##Bab 7
“Dinta, Danis? Eh, datang gak bilang-bilang. Sudah lama? Ayo, masuk. Sini, mbah ada oleh-oleh buat kalian.” Tergopoh ibu mertua berlari merangkul kedua anakku.
Sedangkan yang dirangkul terlihat enggan. Danis menggeleng, semakin mengeratkan pegangan pada lenganku. Mas Agam terlihat kikuk. Segera diturunkan Aira dari gendongannya. Anak perempuan yang berusia tiga tahun itu berlari riang sambil menggendong bonekanya.
“Asyik! Dapat boneka dari Pakde!” soraknya dengan girang sambil berlari masuk rumah.
Mbak Eka dan Iyan sudah masuk lebih dulu. Rani menghampiri dan bersalaman denganku.
“Ayo, Nia, anaknya diajak masuk. Ini, ada oleh-oleh dari Guci,” ajak ibu mertua.
Bila belum berbicara serius, beliau memang terlihat biasa-biasa saja. Namun, ketika terlibat sebuah obrolan, maka akan terdengar pula kata-kata ketusnya. Bapak mertua entah ke mana, aku tidak memperhatikan.
“Enggak, Bu, terima kasih. Kami pamit pulang saja,” sanggahku.
“Jangan, jangan. Sini, masuk dulu, masih gerimis. Nanti saja, kalau hujan sudah benar-benar reda.” Beliau masih memaksa.
Semesta seakan tak mendukungku. Tiba-tiba, hujan turun kembali. Terpaksa aku mengajak Dinta dan Danis masuk ke rumah yang saat ini terasa begitu menakutkan.
Kami sudah berada di ruang keluarga. Bersama bapak mertua yang terbaring lelah, Mas Agam yang terlihat salah tingkah sedang memainkan gawainya. Serta ibu yang sibuk memilah oleh-oleh. Iyan ada di kamar. Sedangkan Mbak Eka terkesan menghindariku, sibuk di dapur bersama Rani. Terdengar suara cekikikan mereka. Sepertinya, tengah bercanda, hal yang tidak pernah dilakukan bila bersamaku.
Berusaha menahan debar hebat dalam d**a. Aku mengalihkan dengan memeriksa handphone. Afifah mengabarkan bila proses pendaftaranku sebagai member telah disetujui. Ia memang sudah meminta persyaratan administrasi sebelumnya. Aku sudah mengirimkan foto KTP dan KK serta buku rekening.
[Nanti sore, barang siap kirim ke rumah kamu, Ni.]
[Ok. Makasih, Fifah. Uang yang kemarin udah aku transfer, ya. Besok aku transfer lagi sepuluh juta buat daftar membernya. Biar gak banyak utang ke kamu. Kurangnya aku lunasi dua minggu lagi.]
Balasku.
[Wah, lagi banyak uang, ya?]
Godanya, tetapi tidak aku balas. Suasana hatiku sedang tidak enak.
[Makasih, Nia Sayang. Semoga sukses.]
Balasnya lagi.
[Ok. Aamiin.]
Jawabku, singkat.
Fainna ma’al usri yusro Inna ma’al usri yusro.
Di setiap kesukaran pasti ada kemudahan. Aku harus berpikir positif, keadaan saat ini benar-benar menjadi ujian bagiku. Dan aku tidak boleh terpuruk. Justru, aku harus bangkit. Bukankah membalas sakit hati yang paling baik adalah dengan berusaha menjadi sukses? Bismillah. Semoga Allah meridhoi langkahku. Toh, aku tidak berbuat jahat. Justru, saat ini menjadi orang yang terzalimi.
Dinta dan Danis masih anteng di tempat duduknya. Pandangan mereka memperhatikan Aira yang sedang bermain dengan banyak mainan.
“Aira, Mbak Dinta sama Mas Danis diajak bermain. Dipinjami mainannya. Kamu ini, mainan udah banyak, kalau pergi masih selalu minta dibelikan. Kalau gak minta sama Mbah, ya, sama Bude Eka. Tapi, seringnya minta sama Pakde Agam. Aira manja banget sama pakdenya. Kamu juga, Gam, terlalu memanjakan Aira.” Ibu berbicara sambil memasukkan oleh-oleh ke dalam plastik. Sepertinya mau dibagi-bagi.
Aku tambah tidak nyaman berada di sini. Kami memang jarang kemari setelah Aira lahir. Jadi, tidak tahu kalau Mas Agam sebegitunya dalam memanjakan Aira. Karena aku merasa mereka memang berbeda dalam memperlakukan Aira, lebih mengistimewakan. Sepupu-sepupu Mas Agam serta keponakannya selalu memanggil dengan istilah ‘kesayangan’.
Apakah ibu memaksaku masuk karena mau pamer? Ingin memanas-manasi atau ini hanya pikiran jelekku? Mas Agam memandang sayu pada kedua buah hatinya. Entah merasa bersalah atau malu dengan kenyataan yang terjadi di belakang kami.
“Pakde, ini dibelikan waktu kita ke Semalang, ya? Ini juga, oleh-oleh Pakde dali Jogja. Ini, ini, ini semuanya Pakde yang belikan, ya, Mbah?” Aira terlihat memilih mainan yang dibelikan Mas Agam. Semuanya bagus-bagus. Pasti mahal harganya.
Dinta dan Danis tidak pernah dibelikan oleh-oleh saat ayahnya pergi. Paling, mereka beli saat ada pedagang mangkal di hajatan. Kalau enggak, ya, di pasar. Saat mereka ikut aku belanja.
Ternyata, Mas Agam melakukan banyak hal pada Aira, yang tidak ia lakukan terhadap anaknya.
Semakin sesak kurasakan beban dalam d**a. Bila tidak berada di tengah-tengah keluarganya, ingin aku menangis. Betapa teganya Mas Agam pada darah daging sendiri.
“Danis, sini, peluk ayah. Gak kangen sama ayah?” Tangan suamiku terulur, hendak mengangkat Danis. Tubuhnya perlahan mendekati Dinta dan Danis.
“Ayah yang gak kangen sama kami. Ayah pergi gak pulang. Juga gak telepon. Ayah lupa sama kakak, sama Danis, ya?” Tiba-tiba Dinta berani berkata seperti itu terhadap ayahnya.
Aku berpikir, ini adalah luapan kekesalan hati yang sejak tadi ia pendam.
“Iya, Ayah jahat. Ayah gak pernah ajak piknik. Tapi ajak Aira. Ayah lebih sayang Aira. Danis gak pernah dibelikan mainan sama Ayah. Tapi Aira sering.” Setelah berkata seperti itu, Danis menangis.
“Kakak juga belum pernah, Dek, dibelikan boneka kayak gitu sama Ayah.”
Aku bingung, mengapa anak-anakku bisa berkata seperti itu. Aku maklumi saja. Ini ungkapan sakit hati mereka. Dan bukan sepenuhnya salah mereka bila berani memprotes ayahnya.
“Anak itu jangan diajari berani sama orang tua, Nia. Jangan juga diajari membenci saudara. Aira itu saudara mereka, harus akur. Kamu gak usah nyuruh anak-anak buat jadi alat agar berkata seperti itu sama Agam.” Mbak Eka tiba-tiba muncul dari arah dapur. Mungkin mendengar perkataan Dinta dan Danis, membuatnya punya alat untuk memarahi aku.
Iya, memarahi. Karena nada bicaranya tinggi dan tatapannya sinis.
“Sudah cukup Mbak Eka selalu ketus, selalu menyalahkanku. Aku juga punya perasaan, Mbak. Mereka bicara seperti itu, karena rasa sakit hati mereka berdua. Belum pernah sekalipun Mas Agam mengajak kami piknik, apalagi sampai menginap di hotel. Tapi ternyata kalian sudah sering melakukannya. Dan ini, mainan-mainan Aira, belum pernah Mas Agam membelikan ini untuk Dinta dan Danis. Selama menikah, aku hanya disuruh irit dan hemat. Ternyata, irit dan hematku itu demi untuk bisa menyenangkan kalian. Tidak mengapa bila Mbak Eka membenciku, entah alasan apa. Tapi, mereka berdua darah daging kalian. Sama seperti Aira.” cerocosku, meluapkan kekecewaan. Lalu, aku beralih pada Mas Agam. “Dan kamu, Mas? Tidakkah kamu merasa bersalah? Silakan perlakukan aku tidak baik. Tapi, mereka anak-anakmu yang kelak akan mendoakanmu jika kamu sudah meninggal.”
Sudah cukup mengalah. Kali ini, aku tidak mau lagi harga diriku diinjak-injak oleh mereka. Toh, mau diam dan menerima diperlakukan semena-mena pun tidak akan membuat mereka menghormatiku.
“Jangan seperti itu, Nia. Wajar jika Agam ingin menyenangkan kami, keluarganya. Kan, dia sudah sukses, jadi PNS. Kamu gak boleh punya rasa iri. Itu tidak baik, Nia.”
Terdengar menasihati, tetapi perkataan ibu lebih seperti menyuruhku mengalah dengan sikap Mas Agam.
“Istri itu harus selalu mengalah sama suami. Diapa-apakan harus diam. Kamu berdosa jika melawan.”
Memangibu mertuaku luar biasa. Sungguh, wanita yang mulia. Semoga kelak, ia atau anak perempuannya merasakan di posisi aku. Agar ia bisa mempraktekan omongannya tadi.
“Kalian pulang dulu saja. Sudah agak reda hujannya. Dinta, Danis pulang dulu, ya? Besok ayah pulang bawa oleh-oleh buat kalian.” Mas Agam seperti menengahi kami. Namun, kutahu, ia sedang mengusir kami.
Demi apapun juga, aku menjadi manusia paling hina di tengah-tengah mereka. Saat bersamaan, HP ku berbunyi. Pesan masuk, dari Fani.
[Mbak, ada orang ke sini dari Cafe Capelo. Minta kita kirim keripik pisang sama singkong. Masing-masing lima ratus bungkus dalam seminggu. Minta ukuran sedang.]
Kafe paling terkenal di daerahku. Seribu bungkus dalam seminggu. Per bungkusnya untuk ukuran sedang mendapatkan keuntungan bersih tiga ribu. Aku sudah bisa menghitung keuntungannya.
Hina aku, maki aku sepuas kalian. Namun, jangan bermimpi bisa melakukan itu lagi padaku besok-besok.