Aku berdecak kesal saat membaca sebuah chat dari nama yang cukup mengganggu akhir-akhir ini. Vania. Dia bahkan jauh lebih mengganggu dari Armia, dan chat yang ia kirim pagi ini membuat makan ku jadi tak enak.
"Kenapa lo?" tanya Aldan yang sepertinya menyadari kekesalanku.
"Papa sama mama mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Baru berangkat. Katanya ada pertemuan pagi ini, jadi sekalian sarapan di luar aja."
"Renta sama Fika mana?"
"Abis sarapan tadi, berangkat ke rumah kakek." jelas Aldan, tapi masih berusaha melihat ponselku. Ah, sulit sekali membohongi Aldan.
"Awass ihhh." aku berusaha mendorong bahu Aldan agar ia sedikit menjauh.
"Siapa tuh ngajak jalan?" tanyanya. Ah, ternyata ia sudah terlanjur membaca chat dari Vania.
"Cieee, hubungannya makin serius nih. Selamat ya." ejek Aldan. Ia tau jelas bahwa aku tidak suka pada Vania, tapi malah menggodaku dengan wajah yang sama menyebalkan dengan Vania.
"Diem deh lo." ancamku sungguh-sungguh.
"Mau jalan ke mana?" tanya Aldan lagi.
"Gue nggak mau jalan sama dia." tegasku.
"Paling juga nanti dia ngadu sama kakek, terus lo dimarahin deh." ujar Aldan.
Memikirkan ucapan Aldan yang memang ada benarnya justru membuatku makin bingung, bagaimana caranya menghindari Vania. Aku benar-benar kehabisan cara untuk menolak ajakan gadis itu.
Aku kembali membaca chat darinya untuk menimbang-nimbang, tanggapan seperti apa yang kira-kira membuatnya berhenti mengganggu.
Vania : Good morning, Ar. Oh ya Ar, besok kan malam minggu, ngedate yuk. Seharian, dari pagi juga nggak masalah deh.
"Argghhh." aku menjambak rambutku kesal karena tidak tau harus membalas apa.
"Stress banget lo diajak gebetan buat ngedate." lagi-lagi Aldan mengejekku.
"Al, jangan sampe gue doain gebetan lo dijodohin sama bokapnya." ujarku mengancamnya.
"Kayak lo pernah berdoa aja."
"Oh, kayaknya lo mau tau, sekuat apa sih kekuatan doa gue. Boleh deh, kita coba." ujarku menanggapi. Ia membulatkan mata dan menggeleng kepala dengan kuat.
"Lagian nih ya, kayaknya kakek sama nenek juga bakal dukung aja si Vania deketin lo, apalagi lo juga jomblo. Kecuali lo punya pacar dan bisa dikenalin ke mereka."
"Punya pacar? Mana mungkin alasan punya pacar aja bisa segitu berpengaruh." sanggahku terhadap saran Aldan.
"Alasan itu berpengaruh, tergantung siapa orangnya. Kalo lo mah, itu pengaruh banget." ujar Aldan menatapku dengan tatapan menyepelekan.
Aku melotot padanya. Entah apa yang ia maksud, tapi aku tidak sabar menunggu penjelasan tak berbobotnya.
Terlihat Aldan menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan kasar, lalu menepuk bahuku, "Mereka itu dukung Vania buat deketin lo, udah pasti karena mendukung bisnis, di samping itu juga, Vania suka sama lo bahkan terang-terangan deketin lo. Sementara lo? Lo nggak punya alasan buat membela diri. Yang pertama, lo jomblo. Yang kedua, lo nggak ada deket sama cewek sampe keluarga kenal kayak gue sama Mega. Ketiga, lo cuek bebek sama cewek. Itu tuh makin meyakinkan mereka kalau lo itu jomblo, dan itu makin memperkuat dugaan mereka kalau lo itu homo."
Aku menatap Aldan dengan serius setelah penjelasannya barusan. Terasa cukup masik akal. Aku lalu menatapnya dengan mata menyipit, "Yakin karena itu?" tanyaku.
"Yakin karena itu?" Aldan mengulang perkataanku dengan suara yang lebih kuat, "Lo sadar, semua alasan yang gue sebut tadi bukan sekadar 'itu'." tanyanya kesal.
"Ya maksud gue, kalau seandainya memang harus punya pacar, gue bakal bawa ke hadapan kakek sama nenek."
Aldan memundurkan tubuhnya dengan tatapan terkejut, "Emang lo beneran punya pacar?"
"Pasti ada yang mau jadi pacar gue, sekalipun cuma pura-pura." ujarku yakin mengingat satu nama yang akan melancarkan rencanaku.
***
Ketika menjelang malam, mobil papa tiba di rumah. Ternyata mereka membawa om Josua setelah pertemuan sore tadi, jadi pada akhirnya kami makan malam bersama.
Setelah itu, kami semua berkumpul di ruang keluarga dan sepertinya itu membuat om Josua semakin canggung, tapi sepertinya ia juga ragu untuk izin pulang karena baru makan. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kalau aku bertanya langsung pada om Josua sekarang, ia pasti merasa semakin tak nyaman lagi.
"Pak Josua punya anak berapa?" tanya papa tiba-tiba. Aku meneguk ludah, berharap om Josua tidak menyebut nama sebagai penjelasan.
"Dua pak. Anak pertama perempuan, yang kedua laki-laki." jawabnya.
"Wah, dua tapi lengkap ya. Pasti di rumah nggak seberisik di sini. Anak banyak nih bawaannya sering ribut." ujar papa membuat aku, Aldan, Renta dan Fika saling lirik.
Om Josua tertawa, "Namanya anak-anak, ya sama Pak. Anak saya juga begitu. Meski cuma dua, tapi ramenya ngalahin yang di pasar." jelasnya.
Aku tertawa mendengar itu. Membayangkan Armia yang bawel bertengkar dengan adiknya yang suka cari masalah membuat aku bisa membayangkan bagaimana pusing om Josua menghadapi mereka saat sedang ribut.
"Berarti emang semua anak-anak tuh suka bikin pusing ya. Saya pikir anak saya aja."
***
Setelah beberapa percakapan basa-basi, aku akhirnya dengan penuh pengertian mengakhiri cerita papa dengan mengatakan, "Pa, udah malam loh. Om Josua kan harus pulang. Orang rumah pasti udah nungguin." ujarku.
"Oh iya, papa sampe lupa saking asiknya bicara." ujar papa, "Ya udah, kamu anterin om Josua ya."
"Eh nggak usah, pak. Saya bisa sendiri kok. Nggak usah repot-repot. Biar Arsen bisa istirahat." ujar om Josua dengan sungkan.
"Halah, nggak repot kok pak. Dia seharian ini udah puas itu istirahat." ujar papa menyindirku karena aku tidak bekerja hari ini. Tidak ada alasan, aku hanya ingin meliburkan diri.
Setelah itu, aku pun mengantarkan om Josua dengan supir. Ketika tiba di depan rumah om Josua, aku melihat Armia mendekati gerbang. Sebenarnya aku ingin membicarakan rencanaku, tapi karena ada om Josua, sepertinya lebih baik kalau lewat ponsel saja.
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan, apakah rencanaku ini benar-benar akan berhasil? Apakah Armia benar-benar tidak akan menolak aja kan ku?
Akhirnya aku memberanikan diri mengiriminya chat dan ternyata ia tidak menolak meski awalnya memiliki pertanyaan, tapi aku membuatnya seperti tak punya pilihan.
***
Semua yang kurencanakan semalam berjalan dengan baik sampai hari ini. Setibanya di kafe, aku duduk di salah satu kursi sambil menunggu Armia. Entah ia akan datang tepat waktu atau tidak. Aku memesan minum, lalu menunggu sambil sesekali memperhatikan ke arah pintu masuk.
Sesaat setelah minumku disajikan, Armia muncul di pintu utama dan sedang menjelajah kafe dengan matanya, lalu aku melambaikan tangan padanya. Ia lalu balas melambai dan tersenyum.
Aku sempat tertegun menatap penampilannya, hingga tidak sadar ia sudah berdiri di depanku.
"Terpesona ya?" ujarnya.
Aku tersadar, lalu mengangguk, "Eh, bukan. Maksudku..." aku kehilangan kata-kata.
Ia tertawa renyah sambil menarik kursi untuk duduk di depanku, "Reaksi tubuh kamu lebih jujur dari pada kata-kata." ujarnya terdengar mengejek.
"Pakaian lo kenapa begitu?" tanyaku.
Ia dan pakaiannya terlihat agak berlebihan hari ini. Baju putih tanpa lengan yang cukup ngepas dipadu dengan rok sepaha berwarna hitam motif bunga.
Dia melihat penampilannya sendiri, "Emang kenapa?" tanyanya.
"Lo nggak ada baju biasa?" tanyaku.
"Ya ini baju biasa gue. Emang mau lo gimana?"
"Ya nggak tau sih." ujarku bingung ingin mengomentari seperti apa lagi.
"Yang penting cantik kan?" tanyanya.
"Biasa aja." ujarku, lalu meneguk minum ku. Aku tersadar bahwa dia belum memesan minum ataupun makan. Aku segera memanggil waiters agar ia segera mencatat pesanan Armia.
Ia melihat buku menu agak lama, lalu memesan minum dan makanan ringan. Setelah waiters pergi, aku menatap jam sebentar, "Duduk di sini. Ada yang bakal datang." ujarku sambil menepuk kursi di sampingku.
"Siapa?" tanyanya.
"Cewek yang dijodohin sama gue."
"Terus fungsi aku di sini apa?" tanya Armia dengan suara yang meninggi.
"Jadi pacar gue."
"Pacar?" tanyanya terdengar sumringah. Bahkan wajah yang sebelumnya marah, berubah menjadi senyum.
"Bohongan." ujarku menambahi, supaya dia tidak salah paham.
"Itu dia." ujarku menunjuk pintu masuk. Bersamaan dengan kedatangan Vania, pesanan Armia disajikan. Ah, untunglah Vania langsung datang, kalau tidak, pasti saat ini Armia akan mengomel.
"Hai, Ar." Vania tersenyum padaku sambil menarik kursi untuk duduk, lalu saat menyadari aku tidak sendiri, ia melirik Armia, "Siapa?" tanyanya.
"Pacarku.." jawabku. Berdoa semoga Armia tidak membantahnya.
"Udah putus." ujar Armia. Aku membulatkan mata.
"Jangan gini doang, Mia. Aku tau kamu marah, tapi aku minta maaf ya." ujarku berusaha mengambil hatinya.
"Kok kamu ngajak pacar sih, Arsen? Aku kan ngajak kamu."
"Ya gimana bisa aku jalan sama cewek lain kalau aku punya pacar, Van. Kamu harusnya ngerti alasan aku bawa pacar aku ke sini. Itu sebab--"
Brakk
Aku menoleh dengan terkejut saat mendengar gebrakan dari tangan Armia. Kurasa bukan hanya aku yang terkejut, bahkan Vania dan beberapa pengunjung kafe ini sampe melihat ke arah meja kami.
"Aku kamu? Kamu sama cewek lain pakai aku-kamu?" ujarnya.
Arggg, aku tidak menduga bahwa Armia akan berakting layaknya pacar sungguhan sampai mempermasalahkan hal itu. Ini berlebihan. Padahal aku ingin segera mengakhiri ini.
"Mia, Vania ini anak sahabat kakek aku, jadi kami agak akrab, tapi nggak ada yang spesial kok." ujarku cukup bingung untuk membalas kata-katanya.
"Yakin?" tanya Armia lagi.
Aku mengangguk cepat.
Ia tersenyum. Aku sedikit lega ketika ia tersenyum, itu artinya dia tidak akan bertingkah lagi kan.
"Kalau gitu, cium pipi aku depan dia, biar dia tau kamu itu punya aku." ujarnya membuat aku langsung melotot.
Cium? Pipi? Argh, sepertinya aku menyeret orang gila untuk menjadi pacar bohongan ku.
"Nggak mau? Berarti ada yang spesial dong sama dia." ujar Armia seperti tak ingin berhenti. Belum lagi Vania justru diam sambil memperhatikan kami.
"Jangan di sini dong. Malu. Ini tempat umum." ujarku menolak dengan halus.
"Oke, kalau gitu kita putus." ujar Armia lagi.
"Jangan." aku segera menyanggahnya, seperti takut hal itu terjadi sungguhan, padahal ini hanya akting. Kuharap kebodohan ini bisa meyakinkan Vania.
Cup
Aku mencium pipi Armia hanya sedetik, lalu menarik diri dengan cepat.
Aku sempat bingung, apakah aku yang memanfaatkan Armia atau justru dia yang memanfaatkan ku?