Aku tak tau apa yang akan aku lakukan kali ini. Saat sedang sibuk membantu orang- orang dengan persiapan malam natal, aku di ajak ke suatu ruangan, emm entahlah ini ruangan apa. Yang aku tau, aku melewatinya beberapa kali saat mengangkut barang- barang untuk di bawa ke aula tengah.
Ruangan ini di penuhi dengan komputer- komputer super canggih. Satu layar penuh di belakangku adalah layar dengan dua puluh empat sudut pandang berbeda. Untuk apa semua ini? Mengawasi beberapa orang? Atau..
"Itu layar CCTV bila kau tanya."
Itu orang yang menuntunku menuju ruangan ini tadi. Namanya.. emm Rico?
"Rico Sbastian lebih tepatnya lagi." Sahutnya yang membuatku mendadak salah tingkah
"Ap.. apa kau bisa membaca pikiranku?"
Aku memberi jeda untuk melanjutkan kata yang keluar dari mulutku.
"Dan apa itu di kepalamu?" kataku sambil menunjuk kepalaku sendiri
"Ya. Dan oh ya ini adalah salah satu alat baru yang sudah di ciptakan salah satu murid pintar nan jenius Prof Gamma," katanya melepaskan alat seperti bandu yang sangat menarik perhatianku sejak dari tadi dia dan aku sampai di ruangan ini
Dia memakainya di ruangan ini saja. Tidak sampai keluar sana. Mungkin akan menarik perhatian yang lain juga jika memakainya kesana kemari hanya untuk membaca pikiran seseorang.
"Lalu apa yang harus aku lakukan di sini? Di ruangan ini? Emm bersamamu,, em berdua?"
Aku hanya ragu dan bertanya secara langsung. Dia membawaku ke satu ruangan yang kurang cahaya dan hanya berdua. Bukankah tidak salah aku berpikiran aneh- aneh untuk dirinya?
Sebelum menjawabku ia memasangkan kembali alat itu. Alat pembaca pikiran tentu saja.
"Jangan berpikiran seperti itu," katanya sedikit menaikkan nada bicaranya
Mungkin dia membaca pikiranku yang tidak enak untuk di baca.
'Ah baru saja aku berpikiran macam-macam tentang orang ini'
"Dan jangan coba berpikir yang aneh- aneh. Aku sudah punya pacar dan pacarku seorang perempuan. Okey?"
Dia meletakkan barang tadi. Aku hanya mengangguk meskipun dia tidak melihatku.
"Kau akan aku pekerjakan disini." Katanya dengan cepat
"Apa?" aku kaget setengah mati.
Karena aku tidak mengerti dengan sistem yang ada di sekolah ini tentu saja bekerja di sini, di ruangan ini membuatku kaget. Apa yang mendasari dia memperkerjakan aku dan seenaknya berkata seperti itu.
"Kau tau?"
Aku menggeleng cepat sebelum dia melanjutkan kata- katanya
"Tentu saja kau tidak tau, aku belum memberitahumu."
Dia terkekeh kecil dan berpaling dariku.
"Aku dan Prof Gamma melihat mimpimu sewaktu test masuk kesini,"
Dia menghela nafas
"Dan kau tau?"
Lagi-lagi aku menggeleng cepat
"Bodoh!" Katanya membuatku mengerti lalu terkekeh dan meminta maaf tanpa suara
Dia berdeham kecil dan bersiap untuk melanjutkan kata- katanya.
"Okey. Aku tidak sengaja melihat mimpimu di ruangan pembaca mimpi. Mimpimu di simpan di memory card jadi kau bisa melihatnya kalau kau mau," dia menjeda
"Dan kau pasti tidak ingat apa yang kau mimpikan saat itu, iya?"
Kali ini aku mengangguk lambat mengingat aku yang lupa akan mimpi masa depan sewaktu pemeriksaan.Dan aku merasa tidak ada hubungannya dengan barang- barang di ruangan ini. Apalagi dengan Rico.
Tapi aku benar- benar tidak bisa mengingatnya ketika aku berusaha mengingat, pikiranku jadi gelap. Tidak ada pencerahan sama sekali tentang mimpiku saat itu.
"Jadi apa isi mimpiku?" aku bertanya langsung.
"Kau bisa melihatnya setelah kau di bekerja disini." Katanya lalu tersenyum kemenangan
"Jika kau tidak mau, kau tidak bisa melihat mimpimu itu."
Dia tersenyum lebar semakin membuatku bingung. Menerima atau menolak.
"Ah satu lagi yang harus kau tau, bukan hanya mimpimu saja yang ada di memory card itu."
Aku tak bergeming. Tentu saja. Aku mematung memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.
"Professor Gamma yang menyuruhku secara langsung untuk memperkerjakanmu disini."
Aku menghela nafas. Menimang- nimang apa keuntungan jika aku bekerja di sini. Dan juga, apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tidak mengerti apa- apa. Aku hanya dapat mengoperasikan komputer tapi tidak pandai. Hanya sekedar bisa.
"Baiklah kapan aku mulai bekerja." Kataku yang akhirnya menyetujui apa yang Rico katakan
"Hari ini?"
Aku mengangguk. Sangat semangat. Sampai- sampai aku membunyikan otot di leherku.
"Jadi mulai dari mana aku harus bekerja?"
Aku mem- bunyikan sendi di jari- jariku.
"Cukup memperhatikan CCTV."
Dia menunjukkan layar- layar yang di satu layar besar dengan dagunya
"Kau gila?!" Kataku setengah berteriak tanpa sadar
Rico menatapku dengan tampang bertanya 'kenapa'
Semoga saja dia tidak marah setelah aku teriaki tadi dan aku benar- benar tidak sadar sudah meneriakinya.
"Oh ayolah!"
Aku menarik kursi di belakangku kemudian menghadap ke layar lebar yang menampilkan dua puluh empat layar yang berbeda- beda dan tempat yang berbeda- beda juga. Bagaimana bisa terkontrol semuanya hanya dengan satu orang yang memperhatikan ini semua. Apakah tidak ada orang lain yang membantunya.
"Ruangan sebelah juga sama. Hanya saja di sini sebagai pusat kontrol yang mungkin bisa saja kau meruntuhkan seluruh sekolah ini dengan satu kali klik."
Rico benar- benar murid kesayangan Profesor Gamma.
Dia memegang kendali penuh akan sekolah ini. Dan jika Rico di bayar dengan jumlah uang yang sangat besar untuk menghancurkan sekolah ini. Tentu saja Rico akan lakukan. Mungkin. Tapi Rico bukanlah sosok pengkhianat dibalik sifatnya yang sangat ramah pada semua orang. Namun, entahlah. sifat orang hanya dirinya sendiri dan tuhan yang tau.
Bagaimana pun juga. Rico sangatlah harus jenius dalam memilih langkah yang akan dia ambil. Harus.
"Apakah kau sudah lama di sini, Ric?"
Rico mengangguk menanggapi pertanyaanku. Aku membalikkan anggukkannya.
"Setahuku apa yang ada disini itu aman dan tentram." Dia menaikkan dagunya menatap langit- langit dan membuka tangannya lebar- lebar.
Lihat. Sifatnya yang seperti ini sudah mendarah daging sepertinya.
Iya. Di sini cukup aman dan tentram tentu saja.
Aman karena kau bisa melihat seluruh aktivitas di dalam sekolah.
Dan tentram, ruangan ini kedap suara dan cukup membuat kita akan tertidurr nyaman di sini.
Aku penasaran apakah Rico pernah tertidur dalam pekerjaannya.
Kuharap tidak.
"Kau tau? Dan jangan menggeleng!"
Aku terkekeh
Dengan cepat ia bicara 'dan jangan menggeleng' sebelum aku benar-benar menggeleng. Dia ikut terkekeh saat aku menunjukkan gigi rapi milikku
"Kau lucu," dia memberi jeda karena aku menatapnya bingung
"Tunggu. Sudahkah aku bilang kalau aku sudah punya pacar dan pacarku itu perempuan?"
Aku mengangguk sambil tersenyum menggoda lalu menaik turunkan alisku.
"Hey jangan menatapku begitu."
"Apa?" Aku berbicara masih dengan senyuman menggoda yang seperti tadi
"Kau menatapku begitu," dia menghela nafas
"Dan berhenti tersenyum seperti itu."
Dia menutup wajahku dengan tangan lebarnya. Oh lihat pipinya memerah.
Aduh apa-apaan ini? Aku berpikiran dia lucu?
Aku menggelengkan kepalaku
"Okey mari ku tunjukkan cara mainnya."
---------------------------------------
Bagaimana ceritanya? Membosankan huh? Tapi ini baru awalkan? Belum terjadi konflik. Sebentar lagi bakalan menuju konflik. Lovenya jangan lupa. Kritik dan saran di terima dengan senang hati. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di part selanjutnya.
Salam,
Shaskya.