KESAN PERTAMA, AROGAN

1320 Words
Masa vakum band benar-benar dimanfaatkan oleh para personel Arunika band untuk menyusun komposisi lagu. Beberapa lirik datang dari Andra dan Gilang, pun dengan aransemen musik. Meski begitu bukan berarti Denis serta Gery tak melakukan apa-apa. Mereka juga turut menyumbangkan komposisi musik untuk disajikan dalam lagu. Ada beberapa lagu yang menurut beberapa orang setelah mendengarnya, sangat baik dalam lirik tetapi kurang tegas dalam komposisi lagu. Sebaliknya ada yang sangat enak didengar, tetapi penyampaian liriknya kurang kuat. Namun ada dua karya menurut mereka yang mendengar, sangat bagus dari segi lagu maupun penyampaian lirik. Kedua lagu itu sudah jadi dalam bentuk akustik. Rencananya memang salah satu lagu yang berjudul Malaikat Tak Bersayap hanya akan dibawakan secara akustik melalui iringan gitar serta bass dan menambah sedikit sentuhan string section di beberapa bagian. Sedangkan satu lagu lagi yang berjudul Made in Indonesia akan dibawakan secara penuh dalam format band.   Sementara para personel Arunika sibuk berjibaku dengan materi lagu. Rere sebagai manajer band ditugaskan untuk menjalin komunikasi yang intens dengan produser musik dan Revan, calon vokalis baru yang kelak mengisi posisi Andra. Untuk tugas yang terakhir, agaknya sulit bagi Rere meyakinkan Revan agar mau bergabung dengan Arunika. Ada benarnya prasangka awal Gilang mengenai karakter Revan. Sejak pertama kali Rere menghubungi atas nama band, Revan selalu mengulur waktu untuk bertemu. Banyak alibi disampaikannya, termasuk menyampaikan keinginan bahwa dirinya hendak bersolo karier. Rere sempat merasa kesal dengan Revan, tetapi Andra terus meyakinkan agar tabah dalam melakukan pendekatan. Dan hari ini upaya Rere terbayar. Revan setuju untuk bertemu di sebuah cafe di kawasan selatan Jakarta. Cafe ini adalah tempat biasa Arunika mengambil job manggung jika akhir pekan tiba. Tak heran tempat ini dijadikan lokasi favorit para personel Arunika untuk berkumpul meski tidak ada jadwal manggung di sini. Terlebih Rere dan Andra yang mengenal pemilik cafe ini. Tetapi bukan persoalan sudah mengenal pemilik, lantas cafe ini dijadikan tempat favorit. Memang lokasinya strategis, selain itu, cafe yang dinamai Imaji Cafe ini sangat cozy sebagai tempat melepas penat. Jika di lantai bawah ada latar kecil tempat untuk menyaksikan live music setiap akhir pekan. Pemandangan berbeda justru terlihat di lantai atas, lantai dua. Di sana tidak ada sama sekali hal berbau musik terlihat, yang ada hanyalah tumpukan buku-buku di rak, mereka berjajar rapi. Kursinya juga berbeda dari lantai bawah, kalau di bawah kursi untuk perorangan dan terbuat dari kayu, di lantai dua tidak ada kursi kayu. Yang ada adalah sofa empuk beralaskan karpet bermacam warna. Menurut sang pemilik, Giska, tidak semua orang datang ke cafe untuk mendengarkan musik dan suka dengan hentakan musik. Ada sebagian orang yang datang ke cafe untuk mencari ketenangan. Dan Imaji Cafe berusaha memenuhi keinginan orang-orang tersebut, orang yang datang mencari ketenangan di cafe. Di lantai dua pula, musik dari lantai satu bahkan tidak terdengar, kecuali jika jendela dibuka. Begitulah hingga anak-anak muda yang hidup dalam dua alam, kebisingan dan kesunyian seperti para personel Arunika band memfavoritkan tempat ini. Terutama Andra yang sangat terkesan dengan desain interior serta fasilitas yang ada di cafe ini. mulai dari buku-buku langka dari berbagai negara, wifi connection, set alat musik, sampai kenyamanan yang disajikan melalui tempat duduk seperti sofa empuk di lantai dua. Bukan itu saja sebenarnya, tanpa sepengetahuan yang lain, Andra sebenarnya menjalin kasih dengan Giska, si pemilik cafe. Karenanya ketika Rere mengatakan sudah setuju untuk janji bertemu dengan Revan di Imaji Cafe, Andra memaksa ikut. Pada akhirnya,  Rere pun datang bersama Andra, berdua saja. Sudah kurang lebih sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan, Revan belum menampakkan batang hidungnya. Di lantai dua Imaji Cafe, Andra sudah merasa bosan menunggu, apalagi Giska baru datang ke cafe sore nanti karena harus menemani ibunya di rumah. Memutar pandangan ke arah jam tangan berkali-kali adalah kebiasaan Andra 10 menit terakhir ini, menandakan ia sudah bosan. Namun, Raut bosan tidak ditampakkan oleh Rere yang sibuk memainkan handphonenya sambil tetawa-tertiwi entah apa penyebabnya. Cukup menguras kesabaran, Andra meminta Rere untuk kembali menghubungi Revan, mengingatkan jika mereka ada janji bertemu hari ini. “Re, coba kontak Revan lagi. Sudah sepuluh menit lebih dari jam tiga sore, dia belum muncul juga.” Rere melihat ke arah jam tangannya, memastikan pukul berapa sekarang. “Alaah, baru sepuluh menit terlambat, Ndra!” katanya. “Biasa lah anak band kan, waktu kayak karet, bisa ditarik sampai melar semaunya.” “Iya, tapi kalau di band kita, persoalan jadwal dan disiplin waktu itu penting. Gue nggak mau, belum apa-apa Gilang ngeributin Revan karena persoalan terlambat datang latihan. Selama ini juga Gilang kan banyak menggerutu sama gue soal keterlambatan Gery. Tapi masih bisa ditolerir lah, karena Gery selalu kasih kabar kalau dia telat. Nah sekarang? Gue nggak tahu gimana Revan.” “Iya, iya, sebentar ya Ndra,” Rere mengalah, ia mengangkat handphonenya dan mencoba mencari nomor telfon Revan. Sementara Rere berkutat menghubungi Revan, Andra sibuk memperhatikan sekitar dan lantai bawah melalui kaca jendela tempat mereka duduk. Semilir angin berhembus begitu perlahan melalui sela jendela. Beberapa jam menuju senja, manusia sudah hilir mudik berangsur ke hariba. Pemandangan yang tak menenangkan, Andra menutup jendela dan mulai mencari ketenangan lain di dalam ruangan cafe. Menempelkan handphone ke telinga, hanya nada sambung yang didengar oleh Rere. Revan tidak mengangkat telfonnya. “Ndra, sudah gue coba berkali telfon gak diangkat. Sedang di jalan mungkin.” “Huffttt,” Andra mendenguskan nafas sejenak mendengar kabar itu. “Kalau 30 menit lagi dia gak datang, kita pergi Re!” ujarnya kesal. “Dan batalkan saja rencana rekrut dia jadi vokalis!” Rere tidak menjawab, ia hanya menggumam perlahan, menyatakan kesetujuannya. Andra pun mengalihkan fokus pada kopi gayo hitam pekat di depan meja. Sengaja ia tak taburkan gula ke dalam kopi. Andra memang lebih menyukai rasa alami kopi yang pahit tanpa bantuan pemanis. Baginya jika kopi sudah dicampur pemanis, kejernihan rasa kopi akan terganggu. Lima menit berselang, di pelataran parkiran kendaraan deru suara motor besar 250cc terdengar. Motor itu memainkan gas yang menggebu berkali-kali sebelum mesin dimatikan. Terlihat pria menggunakan helm sport full face dan jaket kulit hitam yang berboncengan dengan seorang perempuan turun dari motor itu. Gaya berpakaian si perempuan tak lebih necis dari gaya berpakaian si pria. Si perempuan menggunakan pula helm sport full face dipadukan dengan jaket kulit hitam. Tetapi yang paling mencolok dari si perempuan adalah boot selutut bercorak coklat tua. Pria itu yang sejak tadi ditunggu oleh Andra juga Rere, ia adalah Revan. Tetapi deru suara motor besar yang begitu kencang tak didengarkan Andra karena jendela kaca, media suara menelusup ke lantai dua sudah ia tutup. Andra dan Rere pun sedang fokus memperbincangkan beberapa hal. Sehingga tak sadar bahkan ketika Revan sudah berada di depan meja mereka. Bergandengan tangan dengan perempuan yang diboncengnya barusan. Ketika tersadar, tatapan Andra juga Rere seolah menghakimi tangan Revan yang terus menggandeng perempuan tersebut. Tampak tak ingin melepaskan diri, sebuah kecupan manja malah bersarang di pipi Revan dari si perempuan. Kecupan itu bersusulan dengan sandaran kepala ke bahu Revan yang masih saja berdiri di depan Andra juga Rere. Mereka terpaku dengan pemandangan, betapa pasangan ini mengesalkan, tidak tahu tempat dan cermin dari pergaulan yang selalu mencari perhatian dari orang lain. Perempuan itu memang cantik. Tetapi pembawaan liarnya tak bisa tertutupi hanya dengan syal yang tampak menghalangi sebagian leher serta jaket kulit tebal yang ia gunakan. Perempuan itu kemudian menjulurkan tangan, mengajak Rere serta Andra berkenalan. Padahal tamu sesungguhnya, Revan, belum beruar kata sejak tadi. “Halo, temannya pacar gue ya? Kenalin, gue Siska, pacarnya Revan,” memberikan tangannya kepada Andra terus menggerakkan pinggul ke kiri kanan, tetapi tangan kanan masih menggelayut manja di lengan Revan. Andra yang kaget, tidak langsung menerima salam perkenalan itu. Ia masih menelisik ke dalam pikirannya, tentang apa yang kemudian orang-orang pernah katakan tentang Revan. Andra terlihat memicingkan ekor matanya ke arah Revan yang masih santai berdiri di samping Siska. Revan memang tampan, dengan jaket kulit hitam dan sarung tangan yang masih melekat di jemarinya, menambah kesan maskulinitas yang dimiliki seorang pria seperti Revan. Tidak salah Andra dan beberapa temannya kecuali Gilang menginginkan Revan sebagai vokalis Arunika.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD