An Order

1098 Words
Kierra berdiri di depan rumah putih dan megah itu. Halamannya begitu luas, Kierra yakin dia akan tersesat di sana. Tadinya keluarga Kierra termasuk orang berkecukupan, tapi dibandingkan dengan Tante Camilla, dia seperti tenggelam di bawah tanah. "Di rumahku banyak kamar kosong. Kalau mau tinggal saja di sana. Katanya kamu kos di daerah yang rawan Kierra. Apa kamu tidak takut?" Nada suaranya seperti perintah. Kierra menurut, dia hanya perlu mengawasi rumah itu. Suami Tante Kierra di luar negeri, anaknya jarang pulang, begitu pula dengan Tante Camilla. "Ada 8 orang pembantu di sana. Kamu cukup bilang apa keinginanmu," kata Tante Camilla lagi saat itu. Kierra menahan nafas. Ketika dia masuk security menyambutnya, dia melihat tukang kebun sedang merapikan rumpun tanaman bunga. "Nona Kierra?" Seorang wanita paruh baya menyambutnya. "Eh iya." "Saya kepala pelayan di rumah ini. Ibu Asti. Tapi yang lain memanggil saya bude." Kierra mengangguk. Bude Asti mengantar Kierra ke kamar. "Nyonya Camilla sudah berpesan, kamar ini yang akan digunakan oleh Nona Kierra. Silahkan beristirahat, nanti panggil saya kalau ingin berkeliling rumah." "Baik bude." Kierra menghempaskan tubuh di atas ranjang empuk, "Apa ini mimpi?" Tante Camilla sangat baik. Oh astaga, dia bahkan tidak punya banyak pekerjaan. Hanya memberi saran terhadap penampilan wanita itu, juga menemaninya berbelanja, ke salon kemudian bertemu beberapa klien. Kalau Tante Camilla berada di kantor, dia akan menyuruh Kierra pulang, dia akan menelpon lagi saat membutuhkannya. Kamar itu luas, di d******i warna putih. Kierra membuka koper dan menyusun baju-bajunya di lemari yang cukup besar. Sudah tidak banyak barang yang dia bawa. Dia tidak perlu beristirahat, karena dia tidak lelah. Kierra segera keluar untuk menemui Bude Asti. Bude Asti memperkenalkan Kierra kepada semua pelayan yang ada di sana. Kierra tercengang.  Bahkan ada beberapa pelayan yang tampak seperti model, tinggi, langsing, cantik sekalipun memakai celemek. Mereka naik ke lantai dua. "Itu kamar tuan muda, dia jarang pulang. Tidak perlu khawatir. Ada perpustakaan, ruang belajar tuan muda, ruang untuk menonton televisi dan beberapa ruangan lain juga kamar kosong, "nona boleh membaca buku di perpustakaan tapi jangan masuk ke kamar tuan muda." Mata Kierra membulat, ngapain juga dia masuk ke kamar itu? Bude Asti mengajak Kierra untuk makan. Mereka menyiapkan hidangan untuk Kierra. Astaga, dia makan dilayani oleh begitu banyak orang. Membuatnya jengah. "A-aku akan makan di kamarku," kata Kierra.  Bude Asti mengangguk. Kierra menikmati makanan itu, kenapa begitu banyak pelayan di rumah yang nyaris kosong. Lagipula kenapa semua penghuni rumah tidak ada yang tinggal di sini? Kierra meletakkan piring makan di wastafel, dan dengan cepat salah satu pelayan menghampiri untuk mencuci piring itu. Setelan mengucapkan terima kasih Kierra kembali ke kamarnya. Kamar yang begitu nyaman dan indah, jauh berbeda di banding kos Kierra yang sekarang, tak lama dia segera tertidur pulas. Dia berharap setiap malam untuk kesembuhan sang adik. ***** Mata Kierra bengkak dan sembab, hari-harinya sekarang kerap di lalui dengan menangis. Kierra berusaha tersenyum saat menemani Tante Camilla makan siang. Tapi melihat sekilas orang akan tau dia telah menangis cukup lama. Kierra mengompres matanya dengan air dingin, meneteskan obat tetes mata. Semuanya percuma. Kierra tertawa dengan terpaksa, Tante Camilla mengatakan tidak suka melihatnya murung. "Kenapa menangis?" Tuh kan, wanita itu pasti mengetahuinya. "Tidak apa-apa tante." "Kamu kesepian di rumah?" Kierra menggeleng, "Nggak, menyenangkan. Bahkan sangat menyenangkan, hampir membuat aku lupa diri tante." Camilla tertawa renyah, dia menjentik jemari tangannya yang telah di manicure tampak indah. Camilla menatap Kierra lama. "Kamu membutuhkan uang Kierra?" wanita cantik bermata teduh itu bertanya dengan lembut. "Choky memberi tahu pada Tante?" "Begitulah, tidak perlu malu Kierra. Setiap orang punya masalahnya masing-masing." Kierra diam saja. "Jumlahnya cukup banyak?" lanjut Tante Camilla. "Bukan cukup, tapi sangat banyak, tante." Kierra nyaris menangis. "Aku akan memberikannya cuma-cuma, bahkan aku akan memindahkan adikmu ke rumah sakit yang lebih baik." Mata Kierra menatap wanita itu tak percaya, tapi selalu ada syarat akan sebuah penawaran bukan begitu? "Jadilah kekasih anakku." Wajah Kierra memucat. Wanita itu tertawa, "Anak tiriku Keirra , umurnya hanya beberapa tahun di atasmu. Buat dia jatuh cinta denganmu." Kierra menggeleng dengan cepat, dia bukan wanita seperti itu. Itu sama saja melacurkan diri. "Dia tampan, keren dan menarik. Tidak sulit jatuh cinta padanya." Kierra menahan nafas, masih menggeleng. Dia tidak mau cara seperti itu. "Anakku itu, orang yang sulit."  sepertinya penawarannya terlalu berat untuk seorang gadis putus asa seperti Kierra, wanita itu mengeluh. Kierra memiliki segalanya sebagai wanita. Tapi dia juga memiliki prinsip. Dengan usaha terakhir dia menunjukkan foto anak tirinya pada Kierra. Jantung Kierra berdetak cepat saat melihat foto itu. "A..aku mau." Camilla tersenyum. "Tapi, kenapa?" Tanya Kierra. "Tidak perlu tau alasannya. Cukup ikuti perintahku saja. Kamu pernah melihatnya di rumah?" Kierra menggeleng. "Dia jarang sekali pulang, besok kamu tidak usah mengikuti aku lagi Kierra." Kierra terkejut, "T..tapi tante?" "Menunggu di rumah, jangan sampai kehilangan kesempatan saat di pulang." "Tante...a..aku tidak lihai membuat seorang pria tertarik padaku." Kata Kierra lirih. Oh ya karena kerap mendapat pelecehan dari lawan jenis, Kierra menolak jauh-jauh ketika akan terlalu berdekatan dengan mereka, kecuali Choky. "Coba saja Kierra." "Tapi...adikku.." "Aku akan membayar biaya pengobatannya. Begitu kamu berhasil, aku akan segera memindahkan dia ke rumah sakit terbaik." "Benarkah?" Kierra bertanya bingung.  "Kenapa? Kenapa tante mau membantuku?" "Karena aku ingin kamu membantuku juga Kierra." Camilla tersenyum. ***** Kierra berbaring di tempat tidur, memejamkan mata. Sudah seminggu sejak penawaran dari Tante Camilla. Tetapi tidak ada tanda-tanda kemunculan anak tirinya di rumah ini. Dia menangkupkan wajah ke bantal. Tapi dia tidak perlu bekerja mendampingi Tante Kierra lagi. Sangat aneh. Apa sih yang ada dipikiran Tante Camilla? Mata Kierra terasa sangat berat. Dia masih terus berpikir. Kenapa aku menyetujuinya? Bercinta? Wajah Kierra memerah, astaga apa mungkin aku melakukan itu? Tubuh Kierra gemetaran. Dia mengulum bibirnya hingga sakit. Pikirannya melayang pada sosok Kalil, adiknya, remaja yang baru saja masuk jenjang sekolah menengah pertama. Adiknya yang tampan dan ceria. Anak yang begitu bersemangat dan suka olahraga, sekarang terbaring tak berdaya. Keluarganya yang tersisa, kakak akan melakukan apa saja untuk kesembuhan Kalil. Karena itu Kalil harus bertahan. Kierra bangun dan duduk di meja rias, menatap wajahnya. Rambutnya dan wajahnya tampak kusut. Dia membersihkan wajah dan mengoleskan masker. Sudah lama dia tidak merawat diri. Dengan mengenakan piyama berbahan katun, Kierra berjalan-jalan keluar. Kolam renang rumah itu seakan menghipnotisnya untuk menceburkan diri, kolam renang yang terlihat dari kamarnya. Kierra duduk di kursi, udara cukup panas menyengat sekalipun kolam renang itu dikelingi tanaman hias. Ingin dia berendam di sana, di air biru yang tenang. Keseluruhan rumah ini sangat besar. Dia belum melihat semuanya, kata Bude Asti di lantai dua dekat kamar anak tiri Tante Camilla, bahkan ada jacuzzi air hangat. Dia boleh berendam di sana kalau dia mau. Kehidupan yang sangat mewah. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD