Marsha bangun lebih dulu, setengah terkejut mendapati lengan kokoh memeluknya dari belakang, berat dan hangat. Ia menoleh perlahan. Kalandra masih terlelap, napasnya teratur meski matahari sudah tinggi, cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai dan menempel di bahunya yang telanjang. Ingatannya melayang ke semalam pada air hangat, pengakuan yang membuat jantungnya berlari, ciuman yang menutup semua kalimat, lalu kelelahan manis di atas ranjang hingga hampir tengah malam. Kini ia mengenakan kaos kebesaran Kalandra yang jatuh sampai paha, sementara pria itu masih tanpa pakaian atas. Marsha tersenyum kecil, memandangi wajah tampan yang biasanya menyebalkan itu. Siapa sangka, pikirnya, Laksamana galak ini jadi suamiku… dan kami benar-benar saling jatuh cinta setelah tiga bulan yang terasa se

