Awan hitam yang menggantung menyelimuti langit Yukari, ibukota Solis. Angin bertiup kencang disertai suara gemuruh petir di kejauhan dan kilat yang terlihat bagai lampu blitz para kuli tinta. Aroma hujan dengan cepat terhindu dengan mudah. Sayda mengetatkan jaketnya dan mempercepat langkahnya bahkan berlari kecil ketika suara gemuruh petir semakin mendekat. Tarikan nafas lega otomatis dilakukan begitu melewati lobby. Dia menganggukan kepala dan tersenyum menyapa beberapa orang yang ada di sana. Baru tiga bulan berada di Solis, Sayda sudah memiliki banyak teman terutama sesama pekerja di Yukari Landmark Building ini.
Seperti dugaan Sayda semula, hujan turun dengan derasnya desertai dentuman dan cahaya petir yang menyambar membuat gadis itu membalikkan badannya lalu melihat ke bagian atas loby yang separuhnya terbuat dari kaca. Dari sana dia bisa leluasa melihat keadaan luar. Hati Sayda bersyukur, dia bisa terhindar dari basah kuyup karena tidak menyediakan baju ganti. Terbersit pikiran untuk membawa pakaian ganti esuk hari untuk mengantisipasi cuaca buruk seperti ini.
" Syukurlah kamu tidak basah Dida." Suara yang sangat dikenalnya menghampiri gendang telinga Sayda ketika baru meletakkan tasnya di atas meja, dia berbalik. Bola matanya membesar diiringi pekikan kegirangan melihat Pruistin yang seperti kehilangan jejak selama tiga bulan terakhir.
" Pru? Ya Tuhan Pruistin.... kamu nggak tahu betapa kangennya aku Pru. Kamu seperti menghilang ke planet Mars saja." Sayda mulai merepet sambil memeluk erat sahabatnya itu.
" Kamu kira aku alien apa?" Balas Pruistin tertawa.
" Kapan kamu tiba di Solis? Mengapa Bu Florin dan dan Ramdan nggak memberitahuku ya."
" Hadiah surprise buat kamu Da." Jawab Ramdan yang baru memasuki ruangan. Rambutnya sedikit basah.
"Siapa yang menjemput kamu di airport, Pru?"
" Nih orangnya, siapa lagi lah." Pruistin menunjuk Ramdan yang baru duduk di depan meja gambarnya memeriksa kertas yang dipampang di hadapannya lalu menengok maket yang dibuatnya selama tiga hari.
" Jadi kalian mulai main rahasia-rahasiaan di belakangku ya? Teganya kalian padahal kita bertiga tinggal di satu rumah." Sayda pura-pura ngembek. Awalnya Sayda, dan Pruistin menempati apartemen yang sama sementara Ramdan berbeda. Namun karena kebijakan pimpinan yang menugaskan Florina ikut pindah ke Solis, membuat mereka akhirnya tinggal bertiga dalam satu apartemen, sementara apartemen yang semula ditempati Ramdan dipakai untuk Florina dan keluarganya. Mereka berbincang ringan untuk beberapa saat.
“ Oh ya, kita janji dengan klien jam sepuluh kan?"
"Ya, tapi masih ada dua jam lagi untuk mempersiapkan diri. Santai dulu ah.." Jawab Ramdan yang matanya masih serius menekuri gambar di gadapannya.
" Kamu ikut ya Pru."
"OKe"
" Ini bahan presentasi yang sudah aku buat dan ini proposalnya. Rancangan desain dan teknisnya sudah disiapkan Ramdan. “
“ Jadi...?”
“ Jadi sekarang kita pindah ke ruang meeting buat berdiskusi di sana. Sebentar aku WA Alex dulu.” Ucap Sayda sambil memainkan jari pada ponselnya.
“ Oke.”
******
" Ini proyek kan selang waktu pengumuman dan penyelesaian proposalnya mendadak banget tapi model schetchup-nya keren lho. Hebat juga kamu Dan bikin gambar sekaligus schetchup dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Angkat topi aku." Ramdan berdehem sembari memegang kemudi mobil.
" Anak-anak divisi rander udah pada KO duluan. Mabok terima job yang melimpah dan semuanya dikasih judul urgent and grim deadline. Jadi... ya aku harus merayu dan memuhun, ingat loh memuhun ini tingkatannya lebih tinggi dari pada memohon pada tuan putri yang terhormat, Sayda Arundati."
" Serius Dida yang buat nih?"
" Iih...meremehkan ya? Nggak percaya kalau lulusan akuntansi dan public relation bisa apply software modelling 3D ?"
" Kamu itu multi talenta Dida, aku sih yakin kamu bisa apa aja. Cuman masalahnya kapan kamu belajarnya?"
" Percuma dong tinggal seatap dengan arsitek kondang dan lulusan terbaik magister teknik sipil ternama kalau mereka nggak berhasil meracuni pikiranku untuk belajar apply software itu."
" IIhh...hebat banget sih kakak iparku ini," Pru mencubit gemas pipi Sayda.
" Mantan kakak ipar, Pru." Sayda meluruskan ucapan Pruistin sambil cemberut.
" Namanya juga usaha doa, siapa tahu dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, Da. "
" Nggak mungkin kali ah." Sayda mendesis dan menatap miring pada Pruistin membuat Ramdan dan Pruistin tertawa.
" Jadi Bu Dida ini hampir menikah dengan kakak Pruistin? "
" Ah...itu cerita masa lalu, Lex. Tak baik diungkit kembali," jawab Sayda dengan nada dingin. Sebelah tangan Alex memegang dagunya seolah sedang menimbang pendapat yang akan disampaikan.
" Yah... memang lebih baik terima lamarannya Pangeran Alaric saja ya Bu. Dia sudah menunjukkan sangat perhatian dan pastinya cinta banget sama Ibu. Benar kan?"
" Nggak usah sok tahu deh, Lex." Alex tertawa keras melihat wajah Sayda yang terlihat kesal.
" Lho, apa pendapatku salah? Coba aja lihat faktanya sekarang. Ibu bisa menyelesaikan schetchup dengan paripurna berkat hadiah laptop canggih pemberian Mr. Al kan? Lalu yang selalu kirim bunga dan makan siang bahkan mengirimkan mesin pembuat kopi ke kantor, Mr. Al juga kan orangnya? Satu gedung ini juga sudah tahu siapa yang sedang diincar Alaric Fleming." Ramdan ikut terkikik saat melirik wajah cemberut Sayda yang memerah dari kaca spion depan. Apa yang ditutupi Sayda dari Pruistin kini terbongkar.
"Sudahlah mengaku saja. Tanpa diberitahu sekali pun Pru juga akan menemui fakta ini. Apakah kamu juga ada rasa sama dia?" Tanya Ramdan setelah menghentikan tawanya. Sayda menggeleng.
"Ya nggak lah."
" Tapi kamu terima semua pemberiannya kan?"
"Aku nggak pernah minta Dan. Aku pikir itu inventaris kantor awalnya. Lagian aku juga butuh kan? Apa kembalikan saja ya. Kok kesannya aku cewek matre."
"Nggak usah lah Bu, sayang, takut juga Alaric marah karena tersinggung. Toh ibu juga nggak minta kan?"
" Tapi kalau aku terima pemberiannya bukan berarti terima semua maunya dia loh. Ah, besuk aku kembalikan saja deh biar aman."
"Aduh jadi nggak enak nih. Tadi saya cuma mau menggoda Bu Dida saja. Soalnya Alaric terkesan dingin banget sama perempuan. Dan sekarang terlihat ngejar perempuan sampai segitu noraknya. Tentu saja jadi perhatian banyak orang."
"Kamu dari tadi kok panggil Ba, Bi, Bu terus sih Lex. Aku kan udah berulangkali aku bilang, panggil aku Sayda atau Dida aja. " Sayda mencibir melihat Alex yang mengusap lehernya salah tingkah.
"Maaf deh Sayda kalau begitu. Saya kan anak buahmu, kesannya kok tidak sopan yan langsung sebut nama." Alex terkekeh melihat Sayda yang kini mendengkus masih kesal.
" Eh Da, daripada kamu kembalikan laptopnya, mending aku yang pakai aja deh. Sayang.... mending dibuat kerja aja. Menurutku benar kata Alex, dia cinta banget sama kamu." Ramdan melirik gadis itu yang kini terdiam, sementara Alex tersenyum puas. Pru memberikan tatapan menyelidik pada Sayda, otaknya penuh penasaran pada penampakan Mr. Al yang bolak balik disebut Alex.
Tak sampai sepuluh menit mereka telah tiba di lokasi pertemuan, sebuah gedung yang tampak megah dan menonjol diantara kumpulan pencakar langit yang sama megahnya. KGT ( Kobayashi Grand Tower) singkatan untuk menamai bangunan yang terkenal seantero negeri Solis. Sayda, Ramdan, Pruistin dan Alex berjalan mengikuti salah satu karyawan yang memandunya. Dalam hati Sayda betul-betul mengagumi arsitek serta desain interior yang begitu detail dan didominasi warna hitam, emas dan perak itu.
Mungkin kedatangan mereka lebih cepat tujuh menit dari waktu yang sudah disepakati, tapi itu dirasa perlu untuk adaptasi dan menyiapkan diri. Satu per satu orang yang menghadiri rapat tersebut datang mengisi tempat duduk yang telah disediakan. Tinggal satu kursi di kepala meja yang disediakan untuk pimpinan tertinggi perusahaan ini. Seorang wanita yang duduk di deretan paling ujung membuka pertemuan itu dan memperkenalkan diri sebagai direktur operasionalnya, lalu dia memperkenalkan wakil direktur dan semua yang hadir di tempat itu.
Dari sana mereka mengetahui bahwa lelang proyek ini memang tidak dibuka lebar, hanya beberapa perusahaan kontraktor yang mendapat undangan penawaran dan dipersilakan untuk mempresentasikan proposalnya. Ketika giliran mereka tiba, Pruistin mulai membuka presentasi dilanjutkan dengan Ramdan dan terakhir Sayda. Baru lima menit Sayda berbicara, pintu ruangan terbuka. Seorang pria masuk dan seluruh peserta yang ada di dalam ruangan berdiri dan menganggukkan kepala padanya. Lelaki berusia hampir empat puluh tahun itu terlihat gagah dan segar dengan wajah tampan dan pandangan mata yang tajam. Sayda terpaksa menghentikan penjelasannya, ikut menganggukkan kepala. Alex yang berdiri di dekatnya membisikkan kalau dia lah sang " Bos Besar" Benjamin Kobayashi. Sayda menganggukkan kepala kembali ketika dipersilakan melanjutkan presentasinya.
Ketika sesi tanya jawab berlangsung, Ramdan dan Sayda tampak mendominasi dan mampu saling melengkapi hingga semua terselesaikan dengan baik. Dari pandangan mata Pruistin dan Alex tampak beberapa direktur dan petinggi perusahaan itu cukup puas dengan presentasi mereka.
" Oke, saya pikir presentasinya cukup baik dan keputusannya akan kami umumkan sebentar lagi, namun saya meminta leader pada tim kalian saya tunggu di ruang kerja saya. Terima kasih." Lelaki itu berdiri dia menatap Sayda dengan mata elangnya. Entah mengapa Sayda merasa merinding seperti dia pernah bertemu dan terhubung dengan pria ini tapi entah dimana. Anggota rapat telah meninggalkan ruangan satu per satu setelah menyalami mereka satu per satu. Seorang pria menghampiri mereka.
" Tuan Kobayashi ingin bertemu dengan; salah satu dari kalian di ruang kerjanya." Berempat mereka saling tatap dan akhirnya Pru lah yang maju mengikuti lelaki itu.
" Biar aku saja yang menemui Mr. Kobayashi. Kalian bisa menungguku di lobby. Ini tidak akan lama," ucap Pruistin penuh percaya diri. Sayda, Alex dan Ramdan mengangguk lalu berjalan menuju elevator dan menunggu di lobi.
"Bagaimana Pru? Berhasilkah?" Ramdan dan Alex memberondong Pruistin dengan pertanyaan. Pruistin tetap berjalan lurus ke depan dengan cepat sembari berbisik dan rahang yang mengeras. Sayda Ramdan, dan Alex saling melempar tatapan dan mengikuti langkah Pru.
" Ada apa Pru?"Tanya Sayda begitu berhasil mensejajari langkah Pru. Nadanya terkesan cemas seperti mendapat firasat tidak nyaman.
" Ayo jalan, nanti aja di kantor aku ceritakan." Sayda, Ramdan dan Alex saling bertukar tatap, namun mereka tetap mengikuti titah Pruistin. Kali ini Alex yang mengemudikan mobil.
" Jadi, bagaimana Pru? Kamu bikin kami semua penasaran saja." ujar Ramdan penasaran.
" Nanti aja lah di kantor kenapa sih? Nggak sabaran banget," decak Pru kesal.
Mereka kembali tiba di kantor dan Pru segera masuk ke ruangan Sayda lalu mengusir dua karyawati anak buah Sayda di sana. Dia menutup jendeka dan mengunci pintu ruangan itu.
"Apa ada sih? Sesuatu yang penting sekali atau apa? Kamu nggak biasanya begini Pru."
Seketika Pruistin menghadap Sayda dan menangkup kedua pipinya. " Kamu memang gadis yang penuh keberuntungan Dida." Pru tersenyum lebar. Sayda mengerutkan keningnya.
" Maksud kamu itu sebenarnya apa sih Pru?" Sayda nampak tidak sabar.
" BEN. Dia tadi memanggilku hanya untuk tanya bagaimana bisa kenal kamu dan sejauh apa hubungan kita. Dia juga minta nomor ponsel dan alamat kamu tinggal di Yukari ini."
"WHAT?"
"Kok aneh?" Alex menimpali.
" Dia juga bertanya tentang pendidikan, hobi, minat dan pengalaman kerjamu. Lalu dia menanyakan sejauh apa hubunganmu dengan Alaric Fleming. "
"Trus kamu jawab apa?"
"Ya jawab apa saja yang dia minta kecuali tentang Alaric itu. Aku katakan saja Dida baru patah hati dan belum memiliki rasa apapun terhadap Alaric. " Semua terdiam.
" Jawaban aku benar kan? Kalian kan baru saja mendiskusikannya ." Sayda, Alex dan Ramdan masih membungkam.
" Hei ayolah... jangan marah padaku. Dia berjanji akan memberikan mega proyek itu sepenuhnya pada kita, asal...."
" Asal apa?" Alex sudah mengeluarkan ekspresi jengkel. Sepertinya Pruistin memang hendak mengerjai teman-temannya. Melihat semua cemberut karena rasa penasarannya tidak tersalurkan, membuatnya tersenyum geli.
" Aaa....sal...aku harus mau menjadi mata-mata buatnya serta membujuk kamu agar bersedia dinner dengannya malam ini." Gadis itu sudah tersenyum penuh kemenangan.
" APA? Terus kamu terima tawarannya dan beri semua informasi tentang aku, begitu?" Sayda mulai histeris.
" Kenceng amat sih Da," Ramdan mulai protes dan memegang telinganya.
" Ya aku kasih lah, gila mega proyek bo. Sayang kalau dilewatkan. Kebayang dah profitnya dan bonusnya yang akan kita terima buat jalan-jalan ke Manduras." Sayda menepuk lengan Pru.
" Itu sama aja kamu jual aku, Pru. Aku nggak nyangka ih kamu kok jadi sahabat gitu."
" Eh ingat ya, yang aku berikan tuh cuma informasi, bukan jual teman lho yah. Nggak ngelanggar hukum kan? Lagian si Ben itu cakep dan macho banget, mana tajir lagi dan kamu juga jomblo. Jadi klop lah. Kali aja kalian jadian, toh kamu udah putus sama abang aku. paling nggak kalau jadian sama dia hidup kamu enak, jadi nggak terlalu nyesek lepas dari Bang Barry. Btw, aku masih marah sama abangku soal kejadian yang dulu itu. " Pruistin memasang mimik tidak peduli.
"Jahat kamu."
"Nggak...enggak. Percaya deh suatu saat kamu akan bilang terima kasih sama aku karena udah kenalkan Ben."
"Ya tapi nggak gitu juga kali caranya Pru. Kok kayak aku biasa menghalalkan segala cara buat dapat proyek."
" Bodo amat lah yang penting dapet duit banyak."
"Katanya wanita berprinsip tapi kok jual teman." Pruistin berdecak sebal kepada Alex.
"Kamu juga aneh Pru, mana ada mata-mata buat pengumuman sih?" Sindir Ramdan.
" Jadi bagaimana Da, kamu mau menerima kencan dengan Mr. Kobayashi?" Tanya Alex.
" Nggak tahu deh."
" Dah...terima aja lah, aku bersedia jadi supirmu malam ini Cinderella."
" Aku bukan Cinderella," jawab Sayda ketus.
" Oke, terima sajalah Da, aku bantu dan jagain kamu selama kencan dari luar deh Da," lanjut Ramdan.
"Nggak ah aku nggak mau." Sayda hendak berjalan menuju pintu, tapi tangan Pruistin menahannya.
" Dinner cuma kenalan doang sambil makan malam doang kok kamu ribet banget sih. Nasib perusahaan ada di depanmu Dida." Sayda memandang Pru sengit. Dikibaskan tangann."ya agar lepas dari genggaman Pru.
" Ada ribuan karyawan dan keluarganya yang nasib periuk nasinya ada di tanganmu Dida." Ucap Alex promotif.
" Mau ya ikut dinner Da, pakaian dan lain-lain kita beli sebentar lagi pakai ATM perusahaan , yang penting kamu mau dulu." Bujuk Pruistin.
" Pakaianku cukup banyak Pru. Aku nggak minat nambah lagi."
" Dida, mau ya . Kita jagain kamu di restoran itu kok. Jadi kalau kamu diapa-apain Ben, kita bisa serang ramai-ramai, gimana?" Ucap Ramdan persuasif.
" Ayo lah Da, kalian bukan akan having s*x ya tapi hanya mengobrol dan makan malam doang kok. Kami juga ada di sana mengawasi kamu. Kalau kamu merasa dia melecehkan atau berniat tidak baik, kirim kode dan kami akan menyelematkanmu. Jadi....mau ya?" Alex mulai merayu.
" Iya...iya..aku akan datang."