Beautiful Woman

1013 Words
Kierra merapikan roknya, jantungnya berdebar kencang. Dia menekan lift ke lantai 10. Terus berucap doa dalam hati agar tidak gugup. Seorang sekretaris cantik menyambutnya, Kierra berdegup lagi. Oh ... penampilannya seperti tidak layak berada di kantor yang elegan ini. "Nona Kierra?" Sambut sekretaris itu. "Silahkan masuk, sudah ditunggu ibu." Kierra segera kembali tercengang melihat ruangan itu. Ruang kantor impian setiap wanita karir, modern dan nyaman, d******i warna coklat dan pencahayaan yang baik membuat ruangan itu semakin elegan. Kierra melihat seorang wanita berdiri. "Halo." "S-selamat pagi," jawab Kierra. Wanita itu membuat Kierra terpana, sangat cantik. Berparas harus lembut, rambutnya di sanggul modern dengan bagian poni ikat terjuntai. Usianya paling sekitar tiga puluh lima tahun? "Kierra?" "Ya, bu." "Jangan panggil ibu kenapa? Apa saya sudah terlihat tua?" Dia tertawa. Memamerkan barisan gigi yang putih rapi. "Tapi ...." "Panggil tante saja." Dia tertawa. "Ayo duduk." Tante? Bukankah malah lebih aneh lagi? Kierra duduk dengan canggung. Sofa yang terletak di depan meja kerja, terasa nyaman. Ruangannya juga sejuk. "Saya sudah mendengar situasi kamu dari Choky." Dia berkata. "Choky memberi tahu saya, tante membutuhkan seorang asisten pribadi." Wanita itu mengangguk-angguk. "Memang benar, tapi apa kamu sanggup? Kamu tau tugas seorang asisten pribadi?" "Saya punya pengalaman sedikit saat magang, juga saya pernah menjadi asisten dosen." "Memang riskan mempekerjakan orang tanpa pengalaman. Tapi Choky sangat merekomendasikan kamu. Apa kamu kekasihnya?" Dia bertanya sambil tersenyum. "Eh." Kierra kaget mendengar pertanyaan itu. "Bukan. Kami bersahabat sudah lama." Wanita itu tertawa, tapi tawanya terdengar anggun. "Iya. Choky sudah memberitahu hal itu. Tidak perlu menjadi semerah itu." "M-maaf." "Baiklah, kamu bisa bekerja mulai besok. Kamu harus selalu berkoordinasi dengan Rina, sekretarisku. Nanti dia akan menjelaskan apa saja yang harus kamu kerjakan." Kierra mengangguk. "Oh iya. Aku tidak ingin aspri-ku berwajah murung. Sekalipun Choky telah menceritakan peristiwa yang menimpamu. Aku harap kamu bisa melupakannya saat bekerja." "Baik." "Satu lagi, aku ingin orang yang bekerja denganku memperhatikan penampilannya. Karena itu berpengaruh terhadap citra perusahaan." Kierra menatapnya ragu. Dia memang hampir tidak memperhatikan penampilannya lagi. Memang sudah rapi, tapi belum cukup layak jika dibandingkan dengan staf lain. Usai menemui Tante Camilla, bos Kierra yang baru. Perempuan itu menemui sekretarisnya lagi. Rina memberitahukan gambaran tentang job description Kierra agar tidak berbenturan dengan dia. Juga memberitahukan jadwal Tante Camilla. ***** Kierra berjalan cepat dari parkiran menunju Coffeeshop Moon & Sun, coffee shop favorit dia, Choky dan Letta. Begitu melihat sosok yang sangat dia kenal Kierra segera merangkul tubuh pemuda itu dari belakang. "Chokyyyy ... I lovee youuu." Kierra berteriak. "Hei gila. Aku bisa on nih," kata Choky. "Huh." Kierra melepaskan rangkulannya, duduk di kursi sebelah Choky. Letta juga ada di sana tampak asyik menyesap jus di depannya. "Bagaimana?" tanya Choky. "Di mana kamu bisa mengenal Tante Camilla? Ya Tuhan, dia seperti, seperti Vampir," kata Kierra terkagum-kagum. "Kulitnya bening, wajahnya cantik, senyumnya indah." "Hei jangan meremehkan jaringanku, ya." "Jaringan mafia." Slurrpp, kata Letta. Kepalanya segera diketok oleh Choky. Letta mengomel. "Oh Choky makasih," kata Kierra lagi. "Kantornya juga modern, elegan bagus sekali." "Sama-sama, babe." Choky tersenyum melihat tawa mulai menghiasi wajah Kierra. Sudah dua bulan dia dirundung kesedihan. Choky dan Letta ikut berduka atas kejadian yang menimpa Kierra. "Pekerjaannya berat?" tanya Letta. "Sepertinya sih, kata Tante Camilla aku harus standby di sampingnya setiap saat. Jadi kemungkinan tidak terlalu sering di kantor ya? Dan Letta aku harus membajak beberapa pakaianmu please." "Itu soal mudah. Apa sih pekerjaan Aspri?" tanya Letta. "Menyiapkan semua keperluan bos," jawab Kierra. "Bukannya itu urusan sekretaris?" "Termasuk urusan-urusan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan kantor. Entahlah aku juga masih harus belajar dengan cepat. Aku diterima karena rekomendasi Choky. Chokyy ..." Kierra mengulurkan kedua tangannya lagi seperti mau memeluk Choky. "Heh ... Camilla baik tapi dia sedikit keras. Kamu harus berjuang kalau tidak ingin terdepak di hari pertamamu bekerja Kierra," kata Choky. "Aku akan berusaha," jawab Kierra dengan yakin. "Letta aku mungkin akan pindah dari rumah kamu." "Ya sudah. Paling aku kesepian." Letta menekuri embun di gelas. "Letta." Panggil Kierra lagi. "Iyaa ... iyaaa." Setelah rumahnya dikontrakkan, Kierra menyewa kost untuk meletakkan beberapa barang. Tapi dia kerap menginap di rumah Letta. Letta menyukai kehadiran Kierra di rumahnya, lagipula cuma menampung seorang Kierra tidak jadi masalah buat dia dan keluarga. Tapi Letta tahu, Kierra merasa tidak enak kalau harus berada di sana terlalu lama. Terserah dia saja, yang penting Kierra merasa senang. "Tante Camilla sangat cantik, aku merinding di sampingnya," kata Kierra. "Oh ya?" Choky merespon dengan sedikit malas. Kierra mencubit lengan Choky. Choky terlalu lama bergaul dengan Kierra dan Letta sampai melupakan kalau dia juga perlu pacar, begitu mereka selalu menegur Choky. "Dia hanya memakai blouse dan celana panjang tadi. Tapi auranya benar- benar sangat terasa," jelas Kierra lagi. "Aura apa?" tanya Letta. "Semacam, aura yang membuat kita ingin melihatnya lagi dan lagi." Kierra melanjutkan. "Kierra, apa ada wanita lain yang punya aura semenakutkan dirimu? Apalagi melebihimu?" tanya Letta bergidik. "Kamu ini Letta, jelas aku jauh sekali dibandingkan dia." ***** "Dia memujimu terus." Choky memeluk tubuh polos wanita itu. Mereka berpelukan di atas tempat tidur hotel bintang lima. "Hemm...Apa kamu percaya?" Wanita itu menggeliat di d**a bidang Choky. "Tentu saja, sangat percaya." Choky menjilat telinganya. Wanita itu tertawa geli. "Dia sangat cantik, oh...aku cemburu." Wanita itu mendesah manja. "Dia mengenakan pakaian yang sangat biasa, tapi dia sangat...aku mulai percaya pada ceritamu." "Memang." Jawab Choky. "Lebih cantik dariku?" "Ya." "Kamu..." Wanita itu cemberut. Choky melumat bibir wanita itu. "Tapi cuma kamu yang membuat aku tergila-gila." "Apa itu pujian?" "Menurutmu?" Dia menatap wajah tampan pemuda di depannya. "Aku akan menjaga dia untukmu." "Aku berutang padanya, juga kepada orang tuanya. Aku menyayangi dia seperti saudara perempuan. Kalau dia dan keluarganya tidak ada, kita tidak akan pernah bertemu, mungkin aku berada di penjara remaja. Kamu mengerti Camilla?" "Ya. Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Kalau perlu, aku tidak akan memberinya pekerjaan sama sekali. Berapa gaji yang harus aku berikan padanya?" "Hem." "Kalau dia saudaramu berarti dia saudaraku juga, kenapa dia aku suruh memanggilku tante ya? Bukankah lebih bagus kakak." "Jangan bicara lagi. Puaskan saja aku." Kata Choky. Camilla menatap Choky manja, tentu saja dia akan menuruti keinginannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD