Aku masuk ke rumah dengan lesu karena sepanjang hari ini aku terlalu banyak beraktivitas. Dimulai dari pagi sampai siang menjelang sore, belajar di sekolah, kemudian pulangnya, kami pergi ke Universitas Negeri Sevit untuk menjalankan tugas mata pelajaran Penjas, yaitu mewawancarai beberapa Atlet. Katanya, di Universitas Negeri Sevit ada banyak Atlet yang berhasil memenangkan penghargaan.
Akhirnya kami pergi dengan antusias, karena berharap aku dapat melihat Arsen di kampusnya. Dan dalam hati, aku sempat merapalkan sebuah kalimat, "Kalau hari ini aku ketemu Arsen, berarti kami jodoh."
Meskipun hal itu seperti tidak mungkin, tapi aku ingin mencoba peruntungan membaca kemungkinan pertemuan kami. Aku melirik teman-temanku yang membicarakan beberapa kakak-kakak mahasiswa yang ganteng saat berpapasan dengan kami.
Begitu kami tiba di area kolam renang Unise, kami langsung bertanya pada petugas keamanan di kolam itu dan mereka langsung menunjuk beberapa yang mereka ketahui sebagai atlet. Akhirnya kami melakukan beberapa persiapan untuk mewawancarai sekaligus merekamnya untuk dikumpulkan sebagai bukti tugas.
Bahkan setelah selesai wawancara, aku tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Arsen di area kolam meskipun sudah menyusuri area ini dengan mata t*******g. Begitu aku dan teman-temanku berenang sebentar, kami akhirnya memilih untuk pulang karena hari juga sudah sangat sore.
Setibanya di rumah, aku langsung menghempaskan tubuhku di atas sofa dan memainkan ponselku. Rasanya melelahkan sekali hari ini, jadi aku sangat mengantuk begitu berbaring.
"Kamu tuh, kalo abis keluyuran, nyampe rumah ya mandi lah kak. Jadi cewek nggak ada kebersihannya sama sekali." ujar mama padaku.
"Ma, sebenarnya aku ingin mandi, tapi air terlalu dingin untuk aku sentuh, jadi aku memilih tak menyentuhnya." ujarku sungguh-sungguh.
Mama mendengus, "Halah halah, bahas air aja sok serius kamu." ejek mama.
"Aku serius Ma. Meskipun aku suka air, tapi dinginnya membuat aku merasa perlu menjaga jarak."
"Mama mau muntah ini kak." ujar mama.
Aku mencebikkan bibir, "Tadi pas pelajaran bahasa Indonesia, kami dikasih tugas bikin kata-kata puitis, jadi ini aku lagi belajar, Mama sayang. Kan Mama sendiri yang bilang, aku harus rajin belajar."
"Terserah aja deh, kak. Cape ngomong sama kamu."
"Jadi Mama juga ingin berhenti ngomong sama aku dan menjadi dingin seperti air?" tanyaku dengan raut sedih.
"Guru bahasa indonesia kamu siapa sih kak?" suara papa yang tiba-tiba muncul mengejutkan aku dan membuatku langsung berbalik badan. Aku mengerjap saat melihat Arsen di samping papa.
Aku hanya menunjukkan cengiran saja karena merasa malu, terlebih lagi Arsen menatap geli padaku sambil menyembunyikan senyumnya. "Arsen lagi ada urusan sama Papa?" tanyaku terus terang.
"Arsen Arsen, dia itu lebih tua beberapa tahun dari kamu." tegur Mama.
Aku hanya cengengesan saja, "Gak apa-apa kali Ma. Kalo dia jadi suami Mia, baru deh manggilnya nggak boleh nama." ujarku membantah mama dengan cepat.
Mama hanya menggelengkan kepala pasrah karena merasa tak bisa lagi mengatakan apa-apa. Aku kembali fokus pada Arsen saat ia berpamitan pada papa karena urusan mereka sudah selesai.
"Pa, aku aja yang anterin Arsen ke depan." ujarku menghalangi langkah papa untuk ke pintu keluar.
"Jangan genit, Mi." pesan papa. Aku hanya tersenyum geli mendengarnya, lalu menyusul langkah Arsen untuk keluar.
"Kok nggak ada motor kamu parkir di sini?" tanyaku. Aku benar-benar terkejut saat melihatnya di rumah tadi karena saat aku pulang, tak ada petunjuk apapun yang mengatakan Arsen ada di rumah. Biasanya motor pria itu akan cukup asing terparkir di teras rumah mereka, tapi kali ini pria itu sepertinya tidak membawanya.
"Gak bawa." jelasnya singkat.
"Terus pulang pake apa?" tanyaku.
"Mobil." ujarnya.
Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah dan menunjukkan dua cowok yang menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan pada Arsen. Arsen segera mendekati mobil itu, sementara aku mengikutinya dari belakang.
Dari pintu samping pengemudi, seorang cewek keluar, "Lo aja yang duduk di depan, Ar." ujarnya, lalu membuka pintu belakang mobil.
"Wah, lo beneran sama anak SMA, Ar." ujar Nikolas. Pria yang pernah bertemu denganku saat bersama Arsen di mall.
"Anak dibawah umur, Ar. Inget. Lo udah tua." ujar Nikolas lagi.
"Gue masih waras." ujar Arsen, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke samping pengemudi. Segera setelah itu, mereka berlalu sambil membunyikan klakson sekali.
Aku menatap mobil yang kian menjauh sambil merenungi ucapan Arsen barusan. Kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Rasanya itu jahat sekali untuk dikatakan, apalagi aku mendengarnya sendiri.
Memangnya menyukai perempuan 17 tahun jadi bagian dari kata tidak waras. Lagipula jarak usia kami juga tidak sejauh itu. Bahuku lemah dan menunduk tak bertenaga. Aku sangat terbebani setelah mendengar ucapan Arsen.
***
Hari ini, tepat di satu-satunya hari libur ku. Hari di mana aku ingin bangun siang karena tidak perlu sekolah pagi-pagi, tapi mama malah mengganggu ku dengan memberikan list barang bulanan yang harus kubeli ke supermarket. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku terpaksa melakukannya. Mama membangunkan ku di hari minggu yang indah ini untuk belanja karena mama ada urusan membantu memasak untuk tetangga yang mengadakan resepsi pernikahan anaknya.
Waktu yang berharga ini, aku tidak ingin menyia-nyiakannya begitu saja, jadi sembari belanja, aku membawa handphone, kamera, tongsis, dan juga tripod untuk merekam kegiatan belanjaku. Aku perlu memasukkannya ke youtube supaya tidak sia-sia rasa lelahku hari ini.
Sambil memilih beberapa barang dengan memperhatikan catatan yang diberikan mama, aku juga berbicara kepada kamera seolah menjelaskan apa saja yang kulakukan termasuk mengomel. Semuanya tampak natural saja karena memang akan banyak bagian yang dipotong nantinya.
Aku hanya tersenyum saja saat beberapa orang melihatku berulang kali karena menyadari aku sedang merekam diri dengan beberapa kamera. Bukan hal baru memang, tapi tetap saja terasa aneh bagiku setiap kali mereka menatap penuh dengan rasa ingin tau.
"Tau nggak guys, aku tuh kalau disuruh beli barang, banyak nanya sama pekerja di sini, soalnya ibu negara tuh kalau beli sesuatu lengkap sama detail barang." ujarku pada kamera hingga tanpa sengaja malah menabrak seorang perempuan muda.
"Eh, sorry kak, sorry. Saya kurang perhatiin jalan." ujarku.
"Eh, enggak kok, enggak. Aku yang salah." ujarnya lagi.
Aku terkejut saat tiba-tiba ada dua orang berbadan besar mendatangi kami dan menatapku dengan tajam. Salah satu dari mereka bertanya pada perempuan itu tentang apa yang terjadi. Ini bodyguard?
Setelah beberapa detik mendengar penjelasan gadis di depanku, dua orang itu segera pergi. Aku berdeham karena suasananya terasa mencekam tadi dan sekarang aku jadi takut untuk berbicara dengannya.
"Maaf ya, kamu jadi nggak nyaman." ujarnya lembut. "Oh ya, kamu yutuber kan?" tanyanya lagi.
Aku terkejut saat mendengar ia mengenali ku, meski ragu, lalu aku mengangguk dengan senyum malu, "Iya."
"Oh iya, Armia kan? Aku suka nontonin tutorial makeup kamu. Keren kamu. Ternyata aslinya lebih cantik." pujinya lagi.
"Makasih. Kakak juga cantik." ujarku.
"Bisa aja kamu." desisnya, "Oh iya, kamu lagi ngevlog ya?"
"Hehe, iya." aku tersenyum malu.
"Ren, lama banget belanjanya. Nanti Arsen marah loh sama kamu." ujar seorang wanita paruh baya agak jauh dari posisi kami. Gadis di samping ku menoleh karena sepertinya namanya yang dipanggil, "Iya, ini aku udah siap." jawabnya.
Jujur saja aku agak terkejut saat tante itu menyebut nama Arsen, lalu aku tersadar bahwa itu mamanya Arsen. Lalu siapa gadis di depanku ini? Pacarnya Arsen? Atau gadis yang dijodohkan dengannya?
"Ya udah ya, lanjut lagi ngevlognya. Semoga kita bertemu di lain kesempatan." pamitnya. Aku mengangguk sambil tersenyum.
Mataku menatap kepergian gadis itu sambil berpikir tentang hubungan dia dengan Arsen bahkan mama Arsen.
Kenapa akhir-akhir ini aku merasa seperti duniaku terpusat pada Arsen. Aku cukup sering bertemu dengannya, mendengar namanya, bahkan papa pun terhubung dengannya. Tidak hanya itu, bang Arez juga.
Karena pikiranku yang terlanjur memikirkan hal lain, jadilah aku tidak lagi berbicara pada kameraku. Aku hanya merekam setiap yang kulakukan. Nanti aku bisa mengisi suara secara terpisah saat mengeditnya.
"Kayaknya aku emang harus jauhin Arsen deh. Eh, tapi misiku buat datengin rumahnya masih beluk selesai." pikirku sendiri dengan bingung.