Revan tidak seharusnya dianggap musuh, bahkan dianggap sekadar teman pun tidak. Sudah seharusnya Revan mulai dijajaki sebagai sahabat yang memiliki kesamaan mimpi. Gilang menyesal, tetapi bukan berarti meniadakan ancaman yang kelak timbul dari keberadaan Revan dengan segala sifat yang dimilikinya. Ia pun bergeming, “Maafin gue, Ndra.”
“Nggak masalah, Lang! Lo nggak salah. Kita yang salah, terlalu banyak ketakutan sampai menutup diri dari berbagai kemungkinan yang ada,” ucap Andra menggapai bahu Gilang, berupaya menenangkan.
“Tapi gue penasaran, kenapa lo begitu perduli sama persoalan personel band yang flamboyan dan digandrungi banyak perempuan seperti Revan? Bukannya itu sudah jadi hal yang umum diketahui?” selorohnya lagi.
Jejalan pertanyaan Andra tanpa disadari telah menukil perasaan terdalam dari Gilang yang selama dua tahun belakangan ini ia kubur dalam-dalam. Andra pantas menanyakan musabab itu. Tentang mengapa Gilang begitu hati-hati memberikan tempat kepada para pria yang menjadikan perempuan sebagai boneka alat kuasa. Seperti penolakannya terhadap Revan, misalnya.
Sejak awal, Gilang telah menunjukkan sikap berlawanan, meski ia tidak pernah mengenal Revan secara langsung. Jika bukan karena sesuatu telah terjadi hingga mengusik nurani yang tercermin dalam antipati, tidak mungkin rasanya Gilang menolak kehadiran Revan begitu keras.
Andra mengenal pria ini dengan sangat baik, selama dua tahun bersahabat. Gilang adalah pria rasional, pria yang mungkin paling sulit terjamah dengan segala kepalsuan. Apalagi kepalsuan itu datang dari apa yang dibicarakan orang lain. Tapi dalam persoalan Revan, Gilang seperti seorang Spartan.
Ia mengangkat tameng logam tinggi-tinggi, menghalangi kepala hingga pandangan, sambil bersiap menghunuskan pedang. Padahal tidak ada musuh, yang ada hanyalah unggangan bukit, dan itu telah berhasil memberinya rasa takut setengah mati.
Gilang menundukkan kepala, sesekali menatap Andra yang juga terus melihatnya. Gumaman hatinya tak bisa dibendung lagi. Ia telah terbaca, minimal pada selaput pertanyaan yang tak pernah sekalipun jawabnya terungkapkan kepada orang lain. Hati Gilang masih terus berkecamuk. Ia sebisa mungkin menahan sembari mencari jawaban berbeda dari kenyataan yang telah dikuburnya. Tetapi tak pernah ditemukan, tidak pernah.
“Mmmm... Gue,” suara Gilang perlahan terdengar, bergetar, hatinya masih meracau, bibirnya mencoba mengatupkan bunyi hati yang hendak berhamburan. Matanya berkelingan, kedipannya semakin rentan. Tangannya memupus helaian rambut. Keraguan adalah langgam yang terbaca dari rentetan gerak tubuhnya.
“Cerita saja, Lang!” Andra mendesak, namun desakannya lembut, hingga tidak terasa hati Gilang terhanyut.
Kini mulutnya seolah telah menemukan kerelaan, untuk membicarakan hal yang seharusnya tidak pernah ia ingat lagi. “Ada satu hal yang nggak pernah lo atau kalian tahu. Gue juga nggak pernah ceritakan ini ke siapapun. Bagi gue, ini racun kehidupan yang akan selalu gue ingat sampai kapanpun.”
Andra hanya memperhatikan tidak berbicara, mencoba memberi Gilang kesempatan lebih banyak untuk menata satu persatu kata yang hendak diungkapkannya. Mata Andra yang teduh juga membuat Gilang percaya, Andra bisa menjadi labuhan dari segala dilema yang disimpannya selama ini. Gilang melanjutkan kembali ceritanya.
“Gue pindah dari Surabaya ke Jakarta bukan hanya karena merasa terasing di lingkungan pertemanan. Bukan itu alasannya. Gue pindah seorang diri. Lo tahu, gue sekarang tinggal sama tante dari nyokap.”
“Dua tahun lalu, puncak dari segala keputusan yang bikin gue harus menjauh dari Surabaya, Ndra. Hari itu sekira jam enam pagi ada perempuan, perutnya setengah buncit, datang ke rumah sewaktu gue mau berangkat ke sekolah. Dia teriak-teriak, minta bapak gue keluar dari rumah. Ibu gue yang lagi nyapu di depan pintu berusaha menenangkan perempuan itu, biar nggak malu sama tetangga. Gue hanya bisa terpaku, diam saat itu,” lanjut Gilang bercerita perlahan.
“Perempuan itu dipapah sama ibu gue, dibantu Ndra, masuk ke dalam rumah. Gue masih di luar, lihat semua itu, dengarkan apa yang terjadi. Bapak gue yang baru bangun tidur langsung marah-marah, ke ibu gue dan ke perempuan itu. Ibu gue cuma bisa diam, sementara perempuan itu terus melawan omongan bapak. Mereka beradu mulut. Si perempuan minta pertanggungjawaban bapak karena sudah dihamili, katanya,” air mata Gilang menetes perlahan, luka itu terasa semakin perih, sesaat ia mengingat setiap kejadian di masa lalunya.
Andra terkejut mendengar itu, tetapi keterkejutannya tidak ditunjukkan, ia lebih memilih menunduk perlahan. Andra pun menyadari, mengapa selama ini Gilang begitu dingin pada beberapa kepribadian. Ia merasa menyesal telah memberikan pertanyaan yang memunculkan kembali cerita kelam masa lalu sahabatnya itu.
Kepala yang tertunduk dari Andra dibalas dengan senyum yang meringis dari sunggingan bibir Gilang. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri, dan melanjutkan. “Bapak masuk ke kamar lagi, terus keluar kamar dan melemparkan berlembar uang ke perempuan itu. Nggak bicara apapun, dia masuk ke kamar sambil membanting pintu. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Ibu gue masih berusaha menenangkan si perempuan, dia dirangkul sama ibu gue, lalu ibu gue memungut uang yang dilemparkan bapak, dan dikasih ke perempuan itu.”
Air mata kembali berjatuhan, pipi Gilang membasah, merembas jejak-jejak air di sana. Gilang hanya sesekali mengusapnya, memberikan lebih banyak lagi rembasan air mata yang menggumul di pelupuk wajahnya. Andra tak jauh rupa, ia sebisa mungkin menahan matanya yang berkaca agar tidak turut dalam tangisan.
“Gue hancur Ndra, lihat ibu gue hancur!” suara Gilang semakin parau.
“Setelah mengantar kepergian perempuan itu, ibu masih tegak berjalan ke dalam rumah, ke dalam kamar sambil jalan, dia lihat gue yang masih ada di dekat pintu rumah. Ibu gue tersenyum tanpa bilang apa-apa. Gue beranikan diri melangkah ikut langkah ibu, mendekat ke kamar, ke tempat ibu menuju, ingin tahu apa yang terjadi. Ibu pertanyakan kejadian pagi itu sama bapak dengan suara yang perlahan. Tapi bapak malah marah, keras sekali marahnya. Sampai ibu bilang, bapak harus bertanggung jawab sama perempuan itu. Lantas satu tamparan dilayangkan ke pipi ibu, Ndra. Gue dari luar, lari ke dalam. Peluk ibu gue yang sudah rebah di atas kasur. Dia nggak berdaya, tapi masih dibentak sama bapak,” tertatih nada bicara Gilang menjelaskan.
Kini air mata tak lagi menjadi pemandangan yang bisa dilihat dari diri Gilang. Tatapannya sudah nanar, kosong, antara menghantar penyesalan, kesedihan dan kedukaan pada setiap kata yang diceritakannya. Andra masih saja terdiam, ia terus menyimak cerita sahabatnya itu. Pandangannya sesekali tertunduk, sesekali melirik wajah Gilang, sesekali hilang tidak tentu arah. Tak berhenti di situ, Gilang menuju penghujung kisah masa lalunya.
Gilang bangkit dari sandaran, tidak ingin memberi celah agar dikasihani. Sejurus kemudian, Gilang melanjutkan kembali kisahnya. “Nggak lama, bapak masukkan semua baju-bajunya ke dalam tas. Gue masih berusaha tenangkan ibu. Dan bapak pergi begitu saja, tanpa kata, tanpa permintaan maaf atau penjelasan apapun. Sampai tiga bulan, laki-laki yang gue sebut sebagai bapak itu nggak pernah tunjukkan lagi batang hidungnya. Kondisi ibu diujung tanduk, dia bilang sudah kehabisan uang untuk biaya hidup dan sekolah gue. Akhirnya gue dititipkan ke tante dan om gue di Jakarta sini. Mereka mau biayain sekolah gue untuk sementara waktu.”
Gilang meraung, nada suaranya menekan. Ia mengingat segalanya, tentang perempuan yang paling dihormatinya di dunia ini terlempar dari kehidupannya begitu saja. “Seminggu gue di Jakarta, gueee... gueee dapat kabar ibu meninggal, bunuh diri, Ndra!!”
Gilang tertelungkup ke lantai, menahan kepedihan dari hatinya yang selama ini terpendam dan tak ada yang mengetahui. Tenang seluruh ruangan, hangat seluruh lantai bumi. Apa yang tersembunyi dalam kedukaan telah menjelma menjadi kelegaan, lega yang teramat lapang. Andra pun mengusap perlahan bahu sahabatnya itu, tak lupa juga ia lemparkan senyum paling tulus selama hidupnya.
Hanya itu yang bisa ia lakukan melihat terbenamnya matahari yang selama ini menerangi hidupnya sebagai sahabat. Sebisa mungkin ia tahan kepedihan, nyatanya air matanya ikut pula menetes. Kedua sahabat ini rebah dalam kedukaan. Tanpa kata, mereka mencoba saling menguatkan kelemahan yang paling dasar dari diri manusia, kehilangan orang yang dicintai.
Gilang bangkit perlahan dari jeritnya. Kesedihan masih tak bisa ditutupi dari binar matanya yang menggenang. Mata Andra yang masih berkaca dengan jejak bening air mata di pipinya menemani Gilang bangkit.
“Maaf Ndra. Itu bikin gue sampai sekarang merasa sulit untuk bisa beri ruang sama laki-laki yang suka permainkan perempuan, seperti bapak gue atau Revan menurut cerita orang-orang. Sejak awal gue membatasi diri bergaul atau bisa kenal dengan pria seperti itu. Bukannya naif, tapi memang pengalaman mengajarkan segalanya. Gue nggak mau lihat lagi ada perempuan yang harus berjejalan air mata karena kesakitan seperti yang ibu gue rasakan.”
“It’s ok. Gue ngerti sekarang Lang. Gue yang harusnya minta maaf, sudah sudutin lo dengan pertanyaan, bahkan memaksa lo menerima Revan dengan segala resikonya. Gue pastikan, segalanya akan baik-baik saja. Bantu gue juga ingatkan agar semua baik-baik Lang. Gue nggak bisa sendiri, tanpa kalian, perjalanan band ini hanya grup musik yang tanpa arti.”
Gilang tersenyum simpul, getir, senyum yang ia paksakan. Tuntas satu beban yang mengikat keabsahannya sebagai manusia selama ini, yaitu bisa berdamai dengan masa lalu. Meski sulit dan belum sepenuhnya, bersikap terbuka dan memberi orang lain ruang untuk memasuki labirin waktu saat kejadian itu terjadi, adalah elegi yang sangat dilematis. Gilang selama ini, dengan kesendirian dan hiruk pikuk suara di kepalanya mencoba memendam semua rasa seorang diri.
Ia tidak pernah tahu, jika menguar cerita kepada orang lain atas masalah yang sedang terjadi rasanya begitu melegakan seperti ini. Gilang berucap terima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan kehidupan yang berbeda dari putaran roda kehidupan di masa lalunya dahulu. Terima kasih itu pun ia semaikan kepada sahabat-sahabatnya yang kini berganti memasuki lentera waktu, mengisi sendu dengan tawa yang sering beradu.
“Eh bagaimana itu lagunya? Gue mau dengar dari awal dong, biar gue bantu di beberapa frase. Tadi gue dengar masih ada dischord,” seruan Andra mengagetkan Gilang yang sedang melabuhkan lamunan jauh ke dalam sana.
Gilang tidak berkata apapun. Ia raih gitar yang terhempas di lantai dan melekatkan di pangkuannya. Wajahnya sumringah kali ini. Didentingkan kembali chord-chord gitar yang bersusulan, mengawali nada dari A minor, lalu ke G mayor dan berikutnya E minor, lagu itu mampu merundung hati. Perlahan, dentingannya mendayu, menelusupi hari yang semakin temaram. Di kaca jendela, rembulan merebah malu. Menerangi dua anak manusia yang bersisian dengan nasib baik.