BUBUK PUTIH

1385 Words
Lima belas menit lamanya, baru terdengar suara kunci pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Kondisi Gery belum sepenuhnya stabil, tapi sakit di kepalanya sudah menghilang. Begitupun dengan nyeri di sekujur tubuhnya, perlahan ia mulai menemukan kesadarannya. Gery berjalan seperti biasa, senyumnya sumringah kali ini. Jiwanya seperti baru saja menemukan tubuh. Ia lantas menghampiri teman-temannya yang serempak melemparkan pandang heran ke arahnya. Gery duduk, bersila, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, lalu kembali memohon maaf atas hal yang baru dilakukannya. “Den, lo marah sama gue? Ndra? Lang? Gue minta maaf. Tadi kepala gue benar-benar sakit, mau pecah rasanya. Sorry kalau gue dirasa agak kasar sama lo Den. Ga maksud begitu.” Andra yang perhatikan betul gerak mata dan gestur Gery, memastikan jika temannya itu telah kembali. Ia pun berbasa-basi tapi masih enggan bertanya kenapa dengannya tadi, “Santai Ger, udah biasa Denis dibentak-bentak. Sama gue bisa sehari delapan kali dia kena bentak.” Bermaksud bercanda tapi apa yang dikatakan Andra tidak ada tanggapan, Gilang serta Denis tampak masih ragu untuk bersuara. Andra hanya bisa melirik malu kepada kedua temannya itu, lalu berpikir untuk mengalihkan pembicaraan lain.  “Diminum Ger airnya, masih hangat kok, tadi gue bawain air panas soalnya,” sambung Andra kembali, kikuk. “Iyaa Ndra.... Makasih ya,” Gery meminum airnya. Di sela Gery sedang meneguk air. Andra mencolek Denis, memberi kode untuk bersikap wajar seperti biasa terhadap Gery. Denis yang mendapat kode begitu, hanya geleng-geleng kepala seraya memicingkan mata. Andra tahu, Denis bukannya enggan bersikap biasa, ia hanya tidak mengerti kode apa yang disampaikan Andra. Sampai kemudian Andra memonyongkan bibirnya dan memainkan jemari tangannya agar Denis memahami. Gilang hanya tertawa pelan melihat raut muka Andra yang tampak putus asa memberi penjelasan pada Denis. Akhirnya Denis mulai memahami maksud Andra, ia tergagap ketika ingin mulai bicara dan malah memberondong Gery dengan banyak pertanyaan, “Mmm.. Ger, lo benar udah ga apa-apa? Masih sakit? Belum makan kali ya Ger?” Gery yang masih menikmati minumnya melirik ke arah Denis, meletakkan gelas digenggamannya dan berdehem dengan suara yang dalam. Gery lalu memasang mata terbuka, melotot ke arah Denis. Andra khawatir akan terjadi keributan lagi. Denis lebih khawatir, nafasnya mulai tersengal, ia memundurkan posisi duduknya, menjauh dari Gery. Tapi di luar dugaan, Gery yang mungkin akan menghardik Denis lagi kali ini mengayunkan tangan menuju pipi Denis dengan perlahan, mengusapnya, lalu mengatakan, “Syudah tidak apa-apa, Mas Denis. Akyu baik-baik saja. Kamyu jangan khawatir terus gitu dong,” dengan nada perempuan. Denis sontak menepis tangan Gery dan melempar muka ke arah bawah, “Hoeeekkk,” bunyi ekspresi keluar dari mulut Denis.        “Jijik gue, tampang doang serem, kelakuan lo ternyata multiple choice Ger!!” protes Denis lagi. Dan teman-temannya pun tertawa, menertawakan wajah Denis yang hilang arah. Kalau dilihat, ekspresi Denis saat digoda Gery dengan gestur perempuan itu lebih mengenaskan dibanding ketika Gery sakit tadi. Kini berkat Denis suasana menjadi hangat cenderung mencair, sudah seperti biasa, tak ada lagi pembahasan soal keadaan Gery. Hanya Andra memastikan jika Gery butuh apapun, dia bisa katakan padanya. Mereka bersenandung ria kembali, ditemani mentari di ufuk yang sedang berkejaran dengan desah kepak burung. Di sana, mentari tampak semakin bulat, merona jingga di langit, membuat suasana semakin temaram menuju malam. Di sepanjang pandang, cahaya jingga juga merasuk ke barak-barak awan, menggelayut di tepian matahari. Cakrawala terlihat seperti tiram perak, warnanya terpendar. Bias matahari senja nampak merobek-robek wajah mereka berempat, terang, semuanya tersinari. Selayaknya suasana akrab yang terjalin di antara mereka berempat. Tiada lagi kecanggungan. Dan saat lagu terhenti dalam jeda, Andra teringat pembicaraan sebelumnya mengenai niat untuk mengajak Gery bergabung dalam band. Tanpa pikir panjang lagi, Andra lantas memulai pembicaraan.     “Oh, iya Ger, gue sama Gilang dan Denis sebelum lo ke sini sempat banyak berbincang. Kita sepakat untuk bentuk band. Gilang pegang lead guitar, Denis pegang bass dan gue rythm plus vocal untuk sementara.” “Oh ya? Bagus kalau begitu,” tanggap Gery, antusias. “Terus?” Ragu menyatakan maksudnya, Andra sempat melirik ke arah Gilang, “mmmm... Gimana ya? Kita belum punya drummer Ger. Setelah gue ingat-ingat gue ga punya teman yang bisa main drum, Denis juga begitu, apalagi Gilang yang baru pindah ke kota ini. Lo barangkali punya teman yang bisa direferensiin isi drum di band kita?” “Ada sih beberapa, tapi teman-teman gue itu sudah punya band. Dan background musiknya gak akan sama kayak kalian. Mereka lebih ke hardcore, black metal, punk, gak akan masuk sama musik kalian.” “Mmmm... Kalau lo sendiri sudah punya band?” ujar Gilang menyela. “Ahh, gue mah musik cuma buat iseng kok. Band mana yang mau ajakin ngejam, ya ayo. Ga pernah netap gitu lah. Hehehehe. Semacam drummer cabutan.” “Kalau lo gabung ke band kita gimana Ger?? Tapi netap, jangan cabutan,” ujar Gilang tanpa banyak basa-basi. “Serius??” tanya Gery.  “Iya serius, Ger!” “Gue kayaknya ga bisa deh. Pertama, kalian kan baru kenal gue. Bukan gue yang bermasalah, tapi takut kalian ga cocok sama gue, sama karakter gue. Band kan bukan soal kesamaan referensi musik dan punya skill doang. Kedua, gue nggak bisa komitmen soal waktu. Ketiga, kalaupun gue harus bermusik, gue mau ada keseriusan. Percuma nge-band, latihan rutin tapi hasilnya cuma terkenal di sekolah atau jadi band festival. Gue pengen ada hasil, karya, lagu yang diproduksi!” “Soal waktu kita ga masalah Ger. Soal kecocokan, itu gimana nanti. Dan soal karya, lo cocok sama kita Ger. Kita juga ga mau cuma jadi band asal jadi. Gue yakin kalau kita sama-sama komitmen, impian produksi lagu bahkan masuk studio rekaman bisa diwujudkan.” Andra pun berusaha meyakinkan Gery kembali setelah mendengar jawabannya yang terkesan menolak tapi setengah hati. Ia yakin, Gery sebetulnya berniat gabung dalam band, hanya saja butuh sedikit keyakinan dari mereka. “Gue punya beberapa karya lirik Ger, kita bisa kembangkan jadi lagu. Gilang juga, Denis juga punya,” sambungnya. Berpikir sebentar, Gery kembali meminum air di gelasnya, lalu memberikan jawaban, “mmmm... Oke, gini deh. Kita masuk studio buat tes aja dulu, seberapa punya feelingnya kita satu sama lain. Itu yang akan nentuin kita cocok satu band atau nggak. Sabtu besok kan ekskul musik pada kumpul di sekolah, sehabis kumpul kita ke studio band, nge-jam dan lihat seberapa besar kemungkinan yang bisa ditembus di masa depan.” “Oke gue sepakat.” “Oke gue juga.” “Denis, gimana?” pertanyaan Andra mengagetkan Denis yang sedang melamun. “Ehh, yaa gimana? Kalian sudah sepakat, suara gue jadi minoritas. Ga penting lagi, ya gue ikut suara terbanyak lah. Daripada ga ditemenin lagi gue??” “Hahahahahaha....”  tawa mereka semua. Hari sudah berangsur semakin sore, senja tak lagi menampakkan kecerahannya. Berganti muka, semakin gelap. Suara burung-burung yang sempat bernyanyi menghantarkan senja menuju peraduannya juga sudah tak terdengar. Apalagi keriangan anak-anak kecil yang bermain di waktu sore. Menyadari hari akan gelap, Gilang izin untuk pamit pulang, diikuti oleh Gery. Mereka berdua pulang bersama karena satu tujuan, Gery mengantarkan Gilang terlebih dahulu. Denis memutuskan menemani Andra yang sendiri di rumah. Besok, menjelang berangkat sekolah, baru Denis berganti pakaian seragam. Andra menyempatkan diri mengantarkan Gery dan Gilang hingga pintu gerbang rumah. Ia ingin memberi kesan akan selalu menerima kedatangan sahabat barunya tersebut. Selesai Gery dan Gilang beranjak dari rumahnya, Andra merasa gerah dan ingin mandi. Di kamar mandi ia menemukan botol air mineral yang dilubangi tutupnya dan ceceran serbuk putih di wastafel. Sebentar ia keluar dari kamar mandi, membawa botol itu dan menanyakannya pada Denis. “Den, ini bekas apa ya? Masih ada di atas wastafel, bukannya dibuang ke tempat sampah!!” omel Andra membawa botol air mineral, ia merasa Denis yang habis menggunakannya. “Ga tau gue. Daritadi belum ke kamar mandi, cuma Gery kan yang pakai kamar mandi itu sebelum lo.” Andra mengingat lagi, benar hanya Gery yang menggunakannya. Ia tak menaruh curiga apapun, dan memang tidak tahu itu apa. Botol itupun dibuangnya, begitu juga dengan ceceran serbuk putih di wastafel yang langsung dibersihkan. Satu langkah kehidupan baru telah dimulai oleh anak-anak muda yang penuh talenta dan semangat ini. Andra, Gilang, Denis serta Gery adalah cermin tentang bagaimana takdir mempertemukan mereka melalui jalannya sendiri-sendiri. Gery yang biasanya cenderung menutup diri pada orang lain, kini berani membuka diri di hadapan teman-teman barunya ini. Gilang pun menemukan kembali arti bermusik sebagai perekat persahabatan. Sementara Andra dan Denis, selalu mesra dengan mimpi-mimpinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD