Sudah aku ketahui dan yakini. Bahwa gadis itu memiliki daya tarik tertentu. Dia memiliki sejuta kejutan di balik sikap pendiam di dalam dirinya. Dia memiliki jiwa yang bebas di dalam setiap geraknya. Hanya saja dia tidak tau bagaimana harus mengekspresikan kebebasannya itu.
"Clayer." Aku bergumam sembari tersenyum tipis melihat dia.
Aku kini sedang memperhatikan apa yang dilakukannya. Dia sedang memegang busur panah dan pasangannya di ujung lapangan. Dia membidik dengan matanya dan bidikannya sangat pas dan akurat. Yang aku kira itu hanya kebetulan. Tapi sepertinya Arga kembali menyuruhnya untuk mencoba melakukannya lagi. Dan yap. Sudah ada tiga anak panah sudah mendarat tertancap tepat di lingkaran merah bagian tengah sasaran lima belas meter dari tempatnya berdiri. Mengagumkan.
Sangat luar biasa. Aku sampai menggelengkan kepalaku beberapa kali untuk meyakinkan jika ini nyata. Karena jika tidak nyata, mungkin ini akan menjadi mimpi terbaikku selama ini. Oh astaga aku tidak salah memasukkannya ke sekolah ini. Dia sangat berbakat. Sangat. Berbakat. Mungkin aku harus menekankan itu.
Aku rasa dia akan menjadi partner yang baik untuk Arga dan ketujuh temannya. Mengagumkan. Aku tersenyum dan berjalan menuju kantorku. Senyumku mungkin tidak akan luntur sampai aku melihat hal yang kurang menarik nantinya.
Aku kembali ke kantorku. Ah tentu saja bukan kantor yang waktu itu Sara dan Arga masuki. Tapi kali ini aku ada di kantor reparasi. Ya reparasi. Aku sering membuat dan menyetel beberapa barang dan alat di ruangan ini. Mencoba dan mencoba. Hingga akhirnya mendapat alat yang bisa dipakai disini. Seperti alat- alat sebelumnya.
Alat-alat yang aku ciptakan memang tidak pernah membuatku kecewa. Bahkan banyak anak didik ku yang ingin ku ajari cara membuat alat- alat menakjubkan seperti di sini. Mereka biasanya memiliki keinginan yang tinggi untuk membuat sesuatu yang berguna. Bahkan sangat berguna.
Aku hanya mengajarkan teknik kecil dan teknik dasar kepada mereka. Bukan aku yang pelit akan yang namanya ilmu. Tapi biasanya mereka mengandalkan hal dasar untuk menjadikan alat itu berguna. Mereka biasanya mengotak- atik bahan dasar untuk dijadikan beberapa alat yang luar biasa dan dapat digunakan untuk di sini atau bahkan ada yang bisa digunakan untuk misi diluar sana.
Tapi mereka tentu saja membuat hal yang sangat unik dan sudah bisa digunakan. Beberapa dari mereka membuatku sangat kagum. Dengan alat ciptaannya yang sering di uji coba dihadapanku. Ciptaan mereka sendiri dengan bermodalkan alat di kantor dan tekad juga kepercayaan diri dari mereka sendiri. Keuntungannya untukku, aku jadi bisa mencari inspirasi alat apalagi yang akan ku pakai atau aku buat.
Mereka seperti punya daya khayal mereka sendiri. Ya mereka hanya membayangkan menjadi detektif. Yang dibutuhkan adalah hal yang mudah di bawa dan mudah di gunakan. Tentu saja tidak akan merepotkan jika dibutuhkan di tkp.
Atau mereka membayangkan seorang yang bekerja melindungi orang dengan jabatan tinggi. Mereka tentu saja mempertimbangkan berat senjata, senjata rahasia dan peralatan lainnya. Mereka benar- benar membayangkan dengan detail. Menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan dan bisa dibuat juga di bawa kemana- mana. Mereka benar- benar menjadikan daya khayal mereka untuk keperluan dalam berbagai misi.
Kacamata pengintai? Radio aktif dengan skala kecil? Alat-alat menakjubkan lain mereka ciptakan atas bantuan ku dan pengetahuan luar biasa otak mereka. Dan mereka inilah ahli mesin disini. Mesin serbaguna untuk mata-mata dan detektif.
Gio, Charlie dan Hito. Mereka yang berotak sedikit lebih jenius dari pada orang lain yang satu angkatan dengan mereka itu hanya menghabiskan waktu membuat alat-alat ini. Memperbanyak dan mencobanya di luaran.
"Kau bisa gunakan itu di luar ruangan To." Aku sudah hafal kalau itu adalah suara khas Charlie yang sering kali mengomel pada Hito
Sedang membuat apa mereka? Apa mereka meributkan hal yang sama seperti tempo hari?
Iya. Tempo hari mereka meributkan kacamata laser membuka brankas dan itu hampir saja merusak ruangan ini. Mereka benar- benar sangat kompetitif dalam pembuatan alat. Mereka ingin sesempurna mungkin. Dan tempo hari Charlie juga meminta Hito melakukan uji coba di luar ruangan. Tapi Hito tidak mengacuhkan perintah Charlie sehingga mereka berebut kacamata itu.
Dan akhirnya, kacamata itu patah dan membuat ledakan yang lumayan besar di ruangan ini. Untung saja tidak sampai menghancurkan ruangan atau gedung ini.
"Ini belum selesai Charl," balasan dari Hito terdengar olehku
"Ada apa ini?" tanyaku saat melihat Hito meletakkan alat kecil di kakinya
"Prof?" Mereka berdua tampak kaget
Apa mereka melakukan kesalahan sehingga bertemu denganku saja kagetnya sampai seperti itu. Aku curiga.
"Iya, apa yang kau ciptakan minggu ini To? Charl? Dan.."
Aku menggantungkan kalimatku ketika seseorang menghilang dari sisi mereka
"Hei dimana Gio?" tanyaku lagi
Mereka berdua berbalik ke belakang mencari keberadaan Gio.
"Tadi dia..." Ucapan Hito dipotong oleh seorang Gio yang tiba- tiba muncul dari bawah di balik meja panjang dengan penuh alat-alat
"Hey Prof? Apa kabar?"
Ah itu Gio dengan ... alat apa itu di kepalanya seperti sebuah...mm bandu?
"Prof ini alat lebih kecil dari alat pembaca pikiranmu di ruang pendaftaran." Katanya sambil dia meletakkan alatnya diatas meja di dekatnya
"Belum sempurna Prof. Tapi akan segera di sempurnakan." lanjutnya dengan senyum bangga
"Alat seperti ruang pendaftaran katamu?" Aku tidak yakin itu benar.
Dia mengangguk yakin.
"Pembaca mimpi?" Aku masih tidak mempercayainya
Dia menggeleng dan duduk di atas meja
"Pembaca..."
"Pikiran." kata Gio dengan senyum bangga lagi
"Bagaimana alat ini bekerja?"
"Kau tinggal letakkan seperti bandu dan pasang speaker kecil di telinga kiri mu dan tadaa itu akan langsung bekerja dengan sendirinya." ucapnya santai
Benar- benar anak didik yang membanggakan
"Boleh aku.." aku ragu tapi ingin mencobanyaa
Dia mengangguk. Sepertinya dia tau apa maksudku.
Aku segera memakai alat itu seperti yang tadi di jelaskan.
"Lalu aku harus bagaimana?" kataku tersenyum
"Fokus." ucap Gio pelan
Aku berusaha fokus melihat keadaan sekeliling. Aku melihat Gio yang tersenyum.
"Aku bangga pada diriku"
Apakah itu yang ada di pikirannya? Jika aku menjadi dirinya. Aku juga akan bangga pada diriku sendiri. Itu tentu saja, tidak akan ada yang tidak bangga.
Lalu aku melihat Hito.
"Ah aku lapar."
"Kalau begitu makanlah To," dia tampak kaget sama seperti yang ditunjukkan Charlie. Aku melihat Charlie
"Apakah dia sedang membaca pikiranku sekarang?"
Aku terkekeh mendengar pikirannya. Astaga ini lebih dari yang aku ciptakan. Dan aku benar- benar salut pada Gio
"Ini sangat berguna Gio. Apa yang belum sempurna menurutmu?"
",Mmmm.." Dia mengusap- usap dagunya dengan telunjuknya sambil menatap alat itu.
"Aku rasa tampilannya saja seperti..." Dia tidak bisa melanjutkan kata- katanya karena bingung
"Aku hanya ingin itu tidak terlihat aneh," katanya menunjukkan alat ini tepat di bentuknya yang seperti bandu
"Iya supaya tidak menarik perhatian orang lain hah?"
"Prof jangan keterusan memakainya. Aku jadi merasa tidak nyaman." Katanya karena aku terus membaca ceritanya.
Aku terkekeh dan ya benar aku membaca pikirannya tadi.
Anak didikku