17. Armia

1211 Words
Memasuki libur semester setelah menyelesaikan ujian semester ganjil, aku akhirnya menyibukkan diri dengan membuat konten untuk akun yutubku. Walau bagaimana pun, saat libur seperti ini adalah waktu yang maksimal untuk bekerja keras. "Kak, kamu pesan sesuatu ya?" mama datang dan mengetuk pintu kamarku. "Eh, udah datang ya ma?" tanyaku segera membuka pintu dan menemui mama. "Ada 4 tuh. Kemaren juga ada 2 yang datang. Pesen apa? Kok banyak banget?" "Buat konten, Ma. Ya, tapi untung juga deh, hitung-hitung nambah baju aku." "Kok baju kamu aja? Mama sama papa kan juga mau." "Iya, nanti konten selanjutnya aku beliin buat mama sama papa, tapi harus mau masuk kamera ya?" "Ihh, jangan dong. Malu ah." tolak mama. "Tuh, kan, mama aja nggak mau. Kakak kan beli baju buat dikontenin." "Ih, nggak jadi ah, mama males dikamerain, nanti banyak fansnya." ujar mama kepedean. Aku menggelengkan kepala heran. "Kakkkk, lo belii baju buat gue ya?" teriak Alfren. Aku segera menarik tangan mama untuk turun ke ruang tamu. Alfren pasti sedang membongkar barang-barangku. "Ihh, kok dibuka? Itu barang gue, bego." "Ah, ini ada baju pasangan. Kayak lo punya cowok aja." "Itu emang buat lo, tapi gue mau buka sambil direkam. Ihh, Alfren mah." "Udah sih, gitu aja manja. Lagian lo mau minjem badan gue kan buat divideoin, gapapa lagi." "Untung lo gue butuhin, kalo enggak abis lo." "Udah ihh, kalian ini berisik banget. Mama juga mau lihat ah." ujar mama segera duduk di samping Alfren dan membuka paketan yang terletak di meja. Aku dengan lesu duduk di depan mereka. Mau bagaimana lagi, rencana untuk merekam diri membuka paket itu sudah lenyap karena mereka sudah melakukannya dengan bersemangat. Mau tidak mau aku juga ikut bergabung untuk membukanya. "Enak ya jadi orang kaya, belanja buat ngehasilin uang." ujar Alfren. Mama menyetujui ucapannya hingga mengangguk. "Iya ya, mama mah cari uang buat beli baju. Kakak beli baju biar dapat uang." "Ihh, kakak kan juga bilang bisa beliin buat mama sama papa, asal mau direkam." "Mau aja ma. Untung loh. Kayak aku, followers intajram aku jadi sepuluh k sekarang." "Ah, mama malu." "Nggak apa-apa, nanti kakak yang arahin gayanya. Aku kemaren juga malu kok, sekarang malah kecanduan masuk vlog kakak." jelas Alfren. Aku tersenyum geli karena ia begitu berniat membujuk mama. Baguslah, aku jadi tidak perlu banyak bicara lagi. *** Begitu tadi siang merekam vlog mereview beberapa baju pasangan yang kubeli dari aplikasi belanja online, sorenya aku kembali ke ruang kerjaku untuk mengedit video tutorial makeup ku sebelumnya. Sementara hasil rekaman tadi, aku serahkan pada Alfren karena ia mengatakan akan mengeditnya sendiri. Padahal sore tadi, aku meminta ia menghubungi temannya yang pernah mengedit salah satu videoku, karena aku tidak sanggup bila harus mengedit semuanya. Membayar untuk jasa edit juga lumayan mahal, tapi memang hasil editan teman Alfren cukup bagus. Ada beberapa draft yang belum sempat aku kerjakan bahkan. Sayangnya, tadi sore, Alfren dengan yakin mengatakan bahwa ia mampu mengedit video itu sebaik mungkin asal dibayar seperti temannya. Akhirnya aku menyanggupinya. Aku berdiri dari kursiku dan melepas kaca mataku, meletakkannya di meja. Lelah juga memandang laptop dari sore hingga ke malam dengan begitu fokus. Aku lalu pergi ke dapur dan mengambil minuman kaleng, membawanya ke depan rumah sambil menikmati udara malam yang terasa dingin. "Kak, nanti kalau masuk, pintunya jangan lupa dikunci ya. Papa lembur, katanya." ujar mama. "Iya." sahutku. Akhir-akhir ini, papa semakin sering lembur, katanya kejar target sebelum penutupan tahun. Kami sudah tak heran kalau menjelang akhir tahun, papa semakin sering berada di kantor. Ini juga sudah jam 9, mungkin sebentar lagi papa pulang. Aku duduk di kursi teras sambil memainkan ponselku, melihat beberapa updatean baru dari teman-teman instajramku. Aku berteman dengan beberapa selebgram, juga yutuber. Walau bagaimanapun, aku menggeluti pekerjaan ini, maka tentunya, aku harus punya kenalan untuk bisa sharing dan belajar banyak hal. Suara mobil membuatku segera menoleh karena meyakini itu pasti papa, tapi setelah melihat mobilnya, aku mengernyit heran. Papa keluar dari mobil mewah itu, seingatku itu mobil yang mengantarkan aku dari rumah Arsen. Yang lebih mengejutkan lagi, Arsen juga keluar dari pintu belakang. "Maaf ya Pak, saya merepotkan, padahal bapak sudah sibuk mengejar target." "Tidak apa-apa. Kamu mau mampir dulu? Untuk minum mungkin?" "Sepertinya akan sangat mengganggu kalau saya masih bertambah lagi. Bapak harus segera istirahat." Aku segera mendekati gerbang untuk mendengar percakapan mereka, tapi ternyata itu percakapan terakhir. Papa dan Arsen menoleh saat menyadari kehadiranku, tapi setelah itu, Arsen kembali membungkuk untuk pamit, lalu memasuki mobilnya. Padahal aku cukup senang melihat kehadirannya setelah belakangan ini aku sibuk dengan kegiatan ku sendiri. Tapi ia tampak biasa saja, malah mengabaikan ku. "Kok masih di luar? Udah jam segini loh." Papa menunjukkan jamnya padaku. "Iya pa, tau, tapi aku kan nungguin papa. Tadi juga lagi cari udara segar, abis nyiapin editan video." "Kalo cape, jangan dipaksain, papa nggak mau kamu sakit karena kerja seperti itu." "Enggak akan Pa, lagian aku juga santai kerjainnya." jelasku supaya papa tenang sedikit. "Nggak usah dipaksain, papa juga masih bisa ngasih kamu jajan." "Iya pa, aku tau. Aku cuma ngejalanin hobi akan dan kebetulan bisa jadi penghasilan, kan wajar kalau aku kerja keras." jelasku lagi berusaha membuat papa mengerti. "Ayo masuk." ajak papa sambil merangkul ku. "Mobil Papa kenapa?" tanyaku. Seingatku, tadi pagi papa berangkat dengan mobilnya. "Itu, tadi sore papa ada pertemuan di luar, terus sama bos diajak ke rumah, jadi nggak bisa nolak deh, dan pulangnya dianter dari sana." "Oh gitu. Ya udah, papa masuk aja. Biar aku yang kunci pintu sama gerbang." ujarku. Papa mengecup keningku sebentar, lalu pergi menuju kamar. *** Aku naik ke atas tempat tidur, lalu membuka ponselku dan melihat beberapa notif komentar untuk vlog di akun yutubku, lalu ada juga untuk intajram. Aku sesekali tersenyum ketika membaca komentar yang cukup menyenangkan untuk dibaca, tapi ada beberapa juga yang membuat mood menjadi jelek. Aku membulatkan mataku saat melihat notif dm yang muncul di atas layar dan membuatku segera menekannya, ingin memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Aku menutup mulutku yang menganga melihat chat dari akun instajram Arsen. Dengan sedikit keheranan, aku mengklik akunnya untuk memastikan bahwa dm itu benar-benar dari dia. Dan ternyata itu benar akun dia. Aku bingung mengekspresikan perasaanku hanya karena mendapat dm darinya. Arsen : Kalau besok ada waktu luang, temani aku bertemu seseorang, Armia. Jam 2 siang. Di kafe Milenial. Sungguh? Arsen ngajak aku? Arsen? Ngajak? Aku? Hah, nggak mungkin. Untuk urusan apa sampai dia mengajak aku. Aku berdecih ketika ia mengirim pesan begitu lengkap. Itu artinya aku hanya punya pilihan untuk menjawab ya atau tidak. Dia pasti sengaja, supaya tidak perlu banyak basa-basi denganku. Aku mengetikkan balasannya dengan cepat Aku : Kenapa aku? Dan ternyata ia juga tidak mau berlama-lama membalas pesanku, hingga langsung mengirimkan balasan yang tidak menjelaskan apa-apa, malah ingin mendapatkan kepastian. Arsen : Mau atau tidak? Wah, aku dibuat tidak punya pilihan. Dia tau caranya membujuk tanpa membujuk. Mana mungkin aku menolak ajakan itu, meski belum tau tujuan apa yang membuat dia sampai mengajakku. Ah, s**l. Aku dengan bersungut-sungut segera membalas 'ya, mau.' meski sebenarnya masih ingin berkirim pesan dengannya. Ah, entahlah, rasanya mendekati Arsen sesulit itu, tapi terkadang responnya juga membuat aku merasa dipedulikan. Arsen : Dandan yang cantik, Armia "Whuaaaa." aku berteriak terkejut saat membaca chat dari Arsen yang seperti itu. "Aku jadi penasaran, sebenarnya dia mau ngajak aku ngapain?" tanyaku pada diri sendiri. Benar-benar sepenasaran itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD