Tutup mata, atau kau akan jatuh cinta

1116 Words
"Kenapa mata selalu bisa membuat kita jatuh cinta? Karena dia, satu-satunya indera yang tak pernah bisa berdusta." BINTANG Setelah menghabiskan dua keping roti selai strawberry buatan Ibu, aku bergegas pergi. Mengambil sepeda di garasi, lantas mengayuhnya menuju sekolah baru. Huffftt....!! Ke sekolah baru sendirian. Seharusnya aku berangkat bersama ayah hari ini, seperti yang beberapa hari lalu ayah janjikan padaku sebelum kami resmi pindah ke Jakarta. Tapi sayang, janji tinggallah janji. Karena pekerjaan yang mendesak, pagi-pagi sekali ayah harus sudah berangkat ke kantor. "Berangkat sendiri tak apa ya, Sayang. Ayah harus berangkat sekarang. Semangat dan jangan lupa sarapan, ya," pesan Ayah sebelum pergi. Saat itu, mataku bahkan belum terbuka sempurna. Dan sekarang, inilah aku. Berangkat sendiri sambil mengayuh sepeda ke tempat di mana tidak ada satu murid pun di sana yang kukenal. Hanya Miss Irene dan beberapa guru-guru yang aku dan Ayah temui sabtu lalu. Aku berhenti mengayuh, turun dari si manis brownie dan menuntunnya. "Murid baru ya, Dek?" Seorang bapak berkumis menyapa tepat saat aku melangkahkan kaki memasuki gerbang. "Iya, Pak," jawabku sambil tersenyum. "Oh, pantas. Baru lihat. Silakan masuk, Dek," ucapnya mempersilakan. Aku mengangguk sambil tersenyum, "Terima kasih, Pak." Kemudian lanjut menuntun sepeda. Sekolah yang luas dan hangat. Setelah melewati gerbang, pemandangan yang terlihat adalah jalan setapak yang cukup lebar, sekitar tiga meter lebarnya. Jalanan setapak itu kemudian terbagi menjadi dua arah, di sisi kiri dan kanan. Sementara di tengah, terdapat lapangan basket. Aku sedang berhenti sejenak di persimpangan saat dua siswa berseragam olahraga menghampiri. "Murid baru?" tanya salah satu di antara mereka. Aku mengangguk sambil tersenyum singkat. "Kenalin, gue Arkha." Dia mengulurkan tangan. Sementara temannya, terseyum aneh padaku. "Bintang." Tanpa menyambut ulurannya. Hanya menangkupkan kedua telapak tangan di depan d**a. Sebenarnya aku malas dengan mereka. Terutama dengan tatapan yang membuatku merinding itu. Tapi, tak ada pilihan lain. Aku baru di sini, mungkin mereka bisa sedikit membantu. "Kak, mau tanya. Parkiran sepeda di mana, yah?" Sebelum menjawab, kulihat dua orang itu saling berbisik. Sejenak melirik, lalu kembali berbisik. Aku benar-benar risih dibuatnya. "Parkiran sepeda di sana, Bintang." Si Arkha itu memberitahu sambil menunjuk ke jalan setapak di sebelah kanan. "O gitu. Terima Kasih, kak."  ke belakang. Sumpah, rasanya benar-benar nggak nyaman berada di dekat Arkha dan temannya itu. Sepanjang menuntun sepeda, satu pun tak kulihat ada sepeda yang bertengger di tempat parkiran ini. Bahkan, sepeda motor pun tak nampak. Yang ada hanya mobil-mobil mewah berbagai merek yang berjajar rapi. Ayah memang sempat bilang padaku kalau SMA NUSA BANGSA ini memang salah satu sekolah elite dan menjadi sekolah negeri yang paling favorit di Jakarta. Tapi aku sama sekali nggak menyangka kalau mereka, -para muridnya- berasal dari keluarga kaya raya semua. Rasa takjubku terpotong saat sebuah mobil putih membunyikan klakson berkali-kali dengan keras tepat di depanku. Aku yang masih terkejut, semakin bertambah takut saat si pengendara mobil itu turun dan menghampiriku. "Aduh!! Lo tuh gimana sih?! Parkiran lo itu di sebelah sana. Ngapain bawa-bawa itu sepeda butut lo ke tempat parkir mobil!!" Tanpa belas kasihan, dia membentakku. Aku bahkan tak berani menatap walau sekedar untuk tau ke arah mana dia menunjuk. "Iya. Maaf, Kak. Gak sengaja." Berada di sekolah baru dan sudah dua kali di hadang senior di sini!! Allah, apa salahku? "Yaudah sana minggir. Gue mau parkir!" Tanpa menunggu lama, aku segera pergi. Sebelum senior itu berubah pikiran dan kembali membentakku. Baru beberapa meter aku berjalan, suara yang sepertinya tak asing bagiku itu kembali berteriak. "Hey!!" Tuh, kan. Senior rese' itu manggil lagi. "Gue saranin, mulai besok lo sewa bodyguard, deh." Apa coba maksudnya? "Kecerobohan lo itu bisa bahayain orang tau!!" Hah! Aku segera menatap wajahnya. Mengingat-ingat siapa gerangan sosok yang berdiri di hadapanku ini. Dia,... Orang itu! Dia terlihat tampan kalau sedang diam begini. Astaghfirullah hal adzim... Bila!! Segera kutundukkan pandangan. Tatapan matanya benar-benar dalam dan tajam. Bola mata yang bulat berhiaskan bulu nan lentik. Mempesona. Lebih lama lagi aku memandangnya, kupastikan aku akan tersesat di dalamnya. "Kemarin lo nabrak gue. Dan sekarang, lo hampir bikin cacat si putih. Besok apa lagi?!" Dan, ah!! Tingkat ketampanannya turun drastis saat dia kembali membentakku. "Maaf, Kak. Iya saya salah. Saya minta maaf." Kudengar dia berdecak sebal.  Kemudian berkata, "Yaudah, gue maafin. Tapi, awas. Jangan ceroboh lagi!" Aku mengangguk. "Udah sana pergi!!" bentaknya lagi. Dan aku menuruti. Dari pada berlama-lama sama dia. Menyebalkan! *** XIIPA. Entah apa yang telah aku lakukan sampai semua murid di kelas menatapku aneh. Padahal aku hanya mengucap salam. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, cowok yang sedang berdiri di depan kelas itu. Seenak hati menunjuk-nunjuk seolah aku adalah tersangka pencurian. Eh, orang itu bukannya.... . *** Meskipun ini adalah hari pertama di sekolah, tapi alhamdulillah aku bisa mengikuti tes hari ini. Miss Irene memang memberi pilihan agar aku menunggu di perpustakaan selama tes berlangsung. Tapi aku menolak. Aku lebih memilih untuk ikut tes ini. Semoga nilainya nggak terlalu buruk karena belum sempat belajar juga. . "Hay Bintang. Kenalin, gue Reza." Cowok berbadan tinggi kurus itu berdiri di samping mejaku. Aku menatap sekilas, tersenyum lalu kembali fokus menyelesaikan sketsaku. Kegiatan yang selalu bisa membuat moodku lebih baik. Nggak ku pungkiri, soal-soal matematika tadi cukup membuatku mumet. "Lagi gambar apa?" Dia bertanya lagi. "Belum tau. Iseng aja," jawabku asal. Tapi jujur kok. Aku memang belum kepikiran mau gambar apa. "Owh. Lo hobi gambar, ya." Sekarang dia menarik kursi depan, dan duduk persis di sebelahku. 'Apasih ni orang!!' Aku beringsut menjauh. Menggeser kursi ke sebelah. Aku semakin risih. Apalagi jam istirahat begini, kelas jadi sangat sepi. Hampir semua siswa pergi, ke kantin atau sekedar duduk di teras depan. Ah! Aku jadi nyesel nggak terima ajakan Mia -teman satu meja- buat pergi ke kantin bareng. "Bintang, kamu cantik banget sih kalo lagi diem gitu." Kalimat itu berhasil buat bulu kudukku merinding. Semakin merinding lagi karena tangannya hampir menyentuhku. "Astaghfirullah!!" Aku berseru seraya berdiri dari tempat dudukku. "Kenapa, Bintang? Kok kaget gitu. Biasa aja dong." Dia ikut berdiri. Seringai senyumnya semakin buat aku jijik. Tangan kurusnya itu pasti akan berhasil menyentuh pundakku, kalau aja nggak ada orang yang menahan kelakuan usil Reza. "Apaan sih Lo, Ndra!! Ganggu orang aja," kesal Reza sambil berusaha melepas genggaman erat dari tanang kokoh cowok di sampingnya. "Elo yang apaan!!" Cowok itu melirikku sejenak. "Kalo dia bilang jangan sentuh ya jangan sentuh!!" Entah kenapa, melihat dia membelaku seperti ini, ada sebuah getaran yang berhasil menyelinap masuk ke ruang hati. Dia terlihat jauh lebih mempesona dari dua pertemuan sebelumnya. "Lo nggak apa-apa?" Sentuhannya di bahu membuatku terkejut. "Eh, sorry. Gue nggak bermaksud." Dia memasang wajah menyesal. Aku mengangguk dan memaafkannya. Hampir hatiku jatuh, dan percaya padanya. Sebelum akhirnya, otak cerdasku mengingatkan. 'Ingat, dia itu cowok m***m gak tahu malu yang berani pacaran di depan umum! Jangan respect sama dia. Atau, kamu akan jadi salah satu korban yang termakan gombalannya!!' Oke! Jauhi dia, Bintang!! Jauhi dia!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD