KESAN KEDUA, MENJADI KENYATAAN

1800 Words
Sore itu memang Revan kadung gagah sebagai pria. Rasanya tak ada perempuan yang akan menghindar jika diberi kesempatan memandangi wajahnya. Hidung bangir dengan kedalaman telaga matanya menambah tajam kesan kejantanan makhluk Tuhan. Rambut yang tertata rapi dengan potongan ala Matt Damon membuat siapapun yang melihat akan terbius barang sesaat, merindu, lalu mencandu. Revan menghadirkan simfoni tersendiri bagi pesona seorang musisi, ada kharisma yang terpancar meski ia tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah vokalis band. Andra berani bertaruh, dengan atau tanpa band, Revan bisa saja menjadi bintang dengan modal rupa yang dimilikinya. Tetapi, Siska yang berada di samping Revan agaknya mengganggu kesan pertama Andra saat bertemu dengan calon vokalisnya tersebut. Air muka Siska pun berubah, bibirnya ditekuk, tetapi senyum sungging masih meletup dari sedikit garis bibirnya seiring tidak mendapat tanggapan atas juluran perkenalannya kepada Andra. Menyadari suasana yang semakin tak enak, Rere berinisiatif mengambil tangan Siska terlebih dahulu daripada Andra. Rere tak ingin pertemuan perdana Revan dengannya sebagai manajer Arunika terganggu atas kecanggungan semacam itu. “Halo, gue Rere!” menggamit uluran tangan Siska, cepat. Siska langsung menarik tangannya, tak kalah cepat dari gamitan yang dilakukan Rere sebelumnya. “Iiihh, kamu nanti dulu kenalannya,” lalu menyeka telapak tangan seolah baru saja terkena getah busuk yang bisa mencemari keindahan jemari Siska. Rere pun salah tingkah, baru kali ini ia merasa kesal bertemu dengan orang baru yang tak tahu adab. Kekakuan itu kemudian mencair setelah Andra menjulurkan tangan kembali. Mengajak Siska berkenalan. “Aduh mau sampai kapan ritual kayak gini dilakuin? Gue masih sebagai tamu kan? Ga diizinin duduk?” Revan menyela upaya Andra mencairkan suasana. “Eh, eh, silahkan duduk,” ucap Rere. Saat Siska hendak mendudukkan diri di sebelah Rere. Revan langsung menarik Siska. “Huuuss, sayaangg.. Wait!!! Kamu sebentar di meja sebelah ya!” tunjuk Revan mengarah pada meja terdekat. “Lho kenapa?” Siska penasaran. “Nothing happen. This is a personally conversations. Not for you,” tegas Revan. Dengan wajah muram, Siska perlahan beranjak ke meja yang ditunjuk Revan. Walau kesal, ia harus menuruti apa yang dikatakan Revan. Jika tidak, ia tahu akibatnya.  Berjingkat beberapa langkah dan melihat Siska telah duduk di meja yang dikehendaki, Revan pun duduk tanpa dipersilahkan kembali. Ia mengambil tempat di sebelah Andra, berhadapan dengan Rere. Tanpa berbasa-basi lagi, apalagi mencoba mengenalkan diri kembali, Revan langsung menuju ke sasaran pembicaraan. “Jadi kenapa harus gue yang didesak jadi vokalis band, apa namanya?” seloroh Revan berpikir. “Arunika,” spontan Andra menjawab. “Ah, iya itu,” ujar Revan kembali. Ia pun sejenak memperhatikan Andra yang berada di sampingnya. Agaknya merasa asing dengan keberadaan Andra. “Sorry, anda masuk dalam agenda pembicaraan kita?” tukas Revan menelisik kehadiran Andra. Andra membalas tatapan mata Revan tak kalah memicing. “Revan, kenalkan ini Andra, gitaris sekaligus vokalis dari Arunika sebelumnya,” Rere tersenyum kecut mengatakan itu. Kekakuan semakin saja terjadi. Alih-alih gunung es itu mencair, justru semakin memadat di pinggirnya. Menambah dingin komunikasi yang coba dijalin. Rere tak mampu membayangkan, apa jadinya jika Revan bergumul bersama Gilang, Gery atau Denis. Terutama Gilang, sampai pada tahap ini, apa yang dikhawatirkannya mengenai karakter Revan tampak benar. Revan memang angkuh, arogan, dan semaunya sendiri. Tak heran personifikasi itu yang terbentuk. Sejak kecil, Revan memang dibesarkan dari keluarga kaya raya. Ia tidak perlu bersusah payah untuk merajut masa depan dan segala kebutuhan. Revan tercukupi luar dalam. Tetapi dari segala kecukupan itu, tiada empati terbangun. Hal paling menjemukan dari Revan adalah arogansi kesombongannya. Di Armedio, kesombongan Revan itu dimanfaatkan dengan baik oleh kawan-kawannya sesama personel. Mereka selalu membawa Revan terbang di atas angin. Dan untuk membawanya terbang, tentu ada harga yang harus dibayarkan Revan, harga itu tak seberapa dibanding memuaskan dahaga keangkuhannya sebagai anak manusia. “Oh, sorry, gue baru tahu. Lagipula sejak tadi kita belum kenalan. Kalau sama Rere, minimal gue sudah pernah komunikasi via handphone kan,” ujar Revan kepada Andra. “Oh ya? Gue sampai lupa kita belum saling kenal. Karena sibuk hadapi pacar lo tadi itu, gue sampai lupa,” Andra menyindir. “Gue Andra.” Kali ini tidak ada juluran tangan, hanya penyampaian melalui kata-kata dan dua alis yang setengah terangkat. “Gue Revan,” sambut Revan tak kalah dingin. “Di sini boleh merokok kan?” tanyanya lagi. Andra bereaksi dengan membuka jendela kaca dan memintakan asbak penyanggah rokok kepada pelayan cafe lalu meletakkannya ke hadapan Revan. Menyalakan sebatang rokok, Revan beringsut kembali. “Jadi bagaimana? Apa yang bisa gue dapat kalau bergabung dengan band kalian?” Andra pun mengarahkan matanya ke arah Rere. Memberi kode agar Rere saja yang menjelaskan. Pertemuan perdana dengan Revan ini agaknya sudah mulai menjemukan bagi Andra. Rere paham tanda yang diberikan Andra, tanpa menunggu waktu ia mulai menggumuli jawaban dari apa yang dipertanyakan Revan. “Oke. Pertama gue tekankan, Arunika itu band yang dibuat dari nol, sangat dari nol. Kita tidak punya modal apapun, apalagi kalau kemudian lo sampai minta bayaran buat jadi vokalis di band ini. Kita nggak mampu. Jadi lo nggak akan dapat uang dari band ini, ya minimal dalam waktu dekat.” Apa yang dikatakan Rere menjadikan wajah Andra dan Revan berangsur serius. Tidak seperti tadi yang terkesan santai. Tetapi, wajah seriusnya berselimut ketersinggungan. Revan merasa direndahkan karena menyebut persoalan bayar membayar, ia pun ketus menanggapi perkataan Rere. Sehabis menghisap rokok di jemarinya, ia menunjuk wajah Rere. “Lo nuduh gue minta bayaran? Ciihh, kalau perlu gue yang bayar kalian buat jadi pengiring musik di proyek solo gue.” Tunjukkan tangan Revan disingkirkan oleh Andra. “Hey, hey. Santai bro!” “Gue nggak suka direndahin gini ya,” nada bicara Revan meninggi. “Guee....” Belum selesai Rere berbicara, Andra memotong. “Sudah Re, biar gue yang jelaskan.” Kepulan asap dari bibir Revan semakin menebal. Mengisi ruangan, seakan enggan beranjak keluar. Siska yang duduk di meja sebelah mendengus, terpancing hembusan asap yang kian pekat. Sesekali asap itu dijadikannya pelipur lara agar sejenak menoleh ke arah meja Revan dan Andra serta Rere. Pembicaraan masih terjadi di sana, tampak ada sedikit ketegangan. Siska hanya bisa meremasi jemari tangannya, cemas menunggui waktu yang semakin mendebur batas kepala. Kembali ke Andra, ia menjelaskan tentang maksud Rere yang menurut Revan telah merendahkannya. “Bukan begitu, bro. Santai dan dengar ya. Maksud Rere tadi, dia mau kasih lo kenyataan, kalau kita memang bukan band tajir seperti Armedio. Jadi kita ga bisa kasih fasilitas macam-macam. Latihan pun kita masih patungan buat bayar sewa studio. Gue harap sih lo bisa beradaptasi dengan kondisi begitu.” Penjelasan Andra tampak sedikit tidak didengar oleh Revan. Ia malah sibuk mencuri pandang ke arah Siska, sesekali ke arah bartender cafe, dan meja lain yang tampak kosong. “Lo dengar gue?” tekan Andra, sebal. “Dengar! Lo lanjut saja bicaranya, nanti kalau gue berkeberatan, gue akan bicara.” Sekali lagi Andra memandangi Rere. Ia hanya menggelengkan kepala saat Andra melihat. Rere pun bersandar, merebahkan kepala ke belakang sofa, menyilangkan tangan. Enggan menanggapi lagi setiap kata yang diucapkan Revan. Andra kemudian mengambil alih kemudi pembicaraan. “Oke gue lanjut. Lo perlu tahu kalau Arunika nggak akan lagi ambil panggung festival. Kita akan fokus garap lagu untuk diserahkan ke major record tapi sesekali, kita ambil panggung job yang ada bayarannya. Hitung-hitung buat biayai rekaman.” Pandangan Revan kali ini tertuju pada Andra, ketika Andra berujar mengenai rekaman. Hal itu yang memang diharapkan Revan, bahkan sejak ia bersama Ronald membentuk Armedio. Belakangan, persoalan tidak bisa menciptakan lagu menjadi salah satu alasan yang membuat Revan enggan lagi berada di Armedio. Karena itu pula, ketika Rere menawarkan bergabung di Arunika, Revan tidak langsung menanggapi, tetapi ketika Rere menyinggung keinginan Arunika mengenai dunia rekaman dan terjun ke industri musik, Revan berusaha untuk tertarik. “Mmm. Oke, untuk persoalan rekaman dan nggak ambil panggung festival, gue sepakat. Persoalan ambil job manggung di cafe itu bagaimana?” Kali ini, tidak ada nada keangkuhan yang diucapkannya, tidak pula merendahkan. Air muka Revan berubah, Andra pun menemukan kesamaan yang bisa menjadi pembuka pintu bergabungnya Revan ke Arunika, yakni keinginan untuk masuk industri musik profesional. “Ya kita butuh dana besar untuk bikin demo lagu kan? Kalau nggak punya biaya rasanya sulit. Dan kita masih punya kontrak untuk isi live music setiap akhir pekan.” “Gue yang biayain rekamannya dan ga perlu ambil job di cafe,” potong Revan. Dengan segala ambisi yang dipunyainya, Revan rela mengorbankan apapun untuk menuntaskan ambisinya itu. Revan kini berjubah seperti seekor Hyena, yang demi menjadikan perut kenyang, ia tak ragu memakan daging segar dari kelompoknya. Andra tak melihat itu keuntungan, meski Rere mulai mengembangkan senyum ketika Revan menawarkan biaya untuk rekaman. Bagi Andra, apa yang Revan tawarkan justru membahayakan. Bukan hanya bagi Arunika, tetapi juga bagi Revan sendiri nantinya. “Nggak bisa!! Soal biaya sudah jadi kesepakatan untuk kita tanggung bersama. Kalau cuma lo yang tanggung biayanya, nanti kita kehilangan tanggung jawab. Itu nggak baik untuk band.” Revan menanggapi ringan. Kembali ia membakar sebatang rokok. Menemani pembicaraan. “Baik, baik kalau begitu. Jadi gue harus ikut ambil job manggung di cafe juga? Sepakat. Kalau boleh tahu, cafe mana?” “Di cafe ini. Setiap sabtu dan minggu, kita hanya bawain 7 lagu untuk satu sesi penampilan. Dan jadwal kita latihan itu Kamis malam sama Jumat malam, jam 7 di Symphoni Studio Music. Ada lagi yang mau ditanyakan?” “Soal materi lagu buat rekaman, gimana? Gue harus dengar dulu, cocok atau nggak sama suara gue,” antusiasme Revan kembali tertuju pada persoalan rekaman. “Materi lagu lagi kita susun bareng-bareng. Sudah jadi utuh sekitar 5 lagu. Tinggal dimatangkan di musiknya. Hari Kamis malam itu waktunya kita bahas lagu produksi sendiri. Nanti lo bisa dengar di sana. Dan Jumat malam, waktunya kita bahas job manggung, lagu apa yang bakal dibawain.” “Oke gue rasa jelas semuanya. Gue coba untuk gabung. Dan Kamis malam berarti gue langsung ke studio,” ucap Revan. Andra mengangguk perlahan, mengiyakan tanpa kata. Revan lantas melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 5 sore rupanya. Tidak ada lagi tanggapan dan pembicaraan yang penting ia ketahui. Revan pun meminta izin beranjak pergi dari tempat itu. Selain meminta izin, ia tak lupa meminta maaf kepada Rere atas perkataan sebelumnya. Bukan hanya perkataan, tetapi juga nada tinggi yang dilontarkannya.  “Sudah sore, gue izin cabut duluan ya. Oh iya, Rere, sorry kalau tadi gue kedengaran sedikit keras sama lo. Ga ada maksud. Begitulah gue. Gue ingin kita semua bisa kerjasama dengan baik.” “Its ok. No problem buddy!” jawab Rere santai. “Oke kalau begitu. Gue rasa nggak ada lagi yang perlu dibahas. Hari Kamis malam kita ketemu lagi ya!” Kali ini salam perpisahan yang cukup hangat memberikan kesan lain dari pertemuan Revan dengan Andra dan Rere sore itu. Ia mengulurkan tangan pertanda setuju atas semua hal yang dibicarakan dan beranjak pergi dari kursi. Andra menanggapi, Rere pun demikian. Awal baru telah dimulai sejak saat itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD