Tara Aderson #2

1105 Words
Hallo pembaca setia. Hihihi. Selamat membaca kelanjutan ceritanya ya. Terimakasih untuk yang sudah mengklik love di part-part sebelumnya. Untuk comment dan kritiknya juga terima kasih. Selamat membaca readers:) Salam, Shaskya. --------------------------------------- Aku di sini. Masih memperhatikannya. Entahlah. Untuk apa. Hanya saja mereka selalu terlihat berdua. Kemana pun mereka pergi. Selalu terlihat akrab dan cocok. Mereka. Arga. Dan anak baru itu membuatku muak. Tapi aku masih terus memperhatikannya walaupun aku dibuat muak. Tentang hal ini? Aku juga merasa salah dan aneh. Aku melihat Arga yang sesekali melirik gadis di sebelah kirinya lalu tersenyum manis. Selalu seperti itu. Entahlah. Untuk beberapa kali aku menyebutkan kata 'entahlah' Tapi memang, entahlah. Aku tidak tau harus bagaimana dan berbuat apa. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku merasa aneh ketika melihat senyum Arga yang berbeda untuk gadis itu. Apalagi melihat gadis itu sama sekali tidak merespon terhadap senyuman yang Arga berikan untuknya. Aku mengepalkan tanganku dan pergi meninggalkan mereka yang entah akan kemana. Aku tidak peduli dan berusaha untuk begitu selamanya. Aku memasuki aula dengan tatapan datar. Aku sama sekali tidak tertarik dengan acara ini. Sama seperti tahun sebelumnya dan tahun lalu. Natal. Bersama orang- orang yang sama. Acara yang mungkin akan sama. Bahkan tempat yang sama. Seperti itulah kehidupanku di sini. Sekolah ini. "Tar. Kau harus tau!" itu Gracilda yang berteriak di depanku "Apa?" Aku sama sekali tidak tertarik dengan apapun yang dia bicarakan "New Mission" "When?" Dia hanya mengangkat bahunya tak acuh. Aku rasa dia hanya mendengar ada misi baru tanpa bertanya kapan dan akan pergi kemana untuk misi kali ini. Sudahkah aku beri tahu? Misi yang aku jalani memang di luar gedung sekolah ini. Tapi tetap saja. Aku menyembunyikan identitasku. Untuk keamanan. Setidaknya itulah yang dikatakan Profesor Gamma waktu itu. Aku pernah sekali keluar gedung saat misiku yang ke tiga. Sengaja aku kabur hanya untuk menemui Ammet. Pacarku. Aku bahkan rela mendapat hukuman saat masuk aku ke gedung ini lagi. Tapi aku sangat merindukannya sungguh. Dia selalu ada untukku. Dia ada saat orang tuaku hilang. Tidak perlu ku jelaskan hilang kemana. Aku sedang malas untuk berfikir lagi. "Kau membantingku sampai aku sakit pinggang, Ra." Samar sebuah tawa setelah kalimat barusan masuk ke panca indera pendengaranku. Itu tawa Arga. Aku sudah hafal. Mungkin Arga akan masuk ke aula. Aku yang berada di ambang pintu langsung menuju tempat duduk di pinggir kananku. "Itu belum maksimal," suara gadis itu. Tak tau kenapa hatiku sakit saat Arga tertawa "Kurasa kau benar," kalimat Arga saat masuk ke dalam aula Ia memperhatikan sekitar dan tatapannya tepat ke arahku. Biasanya dia akan tersenyum. Tapi tidak kali ini. Dia memalingkan wajahnya ke arah gadis itu lagi. Sara. Aku melihat baju mereka cukup bersalju. Mungkin mereka baru saja bermain salju dan menepuk- nepuk bajunya sedikit lalu masuk lagi kesini. Sara. Gadis itu hanya melihat sekeliling dan maju beberapa langkah mendekati salah satu murid kesayangan Prof Gamma. Sedangkan Arga menuju ke arahku. Aku punya pacar. Aku punya pacar. Aku terus mengumamkan kata-kata itu di dalam hatiku. Tapi kenapa aku merasa aneh di dadaku? Sial! "Kau sudah lama disini Tar?" Aku mengangguk tak acuh. Aku mempertahankan sisi diamku di hadapannya. Aku belum mendapa alasan kenapa aku melakukan hal seperti itu. "Kau tak rindu rumah?" Aku menggeleng menjawab pertanyaanya. "Oh ayolah bisakah kau mengeluarkan suaramu?" Dia.. kesal? Aku tidak tau, tapi sekarang aku senang rasanya dia kesal padaku. Tidak tau alasannya. Hanya ada rasa senang  yang tiba- tiba hadir di dalam diriku. "Kau. Dari mana?" tanyaku ragu karena melihat luka kecil di pelipisnya. "Ruang latihan dan panahan. Kenapa?" Aku mengendikkan bahuku. Aku sedang malas membahasnya. Apalagi bersangkutan dengan gadis itu. "Ku dengar ada misi baru untuk kita?" "Kita?" tanyaku menaikkan satu alisku. Aku tidak berpikir untuk satu misi lagi dengannya. Sudah lama tidak menjalankan misi dengan Arga sebagai captain tim. "Ya. Kau, aku, Gracilda dan Rico." "Kenapa Rico?" "Yang aku dengar misinya adalah mengambil data perusahaan di komputer." Katanya cepat "Kenapa Rico tidak merentasnya melalui jaringan?" "Pertahannya sulit di jebol. Bahkan oleh Rico," dia menghela nafas Aku tau, biasanya Rico adalah perentas paling jenius. Arga sudah mengakui itu. Rico bisa merentas lebih dari dua puluh perusahaan dalam hitungan menit. Dan mungkin, kali ini Arga merasa kasihan pada Rico. "Apakah itu penting?" Dia mengangguk, "sangat." ucapnya Aku hanya mengangguk. "Rico hanya perlu sedikit bantuan. Menyalakan komputer dan memasukkan kata sandi yang di sudah direntas olehnya. Rico tidak bisa jika tidak ada kita yang membantu." Ucapnya sedikit pelan Arga benar, Rico hanya perlu sedikit bantuan. "Jadi setelah acara ini kita langsung menjalani misi itu. Kau siap?" "Kalau pun di suruh sekarang aku akan tetap siap," aku meyakinkan Arga agar dia tidak terlalu berpikiran kalau Rico tidak bisa apa-apa. "Well. Aku akan kesana." Dia menunjuk beberapa orang yang sedang kerepotan, "kelihatannya disana butuh bantuan." Dia bebicara sambil berjalan mendekati Rico dan teman- temannya. Aku mengangguk kecil dan sepertinya Arga tidak memperdulikan aku yang menyetujui untuk kepergiannya barusan. Aku setuju atau tidak dia berjalan ke arah Rico, Arga bahkan tidak akan memperdulikannya. Jadi aku menyesal sudah mengangguk tadi. Aku melihat Arga berjalan ke arah Rico yang sedang memainkan alat baru yang di buat Gio. Tampaknya, Arga menyukai alat itu. Terbukti sesaat yang lalu Arga tertawa bersama dengan Rico. Aku jadi ingin bertemu Ammet. Untuk kado natal tahun ini. Apa aku harus meminta izin Professor? Sepertinya tidak akan mudah. Aku belum jera dihukum oleh Profesor. Ya walaupun hukumannya cukup berat untukku. Tapi. Aku sangat merindukan Ammet. Sungguh. Rindu. Misi selanjutnya? Menemui Ammet setelah selesai. Aku sungguh merindukannya. Aku ingin memeluknya. Menyalurkan rasa rinduku padanya. Aku sudah beberapa kali bertanya, kenapa siswa yang masuk kesini tidak bisa keluar dengan seenaknya kepada siswa bahkan pelatih lainnya. Tapi jawabannya sama. Tidak tahu. Aku muak. Sungguh. Aku berjalan keluar dari aula. Mungkin aku harus merencanakan dulu bagaimana nanti aku bertemu dengan Ammet. Pakaian seperti apa yang akan aku pakai untuk bertemu dengan Ammet. Apakah Ammet akan senang jika melihatku lagi. Atau justru kejadiannya akan seperti tahun kemarin? Dimana aku di usir oleh Ammet karena dia khawatir aku akan kena hukuman jika melanggar peraturan sekolah ini. Aku justru berkorban demi dia. Dan sepertinya aku mengerti. Dia hanya kasihan terhadapku. Dia tidak tega jika aku di hukum oleh sekolah. Ya, walaupun dia tidak tau apa hukuman yang aku terima. Yang aku tau, dia mengkhawatirkanku. Dan mengkhawatirkanku adalah salah satu tanda dia menyayangiku? Apa aku salah tentang hal ini? Semoga saja tidak ada yang salah selama aku menjalani hubunganku dengan Ammet. Mungkin, sebentar lagi aku akan keluar dari sekolah ini. Akan menjalani sekolah biasa bersama Ammet. Ah Aku lupa kontrak dengan sekolah ini. Dilarang keluar dari sekolah selama tidak ada perusahaan yang mau memperkejakan seorang mata-mata seperti kita. Dan itu skak mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD