14. Arsen

1496 Words
Aku turun dari lantai kamarku dan menuju ke ruang keluarga, dimana mama, papa, Renta, Fika, dan juga Aldan sudah berkumpul lebih dulu. Aku sendiri baru pulang dari kantor karena sedikit pekerjaan yang menggantung untuk ditunda. Baru juga aku selesai mandi, bahkan rambutku masih agak basah. Dengan lemas, aku duduk di depan papa, sementara di samping kananku ada Fika yang duduk melantai karena sedang mengerjakan tugasnya dan menggunakan meja untuk menulis. Aku menguap karena rasa kantuk sekaligus lelah setelah aktivitas panjang hari ini. "Kalau ngantuk nggak usah maksain diri, bang. Tidur aja. Kamu pasti cape seharian ini." ujar mama dengan penuh pengertian. Aku menggelengkan kepala, "Nggak apa-apa Ma, paling kalo nanti capek banget, aku ketiduran." ujarku menanggapi. Kulihat papa menepuk tangan mama, "Nggak apa-apa. Ketiduran di situ juga nggak apa-apa, paling nanti diangkat sama anggota Papa. Ini kan kita mau ngerasain hangatnya kumpul keluarga yang udah jarang." Aku tersenyum kecil mendengar ucapan papa. Memang benar, alasan kami berkumpul di ruang keluarga adalah untuk merasakan hangatnya berkumpul seperti itu dan bercerita satu sama lain. Kata papa, kami tuh sudah sama-sama sibuk, bahkan lebih sibuk dari papa sendiri, jadi papa tidak ingin kehilangan momen kekeluargaan yang sebenarnya. Pagi saja saat sarapan, kami jarang berkumpul karena jadwal yang berbeda. Papa sangat menyayangkan hal itu, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena sadar bahwa anak-anaknya memang bukan anak kecil lagi. Akhirnya papa mengusulkan bahwa kami akan berkumpul dua kali seminggu, yaitu malam malam rabu dan malam sabtu. "Cape kamu kerjanya?" tanya papa padaku. Aku menganggukkan kepala, "Akhir-akhir ini makin sibuk. Pekerjaan makin banyak." jelasku. "Gimana tugas akhir kamu?" tanya papa "Masih proses." "Kalau kuliah kamu udah selesai, pekerjaan kamu makin banyak. Persiapkan diri kamu." "Papa." mama menegur papa terang-terangan di depan kami. "Apa target kamu?" Aku cukup terkejut saat mendengar papa bertanya seperti itu. Ini kali pertama papa bertanya hal seperti itu dan bukan hanya aku yang terkejut, tapi Aldan dan Renta juga. "Nggak ada hal tertentu." jawabku bingung. Aku bahkan tidak tau targetku apa. "Hanya pemalas yang tidak punya target. Kalau kamu ada sesuatu untuk dikejar, maka kamu akan memaksimalkan apa yang kamu lakukan. Itulah pentingnya sebuah target." Aku mengangguk lesu. "Kamu Al? Gimana skripsi kamu?" tanya papa kini pada Aldan. "Belum ada kabar dari jurusan tentang dosen pembimbing." "Kenapa berbeda dengan Arsen?" tanya papa. "Kami beda jurusan Pa. Udah pasti beda aturan." "Ya udah besok biar Papa datang ke kampus kalian." ujar papa membuat kami semua terkejut. Mama memukul lengan papa lagi, "Ihh, nggak usah berlebihan deh. Dipikir anak masih tk apa ya?" protes mama. "Papa cuma mau nanya, Ma. Biar segera ada kejelasan." ujar papa dengan santai. "Ya udah sih, biarin aja mereka nunggu. Kalau Papa datang, yang ada mereka malu." "Pa, Ma, Fika masih banyak pr nih. Kalau Mama sama Papa ribut, biar Fika belajar di kamar aja." tegur Fika. Aku dan Aldan langsung bertatapan, kemudian tertawa karena keberanian Fika. Ya, dengan begitu papa jadi tak mengomel lagi lah tentang kami. "Renta, kamu tuh sekarang gimana kuliahnya?" tanya papa kali ini pada Renta. "Masih proses juga Pa. Otak aku lambat, nggak sepinter Arsen." "Makanya jangan pacaran aja." ujar papa. Aku tertawa tanpa suara mendengarnya. "Pa, aku nggak ketemu Dimas belakangan ini. Terakhir waktu aku ulang tahun itu. Gimana mau ketemu, kan Papa nyuruh anggota Papa buat nempelin aku ke mana-mana." "Salah sendiri kamu pulang kemaleman sama si kunyuk itu, padahal udah papa bilang harus disiplin." "Papa nih nggak pernah ngedate sih, makanya kolot nyuruh anak disiplin pas ngedate." ujar Aldan membuat papa membulatkan matanya. "Kayak kamu si paling paham ngedate aja." ejek papa kembali. "Paham lah." "Jomblo juga, sok paham." balas papa lagi. Aku menggelengkan kepala, heran dengan mereka. Terkadang papa memang sangat tegas kepada kami, tapi di bakik itu, justru papa juga memiliki sifat kekanakan yang jarang sekali muncul. *** Aku masuk ke kamar karena sudah mengantuk sekali, tapi begitu berbaring di atas tempat tidur, justru rasa kantukku lenyap seketika, hingga aku memilih membuka ponsel dan mengecek instajram sebentar. Aku memperbaiki posisi saat melihat ada postingan terbaru dari Armia. Seminggu yang lalu aku memutuskan untuk memfollback akunnya karena ia terus mencekcokiku di dm. Ya, setidaknya aku tidak perlu mengintip-intip akunnya lagi dengan bersembunyi. Aku menatap ponselku yang menunjukkan video dia sedang melakukan transisi makeup. Wah, aku takjub dengan kebolehannya dalam merias diri. Ia merias wajahnya sedemikian rupa bak seorang dewi. Cantik sekali. Di postingan selanjutnya, ia sedang bervlog ria dengan teman-temannya yang kemarin sempat kulihat. Ya, itu video mereka. Mereka bernyanyi di dalam mobil, makan di kafe, main ludo, dan beberapa kegiatan lain. Di akhir video, ia menyuruh untuk menontonnya di akun yutub miliknya. Aku membuka akun yutub miliknya dan langsung menonton video terbaru. Hampir 20 menit dan aku menontonnya sampai selesai tanpa sadar, bahkan dengan tersenyum dan tertawa. "Astaga, gue ngapain?" aku menegur diriku sendiri yang tak sadar telah mengkepoi Armia. "Jangan-jangan gue dikasih guna-guna sama dia." aku bergidik ngeri membayangkan jika hal itu benar terjadi. *** Pagi ini, aku bangun cukup cepat karena akan ke kantor. Tidak ada jadwal kuliah yang membuat aku bisa beralasan untuk bermalas-malasan. Ingin bimbingan skripsi pun aku tak bisa karena dosen pembimbingku tidak akan hadir hari ini. Tok tok tok "Den." aku mendengar suara memanggilku dan mengetuk pintu kamarku. "Masuk aja, mbak." ujarku pada maid tersebut. Aku memanggilnya mbak karena memang ia belum begitu tua untuk dipanggil bik. "Ada tamu yang nunggu den Arsen di bawah." "Nyari saya?" tanyaku heran. Masih sepagi ini sudah ada saja yang bertambah mencari ku. "Iya, kalo nggak salah dengar tadi namanya nona Vania." "Vania?" aku mengernyit heran, lalu segera turun dan ke ruang tamu. "Hai Ar." ujar Vania yang langsung menyapaku begitu aku muncul di hadapannya. Papa dan mama sudah menemaninya bahkan mengajak bicara. "Hai." balasku singkat, "Kamu ngapain ke sini?" tanyaku bingung. Vania tersenyum, "Aku mau ngajak kamu jalan. Udah lama juga kita nggak ketemu." ujarnya. Aku menghela nafas kasar, "Aku ada kerjaan. Ini mau ke kantor." ujarku tiba-tiba merasa senang karena harus ke kantor hari ini, jadi tidak perlu mengiyakan ajakannya. "Eh, kata kakek, kamu harus temenin Vania. Kalo enggak, papa lagi yang kena omel kakekmu." ujar papa