“Silakan. Mau bicara apa, Agam? Mau ikut menyalahkan Nia juga?” ketus bapak. “Itu, Pak. Saya minta maaf karena sudah membuat Nia sakit hati dan kecewa. Juga anak-anak. Maaf, saya sudah meninggalkan mereka.” Agam berhenti, dan menghela napas. Mbak Eka terlihat tidak suka dengan penuturan adik kandungnya. “Terus, apa lagi? Ada lagi kesalahan yang ingin kamu akui?” Bapak bertanya tanpa mau menatap Agam. “Saya sudah menelantarkan Nia dengan tidak memberinya nafkah secara layak. Saya juga sudah menjelek-jelekkan Nia di hadapan teman-teman. Saya tidak pernah mengajak Nia untuk bersenang-senang. Saya janji akan memperbaiki semuanya.” Diam kembali. Pria yang masih berstatus sebagai suamiku itu seperti sedang mengatur kata-kata. “Pakde. Pakde Agam. Ini, lihat foto kita waktu main di mal kemari

