Sayda masih asyik memainkan ponselnya dan mencoba mengunggah foto-foto cantik yang ditemuinya sepanjang perjalanan tadi ke i********:. Di sampingnya, Alaric masih sibuk berdiskusi dengan Rossie. Tak ada keinginan sedikit pun dalam pikiran Sayda untuk ikut serta berperan dalam percakapan itu, walaupun dia sangat amat mengerti apa isi pembicaraan mereka. Tak elok rasanya sebagai kenalan baru sudah ikut campur dalam intern bisnis mereka, meskipun Sayda juga heran pada Al yang membiarkannya begitu saja mendengarkan percakapan ini semua. Sebagai orang keuangan dan sekarang menangani marketing, dia cukup bisa menilai bahwa strategi dan analisis yang dibicarakan keduanya memang terlihat logis dan cemerlang. Sayda yakin dalam hatinya bisnis wine dan essential oil yang mereka kembangkan ini akan terus berkembang sampai beberapa puluh tahun ke depan selama tidak salah urus saja.
Sayda menatap layar ponselnya, nada notifikasi WA nya berbunyi. Sebuah chat dari Ramdan terpampang di sana. HAPUS POSTINGAN TERBARU INSTAGRAMMU KALAU KAMU TIDAK MAU MENGUNDANG ORANG SURUHAN BARRIUM MENEMUKAN DAN MENARIKMU KEMBALI KE ARGATAN.
Seperti terhenyak dia segera mengalihkan aplikasi ke i********:. Belum sempat dia menghapusnya, panggilan telepon berbunyi membuat Alaric dan Rossie menoleh ke arahnya. Sayda berdiri dan memilih ke luar ruangan, dan menyalakan tombol bicara. Alaric mengawasinya dari jauh.
“ Hallo apa kabar Bu?”
“ Bagaimana keadaanmu Nak? “
“ Dida baik Bu. Bagaimana dengan Bapak dan Argon di sana?”
“ Ibu dan Argon adikmu baik di sini. Hipertensi bapakmu sedang kambuh , kadar kolestrol dan gulanya tinggi sekali, tapi sekarang sudah membaik. Dia sedang tidur sekarang.”
“ Apa Bapak dirawat di rumah sakit Bu?”
“ Iya tiga hari kemarin, ini baru saja pulang.”
“ Ibu, sebentar lagi Dida kirimkan uang untuk biaya perawatan Bapak ya Bu.”
“ Kamu nggak usah khawatir, Da. Bapakmu kan dilindungi asuransi kesahatan, semua sudah teratasi. Simpan saja uangmu untuk masa depanmu. Ibu dan Bapak di sini tidak kekurangan.”
“ Nggak apa-apa ya Bu, untuk tambahan uang kuliah dan jajannya adik-adik Bu.”
“ Kamu nggak perlu memikirkan itu. Ibu dan Bapak masih sanggup membiayai adik-adikmu. Itulah mengapa dulu Bapak dan Ibu rajin menabung. Biarkan itu menjadi urusan dan tanggung jawab kami. Kamu simpan saja uangmu, kamu juga butuh banyak biaya selama pindah ke sana kan. Bagaimana tempat yang baru? Ibu kangen mau dengar ceritamu. Kamu betah disana Nak?”
“ Sejauh ini sih masih betah Bu. Pemandangan di sini bagus Bu. Kotanya besar seperti Moonlight tetapi lebih asri, hijau dan nyaman, penduduknya pun ramah. Besuk baru Dida masuk kantor baru Bu. Masih dikasih jatah libur tiga hari untuk adaptasi dan memulihkan stamina sama bos besar.”
“ Syukurlah kalau begitu, ibu lega dengarnya. Ya sudah, kerja keras boleh tapi jangan lupa jaga kesehatan ya Nak. Kamu tuh punya penyakit maag, jangan sampai terlambat makan ya. Kesehatan itu mahal lho, kamu harus memeliharanya. Ndak usah ikut-ikutan hura-hura, uangnya ditabung saja buat masa depanmu nanti. Bapak dan ibu selalu mengajari hidup sederhana kan.”
“Iya Bu, Ibu juga jangan kecapekan terima pesanan ya. Ibu dan bapak sudah tua, bekerja yang seperlunya saja. Kalau capek ya istirahat.”
“ Iya...iya. Kamu hati-hati ya di sana. Mesti pintar membawa diri.”
“Bu, Dida kangen sama Ibu, Bapak dan Argon. Suatu saat Dida akan bawa Ibu, Bapak dan Argon ke sini.” Ibunya tertawa pelan.
“ Ya sudah salam buat Ramdan dan Bu Florina juga Pru.” Ucap ibunya lagi.
Sayda menatap hamparan bunga aneka warna yang ditata apik dan tiga bangunan menonjol di tengahnya. Di teringat WA Ramdan dan kembali membuka i********:. Sepuluh foto langsung terhapus dalam beberapa detik. Sayda menghembuskan nafas lega.
" Kamu tidak harus menghapus postingan itu Dida. Kamu aman berada di sini, Barrium atau keluarga Latief yang lain akan pikir panjang jika mau menyentuhmu. " Sayda tercengang dan pandangannya beralih pada Alaric.
" Ka...kamu tahu masalah Barrium?"
" Aku bahkan sangat mengenalnya Sayda. Saat kamu bilang tadi kamu baru putus dengan tunanganmu, maka aku penasaran siapa pria bodoh yang mau melepas perempuan baik seperti kamu itu. Aku menghubungi Angel dan dia menuliskan nama Barrium Latief dalam chat WAnya . Kamu nggak perlu khawatir soal itu."
" Dari mana kamu tahu kalau aku baik, kita bahkan baru dua kali bertemu." Sayda sempat melirik ke ruang rapat tempat Al dan Rossie berada tadi. "
" Rossie sedang dihubungi Edward tunangannya. Kita disuruh ke olfakstorium terlebih dahulu. " Pernyataan Al seperti jawaban atas pertanyaan yang menghinggapi pikirannya. Al mengambil tangan Sayda dan membawanya menuruni tangga. Sayda tak habis pikir, lelaki itu mengapa tidak mau membiarkan dirinya melenggang bebas, mengapa mereka juga selalu berpegangan tangan.
" Kamu belum jawab pertanyaanku Al." Alarick menghentikan langkahnya tepat di tengah ladang bunga lalu menghadapnya.
" Kamu tadi bilang kalau aku cenayang kan? Nah, itu adalah jawabannya. Aku bisa merasakan kesedihan hatimu, aku bisa melihat hati kamu yang bersih seperti kristal. Otakmu cemerlang, aku bisa lihat dari pancaran matamu. Kamu itu cantik dan menarik tanpa kamu sadari. Kamu punya pesona tersendiri yang menyihirku, Sayda. " Sayda mengernyitkan keningnya ada perasaan mengganjal dalam hatinya.
" Entah mengapa rasanya aku nggak nyaman dekat dengan kamu Al. Kamu bisa membaca pikiranku, menebak isi hatiku. Belum apa-apa saja aku merasa sudah kamu telanjangi. " Alaric tertawa keras.
" Tidak semua orang mampu aku baca pikirannya. Hanya orang-orang tertentu saja. "
" Contohnya?'
" Contohnya, aku nggak bisa baca pikiran Papa dan Ian tapi mudah sekali membaca pikiran Mama dan Angel."
"Ian?"
" Adrian Fleming, adikku."
" Ooh..."
" Apakah semua orang di keluargamu bisa membaca pikiran orang Al?"
" Yang bisa hanya Papa dan aku, Sayda. "
" Jadi kamu seperti dianugrahi semacam sixth sense begitu?"
" Aku rasa malah ninth sense."
" Serius?" Sayda terbelalak disambut tawa ringan Alaric dan anggukan kepala sesudahnya.
" Duarius malah. " Alaric tertawa kembali.
" Eh, kamu jangan melihat aku begitu ah. Aku seperti ini bukan karena inginku lho. Dan...please jangan menjauh Sayda. Please, tetaplah di sisiku Princess." Sayda yang kali ini tertawa.
" Siapa kali ini yang kamu sebut Princess? Aku? Aku bukan anak raja Al, jangan mengada-ada. Aku rasanya cuma takut dekat dengan kamu saat ini." Sayda melepaskan tangannya dari genggaman Alaric dan berjalan mendahului Al.
" Jangan jauh dari aku ya Dida. Aku benci itu." Alaric memohon, namun Sayda tetap melanjutkan langkahnya.
" Aku menyukaimu Sayda. " Suara keras Alaric membuat langkah Sayda berhenti. Gadis itu membalikkan badannya menghadap Alaric. Lama saling bersitatap dalam diam.
" Yang benar saja Al. Kita baru bertemu dua kali loh, kamu bilang sudah menyukaiku? kalau merayu jangan kelewatan."
"Aku nggak bisa membohongi diriku kalau sejak awal bertemu aku sudah tertarik padamu. Seperti sudah ratusan tahun lalu mengenalmu. Aku juga tidak mengerti, tapi seperti itulah perasaanku. Kamu sudah tahu kalau aku bukan pria yang suka mengobral cinta dan menyebar pesona kemana-mana. Silahkan mengeceknya sendiri. Aku...aku hanya menunggu seseorang yang akan datang padaku. Intuisiku berkata kamu adalah orangnya. "
" Jangan pernah menyukaiku Al, aku tidak akan bisa membalas perasaanmu sekarang ini atau menjanjikan harapan yang muluk buat kamu. Mari kita ikrarkan kita berteman saja, aku nggak mau kamu kecewa nantinya. Aku nggak mau meruwetkan diri dalam percintaan yang rumit. "
" Aku mengerti perasaanmu Dida, aku tidak akan memaksa. Aku hanya meminta diijinkan dekat denganmu, melindungimu. "
Sayda menghembuskan nafas dengan berat lalu mengangguk. Al mendekat dan mengambil tangan Sayda untuk digenggamnya membuat kening Sayda berkerut kembali.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri Al."
" Dari Barrium Latief atau lelaki lainnya? " Alaric tertawa sinis. " Yang benar saja..." Sayda terlihat kesal dia berbalik dan terus melangkah.
" Kamu mau bertanya mengapa aku selalu menggenggam tanganmu?" Sayda hanya diam dan memperhatikan pria yang kini sudah berhasil mengejar dan berjalan sejajar .
" Itu karena aku mau memastikan getaran intuisiku dengan menyentuhmu."
" Asalkan kamu jangan menyentuh yang lain ya Al. Aku tidak bisa menerimanya dan takkan aku biarkan loh." Sayda melemparkan pandangan mengancam pada Al."
" Baik Princess. Aku paham batasan yang kamu maksud" Sayda menarik tangannya dan berjalan memasuki olfakstorium. Alarick berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Alaric tak percaya dengan penglihatan di depannya, dia memicingkan matanya. Ada ribuan berkas cahaya pelangi seolah membungkus tubuh gadis itu membuat wajah gadis yang sedang bercakap dengan beberapa orang dalam olfakstorium itu bercahaya. Alaric yakin dia adalah orangnya, gadis yang selama ini dia cari.
BERSAMBUNG