Chapter 1
Metropolis, 2071
Suara derap langkah menyadarkan sosok itu dari tidur lelapnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk terbangun. Bahkan terkadang suara dentingan gelas saja sudah mampu membuatnya terjaga. Apalagi jika ditambah gonggongan anjing liar atau bunyi truk lewat yang memekakkan telinga. Sial betul rumahnya harus berada dekat dengan jalan utama.
Sosok itu menggosok kedua mata indahnya dengan telapak tangan. Baru sekejap. Terasa baru sekejap ia mengistirahatkan pikirannya ke alam bawah sadar. Baru sebentar ia menyenderkan kepalanya di atas sofa hijau keras yang sudah robek di beberapa bagian. Meskipun sofa itu bisa dikatakan sangat tidak layak untuk digunakan, namun ia masih saja meletakkannya di dalam ruangan berukuran empat kali enam meter yang pengap dan minim pencahayaan itu.
Baginya, itu bukan hanya sekedar sofa atau tempat untuk duduk. Benda itu bermakna lebih dari apapun. Setidaknya benda itulah yang masih ia miliki dari kakaknya yang telah lama meninggalkannya. Ia sangat merindukkan kakak semata wayangnya. Dengan menyimpan sofa itu, setidaknya ia menyimpan sedikit kenangan tentangnya, yang hingga saat ini sukar ia hapuskan dari ingatan.
Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Sepertinya si tamu ini memang tidak sabaran. Gadis yang semula tengah meringkuk itu hanya berjalan dengan gontai dan membuka pintu rumahnya. Lemas bak tak bertulang.
“Ivory Kelana?”
Dua orang Guardian berpakaian rapih dengan tatanan rambut mengkilap berdiri di hadapannya. Keduanya masing-masing membawa satu buah senapan laras panjang keluaran terbaru yang belakangan sering dipajang di pertokoan dekat rumahnya. Mereka berwajah tampan, namun terlihat sungguh dingin. Seolah-olah tak memiliki nurani seorang manusia.
Atau mungkin memang seperti itulah kenyataannya.
Tak ada seorang Guardian yang ramah. Mereka tak lebih dari sebuah robot yang diprogram Para Petinggi demi kelancaran dan keamanan negara. Begitulah yang ia pelajari selama bertahun-tahun.
“Benar,” jawabnya.
Ia sedikit merapihkan sweater berwarna krem yang dipakainya. Sudut mata salah satu Guardian itu memandang bagian pundak sweater-nya yang berlubang. Bukan karena mode tren yang sedang hits di kalangan Kaum Primer, melainkan memang rusak karena dimakan ngengat yang berkeliaran di dalam rumahnya. Tak peduli seberapa sering ia membersihkan rumah minimalisnya, hewan itu tetap membandel kembali lagi. Akibatnya beberapa pakaiannyalah yang menjadi korban.
“Kau tentu sudah mendapatkan undangan dari Dewan Tertinggi untuk mengikuti Copulation, bukan?”
Ivory tersenyum kecut. Ia sudah menduga Guardian yang menyenangkan itu akan mengingatkan perihal kegiatan yang wajib ia ikuti. Walau begitu, tetap saja, diingatkan lagi mengenai acara memuakkan itu rasanya membuat perutnya bergejolak. Ingin rasanya ia memuntahkan isi perutnya di atas seragam mereka yang terlampau bersih.
For the record, Copulation adalah acara pembuahan empat tahunan yang diadakan oleh Para Petinggi untuk seluruh warga negara, dari ujung timur hingga ujung barat, selatan sampai ke utara. Kegiatan ini ditujukan bagi para perempuan dan laki-laki berusia 20 hingga 40 tahun yang memiliki Gen E dan Gen F.
Gen E atau Gen Excellent adalah gen terbaik di antara semua gen. Baik pria maupun wanita yang memiliki Gen E sudah pasti bisa membuahi dan dibuahi. Anak-anak yang lahir dari pasangan yang memiliki Gen E pasti akan lahir dengan sempurna dan tanpa cacat.
Orang-orang dengan Gen E biasanya mengikuti kegiatan Copulation dengan senang hati. Mereka cenderung tidak mempedulikan orang lain dan menganggap jika Copulation adalah kesenangan semata. Selain itu, mereka juga dibayar jika mengikuti kegiatan ini. Maka dari itu, mereka termasuk dalam golongan Kaum Primer atau kaum elite. Golongan orang-orang yang paling memiliki banyak pilihan.
Sementara Gen F atau Gen Failed adalah gen-gen “cacat” di mana mereka berpuluh tahun yang lalu telah dijadikan bahan percobaan Para Petinggi. Orang-orang yang tergolong dalam Gen F adalah kaum wanita atau pria yang memiliki cacat tubuh. Anak-anak yang lahir dari Gen F sudah bisa dipastikan akan memiliki kecacatan, seperti misalnya tidak mampu berbicara, tidak mampu mendengar, tidak mampu menggunakan anggota tubuhnya dengan sempurna, dan sebagainya. Gen ini didominasi oleh wanita sekitar 95% persen, sementara 5%-nya dimiliki oleh lelaki.
Para warga dengan Gen F diwajibkan untuk mengikuti Copulation hingga maksimal berumur 40 tahun. Mereka tidak akan dibayar sepeserpun. Karena sedikitnya pilihan yang dimiliki oleh Gen F, maka mereka tergolong dalam Kaum Sekunder, atau kaum yang tak memiliki banyak pilihan.
Secara teknis, kegiatan Copulation adalah kegiatan pembentukan sebuah pasangan, di mana mereka diberi tenggang waktu maksimal satu tahun untuk membuahi dan melahirkan seorang anak. Anak tersebut nantinya akan diambil oleh Para Petinggi dan menjadi hak milik Negara. Pasangan itu hanya bertugas untuk membuahi dan melahirkan, tanpa harus membesarkan anak mereka.
Andai ia bisa memilih.
Selalu itu yang ada di pikiran Ivory.
Seandainya ia termasuk dalam golongan Kaum Primer, pasti ia akan memilih untuk tidak mengikuti Copulation. Ia sangat membenci kegiatan itu. Seandainya saja ia memiliki Gen E, maka ia dengan santainya akan memilih siapapun menjadi pasangannya nanti. Pasangan yang sesungguhnya. Yang akan menemaninya dalam suka dan duka, hingga akhir hayat memisahkan. Bukannya pasangan sesaat seperti ini.
Seandainya orang tuanya tidak menurunkan gen yang buruk padanya, maka ia akan merasa senormal orang-orang yang lain ...
Ah, bahkan ia tak pernah bertemu orang tuanya sekalipun.
Nyatanya ia hanyalah seorang Kaum Sekunder. Kaum yang tak memiliki apa-apa. Kaum yang serba kurang. Kaum yang selalu menuruti perintah Para Petinggi. Kaum yang harus bersujud di kaki sang Dewan Tertinggi.
Ia juga seorang wanita ber-Gen F. Gen paling buruk di antara gen yang lain. Gen yang selalu menjadi nomor terakhir. Terlupakan, terbuang, dan dianggap sebelah mata. Gen yang di urunkan dari kedua orang tuanya kepada dia dan sang kakak. Gen yang membuatnya sengsara selama bertahun-tahun ...
“Tentu saja,” jawabnya dengan tenang. Walaupun hatinya berkata lain. Tangannya menutupi pundak kirinya, menutupi lubang di pakaiannya.
“Kami datang untuk memberikanmu nama pasanganmu dalam Copulation tahun ini,” ucap seorang Guardian padanya. Guardian itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna hitam dari tas kecil yang ia bawa. Dengan gerakan yang terlampau kaku, ia menyerahkan amplop itu ke tangan Ivory.
“Kau diminta untuk datang ke kediaman Dewan Tertinggi, lusa, pada pukul 9 malam—“
“Aku tahu,” potong Ivory kesal. Ia sudah menerima undangan itu selama sebulan belakangan. Ia sudah tahu bagaimana detailnya acara Copulation itu. Sudah di ambang muak ia mendengarnya.
“Baiklah. Kami pergi.”
Tanpa menunggu respon apapun dari si nyonya rumah, dua Guardian itu berbalik dan berjalan lurus meninggalkan Ivory dan amplop hitam itu.
Ivory kembali masuk ke rumah kesayangannya. Ia nyaris terlena untuk kembali tidur atau sekedar duduk di sofa sebelum ia teringat akan janjinya.
“Sial!” umpatnya keras. Ia bergegas menyambar tas slempang hitamnya yang kumal dan mengambil topi putihnya yang tergeletak begitu saja di atas nakas. “Aku terlambat!” imbuhnya.
Dengan tergesa ia menyambar sebuah karung berisi aprikot matang yang baru saja ia panen 3 jam yang lalu. Ia sudah berjanji kepada anak dari tuan di mana ia bekerja sebagai pelayan restauran sehari-hari untuk menjual puluhan buah aprikotnya. Ia tak ingin mengecewakan anak tuannya itu. Bisa jadi ia kehilangan pekerjaan kesayangannya.
Ia memakai sepatunya dengan asal, mengabaikan tali sepatu yang belum terikat. Kakinya berlari dengan cepat menuju rumah Si Tuan. Tak jauh. Hanya sekitar 3 mil dari rumahnya. Bukan hal yang menyusahkan baginya.
Akan tetapi, jika boleh berkata jujur, sekarung aprikot itu cukup menyusahkannya.
Ivory mengabaikan engahan napas atau dadanya yang terasa terbakar. Ia terus berlari seraya mengecek waktu di ponsel usangnya. Waktu serasa berjalan terlewat cepat.
Sebentar lagi, desisnya.
Setelah kurang lebih 20 menit ia berlari, akhirnya tiba juga ia di kawasan elit Kaum Primer di kotanya. Ia tak hentinya mengagumi keindahan bangunan-bangunan di sana, yang mana berbanding terbalik dengan lingkungannya sebagai Kaum Sekunder. Usang, gersang, dan tua. Sama sekali tidak menarik.
Tak peduli berapa ratus kali ia mendatangi tempat ini, ia selalu terpana. Jatuh dalam pesona wilayah Kaum Primer.
“Ivy!”
Suara hangat bernada ceria itu menarik sebuah senyum lebar di bibir Ivory. Ia masuk ke dalam pekarangan rumah mewah milik tuannya, dan nyaris jatuh terjerembab.
“Whoa, hati-hati.” Pemuda itu mengulurkan tangannya ke arah Ivory. Ivory tertawa kecil seraya meraih tangan itu untuk berdiri.
“Kak Roger, maafkan aku terlambat 30 menit,” ucap Ivory dengan panik.
Pria yang dipanggil Roger itu membalas ucapan Ivory dengan tepukan pelan di pundaknya. “Santai saja, Vy. Ayah sedang keluar. Ia tak akan tahu jika kau terlambat.”
Ivory membungkuk beberapa kali seraya mengucapkan terima kasih pada sosok yang begitu baik padanya.
“Ini buah aprikotnya, Kak. Tak ada cacat satupun. Aku baru saja memanennya.”
Roger mengambil karung itu dari tangan Ivory. Ia memeriksanya sekilas sebelum menyerahkan amplop hitam yang terselip di antara aprikot itu.
“Apa ini, Vy?”
Ivory terperanjat seraya mengambil amplop dari Guardian yang tak sengaja ia bawa. “Ini dari Guardian. Di dalamnya berisi nama calon pasanganku untuk Copulation-ku yang pertama.”
Roger memekik seraya meraih amplop itu.
“Copulation! Woah, aku lupa jika tahun ini adalah Copulation-mu yang pertama!”
Ivory tertawa hambar. “Yeah, yang pertama.”
“Aku iri padamu, Vy! Aku sangat ingin ikut Copulation, namun ya kau tahu sendiri. Gen-ku S. Aku tak bisa mengikuti acara itu.”
Gen ketiga dan yang terakhir adalah Gen S—Sterile. Gen ini dimiliki oleh orang-orang yang dengan Gen E yang tak bisa melahirkan keturunan. Meskipun begitu, mereka tergolong dalam Kaum Primer karena asal muasal mereka berasal dari keturunan langsung Dewan Tertinggi. Sepeti Roger dan keluarganya.
Ivory menyembunyikan raut sedihnya di balik topi putih yang ia kenakan. Ia merasa begitu bittersweet.
“Kau sudah tahu siapa pasanganmu?”
Ivory menggeleng. Ia sama sekali tak bersemangat akan hal itu.
Apa hal menarik dari berhubungan badan dengan orang asing yang tak kau cintai, lalu kemudian mengandung dan melahirkan seorang bayi yang tak lama kemudian direnggut dari dekapan? Tolong jelaskan pada Ivory, apa yang menarik dari hal itu. Ia begitu membenci Copulation, Para Petinggi, dan Dewan Tertinggi, yang menciptakan segala sistem aneh ini.
“Boleh ku buka amplopmu? Siapa tahu aku kenal calon pasanganmu.”
Ivory memiringkan kepalanya sedikit. “Buka saja, Kak. Aku tak terlalu peduli.”
Roger membuka amplop itu dengan penuh semangat. Ia mengeluarkan secarik kertas tebal bertinta hitam yang terukir sebuah nama dengan goresan seindah kaligrafi. Ia membacanya dengan suaranya yang tegas dan mantap.
“Aaron Magnifico.”
Roger memekik dengan kencang. Membuat karung aprikot itu tersenggol dan nyaris jatuh sebelum Ivory menangkapnya dengan cekatan.
“Aku kenal dia, Vy! Kami dulu teman sekelas!”
Ivory menggeser karung aprikot itu dengan susah payah. Menjauhkannya dari jangkauan tubuh Roger yang melompat-lompat kegirangan.
“Dia sangat tampan. Idola nomor satu di kelas,” ujarnya. “Wah, aku tak sabar menantikan anakmu nanti seperti apa. Anak kalian nanti pasti akan sangat rupawan!”
Ivory menelan ludah dengan susah payah.
Sungguh.
Membayangkan ia hamil dari seorang laki-laki asing yang tak dikenal sangat membuatnya merasa kasihan dan malu pada diri sendiri. Tapi, ia tak punya pilihan lain, bukan? Tak ada yang bisa mengentikan Copulation. Tak ada yang bisa menolak titah sang Dewan Tertinggi.
Ataukah ... akan ada?