PROLOG
“Ren!”
Gadis yang masih mengenakan seragam putih abu itu menoleh, lalu dengan pandangan malas, ia pun berdecak.
“Ke sepuluh kali, dan aku nggak akan nyerah sampai kamu mau kasih aku kesempatan,” ujar pemuda dengan kaca mata tebal itu seraya menyodorkan setangkai mawar yang ia petik di jalan saat berangkat sekolah tadi.
Karenina bersedekap, menaikkan sebelah alisnya, merasa muak dengan tingkah pemuda di depannya ini. Namanya Dika, sudah mengejarnya dari mereka masih duduk di bangku SMP hingga kini duduk di bangku SMA. Dan hari ini, adalah tepat ke sepuluh kalinya Dika menyatakan cinta. Tentu saja Karenina tidak mau menghitung, ia tahu karena Dika tadi sempat mengatakannya, bukan?
“Lo nggak punya malu, ya, Dik?” Itu bukan suara Karenina, tapi teman satu geng yang selalu menjadi dayangnya ke mana pun Karenina pergi.
“Lo terima aja kenapa si, Ren? Kasihan ini anak orang udah berjuang,” ujar teman yang lain. Tentu saja kalimat itu tidak memiliki arti yang sebenarnya, karena diucapkan dengan bibir miring sarat akan cemooh.
“Lo itu nggak punya kaca di rumah ya, Dik? Kalau memang nggak punya, mending lo lari ke kamar mandi, ngaca yang lama di sana! Biar lo sadar, lo siapa? Karen siapa?”
Karenina yang mendengar celotehan itu mulai mengangkat tangan isyarat untuk menghentikan semua ini. “Kita nggak usah layanin, lo mendingan pergi!” ujar gadis dengan rambut sepunggung itu sembari berbalik. Ia malas menjadi tontonan umum, karena kini banyak siswa yang berkerumun untuk melihat mereka.
“Lo itu, kenapa si nggak mainin dia aja?” tanya teman yang merasa gemas karena Karenina tidak pernah mau menuruti sarannya untuk mempermainkan Dika.
Karenina malah mengibaskan tangannya acuh, “Buat apa? Gue liat mukanya aja udah eneg,” jawab Karenina yang memang sudah kehilangan akal untuk menghentikan aksi nekad Dika. Padahal Karenina sudah sering mempermalukan pemuda itu di muka umum. Niatnya agar Dika membencinya dan tidak lagi mengejarnya. Tapi entah terbuat dari apa hati seorang Dika, hingga masih terus saja berjuang sampai sekarang.
Dan ini bukan yang terakhir kalinya, karena Dika masih terus melancarkan aksinya untuk mendekati Karenina. Dari cara yang menyebalkan, memalukan, hingga ke cara yang membuat Karenina kesal bukan main.
*
Hari itu adalah hari di mana Karenina resmi lulus dari SMA-nya. Dan hari itu, adalah tepat ke 15 kalinya Dika menyatakan perasaannya. Di depan para murid, yang sebenarnya juga sudah bosan dengan tingkah Dika, pemuda itu bahkan sampai meminjam pengeras suara untuk menyatakan perasaannya pada Karenina.
“Untuk Karenina! Sebelum kita lulus! Satu kali lagi aku ingin menyampaikan perasaanku buat kamu, Ren! Dan aku harap, yang ke 15 kali ini akan mendapat jawaban yang berbeda!”
Sorak sorai langsung terdengar, sementara Karenina yang mulai kesal dengan tingkah Dika langsung menarik pemuda itu sebelum para guru menertibkan kekacauan yang terjadi. Dika mengembangkan senyuman, merasa jika hari ini akan terlihat lain. Entah diterima atau tidak, yang terpenting Karenina mau menjawab perasaan cintanya.
“Lo itu udah gila apa gimana, si?” geram Karenina yang sudah membawa Dika ke tempat sepi.
Dengan senyum memuakkan seperti biasa, Dika menjawab santai. “Kan aku udah bilang, nggak akan berenti sampai kamu jawab iya.”
Karenina mengembus napas kasar, memijit pelipisnya, mulai kehilangan akal. “Sebentar lagi kita kuliah! Dan nggak bakal—“
“Aku udah tahu kamu bakal kuliah di mana,” potong Dika yang langsung memancing tatapan ngeri di wajah Karenina. Melihat itu Dika malah tertawa lirih, merasa gemas dengan wajah Karenina yang terlihat imut di matanya.
“Jangan bilang, lo masuk ke sekolah ini juga karena gue?” Kengerian itu makin bertambah dengan melihat senyuman Dika yang mengartikan ‘ya’.
“Dan sekarang lo mau ngikutin gue ke perguruan tinggi juga?” Dika menggedikan bahu, merasa tidak ada yang salah dari itu. Setiap berada pada satu tempat yang sama dengan Karenina, memang ia merasa bahagia. Dan perasaan bahagia itu bertumbuh mendorongnya untuk terus meningkatkan prestasi. Dan semuanya memang terbukti dari beasiswa yang ia dapat di sekolah ini selama tiga tahun tanpa henti. Dika mampu mempertahankan kepintarannya hingga bisa bersekolah di tempat elit seperti ini tanpa biaya.
“Lo nggak ada kerjaan selain nguntitin gue?” tanya Karenina merasa putus asa. Apa, dia harus mulai memikirkan untuk kuliah ke luar negeri saja? Tidak mungkin kan pemuda ini nekad ikut? Tapi yang menjadi masalah, orang tuanya pasti tidak mengizinkan. Dia anak tunggal yang bahkan kuliah di luar Jakarta saja tidak boleh.
“Ngikutin kamu itu membuat aku lebih semangat untuk ngejar impian, Ren,” cengir Dika, membuat ringisan ngeri di wajah Karenina kembali hadir.
“Jadi lo bakalan benar-benar ngikutin gue sampai kapan pun?” Dika mengangguk tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Karenina menghela napas, dan mulai putus asa dengan semua ini. Lalu saat satu ide terlintas di kepalanya, gadis itu tersenyum sembari mendongak untuk menatap wajah Dika yang memang lebih tinggi darinya.
“Oke, gue bakalan ngasih lo kesempatan,” ujar gadis itu yang tentu saja mendapat balasan senyum lebar oleh Dika.
“Serius?” tanya Dika antusias.
“Lo, harus jadi kaya dulu!” Senyum Dika pun luntur, digantikan oleh kernyitan bingung.
“Gue mau, lo nemuin gue lagi saat lo udah punya banyak hal. Terutama harta,” jelas Karenina namun tidak memudarkan kernyitan bingung di kening Dika.
“Dan selama lo nyari kesuksesan itu, lo nggak boleh nemuin gue sama sekali,” lanjut Karenina dengan senyuman yang dibuat-buat. Ia yakin setelah ini Dika akan mundur dengan syarat konyolnya ini. Dalam hati bahkan Karenina sudah tertawa senang.
“Jadi, ini semacam tantangan buatku?” Karenina menggedikan bahu acuh sebagai jawaban.
“Itu juga kalau lo mau. Gue cuman mencoba untuk realistis, Dik.” Karenina memainkan kukunya, sudah yakin jika Dika pasti tidak akan menerima tantangan itu.
Sementara Dika masih terus berpikir, ada senyuman yang membingkai wajahnya saat pada akhirnya gadis itu menyebut namanya. “Oke! Aku terima tantangan itu.”
Karenina tersentak, tangannya yang bersedekap seketika jatuh ke samping tubuh. Dengan kernyitan heran ia tatap mata Dika yang tertutup bingkai lensa. “Lo ngerti maksud gue, kan?”
“Sangat mengerti, Ren. Di masa depan, kita memang nggak cuman butuh cinta, kan? Aku ngerti pemikiran realistis kamu itu.”
Karenina yang masih syok hanya menganga.
“Pokoknya, aku bakalan nemuin kamu lagi. Dan saat itu tiba, kamu bakalan lihat aku yang beda. Dan aku akan buktikan, saat itu aku udah layak untuk miliki kamu.” Karenina hanya mengerjab-ngerjabkan matanya bingung. Ini, kenapa malah jadi seperti ini?
“Tapi kamu nggak boleh ngingkarin janji ya, Ren?”
Karenina tergagap, namun ia menggeleng. Bermaksud untuk membatalkan ucapannya tadi. Namun, tidak satu kata pun keluar dari bibirnya.
“Tunggu aku, ya, Ren!” Dika mengatakan itu sembari menepuk puncak kepalanya sekali, dan berlalu pergi. Namun, sebelum langkah itu benar-benar menjauh, Dika kembali menoleh. “Aku pastikan untuk kembali dan menagih janji!” ujar Dika sedikit berteriak, lalu benar-benar pergi.
Meninggalkan Karenina yang kini masih terpaku di tempatnya. Dika tidak mungkin bisa mewujudkan itu, kan? Pasti tidak bisa, hibur Karenina dalam hati. Dan kalau pun bisa mereka juga pasti sudah lupa satu sama lain. Yah, pasti seperti itu.
*
Karenina mulai menjalankan hidup tanpa mengingat kembali sosok Dika yang benar-benar menghilang seperti ditelan bumi. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Namun, ada yang mengabarkan jika pemuda itu menerima beasiswa dari luar negeri, dan melanjutkan kuliah di sana. Karenina tidak ambil pusing. Ia berharap, pemuda itu mampu melupakannya dan tidak lagi menjadi pengganggu dalam kehidupannya.
Waktu bergulir, hingga Karenina tiba pada titik paling menyeramkan dalam hidupnya. Di mana hari itu semua yang ia miliki perlahan menghilang. Perusahaan papanya mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh investor. Karenina tidak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi yang jelas, kemewahan yang ia miliki perlahan habis. Dan bersamaan dengan itu, semua yang ada di dekatnya menjauh. Bahkan saudara yang selama ini menempel bagai parasit ikut menghilang secara perlahan. Tidak ada yang mau mengulurkan tangan padanya atau pun keluarganya. Semua seolah menutup mata. Karenina tidak terlalu terkejut, karena ia tahu, semua yang mendekatinya selama ini bukan karena tulus, tapi karena uang yang ia miliki. Namun, tetap saja rasanya sakit, saat ia tidak memiliki apa pun.
Karenina terpaksa keluar dari perguruan tinggi yang baru saja ia mulai, karena tidak lagi memiliki apa pun untuk membayarnya. Dan tidak lama papanya terkena serangan jantung hingga meninggal. Hidup Karenina seolah mati di titik itu.
*
Beberapa tahun kemudian, seseorang yang telah memenuhi janjinya kembali untuk menemui Karenina. Tapi yang ia temui adalah rumah dengan penghuni lain. Dika yang kala itu memutuskan untuk kembali ke Indonesia harus kecewa karena kehilangan jejak Karenina. Sang gadis yang menjadi penyemangatnya untuk menjadi ‘orang’ seperti sekarang telah pergi entah ke mana.
Tapi hari itu Dika mendapat kabar jika Karenina sekarang tinggal di sebuah kota kecil di Jawa tengah. Tanpa berpikir panjang, Dika pun mulai mencari keberadaan gadis itu dengan petunjuk yang sangat minim. Berharap Tuhan mau mempermudah jalannya untuk kembali memperjuangkan cintanya, setelah terhambat waktu yang begitu lama.