PERDANA, PERSAHABATAN, PERMUSUHAN

1096 Words
Sesuai jadwal yang telah ditentukan, hari Kamis malam adalah waktunya latihan rutin menjelang pertunjukkan serta membahas lagu-lagu baru yang hendak diproduksi oleh Arunika Band. Tetapi ada yang berbeda dibanding dengan latihan-latihan musik sebelumnya. Arunika kedatangan personel baru untuk mengisi posisi vokalis, yakni Revan. Di jam istirahat sekolah, saat Andra dan Gilang bertemu dengan Gery juga Denis, mereka seolah tak henti membicarakan mengenai perubahan formasi band. Kesan sumringah tak bisa dilepaskan dari sudut mata Denis, pun dengan Gery yang sudah mengetahui kualitas vokal Revan. “Malam ini kita ada jadwal latihan kan ya?” tanya Denis berbasa-basi. “Iya, sama Revan juga. Latihan perdana. Kita harusnya bahas lagu produksi sendiri. tapi untuk menyesuaikan, terlebih dahulu bawa lagu top fourthy seperti biasa saja,” gumam Andra sambil mencemili roti yang baru saja dibelinya dari kantin. “Setuju gue, Revan kan juga belum dengar materi lagu yang kita punya. Sambil belajar materi lagu yang ada, latihan hari ini persiapkan untuk penampilan lusa di Imaji Cafe saja,” susul Gery, menimpali. “Maksud gue juga begitu, Ger!” ucap Andra, lagi. Gilang tak bergeming. Ia hanya memainkan sebatang sedotan di gelas minumannya. Tak ada tanggapan, tak juga menunjukkan ketertarikan. Hari ini, ia kembali seperti Gilang setahun lalu, misterius dan dingin. Andra tahu penyebabnya, hanya saja ia tak ingin membuka luka di tengah sekat rahasia yang pernah dibagi ceritanya oleh Gilang. Namun, rasa penasaran tak bisa menutupi mulut Denis untuk sekedar bertanya. “Lang, lo kenapa diam saja? Lapar? Gue pesankan makanan ya ke ibu kantin. Tenang kalau lo lagi nggak punya uang buat bayar, biar Andra yang bayarin,” selorohnya, tanpa menunggu jawaban Gilang, Denis berjalan santai ke arah ibu kantin. Andra menatap jeli ke arah Gilang yang sedang melamun. Masih tak ada tanggapan dari candaan Denis rupanya. “Lang, baik-baik saja?” kata Andra memastikan keadaan sahabatnya yang terlihat lapang dalam pandangan matanya. Teguran Andra mengagetkan Gilang yang sedang melamun, “Hahh.. Iii..iiyyaa, Ndra, baik kok semua.” “Dipesankan makanan sama Denis, lo mau makan?” “Ahh, gue nggak pesan makanan. Nggak usah Den. Gue nggak lapar.” Denis yang kembali setelah memesan makanan dari ibu kantin gembira mendengar Gilang menolak tawarannya. “Serius lo Lang? Gue sudah pesankan. Yah, jadi makan dua porsi dong gue nih.” Gilang mengernyitkan dahi melihat ke arah Denis. Sedangkan Andra justru kesal, karena dua porsi makanan yang dipesan Denis tadi ia yang bayar. “Lo bisa banget ya, alibi pesankan makanan buat Gilang, ternyata rencana lo jahat, Den! Mana gue pula yang bayar.” “Ya sekali-sekali lah Ndra, lo bayarin teman lo ini makan,” ujar Denis, bibirnya termanyun. “Kayaknya udah sering banget lo gue bayarin, Den!” mata Andra melotot, kacamatanya melorot. Tetapi suaranya meninggi, memarahi Denis. Ketegangan itu tidak berlanjut. Seperti biasa, mereka malah mengakhirinya dengan tertawaan kembali. Namun, kali ini tidak semua berbahagia, ada yang ganjil di antara kebahagiaan mereka, rajutan senyum dan tawa Gilang terlihat memaksa. Tidak ada yang menyadari itu, kecuali Andra. Ia sesekali menelisik, menahan tawa sambil menatap lekat ke arah Gilang penuh simpati. Gilang sesekali bertemu mata dengan Andra. Ia tidak menunjukkan ekspresi ingin dikasihani. Tetapi, nukilan cerita yang ia sampaikan kepada Andra, jelas telah membuka luka yang seharusnya tertutup rapat.        Saat berpisah dengan Gery untuk kembali ke kelasnya, Andra tak lupa kembali mengingatkan agar jangan terlambat datang ke studio. Gery memang selalu datang terlambat saat latihan. Meski tidak lama, tetapi waktu menunggu atas keterlambatan seseorang amatlah mengesalkan. Beruntung ada Denis, yang selalu mengundang tawa, mengisi waktu tunggu dengan berbagai celotehannya. Andra dan Gilang pasti berhasil dibuatnya terpingkal, atau sedikitnya menyunggingkan senyum seringai dari balik bibirnya. *** Ketika senja berlalu, sore hari terlewati dan bulan melirik malu dari penghujung waktu, para personel Band Arunika bersiap diri untuk berangkat ke studio band. Gilang, Andra, Denis dan Gery berangkat dari rumahnya masing-masing. Latihan kali ini, selain mereka berempat dan Revan sebagai personel baru, Rere juga akan ikut mendampingi. Andra berinisiatif mengajak Rere agar suasana tidak terlalu kaku nantinya. Ia memahami, keberadaan seorang perempuan apalagi sosok Rere yang cuek dan cenderung jenaka, dapat mencairkan sedikit suasana. Kali ini, kejenakaan Denis saja dirasa tidak cukup. Andra membayangkan, betapa canggungnya Gilang saat bertemu Revan untuk pertama kalinya. Rere lah yang diharapkan dapat memberikan sedikit baluran komunikasi antara Gilang dan Revan. Meskipun Rere sebenarnya juga tidak terlalu menyukai Revan, tapi ia lebih pandai menyimpan perasaan itu dibandingkan dengan seorang pria seperti Gilang.  Benar saja apa yang dibayangkan Andra. Tak seperti biasanya yang penuh semangat, Gilang gontai melangkahi susur jalanan di Jakarta untuk menyambangi teman-temannya di studio band. Saat mengendarai motor maticnya, Gilang sangat perlahan menarik tuas gas, hingga beberapa kali, antrean kendaraan di belakang motornya membunyikan klakson bertubi-tubi. Gilang tak perduli, kali ini ia merasa harus cukup egois untuk melindungi dirinya sendiri dari ancaman kesakitan.    Revan, Revan, Revan.... Nama itu selalu saja membayang dalam benak Gilang saat pertama kali dibicarakan sampai dengan hari ini, hari yang selalu tidak diinginkan Gilang untuk terjadi. Hari ini tidak bisa lagi dihindari, mereka pasti akan bertemu. Bagaimanapun kerasnya usaha Gilang menyingkirkan ketidaksukaan, tetap saja, bayang-bayang pria yang gemar berganti perempuan melekat begitu dalam terhadap citra Revan. Berlebihan? Tidak bagi mereka yang kadung mencekamkan diri akibat perlakuan tak adil seorang laki-laki sekaligus ayah kepada keluarganya. Seorang ayah yang lebih memilih bermain bersama perempuan jalanan dibanding memapah anaknya belajar berjalan. Sungguh menjemukan, cengkraman derita masa lalu itu begitu mendalam berbekas di nurani Gilang. Ia sudah sangat berusaha menepis segalanya. tetap saja tak bisa. Derita-derita masa lalu yang dilihat dan didengarnya kini membentuk kepribadiannya. Gilang menjadi sangat berhati-hati dalam segala hal, ia pun menjadi pribadi yang begitu dingin dan tertutup terhadap lingkungan. Beberapa orang menganggap Gilang cukup aneh. Tak jarang kemudian ia diasingkan dari lingkungan pergaulan. Hanya Arunika yang benar-benar dapat menerima segala kejamakannya menghadapi dunia. Di Arunika, Gilang menemukan kembali makna keluarga. Kedekatan pertemanan antara dirinya, Andra, Gery dan Denis termasuk Rere telah memunculkan fajar baru pada hari-hari Gilang. Setiap pagi menjelang, Gilang selalu bergegas berangkat ke sekolah. Ingin rasanya selekas mungkin membuka topeng dan menjadi diri sendiri saat bergumul bersama teman-teman bandnya di sekolah. Ketika bersama Arunika, baik Gery, Andra, atau Denis tidak ada yang mencoba menghiasi diri dengan rupa topeng untuk menutupi wajah sebenarnya. Jika bercanda, candaan mereka tak pernah ada yang membosankan. Jika berdebat, satu dengan lainnya tiada keengganan, apalagi sampai menanam batas saat mengungkapkan pendapat. Meski begitu, segalanya terasa terhormat. Sebebas-bebasnya jalinan pertemanan, di Arunika, mereka saling menjaga satu sama lain, termasuk menjaga ketersinggungan antar teman. Mereka paham, mana hal yang pantas, dan mana yang tidak pantas. Kalau sudah melewati batas kepantasan, kesadaran untuk meminta maaf adalah sebuah keharusan.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD