BAGIAN 2
Cinta Anita (Season 1)
❀✿•♥•✿❀
Setengah jam kemudian…
Aku masih berada di rumah sakit ini, sepasang mataku menatap kosong tembok rumah sakit. Aku merasa hatiku begitu rapuh saat ini, setelah mengetahui bahwa suamiku tidak mencintaiku dan yang membuat hatiku semakin hancur ketika mengetahui bahwa suamiku mencintai wanita lain.
“Anita sedang apa kamu disini?" tanya seseorang tiba-tiba membuatku menoleh.
Kulihat wajah Mas Raka tampak terkejut saat melihat ku berada disini. Aku langsung menyeka airmataku dan berjalan menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan disini?!!" tanyanya kembali dengan nada tinggi
"Mas, apa wanita yang berada di kamar itu kekasihmu?" tanyaku menahan sakit saat mengatakan itu.
"Iya, dia kekasihku!" jawabnya lantang membuatku tersenyum lirih.
Aku menatapnya dengan mata berkaca. "Apa kamu sangat mencintainya, Mas?" tanyaku dengan hati sesak.
"Pertanyaan macam apa itu?! Jelaslah aku mencintainya, sangat mencintainya!" Jawabnya menambah luka di hatiku. "kamu lihat apa yang telah kamu lakukan? Dia mencoba bunuh diri karena aku menikah denganmu! Seharusnya aku menikah dengannya bukan denganmu!" bentaknya penuh amarah.
Aku menelan ludahku untuk menahan tangisku dengan mata terpejam, perkataan Mas Raka sangat menyakitkan hatiku.
“Tania pernah hamil anakku,” ucap Mas Raka membuatku terperangah untuk kesekian kalinya. Aku hanya terdiam menatapnya, sungguh aku sangat terkejut mendengar pengakuannya, “dia pernah hamil anakku, tapi dia menggugurkannya dan sejak itu aku harus bertanggungjawab atas kehidupannya.” Katanya kembali.
“Kenapa mas Raka tidak jujur dari awal kepadaku? Mas Raka bisa saja menolak pernikahan kita, jika itu yang terjadi.” Kataku dengan airmata menetes.
Dia tersenyum kecut, “aku tidak mungkin berkata jujur kepadamu, jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu, kamu pasti akan mengatakan kepada ibuku. Aku tidak ingin ibuku tahu tentang semua ini, aku tidak ingin menyakiti hatinya. Jika dia tahu aku menghamili wanita dia pasti sangat kecewa padaku, aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak ingin kehilangan ibuku, hanya dia satu-satunya yang ku miliki di dunia ini. Posisi ini sangat sulit untukku Anita! Dimana aku harus menikahimu demi kebahagian ibuku dan mengorbankan perasaan kekasihku untuk menikahimu!”
Hatiku semakin hancur mendengar semua pengakuan yang keluar dari mulutnya, tanganku mengepal keras dengan tangisan tertahan. Seaindainya saja Mas Raka jujur dari awal kepadaku, aku akan menolak perjodohan dan pernikahan ini. Demi kebahagian ibunya, dia menikahiku dan menyakiti hati kekasihnya. Aku merasa menjadi wanita paling tega, demi kebahagianku, aku menghancurkan kebahagian wanita lain. Seharusnya aku tidak menikah dengan Mas Raka.
“Dia menggugurkan anak kami tanpa sepengetahuanku, alasan dia mengugurkan anak kami karena dia tidak ingin anak itu. Aku baru mengetahuinya dia mengugurkan kandungannya saat aku memberitahunya bahwa aku dijodohkan oleh ibuku dan akan segera menikah.” Ucap Mas Raka tertunduk, aku hanya menatapnya lirih, “sejak mengetahui itu aku harus bertanggungjawab atas kehidupan Tania. Aku ingin menikahinya, tapi itu tidak mungkin terjadi ibuku tidak menyukai Tania.”
“Apa yang menyebabkan ibumu tidak menyukai Tania Mas?” tanyaku lirih.
Mas Raka mengangkat bahunya, “entalah aku tidak tahu.”
Hatiku sangat sakit mendengar semua pengakuannya, kemudian aku memejamkan kedua mataku, "Mas, aku mengizinkan kamu menikah dengannya..." ucapku membuka mataku dan menatapnya lirih, "Aku rela membagi cintaku dengan kekasihmu Mas." Kataku membuat Mas Raka menatapku tidak percaya.
Alasanku mengizinkan Mas Raka untuk menikahi Tania karena aku tidak tega melihat kondisi wanita itu. Wanita itu telah menderita karenaku, tidak seharusnya aku merampas kebahagian Tania. Dengan penuh keikhlasan aku merelakan suamiku menikahi kekasihnya.
Mas Raka tertawa kecut, “kamu pasti bercanda…”
“Aku tidak bercanda mas…” kataku bersungguh-sungguh.
"Apa kamu serius?!" tanyanya dengan alis terangkat, wajahnya yang penuh amarah berubah berseri.
Aku mengangguk mantap membuatnya tersenyum bahagia, “kamu harus bertanggungjawab atas semua perbuatanmu kepada Tania mas… nikahi Tania…” kataku lirih, dia hanya menatapku dengan wajah bahagia. Lalu aku menarik tanganya sebelum dia pergi dari hadapanku, kemudian aku memeluknya dengan tubuh bergetar, "Aku bahagia jika kamu bahagia Mas..." Ucapku dengan air mata menetes.
Mas Raka langsung melepaskan pelukanku dan berlari menemui kekasihnya. Aku hanya bisa menangis menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Ya Tuhan kuatkan lah hatiku ini.
❀✿•♥•✿❀
Beberapa hari kemudian, di kediaman Orangtua Raka...
Ibu Mas Raka dan Ibuku terdiam ketika aku mengatakan bahwa aku mengizinkan Mas Raka untuk menikahi kekasihnya. Ibuku hanya bisa menangis mendengarnya, sedangkan Ibu Raka diam seribu bahasa. Aku hanya menatap mereka dengan mata mengembang. Ayah ku dan Ayah Mas Raka sudah meninggal, sejak kecil aku sudah kehilangan ayahku, sedangkan Mas Raka kehilangan Ayahnya baru setahun yang lalu karena terkena serangan Jantung.
Awalnya Mas Raka menolak ketika aku menyuruhnya untuk berbicara hal yang sebenarnya kepada ibu kami. Tetapi aku memberi pengertian kepadanya, jika dia ingin menikahi Tania dia juga harus meminta restu kepada ibunya. Aku membantu Mas Raka untuk menceritakan semuanya kepada ibu kami, aku juga menyakinkannya semuanya akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apapun kepada ibunya. Walaupun aku dan mas Raka menceritakan kenyataan pahit ini kepada ibu kami, ada beberapa hal yang harus aku dan Mas Raka sembunyikan dari mereka. Aku dan Mas Raka sepakat tidak menceritakan tentang bayi yang telah digugurkan Tania kepada ibu kami, demi kesehatan ibu Mas Raka. Aku hanya mengatakan kepada mereka bahwa Mas Raka sangat mencintai Tania, sekarang wanita itu berada di rumah sakit dan sering mencoba bunuh diri karena depresi.
Pengakuan dariku dan juga Mas Raka membuat kedua ibu kami sangat terpukul.
"Kenapa kamu tidak menolak waktu mama menjodohkan dan menikahkanmu dengan Anita?" tanya Ibu Raka tanpa menatap Mas Raka.
Raka menghela napas. "Karena aku tidak ingin membuat Mama kecewa, hanya mama satu-satunya yang ku miliki." Jawabnya pelan.
"Kamu tahu Raka, kalau saja kamu berkata jujur mungkin ini tidak akan terjadi. Kamu telah menyakiti hati mama, mama mertuamu dan Anita yang paling tersakiti disini." Balas Ibu Raka dengan mata mengembang.
"Aku sudah meminta maaf kepada tante dan tante memaafkanya ma, lagipula ini semua atas kemauan Anita. Dia ingin aku menikah dengan Tania, tapi tenang saja ma aku tidak akan menceraikan Anita." Ucapnya membuat Ibu Raka menamparnya, aku hanya menutup mulutku melihat kejadian itu.
Ibu Raka menangis, "Siapa yang telah mengajarimu seperti itu? Kamu sama sekali tidak menghargai seorang wanita! Ayahmu saja bahkan menghargai wanita!" makinya disela tangisannya.
"Ayah menghargai wanita karena dia mencintaimu ma! tapi aku tidak mencintai Anita ma. Hanya Tania yang aku cintai!" serunya dengan mata melebar.
Hatiku kembali terluka dengan semua perkataannya, aku langsung menghampiri Ibu Raka, berlutut dihadapannya dan menatapnya sendu, "Ma, aku mohon izinkanlah Mas Raka untuk menikahi Tania. Karena aku yang salah ma, aku telah merusak kebahagian Mas Raka dengan kekasihnya. Lagipula jika mas Raka tidak menikahkan Tania, wanita itu akan terus mencoba bunuh diri dan aku tidak ingin itu terjadi."
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanyanya membuatku mengangguk mantap dan langsung memeluk Ibu mertuaku dan menangis dipeluknya. Lalu pandanganku beralih kepada ibuku yang sedang terisak sedih, wajahnya terlihat terluka disana.
Aku tahu keputusanku sudah menyakiti hati kedua Ibu yang aku cintai, tapi saat ini kebahagian Mas Raka yang paling penting. Aku ingin membuatnya bahagia karena aku tidak bisa membahagiakannya. Mungkin dengan cara seperti ini bisa membuat Mas Raka mencintaiku.
Maafkan aku ma, aku rela melakukan ini karena aku terlalu mencintai Mas Raka dan tidak mau kehilanganya. Mungkin aku egois tapi hanya ini lah salah satu cara membuatnya bahagia.
❀✿•♥•✿❀
Keesokan harinya...
Hari ini aku bertemu dengan Tania, Wanita yang akan menjadi maduku. Aku menatap Wanita yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya tampak begitu pucat tapi tidak melunturkan kecantikanya yang dia miliki. Mas Raka duduk di tepi ranjang dan mengenggam lembut tangan Tania, di pergelangan tangganya aku melihat banyak sekali perban. Wanita itu membuka matanya perlahan ketika Mas Raka membangunkanya lembut.
"Raka?" Ucapnya lirih, Raka langsung mencium kening wanita itu.
Aku hanya bisa tersenyum pedih menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu.
"Sayang, ada yang ingin bertemu denganmu." Ucap Mas Raka, Tania langsung menatapku dengan wajah terkejut.
"Hai Tania..." Sapaku tersenyum.
"Untuk apa kamu ajak dia kesini?!" tanyanya kepada Mas Raka tanpa menjawab sapaanku
"Sayang, tenang dulu yah... Ada yang ingin kami bicarakan kepadamu." Kata Mas Raka berusaha menenangkan Tania yang tampak sedikit gusar karena keberadaanku.
"Apa belum cukup kamu menyakitiku?!" Serunya kepada Raka, "untuk apa kamu kesini! Kamu sudah merebut Raka dariku!" Teriaknya kepadaku dan berusaha bangkit dari tidurnya. Tania ingin menyerangku tapi Raka menahanya segera. "apa kamu masih kurang puas?! Kamu telah mengambil Raka ku!" makinya sambil menunjuk wajahku.
"Bisakah kamu tenang sedikit Tania?" tanyaku kepadanya, "Aku ingin berbicara baik-baik kepadamu," kataku, Tiba-tiba Tania mendorong tubuhku membuatku terjatuh dan sikut ku mengenai sudut lemari besi dan membuat kulit ku agak sedikit biru.
"Suruh dia pergi dari sini Raka! Aku tidak ingin bertemu dengannya!" Teriaknya dengan mata melotot.
Aku langsung bangkit dari jatuhku, mendekati Tania dan mencengkram kedua bahunya, "Aku kesini bukan untuk mencari ribut dengamu. Aku kesini hanya ingin mengatakan kalau aku ingin kamu menikah dengan Mas Raka!" seruku lantang membuat Tania terkejut dengan ucapanku. "Aku mengizinkanya menikah denganmu..." Ucapku kembali, kening ku berkerut ketika Tania menangis dan terduduk lemah di ranjang.
Tania tiba-tiba tertawa, "kamu mengizinkan Raka menikah denganku karena kamu kasian kan denganku?!” tuduhnya menatapku penuh amarah, “Aku tidak perlu dikasihankan oleh Wanita sepertimu!” makinya.
Aku menghela napas sesaat, wanita yang ku hadapi sekarang sedang dipenuhi emosi hatinya. Lalu aku berlutut di hadapannya membuatnya menatapku dengan pandangan heran, "Aku melakukan ini bukan karena kasihan denganmu, aku melakukan ini karena Mas Raka mencintaimu dan kebahagiannya ada padamu Tania. Aku tidak bisa membahagiakanya, bahkan Mas Raka tidak mencintaiku. Aku telah membuatmu menderita Tania, bahkan aku telah menghancurkan kebahagian kalian. Maafkan aku Tania seandainya aku tau kalau---" ucapku terputus ketika Tania memelukku dan menangis.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, ini semua sudah takdir." Ucapnya membuatku membalas pelukannya.
"Menikahlah dengan Mas Raka..." Kataku kembali membuat Tania melepaskan pelukanku, Tania menggeleng perlahan. "aku mohon Tania, aku tidak ingin membuat kalian berdua menderita karenaku." Pintaku memohon.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanyanya menatapku.
Aku berusaha tersenyum, "Aku tetap menjadi istri Mas Raka, tapi hanya kamu istri satu-satunya di hati Mas Raka. Tidak apa-apa kan jika aku tetap menjadi Istri mas Raka?" tanyaku.
Tania tertawa dengan mata mengembang, "Terima kasih Anita..." aku mengangguk dan langsung memeluk kembali Tania.
Aku melihat Mas Raka yang sedang tersenyum kepadaku dan mengucapkan terima kasih dengan suara yang sangat pelan. Baru kali ini aku melihat senyuman yang tulus dari Mas Raka untukku.
❀✿•♥•✿❀
Dua bulan kemudian... Hari Pernikahan Mas Raka...
"Anita, apa kamu merasakan jantungmu serasa berdetak cepat saat menikah dengan Mas Raka?" Tanya Tania dengan senyuman sumringah, aku mengangguk dan membetulkan tatanan rambutnya.
"Ya, aku merasakan seperti yang kamu rasakan Tania." Jawabku menatap wajahnya di cermin. Wajah Tania terlihat cantik, Mas Raka memang pintar memilih kekasih dan pasangan hidup sepertinya.
"Apa waktu itu kamu bahagia?" tanya Tania kembali, sebelum aku menjawab pertanyaannya tiba-tiba pintu kamar di ketuk.
Kami berdua kontan menoleh, tidak lama Ibu Raka masuk dan tersenyum kepadaku. Wajahnya terlihat muram dan sedih, Beliau mengatakan bahwa penghulu sudah tiba. Aku dan Tania disuruh bersiap untuk turun kebawah.
“Tante…” panggil Tania ketika Ibu Mas Raka di ambang pintu, “bisakah tante tersenyum sedikit untukku? Sebentar lagi aku akan menjadi menantu tante…” pintanya.
Ibu Mas Raka hanya menggeleng, lalu pergi dari kamar ini. Aku yang melihat kepergiannya hanya terdiam. Sejak Mas Raka ingin menikah dengan Tania, sikap ibu Mas Raka sangat tidak menyukai sosok Tania.
“Dia tidak pernah menyukaiku…” ucap Tania tiba-tiba, “Entah apa yang membuatnya tidak menyukaiku…”
Aku hanya tersenyum mendengarnya dan tidak berniat membalas perkataannya, aku tidak ingin membuat suasana indah ini menjadi berantakan. Lalu kami berdua keluar dari kamar.
Aku langsung mengapit lengan Tania dan berjalan menyusuri anak tangga satu-persatu. Aku melihat sudah banyak sekali saksi di pernikahan kedua Mas Raka. Disana aku juga melihat ibuku yang tampak tersenyum sedih saat melihatku dan aku juga melihat Mas Raka yang terlihat begitu tampan dengan setelan jas hitamnya memandangi kami.
Kedua orangtua Tania tidak terlihat hadir di pernikahan ini, hanya kakaknya saja yang datang mewakili keluarga besarnya. Aku tidak tahu apa alasan keluarga besar Tania tidak datang ke acara pernikahan ini.
Bayangan pernikahanku dengan Mas Raka berputar di kepalaku, masih ingat saat Tania berkata apa aku bahagia waktu itu? Jawabanya, yah, aku sangat bahagia Tania. Bahkan aku tidak sanggup menangis saat aku dinikahkan oleh Mas Raka. Aku merasa seribu malaikat mendoakan pernikahan kami ketika Mas Raka meminangku saat itu.
Setibanya di latar akad pernikahan aku mengantarkan Tania duduk di samping Mas Raka. Mas Raka menatapku sesaat, aku hanya tersenyum memandanginya. Aku langsung melebarkan kerudung pengantin di kepala Tania dan Mas Raka. Lalu aku duduk diapit ibuku dan ibu mertuaku, aku menghela napas menatap punggung Tania dan Mas Raka dengan pandangan sedih.
Tidak ku hiraukan bisik-bisik orang yang datang ke pernikahan kedua mas Raka, aku tahu mereka pasti sedang membicarakan aku saat ini.
Aku tersenyum lirih, sebulan yang lalu aku baru saja merasakan keindahan pernikahan. Aku sangat bahagia waktu itu dinikahkan pria seperti mas Raka. Bagiku mas Raka adalah sosok pria yang aku dambakan untuk menjadi suamiku. Tetapi kini kebahagianku berakhir sudah, saat aku tahu mas Raka mencintai wanita lain dan sekarang suamiku yang baru saja ku nikahi, menikah dengan wanita yang dicintainya di hadapanku. Aku mencoba tegar menghadapi cobaan ini.
"Apakah anda sudah siap?" tanya Bapak penghulu membuat Mas Raka mengangguk mantap. "Saudara Raka Pratama Bin Ferri Pratama, Saya Nikahkan Dan Saya Kawinkan Engkau Dengan Tania Gynata Binti Tonny Gynroff dengan mas kawinnya berupa perlengkapan alat shalat dan uang tunai sejumlah dua belas juta lima ratus ribu rupiah dibayar Tunai.”
"Saya Terima Nikahnya Dan Kawinnya Tania Gynata Binti Tonny Gynroff dengan maskawinnya yang tersebut tunai." Ucap Mas Raka Lantang.
"Bagaimana semuanya sah?" tanya Bapak penghulu. Dan kami semua yang menjadi saksi mengatakan sah dan berdoa atas resminya pernikahan ini.
Aku langsung pergi meninggalkan latar pernikahan akad dan melesat menuju kamar mandi. Aku menutup pintu kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya.
Wanita mana yang tidak sedih dan terluka jika melihat suami yang dicintainya menikah lagi? Bahkan hati Istri seorang nabi saja bisa terluka, bagaimana aku yang hanya wanita biasa. Jujur saja hatiku begitu sakit saat mengizinkan suamiku menikah lagi, aku tahu aku akan lebih teluka jika mengizinkan suamiku menikah lagi, tapi ini semua sudah takdir Tuhan.
Ya Tuhan aku mohon kuatkanlah hatiku...
❀✿•♥•✿❀