku meninggalkan Robert karena kamu membenci pengkhianatan seperti yang di lakukan wanita yang kamu cintai itu, AGNETA.”
“Kau!”
“Kenapa? Tebakanku benar, bukan?” seru Catherine dengan nada mengejek. “Aku tidak ingin mencampuri urusanmu dan aku harap kamu juga begitu.”
“Apa begitu besar kebencianmu padaku, karena kesalahan di masa lalu?” tanya Aiden.
“Aku tidak ingin membahasnya,” ucap Catherine menghindar.
Aiden menarik lengan Catherin hingga membuatnya terbentur dengan d**a bidang Aiden. Aiden mencengkram kedua pundak Catherine dan membuat matanya bertemu dengan mata tajam miliknya.
“Katakan Catherine, apa begitu besar rasa kebencianmu padaku?” tanya Aiden menatap dengan intens manik mata Catherin seakan mencari sesuatu di sana.
“Memang apa bedanya antara aku membencimu atau tidak. Toh kita tidak bisa merubah apapun,” seru Catherin berusaha menghindari tatapan Aiden yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang.
“Penting bagiku! Aku ingin kamu kembali menjadi temanku seperti dulu. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi!”
Deg
Tatapan Catherine melebar mendengar penuturan Aiden barusan.
“Kamu sangat penting bagiku, Cath.”
Ꙭ