##Bab 6
Pernikahan adalah hal yang sakral. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan perceraian. Karena akan ada sosok makhluk kecil yang paling terluka bila hal itu terjadi. Namun, apa jadinya, bila saat masih bersama pun, seorang ayah tega menorehkan sakit pada buah hatinya?
Aku menahan air mata ini agar tidak jatuh di hadapan dua makhluk tak berdosa. Karena mereka membutuhkan kekuatanku untuk bersandar. Kudekati kedua tubuh yang duduk terpekur di pojok teras dengan mata berkaca-kaca. Mendekap ke dalam pelukan. Seketika, tangis pecah saat tubuh mereka menempel pada tubuhku. Kuusap pelan punggung Dinta dan Danis, berharap dapat melegakan perasaan mereka.
“Bu,kenapa ayah piknik gak ajak Danis? Ayah pasti main seneng-seneng sama Aira,” ucap Danis di tengah isak tangisnya. Ia membicarakan Aira, anak Iyan—adik Mas Agam.
Aku tak bisa menjawab hal itu. “Kakak sama Danis mau piknik? Akhir bulan ini, ya, kita akan piknik naik kereta. Nanti, kita menginap di hotel. Kita bertiga.”
Mereka mengangguk dalam dekapan.
Tiba-tiba, hujan turun dengan lebat. Kuurungkan niat mengajak mereka pulan. Seraya menunggu hujan reda, kami berteduh, beringsut ke daun pintu.
Dinta dan Danis tertidur setelah menangis. Dinta kubaringkan dengan berbantalkan tas. Sedang Danis berada di pangkuan. Tak lama, gawaiku bergetar. Ada sebuah pesan dari Fani.
[Mbak, keripiknya udah kuantar semua. Tadi bagi tugas sama Anis. Ini dapat uang enam juta.]
[Ya, Fan.]
[Mbak kapan pulang? Gak kenapa-napa di sana, kan?]
[Gak terjadi apa-apa. Bentar lagi pulang, nunggu hujan reda.]
Fani, bapak, dan ibu pasti mengkhawatirkanku. Biar nanti di rumah saja aku cerita sama mereka.
[Tadi, ada yang ambil paket krim. Temen Mbak, katanya. Udah kasih uang juga. Krimnya habis, Mbak]
Fani melanjutkan pesannya.
Alhamdulillah, usahaku maku.
Segera kuminta Fani untuk transfer uang hasil penjualan pada Afifah. Setelahnya, sambil memangku Danis, kuhubungi Afifah untuk mengatakan bahwa aku siap menjadi member. Tentunya, dengan dibantu Fani untuk menawarkan pada teman-teman kampusnya.
Afifah menyambut hangat dan berkata akan mengirim barang dengan nominal lima belas juta. Syarat utama menjadi member, kita harus belanja sebanyak lima belas juta. Aku iyakan. Tak perlu menunggu untung dari produk tersebut untuk mencicilnya. Karena terhitung sampai hari ini, aku sudah mengantongi untung enam juta dari usaha keripik. Artinya, dalam sebulan, aku bisa mendapat dua kali lipat. Di bank juga masih ada tabungan yang lumayan. Itu bisa kugunakan untuk mengembalikan modal pada Afifah.
Dalam hati, kuberjanji, hasil kerja kerasku akan kugunakan untuk menyenangkan kedua buah hatiku.
Hujan telah reda. Tinggal menyisakan gerimis. Kubangunkan Dinta dan Danis untuk mengajak mereka pulang. Saat menunggu mereka sadar sepenuhnya, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah sebelah—rumah bibi Mas Agam. Sementara itu, Dinta dan Danis segera memakai jaket. Kugandeng tangan mereka berdua. Namun, langkah kami terhenti saat melihat rombongan keluarga Mas Agam pulang dari piknik.
Anak-anak semakin mengeratkan pegangan padaku saat melihat ayahnya menggendong Aira. Tangan satunya menenteng boneka besar. Senyum sumringah terpancar di bibirnya. Berjalan sambil sesekali menggoda keponakannya itu. Di belakang, bapak ibu mertua, Mbak Eka, Iyan serta istrinya—Rani—menyusul. Mereka membawa banyak sekali oleh-oleh. Demi apapun, hati ini terasa perih.
Mas Agam sontak berhenti saat melihat kami bertiga. Keluarganya juga terlihat salah tingkah. Muka kedua anakku memancarkan kesedihan. Lagi, mata kedua kakak beradik ini berkaca-kaca. Aku paham apa yang mereka rasa. Seumur hidup, belum pernah mereka diperlakukan seperti Aira saat ini, baik oleh ayah, maupun kakek neneknya.
Aku berjongkok demi mensejajarkan tubuh dengan Dinta dan Danis. Kuusap pelan kepala dan mengecup rambut mereka. Mencoba memberi kekuatan atas apa yang dilihatnya. “Sayang, mau sama ayah atau pulang?”
“Pulang,” jawab mereka dengan kompak.