Jam sudah menunjukkan pukul 01.15 waktu setempat, namun Meechella masih juga terjaga. Perutnya sangat lapar, biasanya jam segini jika dia lapar mamanya selalu menyimpan makanan bebas lemak dan kalori yang selalu tersimpan setiap harinya di dalam kulkas rumah mereka.
Nayna sangat memperhatikan anak semata wayangnya tersebut. Makanan dan kebutuhan pribadi keluarganya Nayna sendiri yang urus. Bahkan Nayna tidak lupa selalu memasak sarapan pagi dan makan malam. Karena siang hari mereka punya kegiatan sendiri di luar rumah.
Wanita cantik itu menyibak selimutnya dengan kasar. Tubuhnya berguling ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi nyaman agar matanya mau terlelap meskipun perutnya terasa lapar keroncongan.
"Aishhh," keluh Meechella saat dirinya mencoba memejamkan mata namun tidak jua bisa.
Merasa tidak memiliki pilihan lain, Meechella segera bangkit dari ranjang, dia mengambil sweaternya karena udara malam negara yang kini dia sambangi sangat dingin. Meechella merapikan rambut dan penampilannya, ditambah sedikit polesan bedak dan lipstik agar wajahnya tidak terlihat pucat.
Kakinya melangkah keluar, Meechella berjalan ke arah lift untuk naik ke lantai dua puluh. Restoran di lantai dasar hanya buka sampai jam sepuluh malam. Maka dari itu Meechella memilih mencari pengganjal perutnya di cafe & bar hotel ini.
Dentuman musik menyapa Meechella pertama kali saat lift terbuka di lantai dua puluh. Pemandangan didepannya sungguh menggelikan. Bar yang outdoor membuat tempat itu terlihat leluasa bagi semua orang. Setidaknya bau rokok dan juga minuman hilang ketika angin menerpa.
Meechella memilih duduk di dekat kolam renang, menyenderkan tubuhnya di kursi rajutan kayu berwarna putih menunggu pelayan menghampirinya.
"Selamat malam Nona, silahkan ini menu makanannya." Pelayan laki-laki itu menyerahkan buku menu pada Meechella.
Meechella tersenyum menerima buku itu, bagi siapa saja yang melihat senyuman itu pasti akan terpesona dengan gen Nayna yang sangat mendominasi.
"Aku mau Sambosak satu, Falafel satu, sama jus tomatnya satu," ucap Meechella pada pelayan.
Pelayan itu mengangguk dan menunduk hormat sebelum meninggalkan Meechella.
Meechella menatap kesekelilingnya, nuansa di lantai dua puluh ini sangat indah. Bar di sebelah timur, dan cafe untuk santai di sebelah barat di samping kolam renang yang sangat menyegarkan. Wanita itu memejamkan matanya, untung saja dirinya tidak perlu repot-repot keluar dari hotel untuk mengisi perutnya yang kosong.
Lalu pandangan Meechella terhenti saat matanya menangkap sosok lelaki yang menemukan dompetnya. Lelaki itu sedang bersenang-senang di sofa bersama tiga wanita cantik.
Meechella memutar matanya jengah, entah mengapa dia harus bertemu lelaki itu di sini. Meechella membuang mukanya, berpura-pura tidak tahu.
Layar di ponsel Meechella berkedip, nama Mommy tertera di layarnya.
"Ya, Mommy?" sapa Meechella ketika durasi panggilan di layar ponselnya telah berjalan, pertanda panggilan mereka telah tersambung.
"Ada kabar buruk Chell, Rebecca kabur dari istana. Semua orang di istana mencarinya. Keluarga di Indonesia baru saja mendapat kabar dari Pangeran Edward, ayah kandung Rebecca," jelas Nayna di seberang sana.
Tangan Meechella mengepal, mengapa keluarga kandung Rebecca baru muncul sekarang setelah seluruh keluarga Indonesia mati-matian menerima Rebecca di tengah-tengah mereka.
"Kenapa bisa kabur? Lalu apakah Rebecca menelepon kalian untuk memberi kabar?" tanya Meechella khawatir.
"Ella, ibu tiri Rebecca mengatakan Rebecca bukan anak Mama Valeria dan Papa Erick. Kami berasumsi dia pasti marah dan sedih dengan kenyataan itu. Rebecca pasti sangat terpukul. Rebecca tidak mungkin mau menghubungi keluarga kita."
Mata Meechella berkilat, jadi Rebecca sudah tahu kalau dirinya bukan anak dari Mama Valeria?
"Lalu sekarang di mana Mama Valeria?" Jujur saja hanya Valeria yang kini Meechella pikirkan. Ibu keduanya itu pastilah sangat sedih dan terpukul.
"Dia bersama Erick dan daddymu pergi ke Perancis."
"Daddy ikut Mom? Wahhh ini pasti akan jadi perang keluarga besar yang menjadi sejarah Mom," ucap Meechella antusias.
Ya, keluarganya harus menyusul Rebecca ke Perancis dan membawa gadis itu kembali ke Indonesia bersama mereka.
Meechella tidak sadar, lelaki yang sangat tidak ingin dia temui kini duduk di depannya. Damian memperhatikan Meechella ketika berbicara. Bahkan Damian tersenyum dengan melihat ekspresi gemas ketika Meechella berbicara.
"Kamu ini Chel, keluarga lagi panik kamu malah antusias gitu!"
"Ya kan Meechella membayangkan kalau Daddy ikut turun tangan Mom." Meechella bahkan tersenyum sendiri membayangkan bagaimana nanti Chiko menyelesaikan masalah itu. Kalian harus tau, Chiko adalah kunci masalah semua orang. Dia lelaki yang tenang, manis, dan juga sangat berbahaya.
"Daddymu itu tidak semanis yang kamu pikirkan Chell, dia mengesalkan."
"Astaga, kenapa kamu di sini?" pekik Meechella saat dia melihat Damian duduk di depannya dengan tangan menyangga dagunya. Seperti menikmati apa yang tengah dia amati.
"Hallo, Chell? Ada apa?"
"Ah tidak ada Mom, sudah dulu ya nanti Ella telepon balik," pamit Meechella sebelum dia menutup panggilannya.
Meechella memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, dia lalu menatap tajam Damian yang hanya cengar-cengir tidak jelas di depannya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Meechella dengan bahasa Inggris.
"Kamu orang Indonesia?" tanya Damian balik, dia menggunakan bahasa Indonesia.
Meechella tidak menyangka, lelaki di depannya ini bisa bahasa ibunya. Wajahnya sama sekali tidak seperti warga keturunan Indonesia asli.
"Iya, kamu sendiri orang Indonesia?" Kini Meechella kembali bertanya, keningnya saling bertautan.
Lelaki itu mengangguk membenarkan. "Ibuku Indonesia, tapi aku jarang di Indonesia," jawab Damian.
"Lalu kenapa kamu di sini?" Meechella tidak melupakan intinya.
"Hanya bosan," jawab Damian.
"Bersama tiga wanita sexy kamu bilang bosan? Waduhhh buaya ekor patah ni orang," ejek Meechella membuat Damian tertawa.
Damian mencubit pipi chuby Meechella.
"Aku itu gemas tahu nggak sama cara kamu bicara, lucu aja gitu," kekeh Damian membuat Meechella jengah.
Lalu pelayan mengantarkan pesanan Meechella.
"Wanita secantik kamu nggak takut gemuk makan makanan berat seperti ini?" tanya Damian penasaran.
Meechella menggeleng. "Nyatanya aku tidak gemuk-gemuk, badanku kurus kering seperti ini. Anugerah mungkin?"
"Namaku Damian." Damian mengulurkan tangannya pada Meechella.
Beberapa detik berpikir, Meechella akhirnya menerima uluran tangan Damian.
"Meechella."
Jantung Damian langsung berdetak tidak karuan saat tangan halus milik Meechella menempel di kulitnya.
Tiba-tiba saja ada lelaki yang menghampiri Damian.
"Kapten, anda di sini?" Dia Gary, anak buah Damian sekaligus teman baiknya selama berkecimpung menjadi anggota militer PBB.
Damian mengangguk, Gary adalah tentara Korea Utara yang sudah dia selamatkan dari sandraan teroris. Gary sendiri nama Internasional yang pimpinan mereka berikan untuk identitas baru Gary.
Gary melihat siapa yang kini bersama kaptennya. Wanita cantik, dengan polesan makeup tipis, penampilan sederhana namun menunjukkan kelasnya. Sungguh berbeda dengan wanita-wanita lain yang pernah di kencani Damian.
"Dia Meechella, asli Indonesia, dan dia pacar kaptenmu," ucap Damian membuat mata Meechella terbelalak.
Dia Damian, asli Indonesia, dan dia sudah gila.
--------------
Hay teman-teman, bagi kalian yang punya aplikasi n*****e. Jangan lupa mampir ke akun anak online aing ya @Hae Areum.
Kalian cari saja judul Dating with Billionaire di n*****e. Dijamin part awal sudah buat kalian merasa berada di negara Kincir Angin, bukan kincir baling-baling wkwkwk.
BLURB:
Sharena menjadi gadis yang mengutamakan kebebasan meski usianya sudah memasuki 25 tahun. Selain sebagai founder kedai coklat ikonik di daerahnya, gadis itu juga menjadi agen jodoh dari website online.
Berawal dari niatnya mencarikan jodoh untuk seorang lelaki yang membutuhkan pacar sementara demi menemui orang tuanya. Sharena malah terjebak dalam rencananya sendiri.
Klien wanitanya membatalkan perjanjian temu mereka, membuat Sharena tidak bisa lepas dari pertemuan yang telah dia atur untuk lelaki itu.
"Saya tidak mau tahu, kalau dia tidak bisa datang untuk menemui orang tua saya. Maka kamu harus menjadi gantinya!"
Perkataan lelaki itu membuat segalanya jadi runyam. Dia harus menjadi teman kencan pengganti untuk lelaki itu.