kemudian yang membuat aku berdecak kesal. "Iya, sebenarnya aku ke sini karena disuruh kakek. Katanya supaya mempererat hubungan kita sebelum menikah." aku Vania sambil terkekeh. Aku melirik papa dan mama yang hanya diam saja mendengar ucapan Vania, padahal aku resah setengah mati. Kupikir niat kakek untuk menjodoh-jodohkanku sudah hilang, tapi ternyata masih ada. "Emang mau ke mana? Aku bener-bener ada kerjaan hari ini." jelaskan untuk menghindarinya. "Sebenarnya aku cuma mau ngajak jalan aja sih, tapi tadi kata kakek, aku minta temenin kamu aja ke SMA International Sebara. Itu SMA kamu dulu kan?" Aku mengangguk dengan lesu mendengar pertanyaan basa-basinya. "Mau ngapain ke situ?" tanyaku bingung. "Oh, itu, aku ada panggilan mengajar ke situ. Kita temuin kepala sekolahnya dulu ya." ujarnya. "Udah sana, temenin aja." ujar mama. Aku menatapnya tak setuju, tapi mama terus melotot padaku, bahkan papa juga melakukan hal yang sama dengan gerakan tangan mengusir. *** Di sini lah aku berada sekarang. Semobil dengan Vania dan diantarkan oleh supirnya. Ia terus berusaha mengajakku untuk berbicara, sementara aku hanya menanggapi dengan malas. Bukan sombong, tapi keberadaan Vania itu benar-benar tidak membuat nyaman. Begitu tiba di sekolah, aku cukup heran karena jelas sedang ada acara sehingga banyak siswa-siswi yang berlalu lalang sampai ke dekat gerbang, meski tak sampai keluar. Dan melihat pakaian yang sangat berbeda dari beberapa siswa, aku menduga bahwa sedang ada acara pertandingan antar sekolah. "Kayaknya kita salah waktu deh datangnya." ujarku pada Vania. "Ihh, nggak apa-apa. Kita udah terlanjur di sini." paksanya. Aku akhirnya menurutku tarikannya dan dengan terpaksa melintasi kumpulan muda-mudi yang hampir ada di setiap sudut. Mereka sedang ada pertindangan basket dan volly, sehingga kebanyakan mereka menyaksikan dari gedung juga karena posisi lapangan yang afa di tengah. Aku tidak menduga bahwa kini SMA Sebara mulai ikut andil dengan kegiatan olahraga antar sekolah. Sejak awal dibangun, SMA Sebara punya misi untuk fokus pada akademik siswa, sehingga hanya sedikit saja ekstrakulikuler yang ada di sekolah tersebut. Di sepanjang lorong, ada cukup banyak siswa-siswi yang menggoda aku maupun Vania. Aku hanya heran melihat bagaimana jiwa muda mereka terlalu menggebu-gebu hingga seberani itu menggodaku. Sementara Vania justru tersenyum manis dan membalas sapaan mereka. Begitu kami tiba di depan kantor kepala sekolah, Vania langsung masuk dan izin meninggalkanku sebentar. Aku segera menuju ke dekat lapangan supaya bisa menyaksikan pertandingan basket. Aku menyaksikan kehidupan sekolah yang rasanya ingin ku ulang kembali mengingat betapa sibuknya aku saat ini dengan berbagai tuntutan. Setelah diingat-ingat lagi, ternyata memang benar, masa sekolah yang paling menyenangkan itu masa SMA. "Ihh, kamu dicariin, ternyata di sini." aku menoleh dan menatap lelah pada Vania, apalagi dengan tangannya yang langsung menggandeng lenganku. "Udah siap?" tanyaku. "Udah. Oh ya, kita ke rumah kakek ya. Tadi kakek pesan supaya ajak kamu ke rumah karena udah lama kamu nggak berkunjung." "Van, sebenarnya kenapa kamu deketin aku lagi?" tanyaku sungguh penasaran. Setelah satu tahun lebih kami menjaga jarak, kupikir perasaan Vania sudah hilang, tapi ia justru kembali mendekatiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD