JALAN, PERTENTANGAN, PENAMBAHAN

2012 Words
Satu tahun terlewati sejak Gilang, Andra, Denis dan Gery bersepakat membentuk sebuah band bersama. Gery yang awalnya menolak, ternyata menaruh kesan pada permainan musik yang ditunjukkan oleh Andra, Gilang juga Denis. Pertama kali mereka bermain di studio musik, Gilang berhasil memberi warna tersendiri pada porsi gitar yang ia mainkan, Denis sebagai pemain bass pun berhasil menyatu seperti jantung pada tubuh manusia dengan ketukan drum yang diberikan Gery, sementara Andra memiliki porsi penting memberikan aliran darah pada lagu melalui rythm dan suaranya selama musik dimainkan. Segalanya terdengar harmonis, seperti suara alam di pangkal pagi. Ada gemericik embun yang menetes, hembus angin bertiup, bahkan batu yang saling berbisik. Semua memainkan perannya masing-masing, berbunyi merdu mengisi detak kehidupan. Kini band yang diberi nama Arunika atas usul Andra tersebut menjadi salah satu kelompok musik yang diperhitungkan di kota mereka tinggal, Jakarta. Pasalnya, dalam setiap festival band yang mereka ikuti, sematan sebagai grup musik terbaik sudah pasti menjadi milik mereka. Hingga sekarang, belum ada band yang mampu menyaingi pencapaian prestasi Arunika dalam merajai pentas panggung festival di Jakarta. Arunika sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang artinya adalah matahari. Andra ingin Arunika kelak dapat disejajarkan dengan matahari yang selalu menyinari bentala.  Selain soal kemampuan memainkan alat musik masing-masing personel, kecakapan fisik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pesona sebuah band. Karenanya, Andra dan Gilang selalu menjadi primadona di setiap penampilan mereka. Walau terkesan seram dan sangar, maskulinitas Gery pada tabuhan drumnya pun tak kalah diidolakan oleh banyak orang, hanya Denis yang diidolakan terbatas orang. Tapi bukan berarti Denis tak memiliki penggemar, Rere adalah salah satu penggemar setia Denis. Sejak awal mendirikan band, Rere memang cukup aktif mengikuti kegiatan Arunika. Selain karena satu kelas di sekolah, satu ektra kurikuler pula, ia sangat nyaman berada di dekat para personel Arunika, terutama Denis. Bagi Rere, keceriaan Denis menjadi keajaiban dunia kedelapan yang harus ditetapkan UNESCO. Meski begitu, mereka tak memiliki perasaan cinta, hanya rasa saling mengagumi dan membutuhkan sebagai seorang sahabat. Kedekatan Rere dengan para personel Arunika membuat Andra kemudian berpikir untuk menjadikan Rere sebagai manajer band mereka. Apalagi menghitung kesibukan band yang semakin meningkat, butuh adanya personel tambahan guna mengurus keperluan teknis di luar dari keperluan panggung. Rere setuju atas tawaran Andra, teman-teman personel lain pun sepakat untuk menjadikan Rere sebagai manajer. Tetapi ada hal lain yang kemudian menjadi perdebatan di antara mereka. Saat Rere datang, kejenuhan bermusik mulai menghampiri mereka. Kalau dipikir kembali, setahun bermusik, menjadi juara dalam berbagai festival band, dan terkadang mengisi panggung musik di berbagai tempat seperti cafe sebagai bintang tamu, belum membuat mereka semua puas. Pada sebuah kesempatan berkumpul di waktu luang, setelah mengisi acara pentas seni di sekolah lain, Gery juga Gilang agaknya kembali mempertanyakan mengenai impian awal mereka semua. Memiliki karya lagu. Bentuknya bisa bermacam, tapi jelas, keinginan sebuah band adalah album rekaman. Itu adalah hal yang selalu didambakan dalam karier bermusik seseorang. “Huahh, seru-seru penonton di sini, atraktif sekali mereka,” ujar Denis membawa bassnya menuju ruang tamu untuk band di belakang panggung. “Lumayan, lah!” balas Gilang singkat. Di ruang tunggu band, Rere sudah menunggu. Terdapat lima kursi dan sebuah meja kecil di dalam ruangan tersebut. Saat Arunika selesai manggung, Rere sebagai manajer harus menyiapkan kebutuhan mereka semua. Tidak terlalu merepotkan, biasanya Gilang, Gery dan Andra hanya minta disediakan air minum, baik itu teh hangat ataupun kopi hitam sebagai minuman favorit mereka semua. Hanya Denis yang agak merepotkan, ia selalu minta disediakan makanan, ketika selesai manggung. Beruntung hari ini tidak ada protes dari Denis mengenai sajian untuk mereka. “Re, gimana tadi penampilan kita?” tanya Denis pada Rere yang sedang termangu. “Ga nonton gue, daritadi di sini. Lagian bosan nonton kalian. Kalau dulu gue sebagai fans ya pasti sangat menanti penampilan kalian. Tapi sekarang, setiap ngejam kan gue selalu ikut, dan gue sudah paham lagu apa yang kalian bawa, penampilannya seperti apa, gayanya kayak gimana, udah ngerti deh.” Sedang membereskan alat musik yang dibawanya, Gilang menyela obrolan Denis dan Rere. “Sama kok Re. Lo yang nonton aja bisa bosan, gimana gue yang main,” tuturnya. Andra memalingkan wajah ke arah Gilang, begitupun dengan Gery. Denis hanya senyum-senyum mendengar sambutan temannya tersebut. “Maksud lo Lang?” telisik Andra. “Ya, gue ngerasa kita malah jalan di tempat. Banyak kemajuan dari segi popularitas sih, dari yang bukan siapa-siapa sekarang jadi dikenal. Tapi sebagai band, kualitas kita masih patut dipertanyakan.” Gery yang sudah selesai merapihkan segala perlengkapan musik seperti stik drum lalu duduk di kursi sebelah Denis, ia ikut pula menimpali perkataan Gilang. “Gue setuju sama Gilang, jujur gue juga mulai merasa jenuh. Ini bukan tentang kita secara personal ya, tapi tentang apa yang dulu pernah kita sepakati di awal pendirian band,” ucap Gery sambil menyeruput segelas kopi di meja, dan tak lupa menyalakan rokoknya. “Gue makin nggak ngerti,” ucap Andra lagi, kemudian ikut duduk. “Kenapa cuma gue yang ngerasa pinter di sini ya, Ndra. Mereka ini mau jalan-jalan, kan selama ini kita manggung banyak di dalam kota, jadi kayaknya hari minggu nanti kita harus keluar kota deh, biar pada ga boring,” seloroh Denis. Gery hanya mengernyitkan dahi mendengar perkataan bassistnya itu. “Bukan. Maksud gue, mungkin juga maksud Gery, kita butuh untuk ke tahap selanjutnya. Dulu pernah kan kita bicarakan di awal, kalau kita harus punya karya, bikin lagu sendiri, bahkan punya album rekaman,” Gilang menimpali. Sambil ia masih belum selesai membereskan set gitarnya. “Oh itu? Tadi gue juga kepikiran itu Lang. Cuma lupa diomongin,” kata Denis. “Itu artinya lo ga ngomongin Den,” gerutu Andra. Andra melanjutkan, “Soal rekaman ya? Ada beberapa hal yang sebenarnya gue pertimbangkan, pertama soal materi lagu, kedua soal kemampuan tembus label produser dan ketiga itu soal...” “Soal apa Ndra?” Gilang penasaran. “Soal keberadaan gue sebagai vokalis.” Keempat orang temannya kompak melihat ke arah Andra atas apa yang dikatakannya barusan.  Melihat ada salah tanggap dari teman-temannya, Andra buru-buru meluruskan. “Maksudnya, gue ngerasa untuk isi vokal sebatas Pensi atau festival band masih oke lah. Tapi kalau untuk rekaman dan ngejual di pasaran, suara gue kurang punya karakter. Gue mau kita ada pembenahan, cari vokalis baru yang punya suara lebih berkarakter dan komersil untuk dijual.” “Sepertinya baru lo doang Ndra. Personel band, vokalis pula, yang mau bergeser posisi karena merasa ga pantas,” Gery menyela. “Bukan ga pantas Ger, hanya gue sadar, kalau pun kita punya materi lagu bagus, aransemen musik yang bagus pula, tapi vokal ga cocok ngebawain dan ga punya karakter ya gue yakin, lagu itu cuma jadi sampah.” Mendengar alasan Andra, Gilang, Denis juga Gery akhirnya setuju untuk mencari vokalis baru. Tetapi belum ada gambaran di kepala mereka mengenai siapa yang akan mengisi posisi itu. Bagi mereka, Andra sudah menjadi pribadi paling tepat sebagai front man sebuah band. Saat mereka sedang berpikir mengenai pembahasan Andra dan kebutuhan akan sosok vokalis, Rere memberitahu jika salah satu band rival mereka kabarnya bubar. “Ehh, kalian sudah tahu kalau Armedio bubar?” suara Rere membuyarkan lamunan teman lainnya. “Armedio? Bandnya Ronald? Bubar kenapa? Padahal mereka salah satu band yang punya potensi lho,” Andra menanggapi Rere. “Mana gue tau Ndra. Tapi banyak yang bicarain, terutama fans mereka sih,” ucap Rere singkat. Ronald sendiri adalah salah satu personel band Armedio. Ronald adalah figur yang cukup dikenal di band Armedio karena ia supel saat bergaul dengan personel dari band lain. Denis yang sedari tadi serius berpikir mengenai keberadaan vokalis, tiba-tiba mengutarakan ide. Ia mendapat ide setelah mendengar bubarnya Armedio. Dalam pikirannya, Armedio adalah salah satu band yang memiliki kekuatan di vokalis. Bahkan kekuatannya cenderung tunggal, karena permainan musik mereka biasa saja sebenarnya. “Eh, Armedio bubar? Gimana kalau kita coba komunikasi sama Revan vokalis Armedio, buat isi vokal? Menurut gue sih ya, Revan punya suara yang berkarakter, range nada yang dia punya juga lebar, jarang ada vokalis dengan pesona kayak dia juga kan,” usul Denis. Gilang yang mendengar itu sontak menolaknya. Meski tidak terlalu dekat dengan Armedio, tapi Gilang sering mendengar tentang perilaku Revan terhadap para fans.  Belum lagi ulah Revan pada sesama personel lain yang menurutnya bisa sangat berpotensi menghancurkan band. “Nggak setuju gue. Kalau maksud lo tadi serius Den, gue benar-benar menolak kita ambil Revan. Sudah banyak cerita di luar sana soal Revan. Lo tahu kan, Ger? Apalagi lo cukup dekat sama Ronald, pasti dia sering cerita sama lo,” Gilang mencoba memastikan bahwa cerita itu benar pada Gery. Gilang memang dikenal sebagai anak yang baik di antara mereka semua. Ia seringkali menasehati para personel band lain untuk tidak larut dengan popularitas. Apalagi sampai mengecewakan fans dengan memainkan perasaan para penggemar perempuan. Sebagai band medioker Gilang sadar, Arunika bisa besar karena kehangatan yang terjalin antara para personel band dengan penggemar. Jika kemudian ada salah satu personel yang melanggar aturan tersebut, bukan tidak mungkin citra baik Arunika akan hancur lebur dan kelak ditinggalkan penggemar. Sebab musabab itu yang membuat Gilang menolak kehadiran Revan. Selama ini berdasar cerita beberapa orang, Revan memang memanfaatkan popularitasnya sebagai vokalis untuk menggaet para penggemar perempuan dan diajaknya berkencan barang semalam dua malam. Sebetulnya tidak hanya Revan yang berlaku seperti itu, di Armedio, hampir semua personel berkelakuan j*****m terhadap para penggemar perempuan, termasuk orang yang menyebarkan aib Revan, yakni Ronald. Mereka pun saling mengetahui kelakuan masing-masing personel, barangkali hal itu pula yang menghancurkan Armedio. “Pernah sih dia cerita, tapi ya gimana, Lang? Kalau gue dengar tentang seseorang dari orang lain, gue nggak akan percaya. Lagipula gue tau gimana Ronald juga. Sebelas dua belas lah sama yang diceritainnya. Tapi terserah, gue setuju saja kalau mau ambil Revan.” Andra hanya mendengarkan perdebatan itu, di satu sisi ia memang pernah mendengar selentingan kabar yang mengisyaratkan ketidakbaikan Revan terutama terhadap perempuan di lingkungan bermainnya. Tapi di sisi lain, gambaran vokalis yang menjual baik dari suara, tampilan fisik juga gaya di atas panggung, Revan memilikinya. “Ga ada salahnya dicoba deh Lang,” tutur Andra. “Kalau kemudian dia berulah dan membuat nama band kita buruk, ya tinggal keluarkan. Tapi yang jelas, di gambaran gue, Revan bakal cocok isi vokalis di band kita.” Gilang sadar bahwa ia kalah suara dan alibi untuk menghalangi kehadiran Revan. Mau tak mau ia pun menyetujui Revan mengisi posisi vokalis yang ditinggalkan Andra. “Oke lah, kalau diambil suara pun, gue akan kalah. Kita coba, tapi kalau dia berulah, gue sih akan ambil sikap, Ndra,” tegas Gilang, memicingkan mata, seakan mengancam teman-temannya. “Pasti, Lang. Gue pun akan ambil sikap tegas! Oh iya, dan gue mengusulkan supaya kita fokus sama materi lagu plus demo musik untuk diserahkan ke label, kita vakum dulu, ya empat atau enam bulan ini. Boleh lah ambil job, tapi yang ada bayarannya,” kelakar Andra disambut anggukan oleh teman-temanya. “Dan selama kita vakum, coba ada yang komunikasi sama pihak label produser, biar kalau nanti demo sudah jadi, kita minimal sudah ada gambaran akan dibawa kemana hasil demonya,” Gilang kembali menambahkan. Rere lalu berdiri dari kursinya, ia berkacak pinggang, terpejam dan berseru penuh kebanggaan. “Kalian jangan khawatir. Urusan produser, serahkan sama manajer kalian yang cantik ini.” “Woooo!!!” sorak yang lainnya serentak. “Ehhh, gue serius!!” Rere menunjuk satu persatu wajah teman yang menyorakinya. “Paman gue itu produser di Swara Record. Bukan paman gue sih, dia paman sahabat gue. Tapi udah gue anggap paman sendiri kok, kita sering ke kantornya malah.” “Dia anggap lo keponakan ga, Re?” Denis meledek. Rere duduk dengan penuh kepercayaan diri yang barangkali sebentar lagi akan meledak. “Kalau soal itu gue kurang tahu ya Den. Tapi gue yakin, pasti dianggap ponakan lah, masa anak sekece gue gini ga ada yang mau anggap saudara?” Tak ingin menghabiskan waktu, Andra berdiri dari kursi lalu melangkah keluar ruangan, disusul Gery, Gilang dan Denis juga melakukan hal yang sama. Rere hanya memperhatikan mereka satu persatu keluar ruangan. Merasa kesal tak dianggap, Rere menimpuk pintu yang ditutup Gilang dengan botol air mineral. Gery memberi semangat pada Rere agar jangan menyerah semudah itu, setelah itu ia pun ikuti jejak temannya keluar dari ruangan. Rere terpaku sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD