Meskipun terlihat tua, namun bangunan Vin Fidéle ini masih tampak kekar kuat. Hal yang berbeda ditemui ketika memasuki ruangan demi ruangan. Beberapa perabot tua memang masih terpajang di sana, namun nuansa modern lebih terasa mendominasi. Sayda berjalan perlahan sambil memperhatikan sekelilingnya. Foto-foto keluarga terpasang dengan rapih. Dari cerita Alaric, rumah tua, perkebunan dan pabrik anggur ini adalah warisan dari kakek buyutnya dari pihak papanya alias bos besar Takeshi Fleming. Rupanya Takeshi Fleming merupakan putra tunggal yang mewarisi usaha keluarganya. Sayda masih memperhatikan dengan seksama sekelilingnya. Interior setiap ruangan ditata sangat unik sekaligus rapih dan cantik. Benar-benar memperhitungkan fungsi sekaligus estetika secara detail secara bersamaan, dan Sayda benar-benar mendapat pengalaman berharga untuk menambah wawasannya. Karena asyik memperhatikan, Sayda tidak sadar kalau Alaric sudah berada tepat di belakangnya dan menaruh kedua tangannya di pinggang rampingnya. Yang lebih menyentaknya adalah ketika dirasakan hembusan nafas Al di sebelah lehernya dan suara bisikan di telinganya.
"Dida..." Sayda sedikit kaget Al sudah berada dekat sekali dengannya.
“Kalau begini terus, kapan sampai meja makannya Sayda, aku lapar.” Belum hilang rasa kejutnya, Sayda disentakkan lagi dengan dorongan dan tawa pelan Alaric yang membuatnya maju berjalan menuju ruang keluarga dimana sebuah meja panjang telah terhidang aneka makanan. Al menarik kursi dan mengatur kursi Sayda lalu dia duduk di hadapan gadis itu. Sayda bertanya-tanya dalam hati, apakah Alaric selalu bersikap seperti ini pada setiap wanita yang menjadi temannya?
“ Apa kamu hanya mengaduk-aduk makanan kamu tanpa memakannya dida?” Sayda mengangkat wajahnya dengan tatapan kaget bercampur bingung dan langsung menemukan Alaric yang tengah menatapnya lurus. Gadis itu tidak sadar jika sejak tadi dia menjadi pusat perhatian pemuda yang duduk di hadapannya.
“ Heh?”
“ Kamu melamun Dida? Kalau ada yang mau kamu tanyakan silahkan langsung tanyakan padaku, nggak usah bimbang seperti itu, “ ujar Alaric lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“ Ehm..sorry.”
“ Makanlah, kamu bisa bertanya apapun itu dan aku menjawab sebisa mungkin.” Sayda mulai memasukkan makanan dalam mulutnya. Dia sempat berhenti sebentar untuk menilai rasa. Ternyata enak, lalu dia mulai rutin memasukkan beberapa makanan lagi.
“ Nah, enak kan?” Sayda menatapnya dengan heran lalu bersenandika. “Mengapa dia dapat membaca pikiranku?” Sayda melemparkan tatapan curiga ke arah Alaric. Al yang sempat melihatnya hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Mereka menyantap makanan dalam diam. Hanya denting garpu, sendok dan pisau saja pada piring yang menandakan aktifitas mereka.
“ Anggurnya Nona?” Seorang pelayan hendak menuangkan anggur ke dalam gelasnya.
“ Oh tidak usah. Maaf, saya tidak minum anggur. Boleh saya minta air mineral saja?” Pelayan wanita itu mengangguk.
" Baik Nona, akan saya ambilkan." Alaric sudah melemparkan tatapan tanya padanya.
" Kamu tidak mau minum wine?" Sayda menggeleng.
" Maaf saya nggak minum alkohol."
" Kamu nggak salah Dida, tidak perlu meminta maaf. " Sebersit perasaan tidak enak menyapa hatinya.
" Tidak perlu merasa tidak enak denganku Dida. Suka atau tidak dengan minuman beralkohol, itu adalah pilihan. Dan...orang lain harus menghargainya. Mama dan adik perempuanku juga tidak mengkonsumsi alkohol kok. Oma dan mamaku pernah berkata, perempuan memang sebaiknya tidak minum alkohol. Dan perempuan yang tidak mengkonsumsi alkohol itu adalah kategori perempuan baik yang harus dicari untuk dijadikan istri." Sayda menatap Alaric yang sedang menatap piring makannya dan memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya. Sayda mengangkat kedua bahunya lalu melanjutkan makannya.
" Kamu tidak menyentuh udang ini, apakah kau tidak suka?"
"Aku alergi udang, cumi, kerang dan teman-temannya."
"Ooh...aku akan mencatatnya. " Sayda melongo melihat Alaric langsung mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu.
" Apa kamu selalu begini sama semua wanita Al? Maksudku, kamu punya catatan setiap wanita yang jalan dengan kamu di ponsel ?" Alaric mengalihkan perhatian dari ponsel ke gadis di depannya lalu melemparkan senyuman yang terasa misterius bagi Sayda. Pelayan wanita datang menuangkan air mineral ke dalam gelasnya. Sayda mengangguk dan mengucapkan terima kasih dan senyuman padanya. Wajah pelayan itu berseri-seri. Sayda meminum dengan tenang. Tanpa dia sadari sepasang mata memperhatikan dan sudah membuat penilaian dari tadi.
" Kalau kamu sudah selesai, aku akan menunjukkan beberapa tempat padamu. " Sayda mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.
" Come " Alaric menjulurkan tangannya. Meskipun Sayda sendiri merasa aneh, tapi dia tetap menyambut uluran tangan pria itu. Mereka keluar melalui pintu samping saling bergandengan tangan membuat beberapa pelayan tersenyum. Mereka berjalan beriringan dengan tangan Alaric yang kuat menggenggam punggung tangannya. Hamparan kebun mawar di depan mereka membuat Sayda terkesima.
" Wow...ini cantik sekali Al." Sayda menghentikan langkahnya membuat Al juga berhenti.
" Sayda kalau kamu mau berfoto di sini, nanti saja ya. Aku jamin kamu akan sering datang ke sini, jadi masih ada banyak waktu untuk kita habiskan di kebun mawar ini."
"Benarkah?"
" Ya, asal kamu mau berada di sisiku." Sayda memberi tatapan bingung.
"Ah...nanti kamu juga akan tahu. " Dia menggamit tangan Sayda. mereka keluar dari pagar melati yang membatasi bagian rumah dengan area pabrik.
Sayda menolehkan pandangannya ke arah utara. Hamparan hutan yang hijau dipagari pegunungan menjadi latar belakangnya. Sayda mengguncang tangan Alaric.
" Al..Al... itu bangunan apa di sana?" Sayda menunjuk tiga buah bangunan yang didominasi kaca dan berada di tengah lembah yang dipenuhi aneka bunga. Al ikut menoleh.
" Oh itu...yang tengah adalah olfaktorium, sedang yang di sebelah kiri dan lebih besar itu adalah gudang aroma dan kantor. Sedangkan yang sebelah kanan itu adalah green house, lalu di belakangnya adalah tempat penyulingan minyak atsiri.
" Apakah kamu mau mengajak aku ke sana Al?"
" Iya, tapi nanti ya aku ada sedikit urusan dengan beberapa orang di pabrik anggur ini. " Dia mengambil tangan Sayda lagi lalu menggenggam kuat. Sayda bertanya dalam hatinya. Apakah semua pria di Solis akan seperti ini, menggenggam tangan teman wanitanya ketika berjalan?.
" Aku cuma ingin kamu merasa aman dan nyaman denganku Sayda. Tidak semua lelaki itu b******k seperti yang ada dalam kepalamu. " Sayda menoleh menatap Alaric yang menatap ke depan. Fix, pria ini mampu membaca pikirannya, dia cenayang.
" Felix, lihatlah siapa yang datang." Suara perempuan yang keras itu membuat mereka menjadi pusat perhatian.
" Ah, akhirnya si pangeran es bisa tersenyum ceria juga. " Ucap pria tua yang disapa Felix.
" Apa kabar Felix, Betty?" Alaric mememeluk sepasang suami istri itu.
" Seperti yang kau lihat Al, kami baik dan sehat, hanya bertambah tua," ucap Betty sambil menangkup kedua pipi Al yang masih memeluk dan mencium kedua pipi wanita itu. Sayda tersenyum melihat tingkah mereka, ingatannya kembali pada keluarganya di Delf membuat hatinya ikut menghangat.
" Ah, siapa yang kau bawa Al?'
" Betty, kenalkan ini Sayda temanku." Perempuan tua itu langsung memeluk Sayda membuat gadis itu kaget.
" Kamu cantik mungil sekali, Princess. Tak heran kalau Al langsung jatuh padamu. Kamu memang benar-benar tipenya." Ucap Betty yang membuat alis mata Sayda terangkat.
" Jadi wanita ini yang berhasil melelehkan batu es yang mengakar di dalam hati Al dan membakar wajahnya jadi merah begini?" Suara pria itu ikut-ikutan memeluk Sayda.
" Kuharap kalian berjodoh dan bisa segera menikah di sini seperti orangtuanya dahulu." Alaric tampak salah tingkah dan mengusap belakang lehernya. Sayda tertawa lalu berkata.
“ Saya dan Alaric hanya berteman, bahkan ini pertama kalinya kami jalan bersama. Perkenalan kamu baru saja dan ini pertemuan yang kedua. Jadi untuk mencapai ke jenjang pernikahan terasa tidak mungkin.” Sayda menggelengkan kepala.
“ Oh Nona, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.” Ucap Felix menantap lekat gadis itu.
“ Saya hanya tidak mau memberi harapan palsu Pak. Saya dan Al murni hanya berteman tidak lebih dari itu. Saat ini tidak ada pernikahan dalam pikiran saya.“
“ Kamu tahu Nona, sepanjang hidupku, ini kali pertama Al membawa teman wanitanya ke sini. Kamu pasti wanita yang sangat spesial di hatinya. Saya berharap kamu nanti yang akan menjadi teman hidupnya. “ Wanita tua itu menangkup pipi Sayda seperti yang sudah dia lakukan tadi pada Al membuat gadis itu tak mampu berkata apa-apa lagi.
“ Sudahlah Felix, Betty, kalian hanya akan menakutinya dan aku tidak mau menanggung resiko jika dia nanti malah lari dariku. Ayo Dida, aku akan memperlihatkan pabrik ini padamu.”
" Oh Al, kamu telah membuatku patah hati. Siapa gadis cantik Al?"
" Sayda, kenalkan ini Roxanne. Dia manajer di pabrik ini." Kedua wanita itu saling berjabat tangan, Sayda tersenyum padanya.
" Panggil aku Rossie saja." Sayda mengangguk.
" Senang berkenalan dengan anda Rossie."
" Kau tak perlu formal begini padaku Sayda. Alaric adalah musuh besarku semenjak kami kecil dan baru pertama kali ini dia mengenalkan pacarnya padaku."
" Kami hanya berteman Rossie. "
" Ah, kamu pasti teman perempuan yang sangat spesial Sayda." Rossie melayangkan pandangan mengejek pada Alarick.
" Kau tahu Sayda, aku bahkan pernah mengejeknya gay karena dia sama sekali tidak tertarik pada teman-teman wanitaku yang banyak jatuh hati padanya."
" Oh ya?"
" Sudah hentikan bualanmu Rossie. Aku ke sini mau tanya tentang pertemuanmu dengan Fordigan kemarin lusa." Seolah teralihkan, Rossie dan Al kemudian asyik membicarakan bisnisnya. Sayda di sampingnya hanya ikut mendengarkan tanpa mau menyelanya. Tampaknya penjualan produk anggur ini mengalami peningkatan yang pesat dan mereka sedikit kewalahan mengatasi permintaan pasar.