"s**l-sialnya ku bertemu dengan cinta semu. Tertipu tutur dan caramu seolah cintaiku. Puas kau curangi aku. Bagaimana dengan aku." aku dan Rosa bernyanyi kuat-kuat melampiaskan semua emosi kami untuk menyanyikan lagu s**l- Mahalini.
"Berisik banget sumpah." ujar Riska dari kursi depan, tepatnya samping Fara yang sedang mengemudikan mobil.
Hari ini, kami pulang cepat dari sekolah karena ada salah satu guru yang melahirkan, jadi guru-guru lain pergi menjenguk. Dan karena kebetulan Fara membawa mobilnya, akhirnya kami memilih keluyuran tanpa tujuan.
"Inilah caraku mencintai dirimu sampai kau tak ragukan cintaku. Inilah caraku mencintai dirimu sampai engkau tak ragukan. Ragukan cintaku." aku dan Rosa masih bersemangat untuk menyanyikan lagu-lagu yang terputar dari tv mini.
Fara terkekeh melihat aku dan Rosa yang memasang wajah menyedihkan setelah menyakitkan lagu-lagu tersebut. "Lo nggak berniat jadiin rekaman itu konten yutub kan, Mi?" tanyanya.
"Emang kenapa?" tanyaku bingung. Aku memang merekam kegiatan kami menggunakan kameraku. Aku sempat meminta tolong pada Riska untuk meletakkan kameraku di dashboard mobil Fara tepat di tengah supaya kami yang di belakang juga kelihatan.
"Muka kalian tuh aib banget." ejeknya.
"Sialan." makiku.
"Kita mau ke mana sih sebenarnya?" tanya Rosa.
"Tau nih Fara." ujar Riska. Ia yang gampang berubah moodnya pasti sudah kesal sejak tadi karena kami ribut dan Fara yang tak mengatakan tujuan kami.
"Bentar lagi sampe. Sabar." ujar Fara sok rahasia.
"Lo nggak kau jual kami kan, Far?" tanya Rosa dengan wajah curiga.
Aku menggelengkan kepala dengan heran, lalu menyenderkan tubuhku seperti kehabisan tenaga setelah bernyanyi.
"Kayak lo laku aja dijual." ejek Fara pada Rosa.
"Gila. Gue semok begini. Enak digrepe grepe." sewot Rosa.
"Udah deh Ros, berisik lu. Ini kita udah mau sampe. Buruan touch up karena di sana banyak anak kuliahan. Khususnya cowok"
"Serius?" tanya Riska terkejut dan membuat kami lebih terkejut lagi karena mendengar suaranya. Ia tiba-tiba bersemangat mengeluarkan bedak dan liptintnya.
Aku juga ikut melakukan hal yang sama seperti mereka. Ya, mau jugalah tepe-tepe sama anak kuliahan, siapa tau bisa dapat satu buat dibawa pulang.
Kami turun dari mobil dan terkejut saat melihat parkiran yang cukup padat dengan kendaraan. Dan alangkah terkejutnya lagi setelah kami melihat banyaknya pengunjung kafe siang ini. Yang lebih mengejutkan lagi, apa yang dikatakan Fara memang benar, banyak anak cowok. Sayangnya, ini kebanyakan.
"Gue nggak berani kalo serame ini." ujarku buka suara lebih dulu.
"Gue juga. Gue nggak seberani itu walaupun agak gatel." ujar Rosa mendukungku.
"Udah ayo masuk aja. Ada gue." ujar Riska membuat kami terkejut.
"Ris, lo beneran?" tanya ku dan Rosa bersamaan.
Tau nggak? Kami tuh kadang emang kayak cewek cewek genit baru puber gitu, tapi kami tuh cupu kalau cowoknya banyak. Kalau satu dua mah, kadang kami mau godain juga, tapi kalau rame, kami takut digodain.
Fara terkekeh dan menatapku sambil mengangkat bahunya seolah ia tidak merasa takut sama sekali untuk masuk ke kafe ini. Tapi iya juga ya. Dia kan yang bawa ke sini, itu artinya dia udah pernah ke sini kan.
"Duluan dah lo pada." ujarku.
Riska dan Fara berjalan di depan, sementara aku dan Rosa berjalan di belakang. Aku merasa terlalu banyak mata yang menatap ke arah kami. Jujur saja, itu buruk. Sepertinya mereka heran karena seragam kami dan karena ini belum jam pulang sekolah, tapi kami sudah di kafe.
Kami langsung duduk di salah satu meja yang kebetulan baru kosong. Untunglah posisinya nggak begitu di tengah, jadi nggak terlalu berasa genit banget.
"Far, lo bolos?" seorang pria menghampiri kami dan menegur Fara.
"Enak aja. Pulang cepet." jawab Fara judes.
"Kalo mau jalan, seenggaknya ganti baju dulu kek. Ketahuan banget kalian anak bawah kencur di sini." ujar pria itu mengejek.
"Ihh, berisik banget sih lo bang. Mana buku menunya?"
"Abang lo, Far?" tanya Riska.
"Iya."
"Hai semua. Kenalin, Bara, abangnya Fara."
"Hai bang." sapa Riska dengan senyum malu-malu, tapi agak genit.
"Udah ah, buruan buku menunya." Fara menarik buru menu dari abangnya. "Tinggalin aja dulu. Nanti kita panggil lagi lo."
"Iya, bawel." ujar Barang lalu pergi.
"Bokap nyokap lo nggak kreatif banget sih Far bikin nama anak. Kayak kalian kembar aja sampe namanya cuma beda sehuruf." ejek Rosa.
"Nggak boleh gitu. Lo menghina bang Bara yang ganteng." ujar Riska terdengar menjijikkan. Bahkan Fara sampai menggeplak kepalanya saking gemasnya.
"Ih sakit, monyet." ringis Riska sambil mengusap kepalanya.
"Buruan baca menunya. Kita ke sini buat makan ya, bukan caper." sindirku pada mereka berdua.
***
Selagi menunggu pesanan kami datang, kami memilih main ludo sebentar. Entahlah, akhir-akhir ini teman sekelas sering sekali memainkan ludo online, jadi kami juga ketularan. Tentunya yang membuat seru adalah hukumannya.
"Jadi, hukumannya apa nih?" tanya Rosa begitu kami memulai permainan.
"Gue nggak mau nentuin, takut kena batunya." ujarku.
"Yang kalah, lipstiknya harus ditebelin kek tante-tante girang cari berondong." ujar Riska dengan semangat.
"Yang kalah tiga atau satu nih?" tanyaku.
"Dua deh. Dua terakhir dianggap kalah dan mematuhi hukuman." ujar Riska lagi dan kami semua setuju.
Akhirnya permainan berlangsung dengan cukup ribut. Kami bahkan hampir tak peduli apa yang terjadi di sekitar ketika main dan Rosa berhasil menang lebih dulu. Ia bahkan sudah memainkan hpnya tanpa mengikuti permainan kami.
"Please dong, jangan gue yang kalah. Malu kalo dilihat bang Bara." ujar Riska.
"Siapa aja juga malu kelen kalo kalah. Nih, banyak anak laki di sini. Entar dikira caper beneran." ujarku judes.
Aku menahan nafas saat melihat Fara menekan dadu dan sialnya ia menjadi pemenang kedua. Yang artinya, aku dan Riska kalah.
"Yess." Fara bersorak sambil mengepalkan tangannya.
"Buruan lipstik." Rosa segera merekam aku dan Riska bergantian karena kami memakai lipstik yang sama dan kebetulan itu lipstik Riska.
Aku mendesis pasrah saat melihat aku benar-benar aneh dengan lipstik setebal dan semencolok itu. Rosa dan Fara tertawa senang sambil merekam kami. Riska sibuk menutup mulutnya dengan tangan, apalagi saat bang Bara menghidangkan makanan di meja kami.
Begitu semua pesanan kami datang, kami lalu menyantapnya dengan senang hati, ditambah lagi Fara dan Rosa terus menertawai aku dan Riska. Beberapa kali, orang-orang di meja lain bahkan melirik ke arah kami dan menertawakan aku entah Riska. Malu sekali rasanya.
Seusai kami makan, aku lalu mendorong kursiku ke belakang dan berdiri, "Gue ke toilet dulu ya."
"Perlu ditemenin nggak?" tanya Rosa.
"Perlu deh." anggukku.
"Astaga, Arsen." aku segera bersembunyi di belakang punggung Rosa saat melihat Arsen keluar dari toilet pria. Matilah aku kalau dia sampai melihatku dengan penampilan seperti ini.
"Kenapa sih?" protes Rosa merasa heran.
Beruntungnya aku berhasil bersembunyi dari Arsen. Jadi aku bisa merasa lega untuk sesaat.
***
Kami keluar dari kafe dengan perut kenyang dan hati yang senang. Kami berempat berjalan bersama menuju mobil Fara di parkiran. Langkahku terhenti saat mendengar seseorang menyerukan namaku dengan cukup lantang.
"Mia, anak SMA. Pacarnya Arsen."
Aku mengangkat wajahku dan menemukan Nikolas, temennya Arsen. Tidak hanya itu, Arsen berdiri tepat di sebelahnya dan mereka sama-sama memandang ke arahku. Nikolas melambai seolah sudah akrab denganku.
Aku memasang wajah masam saat Nikolas menarik tangan Arsen mendekat ke arahku dan teman-temanku. Tanganku bergerak ke bibir dan menutupnya.
"Siapa, Mi?" tanya Fara.
"Pacarnya Mia. Lo nggak denger teriakan cowo itu tadi." ejek Riska karena pertanyaan Fara.
"Hai." sapa ku dengan malu pada Arsen dan Nikolas.
"Kalian bolos ya?" tuding Nikolas kepada kami.
"Pulang cepet, jadi nongkrong di sini. Udah ya, kita mau pulang." ujarku segera pamit.
"Ga bareng Arsen aja?" pancing Nikolas. Arsen hanya menatapku dalam diam.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, "Enggak." sanggahku, lalu segera menarik tangan teman-temanku agar segera ke mobil.
"Mau mangkal di mana?" tanya Arsen berhasil menghentikan langkah ku dan kembali memutar tubuh untuk menatapnya. Aku membulatkan mata mendengar pertanyaannya, sementara teman-temanku malah tertawa.
"Ini tadi main game, tau. Ini cuma hukuman." jelasku tegas.
"Hapus. Orang bisa salah paham lihat bibir lo semerah itu." ujar Arsen membuatku melipat bibir ke dalam, lalu mengangguk patuh.
"Iya nanti dihapus." ujarku.
"Sekarang." ujarnya.
Aku menatap teman-temanku dengan penuh penyesalan lalu mengambil tisu basah dari tas dan mengelap bibirku. Riska juga melakukan hal yang sama.
"Udah." ujarku pada Arsen.
"Ya udah, hati-hati pulangnya." setelah kalimat itu, Arsen menuju sebuah mobil dengan Nikolas.
"Pacar lo beneran Mi?" tanya Riska dengan semangat sambil menyenggol bahuku.
"Bukan." jawabku.
"Kok lo nurut?"
"Namanya juga sama calon suami." ujarku sambil tersenyum malu.
Riska dan Fara langsung menuju mobil dengan wajah menyebalkan begitu mendengar jawabanku.
Rosa berjalan di sampingku, lalu menyenggolku, "Pinter juga lo cari calon suami. Cariin gue dong." ujarnya membuatku mempercepat langkah untuk ke mobil.