PERTEMUAN ANTAR PENYESALAN

2385 Words
Jam menunjukkan tepat pukul 10 malam. Dua angka sudah terlangkahi sejak pukul 8 malam. Waktu saat Denis dibawa menuju tempat ini, untuk berbaring tanpa kesadaran, entah sampai kapan. Sementara waktu bergeser, Andra, Gery, Revan, Rere, Melodi serta kedua orang tua Denis masih menunggu kabar di beranda depan ruang ICU. Yang putih menjadi temaram, yang temaram menjadi semakin gelap. Begitu pandang Andra pada sekitar. Dilihatnya, ibunda Denis tergolek lelap dalam sandaran bahu suaminya, Om Fajar dengan mata yang membasah. Melodi dan Rere juga saling berpangku wajah, terpejam melepas gundah. Hanya tinggal Gery dan Revan yang masih terjaga menemani dua mata Andra. Banyak hal merasuk ke dalam pikiran mereka semua, hingga mengganjal mata untuk dapat sekedar memburam. Andra merasakan, betapa panjang kenangan yang turut berjalan selama mereka semua menunggui sang pesakitan. Persahabatan itu tak akan pernah lekang, meski ada pengkhianatan menantang. *** Saat detik menemani menit dan jam berjalan, seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja flanel terlihat dari kejauhan berjalan tergesa menyusuri lorong rumah sakit. Matanya memburu, seolah ada yang hendak ditujunya. Lirikannya tajam, peluhnya pun membasah di kening, mengiringi kelelahan yang tampak dari buram matanya. Tak butuh waktu lama, pria ini menemukan apa yang dicarinya. Ia memelankan langkahnya, berpijak lembut pada bumi dengan perlahan. Dilihatnya satu per satu, wajah yang dikenalnya berada di sana. Mulai dari Melodi dan Rere yang terlihat sangat lelah. Pria ini melewatkan pemandangan itu, ia terus berjalan. Mendengar langkah kaki yang berjalan di dekatnya, Melodi mencoba membuka matanya dengan susah payah. Seorang pria dengan jaket denim membalut kaos lusuhnya terlihat berjalan di depannya. Kini yang tampak hanya tas ransel mengikat punggung si pria. Melodi tahu siapa pria itu, tetapi ia enggan menyapanya. Reaksi berbeda ditunjukkan oleh Andra yang langsung beranjak dari tempatnya duduk begitu tahu pria ini datang. Hal yang sama ditunjukkan oleh Gery dengan menoleh ke arah kedatangan si pria, hanya Revan yang terlihat tak perduli. Andra menyambut pria ini dengan sukacita, meski waktunya tidak tepat, tetapi kehadirannya menambah sedikit kepercayaan bahwa pertemanan antar mereka masih sangat berharga. “Gilang!” seru Andra yang meski wajah sedihnya tak tertutupi dengan sempurna, ia masih menyisakan sedikit keceriaan. Gilang tak bergeming, ia tampak bingung dengan sekelilingnya. Setelah cukup lama ia tak bertemu teman-temannya, Gilang tampak tak menyangka akan dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Kondisi yang menghadirkan penyesalan bagi dirinya. “Ndra, Denis kenapa? Gue ditelfon....,” Gilang melirik ke arah Melodi, ia tak meneruskan kalimatnya. “Duduk dulu, gue juga nggak tau Denis kenapa. Tadi Gery telfon, katanya Denis masuk rumah sakit. Gue langsung ke sini, begitu dengar kabar dari Gery.” Gilang menuruti perkataan Andra. Ia menjatuhkan tas ransel yang bergelayut di punggungnya, menyusul kemudian tubuhnya. Gilang memperhatikan satu per satu wajah teman-temannya. Tak ada kata antara mereka, tiada canda yang biasanya menggema. Semua membisu, menutup mulut, menyembunyikan luka. Hanya sekali lagi, ada hati yang masih saling terpaut, memberi ruang pada sudut harapan. Tentang Denis, sahabat yang selalu mengajari mereka bagaimana memahami makna ketulusan, serta kebahagiaan.   Denis bagi mereka bukan hanya sekadar teman. Bagi mereka, sosok Denis adalah anak periang, sahabat yang selalu memberikan keceriaan, memberikan lebih dari sekedar rasa nyaman akan gurauan di dalam kekacauan, dan kini ia tak berdaya. Terakhir kali Andra melihat, tubuhnya kaku mengejang, mulutnya berbusa, matanya mendelik putih, wajahnya pucat, seperti darah enggan lagi mengaliri pipi gempalnya. Tidak ada yang tahu mengapa Denis begitu termasuk Andra, juga Revan. Tetapi tidak dengan Gery, ia mengetahui pasti apa yang terjadi pada Denis. Namun belum muncul keberaniannya untuk berkata, apalagi bercerita. Saat bersama Andra dan Gilang membawa Denis dari ambulance menuju ruang ICU, sempat Andra bertanya padanya, tiada jawaban Gery berikan, hanya penyesalan dan ketakutan ia tampakkan. Sejak itu, tak ada komunikasi berjalan, semuanya lumpuh, termasuk cara mata memberi penjelasan. *** Cukup lama mereka semua bergeming tanpa kata. Masing-masing kepala memberikan pertanyaan yang menduga-duga tentang penyebab Denis. Apalagi Gilang yang sama sekali tak memahami mengapa ini terjadi. Ia hanya bisa menengadahkan kepala, barangkali dari atas langit akan muncul jawaban. Nyatanya tak pernah ada jawaban ia temukan. Merasa jemu dengan keadaan, Gilang pun ingin mencari sedikit kesegaran. Pertemuan yang tidak diharapkan kondisinya ini membuat dirinya terasing. Jejak kaki terdengar melangkah perlahan, berupaya tak ingin terdengar, bahkan oleh desau angin di ujung tungkul cemara. Andra melihat Gilang berdiri. “Mau kemana?” tanya Andra singkat. Gilang hanya menggelengkan kepalanya. Pria ini mengayunkan kaki tanpa keraguan, berjalan dengan sangat perlahan menuju ke arah luar lorong. Di lain sisi, Revan mengawasi setiap gerik Gilang, sampai Gilang melangkah menjauh dari pandangan. Tak berapa lama, Andra mengikutinya, bukan hendak menguntit, hanya ingin menuntaskan pembicaraan, termasuk mengenai kondisi Denis. Di ujung lorong ruang ICU, Andra menelisik keberadaan Gilang. Tak ditemuinya di sana, sulit memang melihat kebenaran dalam pekat malam. Sepertinya sudah agak menjauh Gilang berjalan. Merasakan haus mendera tenggorokannya, Andra pun beralih menuju kantin rumah sakit untuk sekadar membeli air minum. Tak disangkanya, di pojok luar kantin, nampak Gilang sedang terduduk, sendiri, meski ada beberapa orang di sekitarnya. Ia berbincang dengan sepi, tapi pasti tak ingin berteman lebih lama lagi. Andra tak langsung menemui Gilang, ia terlebih dahulu masuk ke kantin dan membeli dua cangkir kopi hitam, minuman yang selalu digemari mereka. Dengan kopi hitam, barangkali akan membantu kondisi tubuh dan pikiran yang sedang meracau. Tak lama pesanan disajikan, ia keluar kantin, hendak menemui Gilang. Terbesit ada sedikit keraguan untuk mengganggu Gilang barang sesaat. Tapi segalanya sirna jika mengingat, mereka butuh saling menguatkan dan dikuatkan.   “Lang, gue bawain kopi nih,” sapa Andra pada Gilang yang terlihat sedang termenung. Gilang sedikit terkejut akan kedatangan temannya itu. Andra lalu menggeser kursi yang berada di sekitar Gilang dan duduk tepat di depannya. Setelah sebelumnya dua cangkir kopi diletakkan di sisi berbeda.   “Ehh, gue kira siapa. Makasih, Ndra,” ucapnya lalu menghisap sebatang lisong yang sedari tadi terjebak di lepitan jemarinya. “Sejak kapan ngerokok lo?” tanya Andra keheranan. Pertanyaan itu memang pantas dilontarkan. Sejak mengenal Gilang tiga tahun lalu, Andra belum pernah sekalipun melihat Gilang merokok. Malam ini, atau tepatnya dini hari ini, ia baru melihat Gilang menghisap rokok. “Eh, ini?” menunjukkan batang rokok. “Baru kok. Baru malam ini,” pendek katanya lalu dihisapnya lagi rokok di sela jemari itu. Kecanggungan jelas tergambar dari kedua wajah sahabat ini. Meski mereka berdua tidak memiliki masalah, tetapi ada beban yang rasanya membuat kepantasan menjadi pertimbangan dari saling mengulik isi hati.  Sejenak saling berdiam, Andra membuka pembicaraan ke arah yang lebih serius mengenai permasalahan mereka. “Lang. Sorry soal Melodi, guee...” Gilang melirik ke arah Andra yang terbata berbicara, spontan memotong pembicaraannya. “Kita kesini karena kondisi Denis kan, Ndra. Bukan masalah Melodi!” “Iya, tapi gue tahu lo juga ada masalah yang ga kalah berat. Setelah ini kita selesaikan masalah itu bareng-bareng, Lang, jangan lari lagi. Gue janji, pasti ada jalan keluarnya.” “Sudahlah, Ndra. Lo ga salah apapun, ga ada sangkut-pautnya juga sama lo. Termasuk kenapa Denis di sini, itu ga ada kaitan sama lo. Jangan semua hal lo rasa jadi tanggung jawab lo, Ndra!!” nada bicara Gilang meninggi. Kondisi seperti ini memang sangat menekan mental juga psikologis. Bagi mereka, masalah yang ada seolah memaksa untuk saling menyingkirkan. Termasuk bagi beberapa orang penunggu pasien lain yang saat itu sedang berada di kantin, dekat Gilang dan Andra. Mendengar ada sedikit perdebatan, orang-orang itu memberi ruang pada penyelesaian dengan menyingkir dari sana. Kini tinggal Andra dan Gilang di pojok kantin, mencoba bersahabat dengan egoisme masing-masing.  “Gue cuma ingin kita utuh, Lang. Kita sama-sama lagi, termasuk dengan Denis kalau sudah sehat nanti. Jikapun harus ada yang tersingkir, harusnya itu gue, bukan Denis, bukan lo, Revan atau Gery.” “Puuuffttt..” Gilang mengepulkan asap rokoknya ke wajah Andra. Ada hal yang tak bisa ia terima dari pernyataan Andra barusan, entah itu mengenai apa. Andra mengibaskan tangannya untuk menghapus jejak asap yang menuju wajahnya. “Lo pikir cuma lo yang bisa berperan jadi pahlawan, menyatakan diri siap berkorban buat band, buat perkawanan? Nggak Ndra!!! Setiap dari kita, bahkan si b******n itu juga pasti punya hati buat ngejaga perkawanan ini. Tapi kalau soal harga diri, apalagi sampai merusak, nggak perlu lagi ada kompromi untuk saling menjaga.” Wajah Gilang menampakkan sedikit kemurkaan, dari sana Andra sadar, ada bagian dari hatinya yang patah dan tak akan pernah bisa dikembalikan lagi. “Oke, begini. Gue minta lo tenang Lang. Kita bicara sebagai teman, kasih waktu sampai Denis agak membaik kondisinya. Dan gue harap, kita tetap bisa utuh, sama-sama seperti dulu. Cuma itu permintan gue,” ucap Andra berusaha memberi pengertian pada Gilang. “Alah, lo itu egois Ndra. Minta kita bareng-bareng lagi, band jalan lagi dan rekaman bisa selesai. Dengan begitu mimpi-mimpi lo tercapai, dan di belakang pencapaian lo itu, ada teman yang bukan cuma hati, bahkan hidupnya pun jadi berantakan hanya buat menuntaskan ambisi lo,” nada suara Gilang kembali meninggi. “Itu mau lo kan?” lantas berdiri menunjuk wajah Andra. Andra spontan menepis tangan Gilang, ia ikut berdiri dan memegang kedua bahu temannya itu sembari menekan. “Duduk!” pintanya, keras pada Gilang. Gilang menuruti permintaan Andra untuk kembali duduk. Satu hembusan lagi asap rokok dikepulkan ke langit. Langit terbatuk, awan hitam mulai menggelayut, gemintang ikut hanyut. Gelap, semakin pekat, tiada temaram bahkan di sudut bola mata dua sahabat yang sedang berjarak. Suasana hening mendekap, rintik hujan mulai menetes perlahan, angin malam pun menjajakan kesejukannya. Bersama wangi hujan yang membasahi tanah, Gilang kembali membuka mulut, sudah sedikit reda emosinya kini. Tiada prasangka ia lekatkan, amarah pun coba dipinggirkan. Gilang, pria yang terbiasa berpikir dengan kepala dingin dan selalu mengedepankan logika, mulai tak berdaya menghadapi legamnya duka. “Maaf, Ndra gue emosi,” tutur Gilang singkat. Kata-kata yang singkat, suasana yang penuh kepedihan membuat Gilang berada di puncak ketakutannya. Ketakutan akan kehilangan, ketakutan akan pupusnya harapan, dan ketakutan akan lenyapnya kebahagiaan. Gilang benar-benar merasa di titik nadir kehidupan. Tak dirasa, air matanya menggenang di pelupuk. Sejadinya, ia tahan agar tidak menetes. Biar tangisnya diredam sendiri, tak ingin unjuk kepedihan di depan sahabat sehati. “Gue tau perasaan lo, Lang,” Andra memberi simpati, menatap dalam mata Gilang yang mulai terbasahi air mata kesedihan lalu mengusap bahu sahabatnya itu. Kali ini lembut, dengan penuh empati. Gilang terdiam. Ia sandarkan perlahan kepalanya ke dinding kantin, mengalihkan pandang ke bagian kosong halaman rumah sakit, menjauh dari sentuhan mata Andra. Gilang tampak sangat ingin mencoba melepas kegundahan yang sedang direguknya, memang lelah, sangat terasa lelah. “Kalau akhirnya seperti ini, gue gak akan pernah coba nyentuh musik lagi, Ndra. Gak akan pernah nunjukkin kalau gue bisa main gitar di rumah lo,” katanya pelan. “Gak begitu, Lang. Kalau cara lo menyimpulkan semuanya dengan penyesalan seperti itu, mungkin ada baiknya kita dulu gak pernah kenal, kita dulu gak pernah satu sekolah,” bantah Andra. Tiada penyesalan yang memang pantas untuk disesali, penyesalan hanya datang berpijak, tidak untuk tinggal selamanya. Kalaupun waktu habis dalam penyesalan, ia hanya akan menjadi sampah dalam kenangan. Gilang sebisa mungkin memenangkan pertarungan batinnya, untuk tak pernah menyesal menjadi bagian dari pertemanan antara dirinya serta Andra juga yang lainnya. Tapi sulit, semua itu hanya bisa tergambar di kata, dalam dunia nyata? Mementahkan penyesalan sama saja dengan membungkam harapan. Sekarang, segalanya hanya bisa diikhlaskan, diberikan sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Dengan masih meratapi kenyataan, Gilang berujar, “Ndra, gue harus apa sekarang? Gue gak ngerti harus seperti apa lagi hadapi ini semua?” Andra memajukan kursi yang didudukinya, berusaha lebih dekat agar menjaga kehangatan di malam dingin yang semakin dingin karena hujan dan segala tetes kegundahan. “Gue minta lo tetap di sini, sama gue. Kita pernah janji buat terus sama-sama kan, Lang? Band ini bukan mimpi gue, bukan ambisi gue seorang. Tapi ada mimpi lo di sana, ada harapan Denis juga, ada tekad Gery, ada keinginan Revan. Kita semua menggenggam hal yang sama Lang,” ucap Andra penuh penekanan pada suaranya. Andra merendahkan sedikit suaranya, ia melanjutkan lagi berbicara. “Dan kalau lo atau siapapun terluka, kita semua pasti merasakan. Orang yang lo sebut b******n itu juga pasti merasakan. Seberapapun jahanamnya seorang teman, dia akan selalu terngiang dalam kenangan, akan mengisi relung dalam kehidupan. Kalau kemarin, hari ini atau esok lusa lo putuskan rasa sebagai seorang teman, bukan berarti lo bisa lari dari kerinduan,” ujar Andra panjang. Gilang menyunggingkan senyum dalam perihnya kesakitan perasaan. Ia mulai mencoba menghibur dirinya sendiri. Mengingat kembali segala rasa yang pernah ada dalam hubungan pertemanan mereka. Kekonyolan Denis, dinginnya Gery, prinsipilnya Andra, dan menyebalkannya Revan. Semua saling melengkapi. Tidak ada kesempurnaan mereka dapatkan, hanya hubungan tanpa kepalsuan yang ditunjukkan. Terkadang bertengkar, terkadang akur di dalam sangkar. Gilang mengusap air matanya yang mulai menetes satu demi satu ke pipi. Dilihatnya Andra kembali, yang mungkin lebih dalam menyimpan luka atas kesakitan Denis. Tapi semuanya terlihat baik-baik saja, tak ada kerapuhan ditunjukkan, meski Gilang tahu, Denis sudah seperti adik sendiri bagi Andra. Andra menyimpan ketegaran atas segala hal, atas semua masalah yang kini bertubi menghantam hubungan pertemanan juga profesionalitas mereka di dalam band. Gilang merasa berlebihan selalu menyudutkan Andra dan merasa dirinyalah orang paling terluka di dunia ini. Sementara, sahabatnya sendiri, Andra sedang sangat butuh kepercayaan jika semua akan terlewati dan berujung dengan kebahagiaan. Lama terdiam, Gilang bangkit dari kursi, hendak kembali ke ruang tunggu beranda ICU. Sudah terlalu lama rasanya berbincang dengan Andra. Selain masalah pribadi yang sedang mengguncangnya, Gilang pun sebenarnya menyimpan kekhawatiran yang sama terhadap kondisi Denis. Hingga frustasi menghinggapinya tadi akibat berbagai beban menimpa pikirannya. Beruntung Andra datang, menguatkan dengan cara membiarkan emosi meletup seketika dari dalam dirinya. “Ayo, Ndra. Kita sudah terlalu lama di sini. Kasihan yang lain, juga orang tua Denis, kalau mereka butuh apa-apa dan kita gak ada,” ajak Gilang beranjak. “Sudah baik kondisi lo? Cuci muka dulu sana, kelihatan Melodi lo habis nangis kan bisa jatuh martabat kita,” goda Andra. Mereka pun kembali ke ruang tunggu ICU. Dalam perjalanan, Gilang mengingat apa yang dikatakan Andra kepadanya barusan. Mengenai persahabatan, tekad, juga harapan. Ada benarnya apa yang dikatakan Andra. Tetapi ada satu pertanyaan besar bersarang di sanubari. Jika pertemanan harus didasarkan pada kebersamaan, mengapa dirinya yang dikorbankan? Mengapa ia yang merasakan penderitaan? Mengapa harus ia yang kehilangan? Pertanyaan itu membawa jauh kenangan yang sebelumnya sangat ingin dipinggirkan, bahkan dibakar hingga tersisa hanya abu bertebaran. Band ini bukan hanya membingkai kisah pertemanan, tapi ada cinta di dalamnya. Cinta yang merekah, bisa jadi bibit kebahagiaan, bisa jadi pula awal kehancuran. Gilang mengingat itu sekarang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD