Aku tidak akan pernah menyangka (jika saja aku tidak masuk ke sini) akan selamat natal di sini. Tanpa Emma teman baik dan sudah seperti saudara juga keluargaku. Hanya dia yang selalu ada saat natal dan pagi hadir. Sial. Aku jadi rindu pada dia. Bolehkah sekali saja aku pulang sebentar untuk menemuinya dan berbicara tentang isi gedung ini? Dan kembali lagi dalam dua jam. Tapi sepertinya tidak bisa.
Tentu saja. Sungguh tidak bisa.
Peraturannya sudah sangat ketat. Sudah sejak awal di buka dan terima siswa peraturannya seperti itu.
Mungkin saja agar orang yang hanya mencoba- coba masuk ke sini bisa masuk tapi orang itu berjiwa pencuri, tentu saja mereka akan keluar dari sini seenaknya setelah mengambil semua yang ada di dalam gedung ini. Buruk juga jika peraturan itu di hilangkan.
Tapi aku ingin tau dan penasaran siapa dan untuk apa alasan membuat peraturan seperti sudah bisa masuk kesini tapi tidak bisa keluar? Keterlaluan memang tapi mungkin untuk mengatasi agar tidak sembarang orang yang bisa masuk dan keluar seenaknya.
Aku sekarang sedang bersama siswa lain di dalam aula. Bergotong royong menghias aula ini, ah tidak hanya mereka yang bergotong royong menjadikan aula penuh dengan pernak- pernik dan hiasan natal. Pohon natal cukup besar sudah ada di tengah aula sejak aku datang kesini. Dan yang aku lakukan hanya diam. Hanya diam sendiri. Dan tersenyum tipis jika ada yang menyapaku.
Entahlah rasanya aneh saja. Tanpa Emma. Dengan teman baru.
Biasanya setiap tanggal 23 Desember seperti sekarang aku dan Emma pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan atau membeli kado untuk di tukarkan ke orang yang di sayangi.
Kali ini sangat berbeda. Tentu saja, tidak dapat keluar dari gedung sebentar hanya untuk hadiah natal untuk bertukar dengan teman- teman lainnya. Tidak ada belanja, tidak ada kado dan tidak ada ... Emma.
Aku tidak menyesal bisa masuk kesini jika kau bertanya. Aku bisa mendapat teman baru di sini. Arga dan Joseph contohnya. Sesungguhnya aku jarang sekali berbicara dengan mereka. Aku hanya lebih banyak diam mendengarkan dan merekalah yang mendominasi pembicaraan. Aku sangatlah pasif jika berbincang. Ku harap itu bisa berubah saat aku sudah lama berada di sini.
Tapi aku berhasil mencapai kemajuan untukku sendiri. Aku bisa bicara 10 kalimat lebih di depan mereka. Para anggota di sini maksudku.
Mereka cukup ramah. Tapi ada juga yang menatapku remeh. Entahlah. Karakter orang berbeda 'kan? Aku tidak setuju jika mereka semua harus ramah padaku. Itu terserah mereka. Aku juga tidak begitu peduli terhadap anggapan mereka.
"Siap dengan suasana natal baru?"
Ah itu Joseph. Dia memang sangat banyak bicara, usil dan banyak tingkah.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Joseph.
"Josh, bantu aku sebelah sini." Teriak seseorang di depan sana.
Itu Gracilda. Perempuan cantik dan ramah. Dia selalu menganggap semua orang teman. Banyak yang menyukainya. Dia membuat orang lain yang di dekatnya nyaman.
Joseph dapat pandai dalam bergaul. Tidak seperti aku.
Aku mengangguk ke arah Joseph yang menatapku dengan tatapan bertanya 'bolehkah?'
Joseph berlalu. Sekarang giliran Arga yang mendekatiku seraya tersenyum manis.
"Akhirnya anak pergi juga," katanya setelah cukup dekat denganku.
Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. Dia bersandar di tembok di sebelah meja yang sedang aku duduki. Aku menaikkan alisku menatapnya.
"Sedari tadi aku memperhatikanmu. Dan kau tau? Saat aku akan beranjak mendekatimu dialah yang duluan sampai." Dia menarik nafas berat karena kesal mungkin
"Oh ya?" Kataku akhirnya, "Kenapa?" Sambungku
"Kenapa apa?" Kali ini dia yang bertanya.
Aku bingung, kenapa berbincang dengan Arga cukup membuatku agak kesal karena harus mengulang dan menjelaskan maksud dari pembicaraanku.
"Kau? Kau memperhatikanku? Kenapa?"
Dia terkejut awalnya. Terlihat dari bahunya yang menegang sebentar. Tapi sedetik kemudian bahunya turun dan dia menatapku. Tersenyum lagi.
"Apakah aku bilang aku memperhatikanmu?"
Aku benar-benar jika kesal diperbolehkan.
Dia pandai membalikkan pertanyaan.
"Ya kau baru saja mengatakannya."
Aku memalingkan pandanganku. Agar tidak lebih kesal lagi.
"Oh ya?" Tanyanya dengan nada yang menyebalkan
Benar- benar menyebalkan bukan?
"Kenapa kau bisa berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan?" Tanyaku karena sudah cukup kesal karenanya.
"Kalimat yang bagus." katanya menatap kedepan
Aku mendengus kecil
"Ah kau menyebalkan."
"Aku akan bersikap menyebalkan kepada orang yang aku suka." Gumamnya.
"Ah tidak. Tidak. Kau salah dengarnya." Katanya cepat
"Kau tak membantu yang lain Ra?"
"Aku ingin. Tapi tak ada yang bisa kulakukan."
Aku menjawab cukup pelan.
Tidak ada yang membutuhkanku. Atau mereka menerima sungkan mengajakku membantu mereka semua. Hampir dari mereka semua menatapku dengan tatapan sungkan dan hampir tidak ada yang menatapku.
Dan sepertinya mereka tau aku yang suka sendiri.
"Ada yang bisa kau lakukan," katanya
Sedetik kemudian dia menarikku ke pintu keluar aula.
"Apa yang bisa aku bantu di sini, Arga?" Kataku setelah aku dan dia sampai di ruang latihan duel
"Membantuku?" Itu bukan pertanyaan tapi pertanyaan
"Untuk?"
Aku masih belum paham dengan maksudnya yang mengajakku ke sini.
"Bertarunglah denganku Ra. Ayo."
Katanya.
Aku sedikit terkejut. Dia mengajakku berduel? Untuk apa?
"A .. apa?"
Dia mulai membuka bajunya. Dia hanya memakai kaos dalaman polos berwarna hitam. Apa aku harus menganti bajuku juga?
Aku memakai pakaian seragam sehari-hari sekolah ini. Baju dengan rompi di lengkapi dengan kantong- kantong kecil misterius. Celana yang sebenarnya cukup kebesaran di bagian paha ke bawah. Tidak lupa di sertai dengan kantong kecil. Sebenarnya ini terlalu berat untuk pertarungan. Jadi aku diam sendiri.
"Kudengar kau mengalahkan Gracilda kemarin di latihan duel?"
Ucapan Arga cukup membuatku tersentak dari lamunanku. Tapi tidak sampai membuatku melonjak kaget.
Oh, ya. Dan aku lupa. Aku mengalahkannya dengan akhiran bantingan yang berhasil membuat Gracilda tidak bisa bangun lagi. Maksudku bukan pingsan.Hanya tidak bisa bangun untuk bertarung dan melawanku lagi.
"Kau tau? Gracilda yang memegang sabuk hitam di karate. Sekalipun laki-laki yang mengalahkan dia aku akan sangat terkejut .." Katanya terpotong helaan nafas, "Tambahan lagi kau .. kau adalah siswa baru, di sekolah ini."
Ya Siswa baru. Aku Siswa. Baru
"Bagaimana bisa aku tidak terkejut?"
Aku menaikkan bahuku tanda tidak tau kenapa mesti ada kejadian seperti itu.
Aku berdeham dan mulai membuka rompiku dan mulai naik ke ring duel setelah Arga sudah melakukan pemanasan di atas sana. Aku memang tidak bisa banyak bicara seperti yang lainnya. Tapi aku lebih suka banyak bertindak. So? Lihat saja. Arga Smith.
Siapa yang akan menang dan kalah seperti Gracilda kemarin.
Kau? atau Aku?
Dan pertarungan pun di mulai.