Aku? Pacar bohongan? Enak saja. Biar dia tau siapa aku.
Aku tersenyum puas setelah Arsen mencium pipi kiri ku. Aku menyadari pelototannya, tapi memilih abai. Itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah meyakinkan cewek cantik di depan Arsen bahwa kami memang ada hubungan.
Menyadari bahwa Arsen sampai memintaku menemuinya dan menjadi pacar bohongannya, itu artinya dia sangat tidak ingin menjadi pacar cewek bernama Vania itu. Oke, itu cukup menjadi alasan bahwa aku bisa memanfaatkan Arsen hingga ia mencium pipiku dengan terpaksa.
"Kenapa selama ini kamu nggak bilang kalau punya pacar?" tanya Vania pada Arsen.
"Ya karena cuma pacaran." ujar Arsen tegas.
Aku melotot padanya, "Maksud kamu apa bilang gitu? Cuma pacaran? Jadi kamu nggak serius sama aku?" tanyaku dramatis. Ah, aku jadi tertarik masuk dunia akting. Sepertinya aktingku cukup bagus.
Arsen sekali lagi melotot padaku, "Mi, maksud aku bukan gitu. Aku nggak mau ngenalin kamu sama kenalan aku karena hubungan kita masih baru." ujar Arsen.
Kalimat Arsen cukup meyakinkan. Aku harus membalasnya hingga ia kalah.
"Walaupun masih baru, aku udah kenalin kamu ke keluarga dan sanak saudara aku." ujarku lebay tapi serius, "Tapi kamu justru nggak mau ngenalin aku ke keluarga kamu. Kamu pasti nggak serius sama aku." aku menunjukkan kekecewaan.
Ia meremas lututku, sepertinya geram dan merasa sangat kesal, "Mia, jangan gini deh." ujarnya pelan.
"Aduh, jangan diremas dong Ar paha aku. Nanti orang mikirnya aneh." ujarku terus terang. Ia langsung menarik tangannya dengan cepat.
"Ternyata kamu nggak sepolos yang aku kira yang, Ar." ujar Vania yang percaya. Ia seolah kecewa mengetahui sifat mesumm Arsen.
Aku tersenyum menang sekali lagi, lalu menatap Vania dan memegang tangannya, dengan tatapan polos, "Aku malu bilang ini, tapi Arsen sebenarnya memang nakal. Dia suka remes-remes paha aku." ujarku berusaha menahan tawa.
Sekali lagi Arsen meremas lutut ku, seolah memintaku untuk berhenti.
"Aku bakal bilang hal ini ke kakek kamu." ujar Vania, lalu pergi.
"Eh, Van Van." Arsen sontak terkejut mendengar ucapan Vania, lalu segera mengejar gadis itu.
Aku menepuk tanganku dengan senyum puas. Siapa suruh Arsen memanfaatkan aku. Dia pikir aku sesuka itu padanya sampai mau dibodoh-bodohi.
***
Arsen kembali masuk kafe dengan tatapan tajam, lalu duduk di depanku dan melipat kedua tangannya di atas meja dengan serius, "Hari ini kamu berlebihan, Armia." ujarnya.
Aku mengusap bibirku dengan tisu setelah menghabiskan makanan dan minumanku, "Kamu masih butuh aku loh ke rumah kakekmu." ujarku.
"Enggak. Cukup ketemu Vania aja. Aku nggak tau apa yang akan kamu bilang kalau ketemu kakek nenek aku."
"Pertama, aku datang karena mau ketemu kamu, Arsen, bukan buat jadi pacar bohongan. Kedua, kamu memanfaatkan aku karena rasa suka ku. Ketiga, aku memang suka sama kamu, tapi aku nggak bodoh. Menurut kamu, mana yang berlebihan?" tanyaku.
"Aku tau aku salah, tapi aku bener-bener nggak punya pilihan lain selain kamu, Armia."
"Tapi kamu nggak bilang, Arsen."
"Karena kamu bakal nolak."
"Itu udah pasti." ujarku tegas, "Lain kali,----"
"Nanti kita bahas." ujar Arsen sambil mengangkat tangannya ke depan wajahku. Ternyata dia dapat telpon.
Aku tidak mendengar apa yang dikatakan si penelpon, tapi melihat dari cara Arsen berbicara, sepertinya yang menelpon adalah kakeknya.
"Itu salah paham, Kek. Vania berlebihan." ujarnya.
"----"
"Ngapain ke rumah kakek?"
"-----"
"Dia sibuk, anak anjingnya banyak." ujar Arsen membuat aku menatapnya sinis. Sejak kapan aku ngasuh banyak anak anjing?
"-----"
"Iya, aku bawa deh ke situ." ujar Arsen. Aku tersenyum. Sudah bisa membaca arti percakapan seputus-putus itu. Kakeknya memintaku datang ke rumah.
***
Setibanya di rumah kakek Arsen, aku dibuat tercengang. Itu benar-benar rumah yang besar dengan halaman yang luas, ditumbuhi dengan bunga. Saat melihat rumah papa Arsen, aku juga terkejut sebenarnya, tapi ternyata rumah kakeknya lebih luas lagi, padahal aku yakin rumah itu bukan untuk menampung 7 turunan. Buktinya papa Arsen saja punya rumah sendiri.
"Kakek kamu tinggal berdua sama nenek di rumah ini?" tanyaku.
"Ada beberapa art juga yang bantuin bersihin, masak, dan kerjaan lain." jawab Arsen.
"Nggak sayang ya rumah sebesar ini dipake berdua doang?" tanyaku.
"Kebetulan nih rumah sering dipake syuting film buat peran keluarga kaya, jadi nggak rugi-rugi amatlah." jelasnya. Ah, aku mengangguk. Iya, pantas saja terlihat tak asing, ternyata rumah syuting.
"Ayo." ajak Arsen. "Dengar, jangan ngomong yang macem-macem. Gue cuma perlu ngeyakinin kakek gue kalau gue punya pacar dan normal sebagai cowok." jelasnya menegaskan.
Aku mengangguk prihatin, menatapnya kasihan, "Kamu tau nggak cara yang lebih ampuh supaya keluarga kamu percaya kalau kamu normal?" tanyaku. Aku ingin memberikan ide yang lebih cemerlang dari sekadar pacar bohongan.
Arsen menyipitkan matanya, menunggu jawabanku.
Aku berdeham supaya tak tertawa, "Hamilin anak orang." ujarku lugas, lalu tertawa kuat saat melihat wajahnya yang merah dan mata melotot sampai mau keluar.
"Armia, kamu itu---- astagaa." Arsen menggelengkan kepalanya heran dan menepuk jidatnya. Ia bahkan berjalan meninggalkanku, lalu menoleh lagi, seperti ingin bicara, tapi ia kembali menggelengkan kepalanya, masih dengan wajah tak menyangka atas ucapan ku tadi.
"Tunggu dong, pacar." aku segera mengejar langkah Arsen dan menggandeng tangannya.
"Lepas. Lo mesumm." ujarnya.
"Arsen, coba deh latihan lagi cium pipi gue. Siapa tau tadi Vania cerita ke kakek, terus disuruh reka ulang kejadian. Tadi kamu terlalu canggung. Anak tk pasti lebih pinter dari kamu soal mencium."
"Jangan genit deh." Arsen menatap tajam, lalu kembali menjauh.
Aku berhenti melangkah, menatap punggung Arsen serius, "Ar, tapi kamu memang beneran normal kan?" tanyaku. Setelah mendengar cerita dia tadi di kafe bahwa keluarganya mengira ia tidak selera sama perempuan, aku jadi ikut ragu. Siapa tau itu memang benar.
Ia berhenti melangkah, lalu memutar tubuhnya dan berjalan ke arahku, "Aku bisa telanjangii kamu sekarang, Armia. Jangan uji aku." katanya, berhasil mengintimidasiku.
Aku mengerjap dua kali, lalu mendorong dadanya agar sedikit menjauh. Tadi tuh terlalu dekat, bikin gugup aja. "Syukur deh kalau memang normal. Denger kamu ngomong gitu aja bikin merinding. Kayaknya emang normal." ujarku menghembuskan nafas lega.
***
Aku mengerjap beberapa kali dan meneguk ludah ku dengan susah payah ketika nenek Arsen berpindah tempat duduk, dari sofa di depanku, menjadi duduk di samping kananku. Ketika Arsen mengenalkan aku sebagai pacarnya, tatapan mereka jadi aneh.
"Nek, jangan gitu deh. Nanti dia nggak nyaman." ujar Arsen
"Kamu beneran pacar Arsen?" tanya neneknya padaku. Aku tersenyum dan mengangguk kikuk.
"Arsen bayar kamu berapa?" tanya kakek Arsen.
Pfftth, aku ingin tertawa mendengar itu. Segitu tidak meyakikannya Arsen punya pacar sampai mereka sangat yakin bahwa ini bohongan. Ya, meski itu memang benar.
"Beneran lah kek, masa bohong sih." jawab Arsen terdengar kesal.
"Kalian udah pernah---" nenek Arsen kembali bertanya sambil mempraktekkan orang ciuman lewat tangannya. Ya, aku tau maksud itu.
Aku tertawa geli melihat itu, sementara Arsen menegur neneknya, "Nekkk." sepertinya ia lebih tidak menduga bahwa neneknya akan bertanya sefrontal itu.
"Ya kan, nenek mau tau hubungan kalian sejauh apa." ujar neneknya, "Anak sekarang kan banyak yang mbablas."
"Armia sama Arsen belum sejauh itu kok, Nek. Arsen cuma berani cium pipi doang." ujarku.
"Cium pipi? Pernah?" tanya kakeknya.
Aku mengangguk yakin, "Kakek jangan sepele deh. Gini-gini Arsen nakal kok, kayak cowok kebanyakan."
"Serius? Arsen nakal?" tanya kakeknya lagi.
Aku melirik Arsen, lalu tersenyum melihat ia yang sepertinya sudah pasrah dengan apa yang kukatakan. Hembusan nafasnya terasa kasar.
"Tadi di kafe aja, dia sampai remas---- emh." ucapanku terhenti karena Arsen tiba-tiba menutup mulutku dengan tangannya. "Ihh." aku menghempas tangannya.
"Remas?" tanya nenek dan kakek bersamaan. Aku menutup mulut, berusaha menahan tawa karena aku yakin pikiran mereka sudah melayang jauh. "Kamu sekurang ajar itu Ar?" tanya neneknya.
Arsen menggelengkan kepalanya panik, "Maksud dia remas tangan, soalnya aku gemes tangannya mungil banget." jawabnya membuat aku mengernyit, lalu menatap tanganku sendiri. Apa semungil itu? Dari mana dia tau?
"Oh, nenek pikir kamu udah jadi cowok kurang ajar."
"Aku mau ke kamar mandi dulu." ujarnya.
Setelah kepergian Arsen, aku tersenyum picik, "Sebenarnya Arsen memang agak nakal, Kek, Nek, tapi Armia kan takut kalau kebablasan, apalagi aku kan masih sekolah."
"Kamu masih anak sekolah? Kelas berapa?" tanya nenek.
"SMA. Kelas 12, sebentar lagi juga tamat kok Nek."
"Selera Arsen nih yang muda ternyata. Terus, kamu sama Arsen udah yakin? Dia memang normal kan?" tanya nenek lagi.
Aku mengangguk sekali lagi, "Yakin Nek, dia bahkan sempet ngelamar aku minggu lalu. Nggak mungkin kan dia kebelet nikah kalau nggak normal?" ujarku meyakinkan.
"Ngelamar?" tanya kakeknya sangat tak percaya.
Nenek langsung memeriksa jariku yang tak ada cincin. Aku langsung memasang wajah sedih, "Arsen belum sempat ngasih cincin, Nek. Katanya dia lagi nggak ada uang."
"Dia bilang gitu?" tanya kakek terdengar sangat kesal. Aku mengangguk.
"Apa maksud dia itu? Memangnya sekere apa dia sampai nggak mampu beli cincin." ujar nenek dengan ketus.
Aku berdeham saat melihat Arsen kembali dari kamar mandi. Sementara kakek dan nenek langsung menatapnya dengan tajam. Aku mengusap hidungku untuk menyamarkan senyum yang tak bisa ku tahan.
"Arsenior Blacker, kenapa kamu nggak beliin cincin buat Armia kalau kamu ngelamar dia? Memangnya kamu sekere itu?"
Arsen menganga, "Hah? Ngelamar?" tanyanya sambil melirikku. Aku mengangkat bahu tak acuh.
"Pokoknya kami nggak mau tau, kamu buruan beli cincin buat calon istri kamu." ujar nenek.
Arsen duduk di samping ku dengan wajah yang menahan kesal, "Aku lupa pernah ngelamar kamu, Armia." sarkasnya.
Aku segera menggelayut manja di lengannya, "Itu loh, Sayang. Malam minggu lalu kan kamu bilang, kebelet kawin sama aku. Waktu kita di kafe yang ada lampu love-lovenya loh. Itu artinya ngelamar kan. Masa kamu lupa."
Arsen terkekeh miris. Menertawakan dirinya sendiri dan rencana bodohnya. Sementara aku tersenyum puas.