Basah dan Gairah

1432 Words
Tidak ada cara lain untuk meredakan kekacauan itu kecuali satu, mengangguk dan membiarkan ibunya percaya apa pun yang membuatnya tenang. Maka dengan berat, Kalandra mengonfirmasi secara tersirat namun cukup jelas bahwa dia dan Marsha memang “berhubungan.” Itu satu-satunya jalan agar Ibu Rindiani berhenti histeris dan pulang tanpa menambah masalah lain. Begitu pintu tertutup dan langkah-langkah ibunya menjauh dari lorong klinik, Kalandra berdiri dalam diam, rahangnya mengeras. Marsha duduk kaku di ranjang, menatap lantai. Ruangan itu terasa lebih sempit. Dia ingin mengusir perempuan ini sekarang juga, tetapi perintah atasannya membayang dalam kepala. Manfaatkan jurnalis itu. Perlihatkan profesionalisme TNI AL. Terpaksa, dia menahan diri. “Saya tidak akan menuntut kamu,” ucap Kalandra membuka suara, nada beratnya memenuhi ruang. “Program kamu akan berjalan. Tapi kamu harus menyusun liputan yang jelas komprehensif dan menaikkan citra TNI AL. Bukan opini liar seperti sebelumnya.” Marsha mengerjap, ragu. “P-Pak… tidak semudah itu. Saya jurnalis lingkungan. Saya harus objektif. Saya—” “Kalau kamu tidak sanggup,” potongnya, tajam dan sangat tenang, “saya tinggal ajukan laporan pelecehan. Pasal 289. Dan programmu juga berhenti. Kariermu selesai.” Marsha langsung menegang. Dia menelan ludah. “Baik, Pak. Saya… setuju.” “Bagus.” Kalandra melangkah menjauhinya. “Sekarang pulang. Besok saya beri bahan sesuai kebutuhan liputan. Hari ini saya ada urusan.” “Tidak bisa sekarang, Pak?” “Saya ada urusan, telinga kamu masih berfungsi bukan?” Marsha mengangguk cepat. “Baik, Pak.” “Oh, satu lagi.” Kalandra menatapnya sambil memasukkan tangan ke saku. “Karena kamu sudah mengaku pacar pura-pura saya, beraktinglah dengan layak. Sampai program selesai. Setelah itu, selesai juga hubungan kita.” “Baik, Pak. Saya mengerti.” Dia mengemasi barang-barangnya, bersiap keluar. Namun sebelum sempat memutar gagang pintu, suara berat itu kembali terdengar, “Kenapa kamu jadi jurnalis?” Marsha menoleh, terkejut. “Karena saya peduli lingkungan, Pak. Dan… karena itu mimpi Ibu saya. Beliau ingin saya membuat perubahan meskipun kecil.” “Oh. Keluar.” Marsha menahan kesal, namun tetap tersenyum profesional. “Sampai besok, Pak.” Tidak apalah dirinya menjadi korban dan tekanan, bahkan boneka sang Laksmana TNI AL. Yang penting dirinya tidak mengacaukan program yang dibangun susah payah, tidak mau kehilangan pekerjaan Impian Mamanya juga. Namun, emosinya semakin buruk ketika mendapatkan pesan dari sang sopir yang sebelumnya mengantarnya kesini, mengatakan dia harus pergi karena anaknya kecelakaan dan kuncinya dititipkan di penjaga depan. Jadilah terpaksa Marsha berkendara sendiri. Dalam keadaan badmood seperti ini, Marsha memilih pergi ke minimarket dan membeli beberapa bahan untuk café dan untuk dimakan sendiri juga. Ocean Lily Café, tempatnya menyalurkan hoby dan kini menghasilkan uang. Tapi tetap saja, yang menjadi Impian utama Marsha adalah menjadi seorang jurnalis, baking hanyalah pelampiasan ketika sedang penat. “Duh, jalanan macet banget. Café keburu buka kalau gini,” gumamnya sambil mencari jalan lain. Sebenarnya Marsha pandai berkendara, tapi dijalanan sempit seperti ini membuatnya agak kesulitan. “Biar Mas aja yang nyetir, Sha. Di jalanan kecil gini kamu suka gak fokus,” ucapan Arvino tiba-tiba terngiang di kepalanya. “Nggak! Jangan gitu, Marsha! Dia cowok b******k! Kamu harus move-on! Ayok! Jangan jadi gila lagi!” Marsha memejamkan mata, menggelengkan kepala mengusir semua kalimat-kalimat manis yang pernah Arvino lontarkan padanya hingga pandangannya tidak fokus dan… BRAK! Sial! Dirinya menabrak seseorang! **** “Mbak? Ngapain? Bikin makan malam?” Imel muncul di pintu dapur sambil mengikat rambutnya, bingung melihat Marsha sibuk membolak-balik wajan. Marsha menoleh sebentar, wajahnya kusut karena panik yang masih tertinggal. Di meja dapur Ocean Lily Café, bahan-bahan berserakan dan menghasilkan ayam panggang lemon-butter, sup sayur bening, oseng buncis udang, sambal matah dan puding roti rumahan untuk dessert Masakan rumahan lengkap, bukan menu café. “Aku nabrak seseorang, Mel,” ucap Marsha sambil mengaduk kuah. “Dia kerjaanya sebagai pembantu gitu. Mbok-mbok gitu. Dia lagi nyebrang bawa belanjaan, tulang kakinya patas jadi dia nggak bisa masak malam ini.” “Terus… Mbak bikin semua ini?” Imel semakin bingung. “Iya.” Marsha menelan ludah. “Aku gantiin tugas malamnya. Dia bilang majikannya harus dapat makan malam jam tujuh. Dan dia sudah bilang ke majikannya kalau ‘yang gantiin’ bakal datang.” “Eh? Mbak… mau aku aja yang nganter? Biar Mbak istirahat?” Marsha menggeleng cepat. “Nggak. Aku yang harus minta maaf. Dan Mboknya juga bilang majikannya orangnya rapi, tegas, dan… ya, agak perfeksionis. Jadi lebih baik aku yang jelasin langsung.” Imel mengangguk, walau wajahnya tampak khawatir. “Hati-hati, Mbak. Jakarta sore-sore tuh serem macetnya…” “Aku cuma nganter makan malam, Mel. Simple,” kata Marsha sambil tersenyum tipis, yang jelas hanya kamuflase. Sebenarnya dia sangat lelah, selalu ada saja masalah. Menjelang pukul enam lewat, Marsha sudah rapi. Tas kertas berisi makanan ia pegang dengan kedua tangan. Ia pamit pada Imel dan staff lain, lalu melajukan mobil menuju alamat yang diberikan sang Mbok. Dan begitu melihat bangunannya… “Woi… ini apartemen apa hotel bintang tujuh?” gumam Marsha dengan mulut terbuka. Altamira Residences, Jakarta CBD. Nama apartemen mewah itu terpampang besar di gerbang masuk. Lobby-nya berkilau marmer krem, lampu gantung kristal menjulur rendah seperti hujan cahaya. Semua orang di sana memakai jas atau gaun elegan, membuat Marsha yang memakai kemeja sederhana langsung merasa seperti kurir tersesat. Dia menunjukkan kartu akses yang tadi diberikan Mbok resepsionis. “Unit PH-12A, Mbak. Penthouse dua lantai,” jelas petugas. “Pe—penthouse?” Marsha hampir tersedak udara. Lift privat menunggu. Begitu pintu terbuka, Marsha melangkah masuk. Lantai lift saja sudah seperti lantai butik mewah dengan warna hitam, mengilap, dan beraroma sandalwood. Pintu lift terbuka langsung ke dalam unit. Dan Marsha terpaku. Apartemen itu… Dua lantai. Kaca setinggi langit-langit. Pemandangan Jakarta sore menghampar di balik jendela, gedung-gedung berwarna emas diterpa cahaya matahari tenggelam. Interiornya minimalis maskulin, marmer abu gelap, baja hitam, lukisan abstrak besar. Sofa panjang dengan lekuk tegas menghadap panorama kota. Tangga spiral kaca naik ke lantai dua. “Ya Tuhan… ini rumah Batman apa gimana?” bisiknya. Ia menutup pintu perlahan, memeluk tas makanan erat-erat. Katanya, majikannya pulang pukul 7 lewat, jadi Marsha harus mempersiapkannya sebelum jam tersebut. Tentu saja orang sekaya ini punya rumah setenang mausoleum… pikirnya. Ia melangkah lagi, perlahan, menuju area ruang keluarga yang terhubung ke dapur elegan bernuansa hitam. Tidak apa kan menikmati sebelum pemiliknya datang. Sampai ia berhenti. Karena ada satu hal yang tiba-tiba membuat jantungnya jatuh ke perut. Di atas meja dapur… Ada topi dinas TNI Angkatan Laut, berlogo jangkar emas. Dan di sampingnya, seragam TNI AL biru yang sama seperti yang dipakai seseorang hari ini. Seseorang yang baru saja mengancamnya dengan pasal KUHP. Seseorang yang baru saja menjadi pacar pura-pura. Seseorang yang rupanya… tinggal di penthouse seharga miliaran. Marsha menutup mulut. “Jangan bilang… jangan bilang ini…” “Ahhhhh! Keluarin sekarang, Kal! Udah perih punyaku! Ahhhhh! Ahhhh!” Marsha menegang, suara apa itu? Kepalanya langsung menoleh salah satu pintu di lantai bawah, persis sejajar dengan dimana dirinya berdiri. “Udah… aku gak kuat. Udah! Ahhhh! Ahhhh!” Dejavu, Marsha melangkah mundur, mengingat bagaimana dia menemukan Arvino dan Ayumares tengah berhubungan badan juga. Suara yang sama, tapi kali ini si wanita terdengar lebih tersiksa. Marsha terus mundur tanpa melihat sekitar dan… BRUK! CRAI! Tubuhnya menyenggol vas bunga. Dan belum sempat Marsha bertindak, pintu yang sejajar dengannya terbuka. Mata Marsha membulat seketika melihat sang Laksamana berdiri disana. Basah oleh keringat, napas naik turun, kulitnya berkilau oleh sisa panas tubuh. Ia hanya mengenakan boxer hitam yang jatuh rendah di pinggul. Cahaya lampu kamar memantul di otot-ototnya mulai dari d**a bidang, bahu selebar gerbang, lengan penuh serat otot yang bergerak tiap kali ia menarik napas. Perutnya keras, garis ototnya turun membentuk V-line tajam yang menghilang di balik kain tipis boxernya. Sedikit rambut halus di bawah pusar membingkai garis otot itu, membuatnya tampak semakin… primal. Sejenak Marsha lupa bernapas. Kalandra mengusap sedikit keringat di pelipisnya, menatap Marsha dengan mata gelap yang masih diselimuti adrenalin latihan. Namun hal yang membuat Marsha membatu bukan hanya tubuhnya. Dari pintu kamar yang masih sedikit terbuka, Marsha melihat bayangan feminin di dalam ruangan. Seorang wanita. Terlelap. Tanpa busana, hanya tertutup selimut tipis yang jatuh pada bagian pinggang. Kulitnya pucat, rambut panjangnya terurai di bantal. Kalandra mengikuti arah tatapannya, lalu menoleh balik dengan wajah yang berubah keras seketika. “Apa yang wanita gila ini lakukan di unit saya?” suaranya rendah, dalam, dan tentu saja kesal. “Marsha, ngapain kamu?” Marsha tak bisa menjawab. Dia hanya berdiri terpaku, telapak tangannya yang memegang tas makanan mulai gemetar. Punggungnya memanas, dadanya terasa sesak. Ia baru sadar sekarang. Penthouse mewah ini… Seragam TNI AL… Dan pria setengah telanjang yang tampak seperti personifikasi badai… Ini rumah Kalandra Galuhpati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD