Hening. Tidak terdengar apapun dari suara diseberang sana. Risya masih tetap terdiam setelah mendengar suara Sean yang menyapanya setelah tiga tahun berlalu. Tiga tahun yang berat, penuh hampa, tapi berwarna. Setidaknya, cukup Risya saja yang merasakan itu. Jangan Sean, jangan Angela dan Angelo. Mereka cukup berarti, untuk Risya. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau menjawab sapaanku." Ponsel masih tetap di genggamannya, dia tempelkan di telinga. Mendengar suara Sean. Risya terpaku di tempatnya, hanya menatap kolam renang yang tenang dihadapannya dengan pandangan mata kosong. "Anak-anak sudah tidur. Baru saja tidur setelah aku dan Athayya membacakan mereka dongeng." Risya memejamkan matanya sejenak, dia akhirnya mendengar nama Athayya lagi. "Aku tadi membelikan Angelo coklat, cukup

