BAGIAN 3
Cinta Anita (Season 1)
❀✿•♥•✿❀
Aku memandangi wajahku di cermin, sudah sangat lama aku melamun dan mataku terlihat membengkak. Sejak menikah dengan mas Raka aku sering melamun dan di wajahku terlihat penuh kesedihan tidak ada lagi kecerian disana.
Pernikahan Mas Raka dan Tania telah usai berapa jam yang lalu dan para tamu undangan juga sudah meninggalkan kediaman kami. Ibuku dan Ibu Mas Raka juga telah pergi dari kediaman kami. Kedua tanganku mengepal keras ingin rasanya aku marah tapi aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Airmataku kembali menetes dan untuk kesekian kalinya aku menghapusnya. Aku harus kuat dengan ujian yang diberikan Tuhan kepadaku.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, aku langsung menoleh dan melihat mas Raka masuk sambil menggulung kemeja putihnya. Aku hanya memandangi suamiku yang sedang membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian miliknya.
"Malam ini aku tidur dengan Tania..." Ucapnya tanpa menoleh. Aku hanya tersenyum getir ketika dia mengatakan itu.
"Mas..." Panggilku ketika dia ingin keluar kamar kami, lalu dia berbalik dan menatapku. "Aku boleh meminta sesuatu?" tanyaku ragu padanya, Mas Raka mengangguk. "Aku ingin memelukmu, boleh?" tanyaku kembali, Pria itu mengangguk membuatku tersenyum tipis.
Aku langsung memeluknya erat, hatiku sangat senang ketika dia mengizinkan aku untuk memeluknya. Walaupun aku tahu Mas Raka tidak akan mungkin membalas pelukanku, tetapi aku sudah cukup senang. Rasanya ingin aku menangis dipelukannya tapi tidak akan ku lakukan, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya.
"Maaf, Tania sudah menungguku." Ucapnya dan melepaskan pelukanku, lalu keluar dari kamar kami begitu saja.
Aku hanya menatapnya terluka dan airmataku tak bisa ku bendung ketika melihat Mas Raka tersenyum manis kepada Tania ketika wanita itu membuka pintu kamarnya menyambut kedatangan Mas Raka. Hatiku begitu pedih melihat Mas Raka tengah mengecup kening Tania begitu mesra disana.
Aku juga ingin kamu mencium keningku seperti itu Mas. Batinku penuh harap.
Aku langsung menutup pintu kamarku dan menangis sejadi-jadinya, bukan hanya ciuman kening saja yang akan dilakukan Mas Raka setelah ini, pasti dia akan melakukan hal yang lain dengan Tania. Memikirkannya saja hatiku sudah begitu sakit.
Ya Tuhan kenapa kau ciptakan rasa sakit dan cemburu kepadaku? tolong hilangkan rasa sakit ini Tuhan.
❀✿•♥•✿❀
Keesokannya…
Pagi ini begitu cerah, tapi seperti kemarin hatiku tidak secerah pagi ini. Saat ini aku sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Mas Raka dan Istri keduanya. Sekali-kali pandanganku memandangi kamar mereka berdua, mereka berdua belum terbangun sepertinya dan kamarnya masih terkunci. Aku menggelengkan kepalaku ketika memikirkan Mas Raka dan Tania sedang melakukan hubungan suami istri di dalam sana, memikirkan itu membuatku hatiku kembali sakit.
"Morning, Anita..." Sapa Mas Raka yang baru saja keluar kamar sambil mengandeng Tania. Wajah mereka berdua tampak begitu bahagia.
"Baunya harum sekali..." Seru Tania tersenyum kepadaku. Mas Raka dan Tania langsung duduk di meja makan, aku meletakan semangkuk besar yang berisi nasi goreng di atas meja makan.
"Itu untuk siapa An...?" tanyanya kepadaku ketika aku ingin menyendok nasi goreng di atas piring.
"Untuk Mas Raka.." kataku tersenyum.
"Biar aku saja yang mengambilkan untuknya," Serunya sambil mengambil piring dari tanganku. "Kamu kan sudah menyiapkan sarapan untuknya dan sekarang giliranku untuk memenuhi kebutuhanya." Lanjutnya sambil tersenyum kepada Mas Raka, aku hanya mengangguk dan menggeser kursi, lalu duduk dihadapan mereka berdua.
Aku memandangi mereka berdua sambil mengunyah nasi goreng yang terasa begitu hambar di lidahku. Mas Raka dan Tania bercanda dengan penuh kasih sayang dihadapanku, aku sangat cemburu melihatnya. Sepertinya mereka tidak perduli dengan kehadiranku disini, bahkan Mas Raka pun tidak mengindahkan perasaanku, dia terus mencium pipi Tania di hadapanku. Aku tidak tahan dengan semua kemesraan mereka.
"Kamu mau kemana?" tanya Mas Raka ketika aku menggeser kursi dan ingin pergi.
"Ke kamar mandi, perutku mulas." Jawabku dan meninggalkan mereka berdua.
Setelah berada di kamar mandi aku langsung menangis sejadi-jadinya, baru beberapa hari mereka menikah perasaanku sudah sangat hancur. Bagaimana aku harus melewati hari-hariku yang sangat menyesakan bersama mereka ke depannya. Apakah aku sanggup?
Ya Tuhan sampai kapan aku harus menahan rasa sakit ini?
❀✿•♥•✿❀
Seminggu kemudian...
Malam ini adalah malam yang sangat menyesakkan untukku, Mas Raka semakin hari tidak memperdulikan aku sebagai istrinya. Tania sendiri dia semakin membuatku cemburu dia terus berada di sisi Mas Raka. Bahkan mereka berdua tidak segan-segan berciuman dimanapun.
Apakah mereka tidak menghargai aku disini? Atau mereka tidak mengangap aku ada? Ingin rasanya aku berteriak dan mengatakan kepada mereka berdua aku lelah dan muak, tapi aku tidak bisa melakukan itu semua, yang hanya aku bisa lakukan hanya memendam perasaan ini dan menangis.
Malam ini Mas Raka pergi dengan Tania ke acara ulang tahun perusahaan Mas Raka. Mas Raka bahkan tidak menawariku sama sekali untuk datang ke acara itu bersamanya. Semakin lama aku merasa bukan istri Mas Raka saja.
Sikap Mas Raka padaku juga tidak berubah, masih ingat di benakku ketika dia memarahiku di depan Tania karena aku memindahkan berkasnya yang tegeletak di meja makan ke ruang kerjanya. Selain itu ketika aku ingin bicara hal yang penting kepadanya, dia malah seakan tidak peduli dengan semua perkataanku.
Saat aku melamun tiba-tiba pintu rumah kami terbuka, aku kontan menoleh kearah pintu. Ku lihat Mas Raka dan Tania masuk ke dalam rumah dengan penuh tawa di wajah mereka, tangan Mas Raka merangkul pinggang Tania begitu mesra. Aku yang melihat itu hanya tersenyum miris.
"Kamu belum tidur?" tanya Tania kepadaku, aku hanya menggeleng dan tersenyum. "aku ke kamar duluan ya sayang, malam ini kamu tidur di kamar Anita kan?" Ucap Tania sambil merlirikku sinis saat dia mengatakan itu.
Mas Raka hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar kami. Aku hanya terdiam dan menatap punggung mereka yang berjalan ke kamar mereka masing-masing. Kemudian aku menghela napas sesaat dan menyalakan Televisi untuk merilekskan pikiranku.
❀✿•♥•✿❀
Tiga jam kemudian…
Sudah pukul dua belas malam, mataku masih belum mengantuk. Aku langsung mematikan saluran Televisi dan berjalan menuju kamar. Saat aku berada di kamar aku melihat Mas Raka belum tidur, sepasang matanya menatap kosong langit-langit atap, sepertinya dia sedang melamun. Dari wajahnya aku tahu dia tidak ingin tidur bersamaku.
"Aku tidak memaksamu untuk tidur denganku malam ini" kataku membuat Mas Raka menatapku. "Mas boleh tidur dengan Tania sesuka Mas dan jangan perdulikan perasaanku..." Lanjutku sambil merebahkan diriku di tempat tidur.
"Anita, aku tidak tahu perasaanmu terbuat dari apa. Aku sering menyakitimu tapi kamu malah---"
"Sudahlah Mas, aku sudah pernah katakan aku akan membuatmu bahagia." Potongku.
"Maafkan aku Anita, kalau kamu sudah tidak tahan dengan ini semua, kamu boleh menceraikan aku." Ucapnya membuatku terperangah.
Aku menatapnya dengan pandangan terluka, "Cerai?" Kataku tak percaya, "Kenapa kamu bisa semudah mengucapkan itu Mas? Setelah apa yang aku korbankan dan perjuangkan untukmu kamu malah memintaku untuk menceraikan kamu?" tanyaku dengan mata mengembang.
"Aku hanya tidak ingin lebih menyakiti hati kamu, Anita." Ucapnya menghela napas membuatku menangis.
"Aku tidak peduli jika kamu terus menyakitiku, aku hanya ingin terus bersamamu, walaupun aku tahu kamu tidak ingin bersamaku." Kataku terisak.
Mas Raka menghusap kasar wajahnya, "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu, Anita!" Serunya menyerah dan berjalan keluar kamar kami.
Aku hanya bisa menangis ketika dia meninggalkanku di kamar. Kedua tangan ku mengepal keras dengan napas sesak. Semudah itu kah dia meminta cerai dariku, setelah apa yang aku lakukan untuknya?
Aku tidak meminta apapun darimu mas, aku hanya ingin tetap bersamamu walaupun itu sangat menyakitkan untukku…
❀✿•♥•✿❀
5 Bulan Kemudian...
"Anita..." Panggil Tania dari kamarnya, aku langsung datang menghampirinya. Tania tersenyum kepadaku ketika aku duduk di sampingnya, "Anita, aku merasakan kram di perutku." Ucapnya.
"Perut kram sering dirasakan oleh ibu hamil, Tania." Kataku tersenyum sambil menghusap perutnya yang sudah terlihat besar. "sekarang kamu istirahat saja, ingat kata dokter kamu tidak boleh kelelahan." kataku memperingatkan, dia hanya tersenyum. Kemudian aku menyelimuti tubuh Tania.
"Anita..." panggilnya kembali sambil memegang tanganku, "terima kasih, aku sangat beruntung bisa mengenalmu." Ucapnya.
Aku hanya tersenyum dan kemudian pergi dari kamar Tania. Aku sangat bahagia ketika mendengar kabar bahwa Tania sedang hamil tiga bulan, Mas Raka begitu bahagia dan semakin menyayangi Tania.
Tuhan ingin rasanya aku merasakan semua itu. Menjadi seorang wanita sempurna, tapi apakah mungkin Tuhan? Bagaimana aku bisa menjadi wanita sempurna, statusku memang adalah seorang istri. Namun, semua itu hanya status. Kenyataannya walaupun aku sudah menikah, aku tidak akan pernah menjadi seorang istri apalagi seorang ibu. Sejak awal kami menikah, aku dan Mas Raka tidak pernah berhubungan layakanya suami istri. Apalagi Mas Raka semakin menganggapku bukan lah seorang istrinya, aku merasakan seperti pembantu saja disini bukan sebagai seorang istri. Dia juga selalu menyalahkan ku atas kesalahan yang tidak pernah ku lakukan.
Sungguh berat sekali kehidupan yang aku jalani saat ini, ingin rasanya aku melepaskan mas Raka dan pergi dari kehidupannya, tapi aku tida bisa menjalani kehidupanku tanpa dia karena aku terlalu mencintainya.
Ting-Tong...
Suara bel membuyarkan lamunanku, aku langsung berjalan mendekati pintu dan membukanya pelan, "Maaf mau cari siapa yah?" tanyaku bingung ketika melihat sesosok pria bertubuh proporsional berdiri di hadapanku.
"Kamu pasti Anita kan?" tanyanya membuatku mengangguk dengan kening berkerut, Pria itu mengulurkan tanganya, "Aku Benny, adik Raka." Ucapnya membuatku terkejut.
"Adik Raka?!" pekikku tak percaya, pria itu mengangguk sambil melepaskan kaca mata hitamnya. Pantas saja wajahnya mirip dengan Mas Raka, pikirku.
"Bolehkah aku masuk?" tanyanya, aku hanya mengangguk dan mempersilahkan dia masuk ke dalam rumah. Tangan kanannya mendorong sebuah koper miliknya, "Mungkin Raka tidak pernah cerita kan denganmu kalau dia punya seorang adik?” tanyanya kembali, aku hanya menggeleng dan terus mengawasinya, “Aku bekerja di Singapore dan sekarang aku ada pekerjaan di sini, Profesi ku adalah seorang IT…" Jelasnya membuatku tambah bingung. "Aku ingin tinggal disini untuk sementara waktu." Ucapnya membuatku terkejut.
"Tinggal disini?" tanyaku memekik dengan pandangan heran, Pria itu mengangguk.
"Disini ada kamar kosong kan?" tanyanya kembali.
"Ada sih, tapi belum dirapikan." Kataku.
"Oke tidak masalah, tunjukan padaku kamarnya." Ucapnya kepadaku, aku langsung mengantarkan pria ini ke kamar tamu yang terletak di lantai atas.
Aku menghembuskan napasku berat, pria bernama Benny tidak pernah berhenti berbicara, dia terus bicara padahal aku tidak bertanya apapun kepadanya. Aku tidak yakin dia adiknya Mas Raka, dia sangat berbeda dari Mas Raka. Mas Raka adalah orang yang dingin dan irit bicara, sedangkan adiknya tidak pernah berhenti bicara sedikipun.
❀✿•♥•✿❀