Awal musim ajaran baru. Lagi. Aku sudah bosan dengan hal seperti ini. Bisa- bisanya aku masuk ke sekolah yang tak mengizinkan aku bertemu dengan orang luar. Ah, ini karena seorang bernama Gracilda yang menarik dan memaksaku di tahun pertama untuk daftar disini. Katanya hanya untuk pengalaman baru saja. Kalau masuk di syukuri dan kalau tidak tentu saja tidak apa-apa.
Anak itu memang harus di beri pelajaran. Nanti. Belum saatnya.
Tapi sudah aku balas satu kali di rimg duel. Aku menumpahkan emosiku pada Gracilda saat itu. Tapi dia tetap saja melawanku dengan bercandaan. Ah Gracilda. Bukankah seharusnya dia juga emosi saat aku meninjunya dengan keras saat itu? Dia hanya tertawa dan mengerti kenapa aku seperti itu dan langsung meminta maaf padaku.
Aku sebenarnya tidak menyesal karena masuk sekolah ini. Aku hanya kesal mengapa pacarku Ammet tidak bisa bergabung denganku masuk ke sekolah ini. Padahal adalah sekolah yang selalu dia impikan. Dia selalu berbicara tentang sekolah ini ketika Gracilda membicarakan sekolah ini. Seakan-akan dia memang sudah mengincarnya dari lama.
Tapi mengapa si Profesor Gamma itu tidak memasukkan dia. Dia pandai.Dan cukup yakin akan masuk. Tapi setelah aku masuk di sini, Ammet tidak pernah terlihat.
Aku tidak tau darimana Profesor Gamma tau kalau Ammet adalah pacarku. Yang jelas dia tidak suka kepada setiap siswa yang menghabiskan waktunya berduaan. Ah dia seperti tidak pernah muda saja.
"Tar, sekarang ada jadwal memanah. Kau ikut?" itu dia perempuan yang membuatku marah beberapa hari setelah aku masuk ke sekolah ini
"Yep. Dan aku tidak akan pernah mau melihatmu lagi," ucapku sambil beranjak dari tempat itu
"Kau sudah bicara seperti itu beribu- ribu kali, Aderson.Dan pada faktanya kau tidak bisa berbicara dengan siapapun kecuali aku Taaaar," gadis ini memang menyebalkan.
Lihatlah bagaimana dia menggodaku. Sialan.
"Baiklah Gracilda Lowterm, kau benar. Seratus point."
"Hey! Nama belakangku Rowterm, bukan Lowterm," katanya marah lalu cemberut
"Sejak kapan kau jadi cadel?" tanyanya lagi setelah aku mulai berjalan
"Sejak tau nama belakangmu," aku mempercepat langkahku dan meningalkannya untuk pergi ke kelas memanah lebih cepat
Gracilda memang gadis seperti itu. Ramah sekali kepada setiap orang. Asyik untuk di ajak bicara. Dan ya dia sahabat baikku. Sejak dulu.
Pelajaran pertama di sekolah ini memang tidak seperti sekolah biasanya. Di sini biasanya langsung saja belajar tanpa perkenalan, tanpa mengobrol untuk menanyakan bagaimana masuk kesini atau apapun. Latihan secara langsung di lapangan. Tanpa berbasa- basi seperti sekolah pada umumnya.
Kami sudah terbiasa langsung pada intinya. Tidak ada hal yang menarik saat aku memasuki lapangan dimana sudah biasa dilakukannya kelas memanah. Kecuali satu. Tambahan gadis di gedung ini.Dan aku baru saja melihatnya.
Gadis itu sudah ada di sana. Yang aku ketahui hanya namanya. Sara. Aku rasa aku tidak akan bisa berteman baik dengannya. Dia seperti.. mm Seperti tidak enak untuk di makan. Ah maksudku tidak enak untuk di ajak mengobrol.Sepertinya aku dan dia punya kesamaan walau pun aku tidak mau mengakuinya. Tapi aku dan dia benar- benar irit dalam urusan berbicara.
Aku memasuki lapangan panah lebih ke tengah hari ini. Tak kusangka gadis itu sudah lebih dulu ada disana. Rajin sekali.
Dia di sana di temani Arga dan satu teman barunya. Entahlah sejak aku perhatikan dari beberapa hari yang lalu, mengapa selalu ada Arga di sisinya. Yang aku tau siswa baru tak seharusnya dekat dengan senior seperti itu. Apalagi anggota inti. Tidak seharusnya dan tidak bisa seperti itu
Yang aku dengar Profesor Gamma yang meminta Arga untuk melatih gadis itu secara pribadi. Aku sangat ingin tau alasan Professor Gamma menyuruh Arga seperti itu. Dan Gracilda melatih anak laki-laki. Kenapa lama- kelamaan seperti ajang perjodohan ya?
Aku masih sibuk mempersiapkan alat panah yang akan ku pakai hari ini. Menyusun anak panah dan menguji coba busur yang biasa aku pakai.
"Hay Tar. Kau disini rupanya." sapa Arga kepadaku yang tengah menyiapkan beberapa busur panah dan anak panahnya tentu saja
Seperti biasa Arga akan menyapa orang semau dia. Tapi hari ini beda. Aku tidak melihat senyum ramahnya. Kenapa? Aku punya salah padanya? Atau dia yang bersalah padaku?
"Ya Ga," kataku tersenyum tipis.
Aku tidak banyak bicara jika sedang tidak dalam misi bersama Arga. Hanya saja Arga benar- benar beda daripada sebelumnya.
"Aku ingin pinjam alat punyamu ya. Sara sepertinya butuh ini," dia membawa alat yang sudah ku siapkan untuk beberapa orang di lapangan panahan. Tapi dia hanya membawa satu busur dan beberapa anak panah. Biasanya dia selalu membantuku membawanya sampai anak didik yang lain memegangnya satu persatu
Arga benar- benar berbeda.
"Huh? A.. apa?"
Tak seperti biasanya. Dia tidak mengacuhkanku. Tidak mengindahkan kata-kataku. Dan sama sekali tidak mau membantuku membawa alat-alat ini. Sialnya, aku memegang kelas hari ini. Kewajiban seorang pelatih senior. Ah.
Sekarang yang aku lihat, dia mulai mengajarkan gadis itu memanah. Aku yakin gadis itu tidak akan lebih baik dariku. Gadis itu mendengarkan penjelasan dari Arga antara mengerti dan tak mengerti. Wajahnya seperti menyiratkan kalau dia bingung.
Ah ayolah haruskah aku yang mengajarkannya? Arga bahkan tidak terlalu mahir di olahraga panahan ini. Gadis itu mengangguk sepertinya dia sudah paham apa yang di jelaskan Arga.
Aku terus mengawasinya. Mencari titik kesalahannya dan tidak ada. Dia mulai membidik sasaran dengan alat panahnya. Posturnya cukup bagus untuk seorang junior seperti dia. Gadis itu seperti sudah biasa melakukannya. Dia membidik dan melesatkan anak panah terpental keluar dari busurnya.
Mengagetkan!
Satu kata itu yang ada di batinku.
Dia membidik tepat di lingkaran tengah-tengah sasaran. Aku tak percaya dia bisa. Dalam satu kali percobaan? Wah, luar biasa.
Arga tersenyum. Mungkin dia bangga. Anak didiknya berhasil mengenai sasaran dengan tepat.
Sepertinya Arga menyuruh gadis itu melakukannya lagi karena gadis itu mulai membidikan lagi anak panahnya.
Dia membidik dan pas! Dia mengenai sasaran tengah lagi.
Aku masih terkejut tapi cukup salut padanya. Hanya saja aku mulai merasa tersaingi jika ada dia di dekatku.
Satu lagi anak panah tertanam di lingkaran itu.
Tiga kali percobaan dan semuanya tepat sasaran. Walaupun yang terakhir hampir meleset karena dia tidak memikirkan arah angin. Tapi anak panah itu tepat masih ada di tengah- tengah sasaran.
Mungkin lain kali, dia harus memanah benda bergerak. Aku rasa itu akan sulit untuknya. Biar nanti aku yang meminta dia memperlihatkan lagi apa yang dia milikki dan aku tidak akan pernah kalah darinya. Terutama dalam olahraga ini.
Baiklah, aku tidak seakurat itu.
Tapi pointku masih sama dengan tiga puluh point.