Aku menatap keluarga Arsen satu persatu, tidak menduga bahwa mereka semua akan menanggapi begitu serius ucapan salah satu om ganteng yang duduk bersama kami. Kami bahkan belum berkenalan, tapi sudah membahas tentang pernikahan secara bersama. Mataku menatap Arsen yang hanya menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memperhatikan pembahasan orang tua, hingga kemudian pandangan kami bertemu. Aku segera membuang pandangan ketika aku melihat matanya melotot tajam padaku. "Maaf ya Om, menyela pembicaraan, tapi kayaknya pembicaraan ini terlalu serius." aku menatap papanya Arsen dengan khawatir. "Ya memang kita serius mau menikahkan kalian." jawab papanya. "Tapi kan kami bisa jadi putus." ujarku lagi mencari alasan. Jadian aja nggak pernah, gimana bisa putus. "Ya jangan putus dong." ujar nenek

