Kerinduan orang tua pada sang anak

4387 Words
"Nona kami pergi" pamit Cla dan Sri bersamaan. Dini hari Alana mengantar dua orang kepercayaannya pergi ke tempat tujuan yang sudah diputuskan oleh nyonya Kris. "Baik-baiklah kalian disana, aku akan segera menyusul" ucap Alana pada kedua asistennya. "Baik nona sampai bertemu" balas Cla lalu memasuki mobil bersama Sri. Alana memandang mobil yang mereka tumpangi hingga menjauh tak terlihat lagi, ada deru dalam dadanya yang semakin menyesakkan, entah sampai kapan penderitaan dan sandiwara ini berakhir. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Kesalahan dari kakek dan neneknya, membuat hatinya luluh lantah kala mendapati kenyataan pahit yang ia dengar dari sang mama pada hari ulang tahun nya ke tujuh belas saat ia masih duduk di bangku sekolah. "Apa papa sering melakukan ini pada mama?" tanya nya kala itu yang hanya di balas anggukan oleh sang mama. "Apa sebegitu bencinya papa pada mama? Jadi selama ini papa juga membenciku, pantas saja papa selalu bersikap acuh padaku sejak kecil" cicitnya menunduk sembari memilin seragam sekolahnya. "Dia papamu nak, jangan kau benci bagaimanapun sikapnya padamu, percayalah suatu saat dia akan menuai akibatnya" nasihat sang mama "Aku tak percaya, dia tidak akan pernah berubah mama, aku jadi benci padanya, ku pikir selama ini kalian baik-baik saja, nyatanya tidak seperti yang aku pikirkan" bantah Alana "Jadi kak Keenan bukan saudara kandungku mama?" lagi-lagi sang mama hanya mengangguk menjawab ucapan sang anak "Jadi kakek dan nenek Nuel yang merebut semua warisan milik mama lalu diatasnamakan anak mereka, seolah itu harta milik mereka?" "Kenapa mama hanya diam saja dan tidak berbuat sesuatu?" "Bahkan mama dituduh melakukan malpraktek di rumah sakit tempat mama bekerja hingga menyebabkan dua orang meninggal?" "Hanya demi menyingkirkan sahabat mama yang bernama Sarah, mereka tega melakukan itu semua pada mama?" "Mereka membuat alibi seolah-olah Sarah pergi meninggalkan papa, padahal mereka yang telah menculik dan menyakiti Sarah lalu pada akhirnya keajaiban datang, ada yang menolong Sarah dari jeratan kakek dan nenek Nuel" "Dan mama yang dijadikan tumbal oleh mereka seolah-olah yang meninggal pada saat itu Sarah?" "Padahal saat itu Sarah sudah pergi menjauh bersama orang yang menolongnya lalu mereka menikah, dan mama tidak pernah lagi bertemu dengannya dari awal hingga akhir?" "Keterlaluan sekali mereka mama, aku tak menyangka, padahal pada saat itu mama sudah memiliki kak Keenan dan mereka memisahkan mama dengan suami mama dengan segala tipu daya yang mereka buat" "Aku sungguh tak percaya mama" Alana menangis sesenggukan setelah mengeluarkan unek-uneknya tanpa memberi jeda pada sang mama untuk menjawab semua pertanyaan yang ia lontarkan. "Sudahlah kita akan baik-baik saja, apa kau mau membantu mama Alana?" tanya mama seraya mengusap lembut rambut sang putri. "Iya mama, apa yang bisa Alana bantu?" "Tetaplah disisi mama dan kak Keenan apapun yang terjadi nanti, bersikap bijaklah di hadapan papa mu meski kau membencinya, mungkin" ujar sang mama "Aku janji untuk yang pertama mama, tapi untuk papa aku belum bisa berjanji, dan aku tak mau" ucap Alana "Baiklah, mama tidak memaksamu, kau yang lebih tahu yang kau rasakan" Lamunan Alana hilang kala sebuah tangan memegang pundaknya sembari mengucapkan kata "sabar nona". Siapa lagi jika bukan bik Minah yang sedari tadi juga ikut mengantar kepergian Cla dan Sri. "Bik, aku akan pergi untuk beberapa waktu dan mungkin aku kembali dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan, bik apa aku bisa meminta sesuatu padamu?" tanya Alana begitu mereka telah memasuki mansion. Kini mereka berada di dalam kamar bik Minah. "Nona hendak kemana?" "Aku tidak bisa menjelaskan bik, tapi yakinlah aku akan baik-baik saja sampai aku kembali" Alana menghembuskan nafasnya perlahan "Lalu apa yang bisa bibi bantu nona?" "Lakukan sesuatu untuk ku dan mama, tapi ku harap bibi menjaga ini dari mama, karena aku tidak mau membuatnya khawatir" "Baiklah katakan saja" "Kirim semua data yang ada dalam flashdisk ini sebulan setelah aku pergi melalui surat kaleng, bibi tahu kan maksudku apa?" Bik Minah mengangguk, ia tahu apa yang akan dilakukan sang majikan mudanya itu. "Apa nona yakin dengan segala konsekuensinya?" tanya bik Minah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Yakin, percayalah bik" "Aku percaya nona" Mereka berdua akhirnya saling memeluk, Alana menangis sendu di pelukan bik Minah. Dengan sabar bik Minah membiarkan Alana menangis dalam pelukannya, mungkin ini pelukan untuk terakhir kali untuk mereka. Di sudut desa terjauh yang hanya bisa dilalui jalan setapak, pepohonan nun hijau menghiasi setiap inci desa tersebut, angin semilir dan udara yang sejuk serta lalu lalang warga desa yang hendak melakukan aktivitas paginya, mulai menyapa hari dengan penuh kebahagiaan. Namun tidak bagi seorang wanita yang sudah beberapa bulan ini terus mengurung diri didalam rumah petak yang hanya ia tempati bersama sang suami dan dua orang anak buah kepercayaan mereka yang mengurus segala keperluan mereka dari pagi hingga malam. "Ratna, makanlah barang sedikit" ucap pria yang tak lain adalah Keenan, Sang istri hanya menatap hampa keluar jendela sembari menekuk kedua lututnya dijadikan sandaran kepala. Matanya menelisik ke setiap inci jalan setapak di depan rumah mereka. Harapan hanya tinggal harapan, setiap detik harapan itu semakin membesar namun kenyataan pahit lagi-lagi yang harus ia telan. Sosok putra yang ia rindukan tak juga datang memanggil namanya. Suara khas anak kecil yang bergelayut manja saat meminta mainan, suara tangisnya yang memekak telinga saat gagal melakukan sesuatu yang ia inginkan semua menari-nari di benaknya. Keenan yang melihat kondisi sang istri yang semakin tidak karuan berusaha terus berbesar hati, bukan hanya istrinya saja melainkan dirinya sendiri pun merasakan hal yang sama. Namun apa jadinya jika ia hanya termenung saja tanpa mau melakukan sesuatu sama halnya dengan bunuh diri, lalu bagaimana dengan anak semata wayang mereka yang jauh di belahan dunia lain. Keenan yakin sang anak pun merindukannya. Kelak hari bahagia itu akan tiba entah kapan, yang terpenting baginya tak perlu lelah berharap dan berdoa namun jangan dengan menyakiti diri sendiri. "Jangan buat kesabaranku habis Ratna, makanlah barang sedikit saja, apa kau tidak kasihan dengan bayi kita? Mereka juga butuh nutrisi" rayu Keenan dengan lembut namun lagi-lagi tak digubris oleh Ratna. Semakin berusaha Keenan semakin dibuat bingung dengan tingkah Ratna yang seperti anak kecil. "RATNA" suara Keenan memenuhi seluruh isi rumah membuat kedua asisten mereka yang sedang sibuk di belakang berlari masuk ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh. "A...ada...ap..apa tuan?" suara panik Sukiman yang berada di bibir pintu kamar diikuti Lasmi yang berdiri di belakangnya dengan wajah pucat karena saking terkejut mendengar suara Keenan yang menggema. "Sudahlah kalian lanjutkan saja kerja, aku tidak apa-apa" sahut Keenan tenang pada kedua asistennya. "Baiklah kami permisi tuan" Sukiman pamit diikuti Lasmi, tentunya mereka masih memegang d**a berusaha menetralkan detak jantung serta deru nafas mereka yang masih ngos-ngosan. "Pak, aku hampir mati" keluh Lasmi "Hus jangan ngomong sembarangan, biarkan saja itu bukan urusan kita, kamu tahu kan nyonya kayak gimana?" ucap Sukiman yang balas anggukan oleh sang istri. "Mau sampai kapan kamu menyiksa ku Ratna?" "Apa kau tidak memikirkan mereka yang ada dalam kandunganmu?" "Tuhan memisahkan kita dengan Fritz tapi Tuhan juga memberi kita anugerah lagi" "Apa yang kau inginkan Ratna?" "Lihatlah aku, aku merindukannya tapi tidak untuk menyiksa diriku sendiri, masih ada yang harus aku pikirkan selain Fritz dan diriku sendiri, ada kamu dan calon adik-adik Fritz, mereka juga butuh kamu, mereka butuh aku, pikirkanlah" "Aku hanya ingin Fritz kembali" ucap Ratna pilu "Lalu untuk apa kau menyetujui permintaan papa jika pada akhirnya kau menyiksa dirimu sendiri huh?" "Kau perempuan egois yang pernah aku kenal dan aku menyesalkan sikapmu Ratna, jika kau tidak menginginkan mereka hadir maka bunuh mereka dengan caramu, jika kau ingin dibenci oleh Fritz suatu hari nanti" "Aku pergi dan entah kapan aku akan kembali, baik-baiklah dirumah" Keenan pergi meninggalkan Ratna yang masih tertegun dengan ucapannya. Keenan menghampiri dua asistennya dan menyerahkan sejumlah uang untuk keperluan mereka selama ia pergi, tak lupa ia juga memberi sejumlah uang untuk cucu Sukiman dan Lasmi yang yatim piatu sejak kecil. Setelah membahas beberapa hal Keenan akhirnya pamit pergi tanpa menoleh kembali pada Ratna yang masih tak percaya dengan ucapannya. Ratna menangis tergugu tanpa menyadari kepergian sang suami yang sudah jauh melewati jalan setapak menuju ke kota. "Ibu rindu kamu nak, pulanglah" batin Ratna di sela isak tangisnya. " Kau perempuan egois yang pernah aku kenal dan aku menyesalkan sikapmu Ratna, jika kau tidak menginginkan mereka hadir maka bunuh mereka dengan caramu, jika kau ingin dibenci oleh Fritz suatu hari nanti" Ucapan Keenan masih terasa menggema di telinganya, menyulutkan rasa bersalah bersarang di sudut hatinya, tak dapat ia pungkiri, ucapan suaminya memang benar, ia perempuan yang terlalu egois. Menyiksa diri sendiri hanya demi Fritz tanpa pernah memikirkan janin yang ada dalam kandungannya, mereka juga butuh kasih sayang yang sama seperti mereka menyayangi Fritz sejak ia masih berupa segumpal darah. Ratna merasa menyesal atas keegoisannya selama ini, sudah hampir dua purnama ia lewati hanya demi menyiksa kedua calon buah hatinya. Baru seminggu yang lalu ia terpaksa dibawa ke puskesmas desa untuk menjalani perawatan karena muntah terus menerus serta asupan makanan yang tidak teratur membuatnya pingsan saat sedang sholat. Beruntung bik Lasmi yang melihatnya saat hendak mengantarkan makan siang di kamar. Setelah menjalani perawatan dua hari Ratna diperbolehkan pulang dan harus menjalani rawat jalan demi melihat perkembangan dan kesehatan janin yang dikandungnya. Namun lagi-lagi Ratna mengabaikan kedua malaikat kecil yang bersemayam di rahimnya. Hanya demi rasa rindunya pada Fritz ia seolah lupa pada segalanya. "Maafkan ibu mengabaikan kalian berdua nak, maaf" ucapnya seraya mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Usia kandungannya memang masih beberapa minggu, beruntung bidan di desa ini begitu sabar dan telaten bahkan rela bolak balik datang ke rumahnya demi melihat kondisinya. Melihat sepiring nasi goreng dan telur orek di atas nakas, rasa bersalah itu semakin bergelayut dalam hati Ratna. Diraihnya piring lalu melahap semua isinya tanpa sisa sedikitpun. Setelah merasa kenyang, ia berniat keluar membawa piring ke dapur tapi bik Lasmi ternyata lebih dahulu masuk ke dalam kamarnya membawa semangkuk bubur kacang hijau yang masih panas. "Nyonya, ini buburnya masih panas, tunggu sampai agak hangat sebelum di makan" ucap bik Lasmi "Terima kasih bik" "Sama-sama, apa nyonya butuh bantuan?" "Aku mau ke kamar mandi bik, bisa tolong tuntun saya?" "Oh baiklah nyonya mari" "Mas Keenan apa sudah ke sawah sama pak lik ya bik?"tanya Ratna sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi "Tuan sudah pergi ke kota nyonya, bukannya nyonya sudah tahu ya?" jawab bik Lasmi dengan alis berkerut "APA?" Ratna terlonjak kaget. "Loh...bukannya tadi tuan pergi sudah pamit sama nyonya?" Kini bik Lasmi yang tampak terkejut. Ratna tergugu di ambang pintu tangisnya pecah seketika mengingat kesalahan fatal yang sudah membuat suaminya begitu murka. Bik Lasmi memegang erat pundak Ratna dan menenangkannya. "Sudah nyonya, yang sabar ya, tuan pergi karena ada urusan beliau sudah bicara sama saya dan pak lik tadi. Beliau juga akan mencari s**u hamil untuk nyonya dan mencari rumah sakit rujukan untuk persiapan persalinan nyonya nantinya, jika disini ada kendala, maklumlah disini desa terpencil pisan" ucapnya "Aku yang salah bik, hanya karena aku rindu anak pertama ku sampai aku lupa dengan calon adiknya hikss hikss hikss" "Sudah ya, mau saya yang mandikan nyonya?" "Nggak perlu bik, tunggu saja di depan pintu sampai saya keluar" "Tapi jangan di kunci ya nyonya?" "Iya" Ratna masuk ke dalam kamar mandi dengan pilu, rasa bersalah pada suami dan calon buah hati mereka semakin menyesakkan dadanya. "Maafkan ibu nak, ibu janji nggak bakal mengulangi lagi, ibu janji nggak akan menyiksa kalian lagi, maafkan ibu" ucapnya mengusap perutnya. Setelah itu Ratna melanjutkan aktivitas mandinya. "Loh buk ngapain bengong disitu?" Tanya pak Sukiman "Nungguin nyonya mandi, sampeyan mau ke tegalan?" "Iyo iki, yo wes aku pamit, kalau ada apa-apa panggil Tarjo di sebelah ya" "Iyo pak, hati-hati" Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Ratna memegang handle pintu dengan wajah meringis menahan sakit, tangannya sedari tadi tak lepas memegang perutnya. Bik Lasmi langsung sigap membantu Ratna berjalan menuju ke kamar. "Apa ada yang sakit nyonya?" tanya bik Lasmi begitu mereka sudah di dalam kamar. "Bisa panggilkan Bidan Erna bik, perutku melilit sakit sekali tapi sebentar hilang" keluh Ratna "Baik nyonya, Apa perlu saya utus Tarjo untuk menyusul tuan ke kota juga nyonya?" "Sepertinya tidak perlu bik, mungkin besok mas Keenan sudah pulang" "Oo...ya sudah saya panggil Tarjo dulu untuk memanggil bidan Erna" Sepeninggalan bik Lasmi, Ratna mencoba menghubungi sang suami dengan ponsel miliknya tapi tidak dapat tersambung. "Segitu kecewanya kamu sama aku mas, maafin aku yang udah egois, ini sudah hampir setengah jam tapi tidak satupun panggilanku terhubung" lirih Ratna sendu. Netranya menatap ke arah jendela terlihat dari jauh bik Lasmi jalan tergopoh-gopoh bersama Tarjo tetangga mereka yang rumahnya berada tepat di sebelah barat rumah mereka. Ratna mengernyit melihat kedua orang beda usia itu jalan seperti orang ketakutan. "Assalamualaikum nyonya" suara bik Lasmi dan Tarjo bersamaan memasuki rumah. "Waalaikumsalam" Ratna hendak turun dari ranjang namun bik Lasmi menahannya saat sudah masuk ke dalam kamar. "Kalian kenapa aku liat dari jauh kayak dikejar setan?" tanya Ratna pada bik Lasmi yang masih mengatur nafasnya. "Bi...bi….bidan Erna kritis nyonya" jawab bik Lasmi gugup. "Loh, emang sakit apa?" "Kecelakaan di ujung jalan perkebunan arah menuju ke kota, sepertinya bidan Erna di rampok, untung ada warga yang melintas dan menyelamatkannya" "Kapan kejadiannya bik?" "Saya kurang tahu nyonya, karna mbak Laras asistennya di puskesmas yang mengatakan pada Tarjo." "Gimana sama mas Keenan bik aku takut" tiba-tiba raut khawatir tercetak jelas di wajah Ratna. Sejak tadi ia memang menelpon sang suami berkali-kali tapi tidak satupun panggilannya terhubung. "Tuan baru pergi tiga jam lalu nyonya, sekarang sudah hampir waktunya sholat dhuhur, semoga saja tuan selamat sampai kembali" ujar bik Lasmi menenangkan "Mas Tarjo, panggilin pak lik di sawah ya suruh cepat pulang" ucap Ratna sedikit berteriak karena Tarjo sedang duduk di ruang tamu. "Orangnya sudah pulang nyonya, beliau masih singgah di rumah nganter Rendra ambil baju ganti" jawab Tarjo dengan suara sedikit keras tapi tetap sopan. "Bik, aku khawatir, bagaimana kalau ada apa-apa sama mas Keenan, mulai malam ini bibik tidur sama saya ya sampai mas Keenan datang, Tarjo dan Rendra juga disini ya, lagian kamar disini kan ada tiga, ya bik ya...ya ….!" rayu Ratna pada bik Lasmi "Iya nyonya, kita berdoa ya semoga tuan kembali dengan selamat" Sementara itu di batas desa yang menghubungkan arah menuju ke kota, Keenan sedang menepikan kendaraan roda dua yang ia pinjam dari salah satu warga desa yang memiliki bengkel pres ban. Keenan meminjam motor tentunya dengan jaminan bahwa motor harus selalu dirawat dan sang pemilik mendapatkan hasil dari upahnya mengojek. Sudah barang tentu semua itu kemauan Keenan sebagai tanda terima kasihnya pada pak Joko yang bersedia membantunya mencari rezeki halal. Padahal pak Joko sendiri tidak meminta keuntungan apapun darinya yang penting motor itu terpakai daripada jadi pajangan di teras rumahnya. Keenan mengusap peluh yang menghiasi wajah tampan nya karena baru saja ia menurunkan penumpang yang hendak ke kota. Memang jarak dari desa ke kota cukup jauh memakan waktu hingga satu jam, bukan tanpa alasan mengapa perjalanan selama itu, karena kondisi jalan yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua saja, belum lagi kondisi jalan yang terjal dan berbatu. Jika kondisi cuaca panas jalan masih mudah dilewati tapi jika cuaca sedang buruk, kondisi jalan agak sulit dilewati karena banyaknya jalanan terjal yang berlubang sehingga pada waktu hujan mengakibatkan banyaknya kubangan air di sepanjang jalan. Keenan memilih duduk di samping warung tenda yang biasa ia tempati mangkal, meraih botol air minum yang ia bawa dari rumah dan beberapa buah serta sebungkus nasi dan telor ceplok yang bik Lasmi siapkan pagi tadi. Keenan makan dengan lahap tanpa peduli dengan kondisi sekitar yang mulai ramai oleh penduduk dari desa yang hendak berbelanja ke kota atau yang membawa barang dagangan mereka dari hasil panen berupa beras, pisang, sayuran dan lain-lain. "Loh mas Keenan tumben sudah sampai disini duluan" sapa salah satu warga yang mengenalinya. "Eh bopok, do..dok" ucap Keenan dengan mulut masih penuh makanan membuat bapak yang menyapanya tertawa lepas. "Weleh weleh mas Keenan, abisin dulu makannya baru ngomong hahaha" "Bapak baru datang?" tanya Keenan kemudian setelah menghabiskan sisa makanannya. "Iya baru saja sampai" "Bapak bawa apa?" "Bawa sayur sama beras dan pisang kepok saja mas, itupun beras sisa panen yang sebelumnya" "Wah ya lumayan lah pak daripada tidak ada yang di bawa ke pasar kota" "Mas Keenan bawa penumpang tadi?" "Bawa buk Sri sama anaknya katanya mau berobat di dokter sekalian singgah di rumah kerabatnya" "Oh iya...eh hampir lupa, mas Keenan tahu nggak kalau bidan Erna kritis sekarang?" "Hah kritis, emang sakit apa pak?" "Nggak sakit tapi kayaknya habis di rampok orang tidak dikenal di ujung jalan perkebunan yang sebelah timur arah kesini" "Loh, kapan kejadiannya pak?" "Sepertinya subuh tadi saat bidan hendak masuk ke desa, beruntung ada pak Widodo yang saat itu sedang melintas hendak menuju ke kota, tapi saat ditemukan kondisi bidan Erna sudah pingsan dan bersimbah darah karena tusukan di perutnya." "Astaghfirullah...selama hampir dua bulan saya disini baru kali ini ada perampokan pak" "Nah itu dia mas, saya saja heran wong saya dari lahir disini bahkan nenek moyang saya juga lahir dan besar disini tidak pernah kami mengalami hal seperti itu apalagi perampok, karna desa kami dikenal angker oleh orang luar dan tidak ada yang berani masuk ke desa menjelang malam kecuali warga desa asli" "Haduh pak kalau seperti ini sepertinya saya harus pulang, kasian istri saya kalau ada apa-apa gimana, apalagi hamil muda masih mengidam" "Loh memang nggak nungguin bu Sri sama anaknya sekalian?" "Tidak pak, karena tadi bu Sri enggak bilang kalau mau ngojek pulang" " Ya udah sana pulang, kalau ada apa-apa sama istrinya panggil saja asistennya bidan Erna mas" "Siap pak, terimakasih banyak ya informasinya, saya pulang duluan pak" Keenan segera menyimpan bekalnya di dalam kresek hitam lalu menyimpan ke dalam tas, tak lupa Keenan memakai kembali atribut ojek nya lengkap dengan masker dan helm fullface. Perasaannya tiba-tiba tidak enak mengingat ia meninggalkan Ratna dalam keadaan marah pagi tadi, terlebih kondisinya yang masih lemah. Di tambah berita bahwa bidan Erna sedang kritis karena dirampok, membuatnya merasa tak tenang jika terjadi apa-apa pada Ratna. Sebenarnya ia berencana kembali ke Jakarta selama beberapa minggu untuk menjemput sahabatnya Arif yang baru saja selesai mendapatkan gelar dokternya di Belanda. Baru beberapa hari lalu ia mendengar bahwa Arif akan mengajak serta Alana sang adik yang baru saja menyelesaikan tugas koasnya. Tapi entah ada masalah apa di rumah orang tuanya hingga Alana tiba-tiba saja membatalkan rencananya. Bahkan panggilan luar negri yang biasa dilakukannya tidak dapat terhubung lagi, baik mama maupun Alana atau Cla dan Sri. Fakta sebenarnya ia hanya ingin mengetahui kondisi Fritz sang anak semata wayangnya. Sudah beberapa minggu ini ia tidak lagi mendengar kabar tentang Fritz dari Cla atau pun Sri. Bahkan sang pengasuh Fritz juga tidak bisa di hubungi lagi. Memikirkan itu lagi-lagi Keenan merasa sedih, sungguh ia sangat merindukan sang putra, setiap detik tak pernah berhenti untuk memikirkannya. Apa dia sudah makan?, apa yang dilakukan Fritz saat ini?,apa kakek John memperlakukannya dengan baik?, apa mama dan Alana bisa menjaga Fritz? Semua pertanyaan itu berkelebat dalam benaknya. Sungguh memendam rindu itu berat terlebih pada anak semata wayangnya. Keenan menghidupkan mesin dan menancap gas namun baru beberapa meter ia berbalik menghampiri bapak tadi. "Loh kok balik lagi mas Keenan?" tanyanya bingung "Eh bapak, maaf boleh saya minta tolong?" "Eh ada apa mas?" "Gini pak, tadi saya rencana mau belikan s**u hamil untuk istri saya saat pulang, tapi karena saya buru-buru harus pulang, bisa tidak bapak menolong saya untuk membeli s**u hamil?" "Oalah..iya iya bisa, s**u merek apa mas, berapa buah?" "Ini pak uangnya untuk persediaan sebulan ya pak" ucap Keenan sambil menyerahkan uang merah 10 lembar. "Hah banyak amat sih mas Keenan, lima ratus juga cukup, emang berapa box mau dibeli mas terus merk apa, kan banyak sekarang jenis merk s**u hamil" "Itu yang pronagin pak beli aja untuk persediaan sebulan, kalau masih ada sisa uangnya bapak ambil saja untuk anak istri bapak dirumah, kalau kurang nanti dirumah saya ganti uang bapak" "Weleh mas Keenan repot amat sama tetangga, ya sudah nanti saya belikan, hati-hati ya" "Oke terimakasih banyak ya pak" "Sama-sama mas" Keenan melangkah menuju motornya dan beranjak pergi meninggalkan bapak tadi yang memandang lekat kepergiannya hingga menghilang di ujung jalan batas desa. "Kasihan mas Keenan, jauh dari keluarga hidup di pelosok cuma mengandalkan ojek, beruntung ada pak Sukiman dan istrinya serta Tarjo yang sigap membantunya mengurus istrinya yang sakit, apalagi orang nya murah hati, ramah, luwes suka membantu, semoga kelak hidupmu berkah mas Keenan bersama anak istrimu" batin bapak tadi "Eh, tapi kok bawa uang sebanyak ini? Weleh weleh pasti ini uang tabungannya hasil ngojek selama dua bulan di kumpulin, ckckck kasihan bener hidupnya mas Keenan" lanjutnya membatin Tidak ada satupun warga desa yang tahu siapa sebenarnya Keenan. karena ia datang ke desa ini sudah bersama pak Sukiman, bik Lasmi dan Tarjo yang mengaku sebagai orang yang menolong mereka karena tersesat setelah di rampok orang tak di kenal di stasiun kereta. Selama dua purnama tinggal di desa ini, Keenan sudah mulai betah dan terbiasa dengan kesibukan dan kegiatan para penduduk sejak petang hari hingga malam menjelang, bahkan kini Keenan sudah mulai ikut kegiatan desa seperti kerja bakti dan gotong royong, kegiatan keagamaan seperti tahlilan, yasinan, pengajian khusus bapak-bapak setiap malam jumat, sambatan jika ada yang punya hajat dan kegiatan lainnya. Bahkan Keenan biasa membantu pak Sukiman di sawah menanam padi dan di kebun untuk menanam ataupun memanen hasil kebun. Keenan terkadang merasa rendah dihadapan pak Sukiman yang bijak mampu hidup dalam kesederhanaan meski pada dasarnya mereka hanyalah majikan dan anak buah. Tapi pak Sukiman dan istrinya serta Tarjo mampu menerima mereka dan memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Trash Akibat kurang hati-hati melihat jalan, Keenan bermaksud menghindari lubang yang cukup dalam di sebelah kiri jalan namun roda depan motor justru menabrak batu seukuran kepalan tangan orang dewasa hingga membuatnya oleng namun tak sampai jatuh. Keenan mematikan mesin motornya untuk mengambil batu tadi lalu membuangnya ke tepi agar tidak mengganggu pejalan lain yang melintas. Saat hendak menyalakan mesin motor sorot mata Keenan tak sengaja menangkap sesuatu di tanah bekas tempat batu tadi berada. Keenan berjongkok meraihnya dan mengamati dengan seksama benda yang terjatuh tersebut. "Sepertinya aku pernah melihat ini, tapi dimana ya?..ah ya sudahlah ku bawa saja". Batin Keenan seraya memasukkan benda tersebut kedalam kantong celananya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Keenan sampai di depan rumah pak Joko menyerahkan motor dan memberi uang hasil narik ojek tadi pada pak Joko separuhnya. "Mas Keenan nggak usah repot, saya ikhlas bantu sampean, buat biaya obat istrinya saja ya. Soalnya tadi pagi sekitar jam sembilan si Tarjo ke puskesmas katanya mau jemput bidan Erna karena bu Ratna sakit" tutur pak Joko "Astaghfirullah, tapi bidan Erna koma katanya pak" Keenan mengelus dada "Iya tadi Tarjo ketemu saya di perempatan saya kasih tahu sekalian kalau bidan Erna sakit, terus tadi saya lihat bu Laras asistennya datang kerumah mas Keenan" "Ya sudah pak kalau begitu saya pamit, kasihan istri saya menunggu lama, sekali lagi terima kasih pak Joko" "Iya sama-sama mas Keenan". ---- "Nyonya, itu tuan datang, saya akan memasak untuk makan malam" ucap bik Lasmi begitu melihat Keenan memasuki pagar kayu rumahnya. "Bik, bantu saya baring" "Mari nyonya" "Assalamualaikum Ratna"Keenan masuk ke dalam kamar dan menaruh tas punggungnya di atas kursi " Waalaikumsalam mas, kok tumben cepet pulangnya, biasa maghrib baru sampai" "Aku