Chapter Ke Tiga Belas : Misteri Dan Psikologi

1003 Words
"Aku tadi menolong Seseorang yang sedang pingsan di toilet sekolah." "Louis memang pria yang baik." Rui memberikan pujian kepada Louis dan tersenyum. Dia kagum mendengar kebaikan pria yang di sukainya. Sejak pertama kali Rui telah menyukai Louis. Sosok Louis berbeda dengan pria lain. Di usia yang masih muda Louis memiliki pemikiran yang dewasa. Padahal usia Louis dibawahnya sekitar tiga tahun. Tetapi jika mereka berdua bersama seperti sepasang kekasih. Louis dan Rui membuka cafenya. Ruangan sudah bersih saat Louis datang. Sepertinya Rui yang telah membersihkannya. Dia merupakan gadis yang rajin. "Apakah yang sedang kamu buat?" Rui bertanya kepada Louis yang sedang mencampurkan bahan kue. "Granola parfait." Louis kemudian menjawabnya. Rui melihat Louis membuat Geologi parfait. Bahan-bahan terdiri dua sendok makan rolled oat, air panas secukupnya, enam sendok makan granola, Yogurt, dan dua sendok makan selai strawberry. Louis memasukkan air panas ke dalam mangkuk dan rolled oat kemudian diamkan sampai lunak. Setelah rolled oat lunak kemudian semua bahan granola, rolled oat, selai strawberry, yogurt, dan tambahkan granola lagi di atas nya sebagai toping. Louis kembali membuat Granola parfait. Karena dia ingin Rui dan Steven menjadi jurinya. Louis kemudian memberikan satu Granola parfait kepada Rui. Setelah itu dia berjalan mendekati Steven yang sedang duduk dan memainkan game terbaru di handphone. Louis meletakkan Granola parfait ke atas meja Steven. "Terimakasih." Steven menerima pemberian dari temannya. "Bagaimana?" Louis meminta penilaian tentang Granola parfait yang dibuatnya kepada Steven. "Enak sekali." Steven memuji Granola parfait milik Louis. Karena temannya memberikan penilaian yang baik kemudian Louis menulis menu baru hari ini di papan. Setelah itu memasang papan di depan Cafe Zero. "Sepertinya tidak sulit untuk membuatnya." Rui berkata kepada Louis. Dia kemudian mencoba untuk membuat Granola parfait. Louis membantu Rui. Tidak lama kemudian pelanggan datang ke Cafe Zero. Steven melihat Louis yang sedang bekerja. Padahal dia seorang pria. Tetapi Steven melihat Louis sangat keren. Tidak hanya pandai dalam pelajaran. Louis dapat bermain basket dan juga membuat kue maupun hidangan. Steven menganggap temannya itu merupakan pria idaman bagi wanita maupun mertua. Steven tertawa kecil saat menilai kelebihan dari temannya. Ketika Cafe ingin tutup dan pemilik Cafe kemudian datang. "Bagaimana dengan hari ini?" Pemilik Cafe bertanya kepada dua pegawainya. "Hari ini banyak pengunjung yang datang. Ini catatan pemasukannya pak." Rui kemudian menjawab. Dia juga menyerahkan catatan pemasukan. Pemilik Cafe kemudian melihat catatan tersebut. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah pemilik Cafe. "Aku tidak mengira jika Cafe ini menjadi banyak pengunjung." Pemilik Cafe memuji hasil kerja keras dua pegawainya. "Ini semua karena Louis yang pandai membuat menu baru setiap harinya. Sehingga banyak pengunjung yang datang ke Cafe Zero." Rui mengatakan kepada pemilik Cafe. Louis kemudian menatap Rui. Sedangkan Rui mengetahui Louis yang sedang memperhatikannya kemudian mengedipkan mata kanannya. Louis tidak memahami sikap dari Rui. "Karena kalian sudah bekerja keras. Aku akan memberikan dua hari libur untuk kalian berdua. Bagaimana?" Rui dan Louis saling menatap kemudian tersenyum. "Terimakasih." Louis menjawabnya dan menundukkan kepala. Perasaannya senang karena dia tidak perlu mengambil hari liburnya. Steven melihat temannya sedang tersenyum bahagia dari kejauhan. Apakah pemilik Cafe memberikan izin libur? Steven kemudian menghabiskan capuccino yang dipesannya. Hari ini dia menyamar menjadi pelanggan ketika pemilik Cafe datang. Dia tidak ingin menyulitkan temannya. Steven melihat jam tangannya. Sekarang sudah waktunya Cafe tutup. Dia berjalan menuju ke kasir untuk membayar nota. Setelah membayar kemudian Steven meninggalkan Cafe Zero. Dia menunggu Louis di lorong jalan. Malam ini Steven akan menginap di rumah Louis. Tidak lama kemudian pemilik Cafe, Rui, dan Louis keluar. Rui yang memegang kunci Cafe. "Apakah kamu bisa pulang sendirian? Aku ingin mengantarkan temanku." Louis berkata kepada Rui. Perkataan itu membuat Rui menjadi canggung. Karena selama ini Louis selalu mengantarnya pulang. "Tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendirian. Sana cepat pergi. Temanmu sudah lama menunggu." Louis menganggukkan kepala. Dia kemudian berjalan menghampiri temannya. Rui menatap punggung Louis yang sosoknya mulai menjauh. "Kenapa hatiku menjadi sedih?" Rui berkata kepada dirinya sendiri. "Akhirnya kamu datang." Louis mendengar suara Steven. Dia melihat Steven berdiri di lorong kemudian berjalan menghampirinya. "Maaf sudah membuatmu menunggu." "Bagaimana dengan liburannya. Apakah kamu sudah meminta izin?" Steven bertanya kepada Louis. "Pemilik Cafe memberikan libur dua hari kepada pegawainya." "Kebetulan sekali." "Benarkan? Sepertinya dewa keberuntungan memihak kepadaku.". Louis mengatakannya dengan penuh percaya diri. Steven tertawa lepas. Mereka berdua saling bercerita hingga tiba di rumah. Akira menekan bel rumah teman masa kecilnya. Aku yang berada di dalam kamar segera berlari menemuinya. "Kamu baru saja sakit. Kenapa berlari untuk membuka pintu?" Aku tersenyum lebar menjawab pertanyaannya. Akira masuk kedalam rumahku. Dia kemudian memperlihatkan kantung plastik kepadaku. "Aku telah membeli sup iga sapi kesukaan mu." "Terimakasih." Aku segera menerima pemberiannya. Akira duduk di kursi makan. Tidak lama kemudian aku keluar dari dapur dengan membawa dua mangkuk sup iga sapi. "Malam ini aku akan menginap di rumahmu. Kamu bisa meminta bantuan ku jika ada sesuatu." Aku menganggukkan kepala dengan perlahan. Wajah ini tidak berani menatapnya. Malam ini pasti aku akan tidur dengan pulas. Karena Akira yang menjagaku. Setelah selesai makan kemudian Akira menyalakan televisi. Dia memasukkan kaset ke DVD. "Ini anime Moriarty the patriot." Aku berkata kepada Akira setelah melihat gambar tokoh favoritku William James Moriarty. Aku sangat mengagumi sosoknya. Dia adalah putra angkat keluarga Moriarty. Adik angkat dari Albert Moriarty. Walaupun dulu hidupnya di daerah kumuh tetapi Liam sangat pandai. Liam adalah panggilan dari orang terdekatnya. Liam sering masuk di perpustakaan Kerjaan Inggris secara sembunyi. Waktu itu Inggris dipimpin oleh Ratu Victoria. Masa pemimpin Ratu Victoria pada 24 Mei 1819 – 22 Januari 1901. "Iya. Aku membeli kaset ini saat perjalanan pulang dari sekolah." Aku kemudian duduk di samping Akira. Mana mungkin aku melewatkan anime yang satu ini. Episode terbaru berjudul Penari di atas jembatan. "Ah.." Seketika aku menutup wajahku ketika melihat seorang gadis yang menyanyi kemudian terjun dari jembatan. Tubuhnya terhanyut di sungai. Akira kemudian melihatku yang ketakutan. "Apakah lebih baik aku matikan DVD nya?" "Jangan. Aku masih ingin melihat ceritanya sampai akhir." Aku memang takut melihatnya. Tetapi tidak tahu kenapa perasaan ini sangat ingin mengetahui kelanjutan dari cerita. Anime ini bergenre Misteri dan psikologi. Menurutku cerita yang lebih baik daripada kisah cinta romantis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD