Sayda baru saja memasuki ruangan olfakstorium yang besar telihat seperti plaza atau loby yang besar tempat menerima tamu. Sepasang pria dan wanita tampak menghampirinya.
" Nona Sayda Arundati?" Wanita itu menyapanya ramah. Sayda heran, dari mana mereka mengetahui nama lengkapnya.
" Ya benar."
" Kenalkan nama saya Irena Manansang dan ini rekan saya Luke Jabbar. " Sayda menerima uluran tangan keduanya secara bergantian. Mereka menggiring Sayda untuk mencuci tangan dan memasuki kotak khusus untuk penyemprotan cairan disenfektan. Irene mengulurkan handuk kecil dan sebuah lab coat yang berwarna putih. Rupanya ruang depan itu seperti tempat menerima tamu utama sekaligus merupakan showroom produk. Aneka tanaman bunga segar tersebar apik dan tertata rapi mempermanis ruangan. Deretan botol-botol berwarna diletakkan bertumpuk pada rak khusus dan diberi kode dan nama. Bentuk raknya pun unik, ada yang berbentuk seperti binatang lucu, tokoh kartun atau buah dan hewan. Di sekitar rak pasti terdapat rangkaian bunga yang bertema disesuaikan dengan bentuk raknya. Beberapa pohon plastik dipajang di sana memberi kesan rindang dan sejuk. Orang yang berada di sini merasa seperti berada di sebuah taman yang indah dengan aroma bunga yang wangi dan menyegarkan. Meja dan kursi-kursi ditata sangat rapi, benar-benar memperhitungkan kenyamanan tamu yang datang. Pada bagian kiri terdapat beberapa ruangan bersekat yang tampak seperti kantor. Sementara bagian kanan tampak seperti ruang rapat. Luke dan Irena menggiringnya menuju bagian tengah, sekali lagi mereka harus memasuki kotak steril dimana seluruh tubuh disemprot cairan disenfektan. Ini merupakan jalan satu jalur menuju bagian belakang olfakstorium. Terdapat sekitar tujuh orang yang bekerja di dalamnya. Mereka bekerja dalam sekat-sekat ruang kaca dimana tampak bertebaran peralatan canggih di sana.
Tampaknya Irena dan Luke ditugaskan menjadi tour guidenya dan mereka mulai melakukan tugasnya di sana.
" Apakah kalian membuat parfume?"
" Sebenarnya istilah yang paling tepat digunakan itu adalah essential oil, Sayda. parfum itu sebenarnya adalah campuran dari minyak essensial dan berbagai senyawa kimia aromatis ditambah dengan pelarut yang sesuai untuk memberikan aroma yang khas pada tubuh manusia, objek atau ruangan. Ini sudah berlangsung berabad-abad dahulu...." Irena dan Luke bergantian memberinya informasi.
" Coba kamu cium aroma ini." Luke memberi kertas yang biasa dipasang di etalasi penjual parfum di pusat perbelanjaan. Sayda menghindunya.
" Sepertinya ini aroma mawar ya?"
" Ya benar. Aroma mawar itu menjadi penyusun utama parfum di seluruh dunia. "
" Karenanya kalian menanam banyak mawar di sini?"
" Ya itu hanya sebagian kecil saja Sayda. Alaric memiliki banyak ladang bunga di tempat lain bahkan di luar negeri. Nenek Alaric memang kolektor bunga dan herbal. Dia memiliki koleksi mawar dari seluruh dunia di sini." Sayda manggut-manggut mendengar penjelasan Luke dan Irena. Mereka berkeliling.
" Aroma yang kamu kenal sebagai aroma mawar sebenarnya mengandung banyak senyawa kimia aromatis seperti geraniol, linalool, citronellol, dan masih banyak lagi. Terkadang mawar dari daerah satu dengan dari daerah lain berbeda. Bukan karena kandungan kimia yang tidak sama tapi juga komposisi zat-zat itu yang berbeda. " Luke menjelaskan.
“ Coba kamu cium aroma ini!” Irena mengulurkan kertas yang sudah diberi aroma tertentu.
“ Jasmine?”
“ Betul sekali Sayda. Aroma ini didominasi senyawa cis-jasmone dan jasmin lakton. Namun kalau diberi sedikit minyak kesturi maka aromanya akan sedikit berbeda. “ Luke menjelaskan.
“ Apakah kalian membuat formula untuk perfum juga?”
“ Tentu saja, kami memegang lisensi terbanyak formula parfum yang dihasilkan berbagai pabrik parfume di seluruh dunia. “
“ Benar kah? Kalian meraciknya di sini?”
“ Sudah pasti.”
“ Wow... bolehkah kalian mengajariku sedikit saja tentang bagaimana caranya membuat parfum? Ehm...maksudku meraciknya?”
“ Oh dear, tentu saja boleh .” Sayda tertawa kecil matanya berbinar senang.
“ Ya... siapa tahu di kemudian hari aku juga bisa mendirikan pabrik parfum gitu loh.” Sayda mengucapkannya dengan malu-malu membuat Irena dan Luke tertawa ngakak. Mereka terlihat geli sekali. Kali ini gantian Sayda yang melongo.
“ Mengapa kalian tertawa sih? Kita tidak pernah tahu masa depan kan? Memangnya aku salah ya punya cita-cita mendirikan pabrik parfum?” Wajah innocent yang ditampilkan Sayda semakin membuat mereka tergelak. Mereka baru menghentikannya ketika gadis itu cemberut.
“ Sayda...Sayda, buat apa kamu mau mendirikan pabrik parfume kalau calon suamimu sudah punya pabrik parfume dan ladang bunga terbesar di dunia,” ucap Luke di sela tawanya.
"Calon suami? Maksud kamu apa sih Luke?" Luke masih tertawa hingga matanya ada genangan air.
“ Kamu hanya tinggal duduk manis dan perintah saja mau dibuatkan parfume aroma apa, beres kan?” Luke mengedipkan sebelah matanya namun Sayda sudah memajukan bibirnya tanda tak senang.
“ Apa enaknya hidup seperti itu, tidak ada tantangannya?” Jawab Sayda sembari cemberut. Beberapa detik kemudian dia seperti terlonjak, mengingat sesuatu.
“ Eh, apa kalian bilang tadi? Calon suami? aku? Siapa? Aku saja tidak punya pacar.” Kalimat terakhirnya membuat Luke dan Irena terdiam.
“ Alaric, itu calon suami kamu kan?”
“Apa?” Sayda tertawa.
“ Waduh kalian sudah salah sangka nih. Al dan aku hanya berteman. Kami belum lama berkenalan, ini malah pertemuan kedua kami.” Luke dan Irena saling berpandangan.
“ Dua kali berkenalan dia langsung mengajakmu ke sini?” Luke penasaran dan melemparkan pandangan pada Irena.
“ Oh Sayda, kamu mematikan harapan gadis-gadis di sini...” ujar Irena dengan sorot kecewa dan kepala digelengkan.
“ Eh, apa aku punya salah ya?” Sayda menampakkan sorot mata bersalah. Irena menghela nafas berat.
“ Alaric tidak pernah membawa teman wanitanya ke sini. Malah aku percaya dia tidak punya teman wanita. Beberapa teman wanitaku dan Irena yang coba dikenalkan padanya selalu disambut dingin.
“ Hah?”
“ Kamu benar-benar wanita spesial di hati Alaric, Sayda. Ini bisa masuk dalam sejarah.”
Sayda terdiam, sulit untuknya mengeluarkan bantahan lagi.
“ Kamu tahu, tidak semua saudaranya boleh masuk ke sini. Hanya orang-orang tertentu atau rekanan bisnis yang bisa masuk ke sini. Olfakstorium ini tempat yang betul-betul privat dan dianggap sakral oleh Al.” Luke membeberkan fakta dan membuat mereka terdiam beberapa saat.
“ Ah, kamu mau tahu cara meracik parfum kan? Ayo ikut aku...” Irena menyelamatkan Sayda dari kecanggungan. Sayda merasa sepertinya dia akan cocok dengan anak ini.
“ Dida... sudah selesai kan acara touring oflakstoriumnya?” Irena dan Sayda menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
“ Al, bolehkan aku minta sedikit waktu untuk melihat bagaimana Irena meracik parfume? Sebentaarr saja... boleh ya?” Alaric menatap lekat.
“ Sebentar lagi hujan, Dida. Aku nggak mau kamu kehujanan. Besuk hari pertamamu bekerja bukan? Aku mau kamu dalam keadaan yang fit. “ Sayda menangkap nada tak ingin dibantah dalam suara Alaric, meskipun nada yang dikeluarkan Al terdengar biasa saja.
“ Baiklah...” jawab Sayda lemas, seperti pasukan kalah perang.
“ Kamu bisa kembali minggu depan atau kapan pun Sayda. Kami tidak kemana-mana dan akan menunggumu.”
“ Aku tidak yakin, Luke. “ Sayda melirik Alaric.
“ Aku akan mengantarmu kapanpun kamu menginginkan ke tempat ini lagi, Dida.” Seolah tahu apa yang diragukan dalam hatinya. Wajah Sayda kembali cerah.
“ Benarkah?”
“ Ya, katakan saja padaku kapan kamu mau kembali ke sini, tak masalah aku mengantarmu.”
“ Atau aku bisa menjemputmu. Kamu tinggal meneleponku saja.” Luke menawarkan solusi.
“ Tidak...tidak...tidak...Luke, biar aku saja yang mengantarkannya. Aku tunggu di luar kalau kamu sudah siap.” Al bergegas keluar. Semua yang ada di sana terpana. Irrena menyenggol lengan Sayda dengan sikutnya sambil tersenyum mengejek.
“ Kau bilang dia cuma menganggapmu teman? Tapi tadi dia memanggilmu dengan panggilan khusus yang bersifat intim, dan dia cemburu pada Luke? Yang benar saja...” Ucap Irrena berbisik di telinganya. Luke yang berada dekat dengan Irena menjadi terkekeh geli.
“ Oh Al, kau sduah tak tertolong lagi,” ucap Luke keras sambil menggelangkan kepala.
“ Kalau sudah selesai gosipnya, ayo kita pulang Dida.” Alaric menghentikan langkahnya, membalikkan badan lalu kembali mendekat ke arah Sayda. Dia paham kalau dibiarkan lebih lama lagi Sayda tidak akan mempedulikannya dan membuatnya menunggu lama. Jadi diambilnya keputusan untuk merangkul bahunya erat dan membawanya keluar olfakstorium diiringi tatapan beberapa orang yang teramat ingin mengejeknya.
“ Aku pulang dulu ya semua, terima kasih sudah menerimaku.” Sayda melambaikan tangannya.
“ Sering-seringlah berkunjung ke sini Sayda.” Sambut Irene yang juga melambaikan tangannya.
Luke, Irena dan semua yang ada di olfakstorium memperhatikan sepasang manusia yang baru keluar dari sana seraya berbisik satu sama lain.
“ Kau tahu Luke, sepertinya kita harus membuat perayaan malam ini. Gunung esnya sudah mencair sekarang,” ucap Irena yang disambut kekehan Luke seolah mengiakan.