dengar bidan Erna kritis makanya aku pulang cepat takut kamu kenapa-napa" "Loh tuan jenguk bidan Erna?" Sahut bik Lasmi penasaran dengan ucapan Keenan. "Saya ketemu pak Gondo tadi di tempat biasa saya mangkal, beliau cerita ke saya bik" ucap Keenan, namun bik Lasmi masih mengerutkan kedua alisnya tanda masih tidak percaya dengan musibah yang dialami bidan di desa mereka. "Tapi aneh loh tuan, seumur hidup baru kali ini saya tahu ada perampokan di sini. Apalagi desa ini dikenal angker oleh orang luar dan tidak ada yang berani masuk ke desa menjelang malam" "Tadi pak Gondo juga ngomong gitu sih bik, aku juga ngerasa aneh" Keenan berujar "Sepertinya ada yang tidak beres" batin bik Lasmi memandang kedua majikannya bergantian. "Malam ini aku harus turun ke kota"batinnya lagi lalu pamit ke dapur hendak memasak untuk makan malam. "Apa kamu tadi yang sakit sayang?"tanya Keenan "Perutku melilit tapi sebentar hilang" "Jangan bilang kamu telat makan sarapan yang ku buat, iya kan?" Tanya Keenan tegas "Maaf" cicit Ratna menunduk merasa bersalah. Air mata tak dapat ia bendung lagi akhirnya menangis memeluk sang suami "Maaf...maafin aku" "Maaf juga udah bentak kamu tadi pagi" ucap Keenan seraya mengusap punggung Ratna "Kita sama-sama merindukan Fritz, tapi bukan berarti harus menyiksa diri sendiri, kasihan mereka calon adik Fritz jika kamu seperti ini sayang, mereka juga butuh kita sama seperti kita menyayangi Fritz sejak dia dalam kandungan" Keenan menasehati sang istri "Maaf, aku salah" "Udah nggak papa" Sementara itu di pekarangan belakang rumah mereka terjadi percakapan serius antara Bik Lasmi, pak Sukiman dan Tarjo. "Ini pasti orang bayaran yang disuruh tuan John, nggak mungkin mereka bisa melacak desa ini kalau bukan mereka, apalagi sampai mencelakai warga" ucap Tarjo "Aku sepemikiran denganmu Jo," pak Sukiman berujar "Pak, biar aku saja yang keluar nanti malam "bik Lasmi usul "Jangan, kamu ndak kasihan cucumu? Biar aku sama Tarjo yang pergi, kamu bisa kan lakukan tugasmu dari rumah?" Sanggah pak Sukiman "Yo wes lah, seng penting hati-hati,kalau besok tuan Keenan ngojek, kalau bisa kamu juga ikut mbuntuti di belakang Jo" ujar bik Lasmi "Sip lah, aku siap, sekalian aku juga ada keperluan sama si Boneng di pasar kota" "Tadi nyonya ngirim pesan katanya Cla dan Sri sudah ada di sini." Lanjut Tarjo "Kok kamu baru ngomong, tuan tahu nggak?" Tanya bik Lasmi penasaran "Belum, dan nona muda Alana juga rencana bakal nyusul juga tapi entah kapan" "Aku takut kalau kita nggak bisa menjaga nyonya dan tuan disini bisa-bisa nanti kalau nyonya lahiran di ambil lagi anaknya di jadikan pesakitan sama tuan John" ujar pak Sukiman "Bener pak, saya kasihan liat nyonya tersiksa rindu sama tuan muda Fritz" "Sudah nggak usah dibahas.sekarang kita susun rencana buat nanti malam" usul Tarjo …. "Sri kamu yakin dengan apa yang kita lihat selama tiga hari disini?" Tanya Cla di sela menyeruput teh hijau "Apa lagi sih Cla? Belajar hidup di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota nggak usah kebanyakan ngeluh kamu itu" ucap Sri dengan tegas. Cla hanya nyengir saja mendengar omelan Sri. "Masih untung kita di openi nyonya nggak di telantarin, aku tahu kamu belum pernah hidup susah apalagi berbaur dengan orang kampung, mulai sekarang belajar, kita ini udah nggak punya orang tua dan keluarga kecuali bik Minah." "Iya bawel" Cla memonyongkan bibirnya "Mau di patok ayam tetangga tuh mulut? Cepetan siap-siap!" Ucap Sri disertai tawa ringan melihat tingkah Cla yang manyun. "Huuffth bisa pulang kampung harusnya seneng, malah ribet".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD