20. Arsen

1606 Words
Aku berjalan ke luar rumah dan duduk di kursi luar sambil menatap ke langit. Kembang api masih berbunyi dengan nyaring dari berbagai arah meskipun ini sudah setengah jam melalui pergantian tahun. Drtt drtt Aku mengeluarkan ponselku dari kantong celana dan menghidupkannya. Ada dm dari akun Armia. Ia mengucapkan selamat tahun baru padaku. Selain itu, ia juga memposting foto terbaru ke akun instajramnya. Ia selfie sambil menopang dagunya dengan tangan kiri menunjukkan bahwa ia baru saja mengganti cat kukunya. Tapi aku yakin, bukan itu yang ingin ia pamerkan, tapi apa yang melingkar di jari tengahnya. Cincin. Padahal sudah hampir seminggu berlalu, tapi ia baru memamerkannya sekarang. Enam hari lalu, ketika kami berkunjung ke rumah nenek, kakek menyuruh asisten pribadinya untuk segera membelikan cincin agar dipasangkan ke jari Armia. Mereka benar-benar percaya cerita karangan Armia sehingga mereka memaksaku untuk saling memasang cincin di depan mereka. Aku sendiri sudah menyimpan cincin itu di laci kamarku. Mana mungkin aku menggunakan cincin itu, yang mana nantinya akan menimbulkan banyak tanya. Apalagi di depan Aldan yang peka sekali. Ah, membayangkannya saja membuat takut. Drrtt drrtt. Ponselku kembali bergetar dan kali ini ada panggilan video dari Armia. Aku segera mengangkatnya hingga panggilan kami terhubung. Aku bisa melihat wajah Armia berseri-seri. Ia melambaikan tangan ke kamera, "Kamu di rumah nenek?" tanyanya. "Iya." jawabku singkat. "Selamat tahun baru, Arsen. Nggak nyangka ya, aku kenal kamu udah setahun aja." ujarnya. Aku berdecih, "Cuma karena udah berganti tahun bukan berarti lo kenal gue udah setahun." balasku. "Mungkin kalo udah kenal setahun, kita udah nikah kali ya." ujarnya lalu tertawa. "Pengen banget lo nikah." "Emang kamu enggak?" tanya Armia. "Enggaklah. Gue nggak sekebelet itu." ujarku menjawab pertanyaannya. Jujur saja, menurutku aku bahkan masih sangat muda untuk memikirkan pernikahan. Belum pernah sedetikpun terlintas di pikiranku tentang pernikahan. "Kalo gitu, nanti aku bawa kamu di dalam doa, supaya kita punya tujuan yang sama." ujarnya. Aku segera menepikan arah kamera ketika tak bisa menahan senyum karena perkataannya. Jujur saja, ucapan Armia itu membuat geli, tapi entah kenapa, di saat bersamaan juga membuat aku berdebar. "Gue mau masuk. Gue tutup telponnya ya?" tanyaku. "Tunggu." "Apa lagi?" "Di rumah kakek sampe kapan?" "Lusa mungkin udah balik." "Oke." ujarnya. Aku mengernyit bingung, tapi kemudian telpon terputus begitu saja. Tidak ada kesempatan untuk bertanya, apa maksud pertanyaan itu. Ketika aku hendak masuk ke rumah, Aldan muncul dan mengejutkanku. Tatapannya menunjukkan kecurigaan yang begitu kentara, tapi aku berusaha abai dab tetap melangkah masuk. Ia menyelaraskan langkah kami, masih dengan tatapan yang terarah padaku, "Abis video call sama siapa?" tanyanya. "Bukan urusan lo." ujarku. "Lo punya pacar?" tanyanya membuatku menyipit sinis padanya. "Kenapa rahasia-rahasiaan? Pacar lo cowok?" pancing Aldan tak ingin menyerah begitu saja. Kecurigaan tentang seksualitasku sepertinya akan terus terjadi meski aku sudah berhasil meyakinkan kakek dan nenek. Percuma juga, karena memang semua orang lah yang meragukan kenormalanku. "Diem berarti setuju?" ujar Aldan. Aku menghela nafas, lalu menepuk bahunya, "Gue sebenarnya selera sama lo selama ini, tapi kita sodara kandung. Gue nggak mau bikin mama papa syok." ujarku sambil tersenyum miring. "Kalau mama sampai denger ucapan lo barusan, bisa kena serangan jantung." ujar Aldan. "Gue serius. Gue naksir sama lo, Al." aku berusaha meyakinkannya. Aldan mendekati ku, lalu memeluk tubuhku, "Susul gue ke kamar, biar gue kasih yang enak-enak." ujarnya, lalu pergi begitu saja. Aku memegang perutku yang tiba-tiba bergejolak, lalu membungkuk dan muntah. Aku merasa telah mendengarkan hal paling mengerikan di awal tahun ini. *** Siang ini kami sekeluarga telah meninggalkan kediaman kakek. Setibanya di rumah, papa langsung kedatangan tamu, yaitu sahabat-sahabatnya. Jadi, aku, Aldan dan Renta segera meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke kamar masing-masing. Sementara Fika, ia langsung mendapat teman bermain yang sebayanya, jadi memilih tinggal di sana. Aku memainkan game lewat ponselku, lumayan untuk menghilangkan rasa bosan. Lagipula tidak ada yang bisa kulakukan selain main game saat ini. Tok tok tok "Masuk." ujarku. Aldan berdiri di pintu dan menatapku, "Keluar yuk? Temen gue ngajak main. Dari pada lo bosan sendiri." tawarnya. Aku mempertimbangkan ajakan Aldan, lalu segera berdiri dan mengangguk setuju, "Okelah. Gue ambil jaket dulu." ujarku. Baru saja kami keluar dari kamarku, mbak Tiris menghalangi langkah kami. "Kenapa mbak?" tanyaku. "Itu Den, di bawah non Armia, pacarnya Den Arsen." Aku berdecak mendengar bahwa Armia datang ke rumah. Apalagi keadaan rumah cukup ramai saat ini. Dengan langkah cepat, aku segera menuruni anak tangga agar segera sampai di ruang keluarga. Aldan menyusul langkahku dengan sama cepatnya. "Calon menantu gue nih." ujar papa pada para sahabatnya itu. Aku berdecak mendengar itu. "Eh, Arsen." Armia dengan tampang tak berdosa melambaikan tangan padaku dengan senyum manisnya. Aldan menyenggol lenganku, "Kayaknya lo nggak jadi pergi deh. Udah ada pacar lo itu ngajak ngapel." godanya. Ia ikut bergabung dengan obrolan para tua-tua. "Armia, pulang sekarang." ujarku sambil mendekatinya. "Aku kan baru datang." ujarnya. Aku mengepalkan tanganku, lalu menariknya cukup kuat karena rasa kesal, "Gue bilang pulang ya pulang." ujarku. "Arsen. Kamu kenapa sekasar itu?" papa berdiri dari duduknya dan menatapku marah. "Aku cuma mau nyuruh dia pulang, Pa." ujarku. "Ada hak apa kamu nyuruh tamu papa pulang? Memangnya kamu pikir dia datang untuk ketemu sama kamu?" ujar papa. Aku melirik Armia dengan kesal, lalu melepaskan tangannya. Dengan tatapan tajam, aku menatapnya, "Kalau lo nggak pulang sekarang, jangan harap gue mau bicara lagi sama lo." ujarku tegas, lalu meninggalkan dia dan pergi keluar rumah. "Armia pulang aja ya Om, soalnya Arsen marah. Lain kali Armia berkunjung kalau Arsen nggak di rumah aja, soalnya dia galak." ucapannya masih sempat terdengar di telingaku. *** "Mood kamu lagi nggak bagus ya?" tanya Armia sambil menyamakan langkah kami. "Emangnya marah sama aku bikin mood kamu bagus?" tanyanya lagi. "Kamu sering banget marah, pantes dikira homo. Siapa juga cewek yang mau sama cowok pemarah." ujarnya. Aku langsung menatap tajam tepat kepadanya. "Gue bukan pemarah, lo aja yang bikin kesel." "Bikin kesel apa? Aku cuma berkunjung kok, itu juga buat nyapa papa kamu yang baik hati, bukan kamu yang pemarah." "Alesan lo. Buat apa lo nyamperin papa gue?" "Caper. Gue mau caper sama calon papa mertua. Memangnya nggak boleh?" tanya Armia sewot. "Heh, kalian ini malah berantem. Dasar anak muda." aku dan Armia sama-sama menoleh ketika mendengar suara yang tak asing. "Nenek?" aku terkejut melihat kehadiran nenek dan kakek tepat di depan pintu utama, baru keluar dari mobil. "Iya, ini nenek. Memangnya kamu pikir siapa?" "Tapi kami kan baru dari rumah nenek. Nenek sama kakek ngapain ke sini?" tanyaku khawatir. Khawatir dengan niat kedatangan mereka. "Emangnya nggak boleh? Kami juga pengen berkunjung ke rumah anak kami." jelas kakek. Aku segera melirik Armia, lalu memegang tangannya, "Ayo gue anter pulang." ujarku segera, supaya tidak ada kesempatan untuk kakek dan nenek mengajaknya berbincang, apalagi sampai membawanya ke ruang keluarga. "Eh, kok malah pulang. Nenek sama kakek kan baru sampai. Kita ngobrol-ngobrol dulu dong." ujar nenek sambil mendekati Armia dan merangkul pinggang gadis itu. "Dia mau pulang, Nek." ujarku menahan mereka. Nenek menatapku ragu, lalu menatap Armia, "Kamu mau pulang?" tanyanya pada yang bersangkutan. "Enggak Nek, aku juga pengen ngobrol lagi sama kakek dan nenek." ujarnya sambil merangkul pinggang nenek juga dan menghempas tanganku. Mereka berjalan ke dalam. Aku mengepalkan tangan dengan niat melihat Armia justru mengambil kesempatan untuk kembali ke dalam. "Ayo, masuk dulu. Nanti aja keluyuran." ujar kakek sambil merangkul ku, berjalan masuk kembali. Aku menghela nafas dengan perasaan khawatir akan kehadiran kakek dan nenek ini. Jujur saja, perasaanku tidak enak. Aku yakin bahwa mereka akan membuat keributan soal hubungan pura-puraku dengan Armia. "Loh, nggak jadi pulang?" tanya papa pada Armia. "Tadi calon menantumu ini lagi berantem sama Arsen. Biasalah, namanya cinta masa muda." ujar nenek. Aku membulatkan mata. "Arsen nih memang selalu judes kalo Armia datang." ujar mama sambil melotot padaku. Nenek segera menarik Armia duduk dekat mama, "Takut itu dia ketahuan kalo udah tunangan." "Tu-tunangan?" tanya mama begitu terkejut. "Iya, ini cincinnya." nenek mengangkat tangan Armia dan menunjukkan jari Armia yang terpasang cincin. Untuk apa juga, dia masih memakai cincin itu? "Kamu--" Papa menatapku dengan serius, "Normal?" tanyanya. Aku lagi-lagi mendengar pertanyaan ini. Dan kali ini dari papaku sendiri, tanpa ada perantara lagi. "Arsen normal kok Om. Dia pernah grepe-grepe aku. Sedikit kok." ucap Armia. Aku membulatkan mata dengan frustasi begitu Armia ikut dalam pembicaraan. Dia adalah ratunya drama. Tanpa perasaan malu dan bersalah, ia berhasil mempermalukan dirinya sendiri. "Arsen? Kamu grepe-grepe anak orang?" mama berdiri dan melotot padaku. Aku menatap mereka semuanya dan tatapan semua orang di ruang keluarga ini benar-benar hanya fokus padaku saja. Armia yang bikin ulah, tapi malah aku yang harus cari solusi. "Eng---" kalimat ku terpotong. "Aku nggak nyangka, ternyata Arsen udah sedewasa itu." ujar Aldan sambil menggelengkan kepala, seolah percaya dengan bualan Armia, padahal aku yakin bahwa ia sedang mengejekku dengan tatapannya. "Dari pada mereka kebablasan, mending dinikahkan aja." usul itu timbul dari Om Robin, salah satu sahabat papa. "Enggakkk." tolakku tegas. Aku menatap Armia, butuh bantuannya. "Jangan buru-buru Om, Tan, Kek, Nek, aku kan masih sekolah." ujarnya. Aku menghela nafas lega, ternyata kali ini kami satu pikiran. "Lagian tinggal nunggu tiga bulan lagi, udah beres sekolahnya." jelasnya. Aku mengernyit bingung. Untuk apa dia menjelaskan bagian itu? "Ya udah, nggak apa-apa, rencananya berjalan sambil nunggu kamu tamat sekolah." ujar Kakek. "Iya, kan nyiapin acara nikahan juga butuh waktu yang cukup." tambah kakek. "Tapi, aku mau nikahan yang mewah ya Kek, Nek." ujar Armia membuatku terkejut. "Armia." tegurku menyadarkannya. Memangnya dia tidak takut menikah dengan cowok yang sering judes padanya? "Kecepatan ya?" tanyanya kepadaku dengan tampang tak berdosa. "Atau kelamaan?" tanyanya lagi. Aku menarik nafas pelan, lalu menghembuskannya dengan pasrah, kemudian duduk dan menyandarkan tubuhku di sandaran sofa, "Terserah." ujarku tak lagi bisa berpikir dengan jernih. Aku tidak ingin menanggapi kegilaan ini lebih jauh, karena aku takut emosiku meledak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD