Episode 10

737 Words
Saat ini Aiden tengah duduk berhadapan dengan Catherin didalam ruangan milik Catherin.                 “Aku sudah mempelajari semua dokumen yang di berikan oleh asistenmu,” seru Aiden.                 “Baiklah kalau begitu,” seru Catherin.                 “Ini beberapa dokumen yang harus kamu sepakati. Kamu bisa membacanya,” seru Aiden menyerahkan dokumen ke arah Catherin.                 Catherin membuka dan membacanya dengan seksama.                 “Kamu dekat dengan Robert?” tanya Aiden membuat Catherin menghentikan aktivitas membacanya dan menoleh ke arah Aiden.                 “Memangnya ada masalah?” tanya Catherin mengernyitkan dahinya.                 “Tidak ada, aku senang melihatmu bahagia,” ucap Aiden terlihat tulus.                 “Terima kasih atas perhatianmu,” jawab Catherin memalingkan wajahnya. Entah kenapa hatinya masih berdegup cepat saat berada di sisi Aiden.                 Tak ada yang berubah dari 5 tahun yang lalu, apa yang dulu di rasakan Catherin pada Aiden, kini masih terasa juga menyakitkan. Sekuat apapun menahan dan menyembunyikan perasaannya, tetap saja tidak mampu melupakan Aiden, bahkan mengenyahkan perasaannya itu.                 “Kamu sudah lama menetap di kota ini?” tanya Catherin saat ia selesai membaca dokumen di tangannya.                 “Ya, sekarang di sinilah tempatku,” jawab Aiden.                 “Apa yang terjadi 5 tahun yang lalu sampai kamu memilih datang ke kota ini dan berubah profesi,” tanya Catherin tak mampu menahan rasa penasarannya.                 “Banyak yang berubah,” seru Aiden menerawang ke masa lalu yang menyakitkan dan menghancurkan dirinya.                 “Kamu seperti ini apa karena wanita bernama Agneta itu?” tanya Catherin membuat Aiden melihat ke arahnya dan terlihat tatapannya menggelap dan terlihat luka mendalam di sana.                 “Jangan pernah menyebut nama itu,” seru Aiden terlihat enggan.                 “Kenapa? Kamu membencinya?” tanya Catherin seakan terus menggali informasi.                 “Aku tidak membencinya, hanya saja aku tidak ingin mengingatnya dan mendengar namanya lagi. Kini kehidupanku ada di sini.” Aiden berbicara dengan penuh penekanan.                 Luka itu masih terasa, rasa sakit itu masih membekas didalam relung hatinya yang membawa Aiden ke dalam kegelapan terdalam didalam hatinya.                 Catherin tersenyum miris, ternyata cinta untuk wanita itu masih ada. Memang sejak dulu cintanya hanya sebuah cinta sepihak saja. Bahkan Aiden sama sekali tidak menyadari perasaan Catherin padanya. Dan sejak dulu Catherin hanya pelarian dari Agneta bagi Aiden. Sungguh cinta yang menyakitkan.                 “Baiklah kita kembali membahas pekerjaan saja,” seru Catherin yang di angguki Aiden.                 Aiden sesekali menjelaskan sesuatu kepada Catherin, tetapi Catherin malah tidak fokus dan terus menatap wajah Aiden.                 ‘Kamu berubah Aiden. Kamu menjadi sosok yang menutup dirimu dan menjadi sosok lain untuk menyembunyikan segala duka dan rasa sakitmu. Aku yakin, wanita itu masih mempengaruhimu hingga saat ini. Sebesar inikah rasa cintamu untuknya?’ batin Catherin.                 “Cath.”                 “Eh?”                 “Apa kamu mendengar ucapanku?” tanya Aiden.                 “Oh ya, lanjutkan lagi,” seru Catherin kini mulai berusaha fokus pada pekerjaan. Ꙭ                 Aiden baru saja selesai mandi dan sudah memakai pakaian rumahannya. Ia menuangkan kopi dari mesin pembuat kopi ke dalam gelas. Kemudian ia menyalakan televisi dan menonton berita.                 “Catherin?” gumamnya saat melihat berita di televisi.                 “Catherin dan Robert? Ternyata mereka memang sudah bertunangan.”                 Acara berita televisi itu tengah mewawancarai hubungan Catherin dan Robert yang merupakan pewaris tunggal dari salah satu pebisnis ternama di Negara ini.                 “Tidak di sangka kamu akhirnya menerima pernikahan karena kontrak bisnis,” gumamnya.                 Aku tidak ingin hidupku di atur oleh kedua orang tuaku yang bahkan hanya memikirkan bisnisnya saja daripada aku putri kandungnya sendiri.                 Aku ingin menikah dengan pria yang begitu aku cintai dan dia juga mencintaiku. Hidup bahagia dan memiliki banyak anak. Itu adalah impianku, Aiden.                 Bahkan aku rela meninggalkan statusku sebagai Nona billionaire hanya untuk menjadi seorang Ibu rumah tangga yang akan mengurus suami dan anak-anaknya kelak. Asalkan impianku tercapai.                 “Sebenarnya apa yang membuatmu berubah,” gumamnya menyeduh kopi yang masih mengepulkan asap itu. Ꙭ                 “Ck, terkadang berita seperti ini selalu di lebih-lebihkan,” seru Catherin mematikan saluran televisi.                 “Mommy kenapa marah-marah?” tanya Jasmine yang berada di sisinya.                 “Tidak apa-apa, kamu sudah selesai mengerjakan tugas?” tanyanya.                 “Ya Mom, aku ingin duduk di sini bersama Mom,” seru Jasmine duduk di samping Catherin dan merebahkan kepalanya di pangkuan Catherin.                 “Mom,”                 “Hmm...”                 “Aku melihat berita Mom dengan Uncle Robert, apa Mom beneran akan menikah dengannya?” tanya Jasmine.                 “Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanya Catherin.                 “Apa Mom mencintainya?” tanya Jasmine melihat ke arah wajah Catherin yang kini terlihat menegang.                 Karena tidak ada jawaban dari Catherin, Jasmine kembali bersuara. “Kalau memang tidak mencintainya, kenapa harus menikah sih Mom?”                 “Kamu anak kecil tau apa sih tentang cinta dan pernikahan,” kekeh Catherin tertawa garing.                 “Ck, kenapa para orang dewasa begitu ribet. Padahal hanya tinggal menikah saja dengan pria yang di cintai. Kenapa sulit sekali,” keluh Jasmine yang sudah begitu dewasa pemikirannya.                 ‘Semuanya tidak semudah yang kamu ucapkan. Mine.’ Batin Catherin. Ꙭ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD