Sesampainya Gilang di studio band, Andra dan Denis menyambut dengan senyum. Gilang hanya menengadahkan kepala, menganggukkan dagu, sebagai tanda membalas senyum sapa sahabatnya. Ia pun berjalan perlahan menuju ruang tunggu studio musik yang bernama, Symphoni Studio. Ruang tunggunya dekat dengan tempat parkir kendaraan, terbuka, tidak dalam ruangan yang tertutup atau kedap udara. Hingga angin malam dapat terasa menelusupi tubuh para penunggu.
Dari balik pintu-pintu di lorong samping ruang tunggu, dentuman pedal drum yang menghentak, menghadirkan getaran yang merambahi lantai keramik studio. Hanya getarannya saja terasa, sedangkan bunyi dari musik yang dimainkan, baik itu lengkingan distorsi gitar, atau suara bass dengan mono sound treble, tidak dapat terdengar sama sekali. Peredam suara di balik pintu studio sangatlah bagus, pantas kalau Arunika Band menjadikan studio ini sebagai langganan untuk berlatih musik.
Di ruang tunggu, Gilang sudah berhadapan dengan Andra dan Denis. Waktu masih menunjukkan kurang lima belas menit lagi dari jam yang telah dijadwalkan saat Gilang melihat ke arah jam tangannya. “Yang lain belum datang?” tanya Gilang melirik Andra.
“Belum Lang. Santai lah, duduk dulu, biasanya juga begini kan,” jawab Andra.
Gilang duduk di kursi berjajar dengan Andra yang sedang memperhatikan rayanya jalan di depan studio dan Denis yang sibuk memainkan handphonenya. Cukup lama mereka terdiam, terlihat Rere memasuki gerbang pintu studio. Langkahnya cepat, mirip Jerry saat sedang dikejar Tom. “Itu Rere baru datang!” seru Andra, memberitahu teman-temannya.
Denis dan Gilang melirik sebentar ke arah gerbang, lalu melemparkan pandangannya lagi pada fokusnya semula. Denis ke layar handphone, dan Gilang ke arah pintu-pintu ruang studio musik. “Tumben, Rere datang, Ndra!” ucap Gilang, dingin.
“Iya, gue yang minta. Biar nggak terlalu sepi, Lang.”
“Oh..” singkat Gilang menjawab.
Tiada sambutan spesial atas kedatangannya, Rere langsung berbicara. “Duh, begini deh, gue segan kalau mau ke studio ini. Angkutan umumnya susah banget dicari. Supirnya pada sok ganteng, malesin!”
Denis yang sejak tadi terdiam karena memainkan handphone, tercuri perhatiannya kepada Rere. “Kok lo malah nyariin supir angkot sih, Re! Padahal ada gue yang sudah pasti ganteng!” kelakar Denis.
“Yee, nggak lucu tau. Beneran, susah. Lagian kenapa sih nggak ada yang jemput gue gitu. Gue kan perempuan, apa kalian nggak khawatir kalau gue malam-malam begini diculik, terus dijadiin pekerja malam sama yang nyulik gue?” kebawelan Rere mulai meramaikan suasana. Ia lantas menduduki kursi kosong di sebelah Denis.
“Halah, kalaupun lo diculik, palingan cuma dijadiin pembantu Re. Nggak bakalan dikasih kerjaan jadi perempuan malam,” sela Denis santai, dengan masih menatap layar handphone.
Tangan Rere spontan melayangkan sapuan ke pipi tembam Denis. “Kurang ajar lo!”
Andra tertawa, begitu juga dengan Denis, meski pipinya terhempas cukup keras, ia tidak merasakan sakit. Justru tertawanya menjadi yang paling berbunyi. Di selang tawa yang berlangsung, Gilang masih merundung. Ia hanya tersenyum tipis mendengar candaan teman-temannya. Gilang kembali melihat jam tangannya, tinggal lima menit waktu tersisa memasuki ruang studio.
Dari gerbang masuk studio musik, suara gerungan motor terdengar. Suaranya bising, seperti jangkrik yang saling bersahutan di tengah gulita hutan. Gilang dan Andra mengambil pandang ke arah suara itu. Sedangkan Denis serta Rere masih saling cakar, meributkan kepantasan Rere untuk diculik.
Di atas motor, Gery tampak tidak imbang dengan kendaraan yang digunakannya. Tubuh cungkring Gery seperti berat sekali menahan keseimbangan motor itu. Apalagi ketika ditumpangi standar dua, Gery dua kali gagal mengangkat motornya. Payah sekali.
Berhasil memarkirkan motor, Gery cepat menyambangi teman-temannya yang berada di ruang tunggu studio musik. “Gue nggak terlambat, kan?” tanya Gery tiba-tiba sambil melepas jaket kulit berwarna krem yang dikenakannya.
“Nggak kok Ger. Santai!” sergas Andra.
“Baguslah, kirain gue telat.”
Belum sempat Gery duduk. Seorang anak muda sebaya mereka menghampiri dari balik salah satu pintu ruangan studio musik. Dia adalah Jemi, anak pemilik studio sekaligus penjaga studio yang memastikan kesiapan alat musik untuk digunakan. Jemi sangat mengenal Andra dan kawan-kawannya di Arunika Band karena begitu seringnya mereka berlatih bermain musik di tempat ini.
Sebab sudah saling mengenal itu pula, tak jarang Jemi memberikan kelonggaran pembayaran jika Arunika sedang tidak punya uang untuk membayar sewa ruang studio. Dari semua band yang menggunakan Symphoni Studio Music untuk tempat berlatih, hanya Arunika Band yang memiliki buku catatan hutang. Dan itu sebenarnya sedikit memalukan.
“Ndra, Gilang, ruangan sudah siap. Gue sudah stel juga alatnya, standard kalian,” tutur Jemi, memberitahu.
“Masih ada satu orang lagi belum datang Jem!” balas Andra.
“Ini kan sudah lengkap. Gery juga sudah datang. Ada personel baru?”
“Iya personel baru,” Gilang menimpali.
“Masuk saja dulu. Tunggu di dalam, daripada di sini, masuk angin lho.”
“Mendingan masuk angin, Jem, daripada masuk neraka hayooo!” celetuk Denis.
“Bisa aje nih, daki gorilla kalau ngomong,” kata Jemi, disusul tawa yang lainnya.
Tawa usai, Andra melirik Gilang. Bermaksud meminta pendapatnya, apakah harus langsung masuk ke dalam studio, atau menunggu sebentar sampai Revan tiba. Gilang tak bergeming, ia tidak menunjukkan reaksi apapun. Reaksi justru datang dari Rere, “Sudah kalian masuk saja, biar gue yang tunggu Revan. Mungkin dia tersasar.”
“Nggak mungkin tersasar Re! Daerah sini lingkupnya sempit, lagipula, dia kan anak band, masa studio musik seperti ini nggak tahu,” gerutu Gilang.
Mendengar perdebatan yang tak jelas arahnya, Andra berusaha menengahi, “Sudahlah, benar kata Rere. Kita masuk saja dulu, biar Rere yang tunggu sekaligus komunikasi sama Revan. Sayang juga kan waktu sewa studionya jalan terus.”
“Iya ayo masuk saja,” timpal Denis, berdiri lalu menuju ruang studio yang berukuran cukup luas, sekira 4x4 meter. Gilang dan Andra mengikuti Denis, disusul kemudian Gery. Rere seperti yang diinginkannya, menunggui Revan tiba di studio.
Di dalam studio musik, Denis langsung mengambil bass yang biasa ia mainkan. Bass itu tergantung di dinding, disanggah oleh stand neck gantung. Denis tidak macam-macam dalam memilih tipe bass yang dimainkannya. Selama dentumannya memiliki kedalaman dan sound treblenya balance, ia nyaman-nyaman saja.
Gilang dan Andra juga masing-masing mengambil gitar elektrik di stand single untuk dimainkan. Andra menggunakan gitar Fdr Stratocaster, yang renyah untuk rythm section. Kombinasi antara bahan kayu alder di body dan maple pada neck serta fretboard gitarnya membuat gitar ini sedikit lebih ringan, tetapi mampu menghasilkan suara yang jernih.
Sementara, Gilang menggunakan gitar Ibz FR365. Gitar ini merupakan pilihannya. Sejak awal ia bermain musik dan menjejali telinga dengan suara gitar, tipe FR365 sudah sangat nge-tune dengan keinginannya. Gilang setia, tidak pernah berganti tipe gitar sampai saat ini.
Meski terasa lebih berat karena menggunakan bahan dasar kayu mahogani pada body dan rosewood untuk neck gitarnya, Gilang selalu bersedia memapah FR365 di bahunya. Dari bahan dasar kayu-kayu itu, suara yang dihasilkan terdengar lebih tajam dan sangat garing daripada Fdr Stratocaster. Apalagi jika dipakai memainkan porsi interlude pada lagu.
Mereka semua lantas berdiri di posisinya masing-masing. Denis mengambil posisi di dekat drum, bagian yang berseberangan dengan pintu masuk ruang studio. Andra berada di sebelah Denis karena amplifier yang terhubung ke gitarnya juga berada di sana. Sementara Gilang ada di samping pintu masuk studio. Berseberangan dengan Andra juga Denis.
Setelah menjajal suara masing-masing alat musik yang digunakannya, Andra memberi kode untuk memulai sound check. Pada sesi sound check, masing-masing personel di belakang alat musiknya bertanggungjawab menjaga keseimbangan suara yang keluar dari amplifier satu sama lainnya. Tidak bisa satu sama lain beradu keras atau terdengar lebih dominan. Dirasa sesi sound check cukup baik, Andra mengajak kawan-kawannya langsung memainkan lagu Queen sebagai pemanasan.
Lagu Another One Bites the Dust dipilih oleh mereka. Lagu itu juga merupakan kegemaran Denis. Denis menyukai lagu ini karena porsi bagi bassist untuk dapat menonjolkan diri bisa dibilang cukup ekploratif. Tak heran, karena lagu ini sendiri diciptakan oleh John Deacon, bassist dari grup band Queen.
Hentakan drum dan dentuman bass mulai terdengar. Menyusun harmoni layaknya musik dark disco dari tahun 60-an akhir. Denis sangat menikmati memainkan lagu ini, terlihat dari katup matanya yang setengah terpejam. Ia dan Gery di belakang set drum seolah memiliki satu jiwa yang sama, satu rasa yang serupa memunguti chord dalam Another One Bites the Dust. Tidak ada ketukan terlewat. Denis mengisi kombinasi pukulan snar drum dan hentakan bass drum dari Gery dengan tempo yang tepat.
Tak mau kalah, mengisi bagian ryhtm, Gilang yang porsi permainannya di lagu ini cukup minimalis, berusaha mengimbangi beat bass dengan strum gitar ala RnB brit pop modern. Hingga mengesankan sebuah susunan kombinasi harmonisasi antara mode lama dark disco dan modernisasi dalam bermusik melalui RnB rythm. Mereka semua saling mengisi, saling menyempurnakan. Sementara di luar studio, Rere berteman dengan kejemuannya. Sudah hampir 20 menit, Revan tak juga datang. Terakhir, Rere berusaha menghubungi, Revan tak menjawab, tetapi ia membalas melalui pesan singkat jika sedang berada di jalan.