Jika kumbang berhenti dan singgah pada kuncup bunga baru, bukan berarti dia tak setia pada bunga lama yang pernah disinggahinya.
Dia hanya ingin menjelajah.
Menikmati satu dua sari madu bunga lainnya.
--
INDRA
Ngeselin yah, ni bocah!
Udah bagus aku selametin dari si otak ngeres, Reza. Sekarang dia malah natap, seolah aku ini virus mematikan yang menular dan harus di jauhi.
"Kenapa?" Aku menautkan kedua alis.
"Apa?"
Aish! Bener-bener nih cewek, nggak sopan! Ditanya malah balik nanya.
"Itu, tangan lo kenapa kayak gitu? Emang gue mau ngapain?"
Jujur, walaupun aku punya pacar. Tapi sampai detik ini, aku selalu menjaga kesucian Rasti. Cintaku murni, tanpa ada embel-embel napsu di dalamnya. Dan dengan gaya ni cewek yang menyilangkan kedua tangan di depan d**a, aku jadi sedikit tersinggung. Maksudnya apa coba?!
"Jaga-jaga." Setengah berbisik dia menjawab. Tapi telingaku masih terlalu tajam buat nggak dengar dengan jelas apa yang dia katakan.
"Tenang. Gue nggak bakalan ngapa-ngapain lo, kok. Nggak usah sok kecantikan gitu, cewek gue lebih cantik dari pada lo." Aku bersedekap.
Dia menurunkan kedua tangannya. Ekspresinya berubah. Seperti menahan malu, atau nggak terima di rendahkan.
Masabodo!!
Kan emang itu tujuanku, biar dia nggak ke-GeeRan. Dan anggap aku tertarik sama dia. Dia pikir dia siapa? Isyana?! Maudy Ayunda?!
"Oh," sahutnya datar.
"O iya. Kenalin, gue Indra." Aku mengulurkan tangan.
"Bintang."
Lagi-lagi gadis ini berlaku tak sopan, yang memicu ubun-ubun di pucuk kepala mengepulkan asap.
Kenapa dia nggak balas jabatan tanganku, dan cuma menangkupkan kedua tangannya di depan d**a?!
"Lo baru ya di Cluster Pasadena? Gue baru liat lo kemarin." Aku coba mencairkan suasana. Menyisikan emosi yang sebenarnya hampir meluber kemana-mana. Berkomunikasi dengan dia layaknya tetangga baru yang ramah pada umumnya.
"Iya. Aku baru di Jakarta."
"Oh... Emang, asal lo dari mana?"
Dia terdiam sejenak.
Dan aku memotong tepat saat bibirnya terbuka, "Jangan bilang lo berasal dari langit. Karena setau gue, nggak ada bidadari yang ceroboh macam elo."
Aku terkekeh melihat raut mukanya yang memerah, dengan bibir sedikit maju beberapa senti.
"Udah ya, Mas Indra. Aku mau ke kantin. Permisi!" katanya, sarat dengan emosi yang hampir meluap-luap. Dan setelah berhasil mengkondisikan muka bebeknya, tentu saja.
"Eeh, tunggu." Kuraih tangannya yang sedikit melambai saat ia mulai menjauh.
Dia terdiam, sebelum akhirnya melepas dengan kasar pegangan tanganku.
"Lo mau ke mana? Bentar lagi bel bunyi. Lo mau telat mengikuti pelajaran di hari pertama?"
Matanya membulat, tapi nggak ada sedikitpun kesan menyeramkan. Yang ada hanyalah mata bening yang berpijar dan bercahaya.
Aneh! Sumpah ini aneh!
Wajahnya biasa saja, hidungnya datar mirip perosotan kecil di sudut Taman Kota, kulit... masih putihan Rasti punya. Bibir pun, aku belum pernah melihatnya merekah sempurna sejak pertemuan pertama.
Tapi... Kemisteriusan sikapnya buat aku tertarik untuk mendekatinya.
Ah, tidak! tidak!
Aku setia pada Rasti. Mendekati Bintang, hanya untuk mencari tahu ada apa.
Karena jujur, ini untuk pertama kalinya setelah lima tahun terakhir, aku bisa nyaman dekat dengan cewek selain Rasti dan Almarhumah Mamah.
***
"Unit terkecil penyusun sistem saraf adalah sel saraf atau bisa juga disebut neuron. Sel saraf adalah sebuah sel yang berfungsi untuk menghantarkan impuls atau rangsangan. Setiap satu sel saraf terdiri atas tiga bagian utama yang berupa dendrit, badan sel saraf, dan akson."
Bosan!!
Setelah selesai berkutat dengan matematika pagi tadi, sekarang giliran pelajaran biologi yang tiap katanya dipaksa masuk ke dalam otak.
"Dendrit adalah serabut sel saraf pendek dan bercabang-cabang. Dendrit merupakan perluasan dari badan sel. Dendrit berfungsi untuk menerima dan mengantarkan rangsangan ke badan sel." Guru senior berkaca mata itu menunjuk papan putih yang sudah dipenuhi gambar. Ada lima gambar bentuk oval kecil yang berjajar rapi, sedang di tiap ujungnya terdapat semacam serabut, atau lebih mirip akar pohon singkong yang masih kecil. Dan di setiap bagian di beri tanda panah, sebagai keterangan.
Pak Amsari begitu telaten menerangkan satu persatu bagian sel saraf. Mengetuk-ketukan penggaris kayu pada papan putih bergambar itu. Menjelaskan sedetail mungkin agar anak-anak didiknya bisa memahami.
Walaupun tidak sedikit di antara kami -muridnya, yang justru merasa jengah dan bosan dengan metode pembelajaran yang beliau gunakan.
Aku menguap untuk entah yang kesekian kalinya.
Aku menyerah!! Konsentrasiku telah hilang sepenuhnya. Bahkan sejak kali pertama guru botak baik hati itu melangkahkan kaki memasuki kelas.
Kuletakkan kepala di atas meja, mencuri-curi sedikit waktu untuk mengistirahatkan mesin-mesin di kepalaku yang mulai mengepulkan asap.
Sayangnya, rasa kantuk mendadak lenyap saat kedua indera penglihatanku menangkap bayang sesosok gadis yang duduk sebaris dengan mejaku.
Bibir merah tipisnya dimajukan beberapa senti ke depan. Persis yang dia lakukan di depanku lima belas menit yang lalu.
Tangan kanannya menggerakkan bolpoint dengan malas. Sementara tangan yang satunya sibuk memegangi perut.
PLETAKK!!
Yess... Tepat sasaran!
Nggak sia-sia dulu pernah ikut latihan menembak bareng Bang Fa'i. Memang benar, ilmu sekecil apapun pasti akan bermanfaat di suatu saat yang tepat.
Seperti sekarang ini, tingkat ke-akurat-anku dalam menembak sasaran, jadi lebih bisa diandalkan.
Bolpoint yang aku lempar, jatuh tepat di pangkuan Bintang.
Perhatiannya teralihkan sepenuhnya padaku. Dan kubalas dengan senyum sumringah, menampilkan deretan gigi yang putih dan rapi.
Bibirnya bergerak-gerak mengatakan kata, "Apa?" tanpa suara. Manis sekali.
"Lo laper?"
Aku menirunya. Berbicara tanpa suara.
'Heh??'
Kira-kira seperti itu arti dari kerutan-kerutan di dahinya, juga mulut yang sedikit tebuka.
"Lo laper??" Setengah berbisik, aku mengulanginya.
"Apaan??"
Ya ampun Tuhan!!!
Dia masih belum menangkap gerak bibirku yang s*****l ini.
Aku rasa, kapasitas RAM dalam otaknya nggak lebih dari 512 megabyte, dan masih menggunakan sistem operasi jellybean!!
Dasar lemot!!
Kuraih buku dan mulai menggoreskan tinta di atasnya. Selesai.
Kusobek dan melemparkan sobekan kertas itu ke arahnya.
Dia segera membuka sobekan kertas yang aku berikan. Menulis sesuatu di sebaliknya, lalu mengembalikan kertas itu padaku.
"Enggak." Begitu tulisnya. Benar-benar singkat, padat, dan menyebalkan!
Kurobek secarik kertas yang baru. Menulis, lalu melemparkannya lagi ke arah Bintang.
Kulihat gadis itu mendengus kesal. Mungkin sebal karena konsentrasinya terganggu. Salah sendiri. Kenapa dia memasang wajah imut menggemaskan waktu aku berbalik tadi. Kantukku jadi hilang, kan.
Sekarang kita satu sama. Sama sama terganggu dengan kehadiran satu sama lain.
Dia sedang sibuk menulis balasan, dan aku sendiri tengah asik memperhatikannya saat tiba-tiba sebuah tangan berjari gembul dengan bulu bulu yang lumayan panjang, menarik paksa secarik kertas itu dari genggaman Bintang.
Gadis itu melonjak kaget. Begitu juga denganku.
Sial!!
Sejak kapan Pak Amsari berdiri di belakang mejaku.
Tubuh kami seketika mengkerut. Mata sayu dengan berhiaskan lingkaran hitam lebar milik Pak Amsari menatap aku dan Bintang bergantian.
"Sudah, main surat-suratannya?" ucapnya datar.
"Hehee... Udah, Pak. Udah." Aku hanya menanggapi ekspresi datar guru Biologi itu dengan cengiran bodoh. Berbanding terbalik dengan Bintang yang tampak tegang.
"Kalian lapar?" tanyanya setelah selesai membaca coretan-coretan di kertas, sambil sesekali menatap ke arahku dan Bintang bergantian.
Tak tau harus menjawab apa, aku memutuskan untuk mengangguk.
"Yasudah. Kalian boleh pergi makan."
"Yang bener, Pak? Alhamdulillah... Makasih, Pak. Makasih banyak." Aku menjabat dan menciumi tangan Pak Amsari penuh semangat.
Tuh, terbukti, kan? Pak Amsari memang satu-satunya guru botak baik hati yang ada di sekolahan ini.
You're the best, Sir!
"Tapi setelah kalian berdua menyelesaikan tugas yang akan saya berikan."
Dan kalimat terakhir yang keluar dari mulut Pak Amsari itu bagaikan sambaran gledek di siang terang.
Aku melongo seketika.
Kulirik Bintang, ekspresinya sama. Tapi dia masih kelihatan mempesona, bahkan saat mulutnya sedang menganga.
"Tapi, Pak. Bapak nggak kasihan sama saya?" Dengan sedikit merengek dan memasang wajah memelas, aku coba merayu.
Tapi, nihil!!
Pak Amsari tetap tak bergeming dan tetap pada pendiriannya.
100 soal biologi yang harus aku dan Bintang selesaikan sebelum bell pulang sekolah berdering.
Sial!! Sial!! Sial!!